
Hari sudah sore dan para pekerja kantor mulai berangsur pulang dari tempat mereka bekerja, tak terkecuali ketiga team yang akan mengadakan makan-makan untuk perpisahan dengan para magang nya.
Mereka memilih restoran yang tak jauh dari area kantor, waktu tempuhnya cukup 15 menit saja.
“Selamat sore, reservasi atas nama Bu Adel ya” ucap Adel ketua team Ana ketika pelayan menyambut kedatangan mereka.
“Ah ya sebentar..”
“.. Oh baik bu, silahkan” ucap pelayan setelah melihat daftar reservasi di tablet yang ia bawa.
Mereka pun diarahkan kearah tempat reservasi. 3 meja memanjang pas sekali dengan jumlah per team mereka.
“Terimakasih” ucap Adel ramah.
“Sama-sama” sahut pelayan tadi tersenyum.
Mereka pun mengambil tempat duduk masing-masing. Zeline dan Ana yang bersebelahan, dan berhubung Bima yang satu-satunya pria. Ia menggeser duduknya di kepala meja bersebelahan dengan Zeline di sisi kirinya.
“Permisi, pesan apa ?” ucap seorang pelayan dengan membawa buku menu.
Mereka pun memilih-milih. Kemudian mengucapkan apa yang mereka pesan. Setelah selesai pelayan pergi berlalu menyiapkan pesanan.
Karna model restoran nya ala Bar, salah satu di team Echa memesan wine untuk minuman tambahan.
Tak lama beberapa pelayan datang menyajikan makanan yang mereka pesan.
“Silahkan menikmati” ucap pelayan ramah.
“Terimakasih” ucap Zeline tak kalah ramah dan yang lainnya tersenyum menanggapi.
Mereka pun makan bersama sambil sesekali bercengkrama.
Setelah makan selesai, di lanjut dengan makanan ringan sambil bercanda tawa. Tempat mereka yang paling gaduh. Untung saja meja mereka di atur di tempat santai di resto itu.
Tak lama pelayan Bar datang membawakan wine. Sebenarnya ada beberapa yang tak menyukai minuman itu termasuk Zeline. Tapi demi menjaga perasaan yang memesan ya di persilahkan saja.
Pertama kali Zeline meminum wine, memang rasanya manis tapi juga asam, pahit bercampur jadi satu. Melihat respon Zeline, Bima yang sedari tadi memperhatikan Zeline lantas bertanya.
“Kamu gak bisa minum wine ?”
“Bukan nya gak bisa Kak. Gak pernah malah” sahut Zeline.
“Ini tinggi alkohol nya, kenapa langsung di minum setengah nya tadi” ucap Bima mulai khawatir.
“Aku kira manis aja, ternyata enggak ya” sahut Zeline.
Bima tak berbicara lagi, tapi ia memanggil pelayan. Semua yang tengah berbincang menoleh kearahnya. Ana pun juga ikut menoleh, tapi mata nya tertuju pada teman di sebelahnya yang tengah menunduk sembari menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“Astaga Zel, gue lupa. Loe gak pernah minum wine kan” pekik Ana, ia sungguh melupakan fakta itu.
“Mbak tolong juice jeruk nya 1—“
“2 Kak, saya juga” sela Ana. Ia dan Zeline memang tak pernah meminum wine, maka dari itu tadi ia hanya menyesap sedikit. Ia lupa mengingatkan sahabatnya karna sibuk berbincang dengan yang lain.
Pelayan tersebut pergi setelah mencatat pesanan.
“Zel, are you okay ?” tanya Ana khawatir. Pasalnya saat ini Zeline menyenderkan kepalanya di meja dan mulai melantur pelan. Rupanya sedikit mabuk.
“Zeline kamu gak papa” ucap Bima sambil menepuk bahu Zeline lembut. Ia pun semakin khawatir melihat kondisi gadis yang selama ini selalu mengobrak-abrik hatinya.
Ya, Bima memiliki ketertarikan pada Zeline, lebih tepatnya menyukai gadis itu. Selama ini ia selalu memperhatikan gerak-gerik dan tingkah laku Zeline yang menurutnya selalu berbeda dengan gadis lain. Zeline yang kadang lucu dan kadang terlalu cuek dengan sekitarnya.
Pelayan datang membawa pesanan ke meja mereka.
“Terimakasih” ucap Bima.
“Sama-sama Kak” jawab pelayan tadi, kemudian berlalu.
“Zel minum ini coba” ucap Ana membantu Zeline meminum juice jeruknya.
Yang lainya kembali berbincang sesekali menoleh melihat kearah Zeline. Echa tersenyum remeh.
“Tadi kalo gak bisa minum wine kan bisa dikit aja minumnya, gak di serobot sampe abis setengah gitu” ucap Echa sepertinya ingin memulai pertengkaran dengan Zeline dengan membuat Zeline terlihat buruk di mata senior yang lain.
“Aku kira tadi malah suka minum wine. Soalnya kayak semangat banget minumnya Kak” ucap Echa memanasi keadaan.
Semua sontak menoleh kearah Zeline dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Eh, Cha. Loe asal banget ngomong. Loe kan ta—“
Brak
Ana terlonjak kaget sampai tak meneruskan ucapannya kala Zeline tiba-tiba menggebrak meja.
“Echa, loe tuh suka cari masalah sama gue ya” ucap Zeline, keadaanya yang mabuk. Membuatnya berdiri sempoyongan.
“Duduk aja si Zel—“
“Diem Ana” potong Zeline cepat
“Loe se enggak suka gitu ya sama gue. Emang salah gue semua itu hah” ucap Zeline, sepertinya ia mulai mabuk
“Salah gue kalo semua suka gue”
“Gue gak mau kali di sukain mereka”
__ADS_1
“Gue bilangin suami gue loe ya” ceplos Zeline melantur.
“Suami ?” ucap semua senior yang ada di sana. Mereka terkejut di kiranya Zeline masih belum menikah.
“Aduh gawat nih” guman Ana panik.
“A-apa sih maksud loe hah” sahut Echa. Ia pun panik. Jika sampai Zeline membongkar pernikahannya dengan Damian. Bisa tamat dia di hujat. Padahal kebohongan kemarin membuat nya di hujat keras. Kalo sampai Zeline membongkar identitas nya sendiri, ia akan dobel di hujat lagi.
“Mau gue bilangin suami gue loe” ucap Zeline meracau
“Zel, duduk aja ya” ucap Ana sembari menarik tangan Zeline agar duduk kembali.
Zeline pun menurut, ia kembali duduk. Tapi ia tak berhenti berbicara.
“Echa tuh sok ngaku pacarnya Damian. Cih. Segitunya ya mau jadiin Damian pacar loe” racau Zeline
Tak usah di tanya lagi bagaimana terkejut nya mereka semua. Secara, Zeline dengan entengnya menyebut pemilik perusahaan tanpa embel-embel Pak atau yang lainnya.
“Sayang banget gak berhasil ya. Uhh. Kasian” cerocos Zeline
Echa yang tak tahan pun langsung menggebrak meja marah bercampur malu.
“Apaan sih loe Zel, mabuk loe jelek banget” sembur Echa.
“Hah. Mulai lagi tuh An dia” ucap Zeline sambil tertawa.
Ana yang panik Zeline semakin meracau, memutuskan mengambil hanphone Zeline di dalam tas nya. Ia berniat ingin menelpon suami dari sahabatnya ini.
Pucuk harapan Ana, tepat saat ia akan membuka kunci handphone Zeline, layar itu menyala. Telpon dari nama “Nampyeon” tertera di sana. Meskipun ia tak tau apa artinya tapi ia yakin jika itu suami Zeline. Ia langsung menjawab telpon tersebut.
“Halo Pak—“
“Ana, gue mau laporin Echa yang jahat ke suami gue Damian Shaka Maxwell. Ya ?” rengek Zeline meracau, memotong Ana yang sedang menerima telpon.
Sedangkan di seberang sana, seorang pria mendengar jelas apa yang di bicarakan itu. Dahi nya berkerut dalam. Tak biasanya nada istrinya seperti itu. Terlebih ia tahu posisi istrinya yang sekarang menghadiri acara perpisahan kantornya. Istrinya tak pernah menunjukkan nada bicara seperti itu kepada banyak orang. Ia merasa ada yang tak beres dengan istrinya itu.
.
.
.
.
.
~ Annyeong chinguya... terimakasih atas support nya.. terus dukung dengan kasi Like, Love, Vote untuk author-nim biar semangat terus update karya nya.. 😊
__ADS_1
Gomawo chingudeul~ 🙏🏻🙏🏻❤️