Dosen Dingin Suamiku

Dosen Dingin Suamiku
6. Hari-H Dibayar Tunai


__ADS_3

Pagi ini, di kediaman Jerry sudah riweh karna persiapan pernikahan anak bungsunya. Saudara dan kerabat jauh Jerry mulai berdatangan, tak lupa juga saudara dan kerabat dari Ara yang dari Korea turut hadir karna ini merupakan pernikahan gadis kesayangan mereka. Semua berkumpul untuk persiapan pernikahan Zeline.


Zeline, yang terganggu dengan kebisingan di lantai bawah pun akhirnya bangun dari tidur nyenyaknya. Menggeliat bangun, kemudian pergi ke kamar mandi untuk mencuci muka dan gosok gigi. Setelah itu dia keluar turun kebawah. Wajahnya langsung berbinar mendapati orang kesayangannya di ruang keluarga.


“Kakek, Nenek, Halabeoji, Halmeoni” Teriak girang Zeline sembari mempercepat langkahnya ingin memeluk para kesayangannya.


“Waahh, kapan datengnya ko aku gatau.” Tanya Zeline


“Barusan datang, kita semua kan ingin melihat cucu gadis menggemaskan kami yang akan menikah ini” Sahut Nenek, Ibu dari Jerry


“Iya nih Nek, yang mau nikah gak ada grogi-groginya, tidur nya nyenyak banget. Pengantin macam apa itu” seloroh abang Zayn yang baru datang. Zeline pun langsung mencebikkan bibirnya mengerucut.


“Abang tuh ya ga malu apa mau ak langkahin, dasar jomb—“


“Dek ! ini MUA nya udah datang. Ajak ke kamar kamu bersiap” teriak Ibu Ara, belum juga Zeline selesai mencibir kakaknya. Alhasil dia harus menuruti kata Nyonya Besar itu.


“Iya Nyah, Zeline ngerti” teriak Zeline menjawab, biar dengar si Ibu jika dia sedang mode merajuk. Para sesepuh pun dibuat terkekeh dengan tingkah Zeline itu.


“Mari mbak-mbak dan emmm...” ucap Zeline bingung ingin menyapa apa, mau nyapa mas tapi dandanan mbak, mau nyapa mbak dapi gender mas, kan bingung.


“Panggil saja eika Mam. Oke cantik” jawab orang yang sudah membuat Zeline bingung itu.


Zeline dan MUA pun naik ke atas untuk persiapan pernikahan Zeline yang dilakukan jam 10 pagi nanti.


 


Tepat pukul setengah 10, rombongan mempelai pria datang. Damian tampak sangat menawan dengan jas putih yang menutupi tubuh berototnya dengan 6 roti sobek di perut nya itu. Melangkah menuju rumah yang telah dibuka lebar dengan hiasan bunga mawar merah dan mawar putih di pinggiran rumah tersebut.


“Wah, nak Damian kamu siap bayar tunai anak ayah ?” Sapa menggoda Pak Jerry selaku orang yang akan menjadi mertuanya itu.


“Insyaallah siap yah” jawab lugas Damian. Padahal dalam hati dia sedang gugup-gugupnya. Moment sekali seumur hidup soalnya.


Sedangkan di kamar Zeline, gadis cantik itu telah selesai dirias, duduk diapit kedua sahabatnya yang tadi datang langsung menghambur ke kamar Zeline.


“Duhh, Zeline loe cantik banget sih sumpah. Sekalinya di makeup loe kayak barbie idup deh” ucap Ana gemas. Zeline memang yang kesehariannya hanya memakai bedak bayi dan lipbalm aja udah cantik sekarang terlihat berbeda setelah di makeup, lebih cantik bak barbie hidup.


“Iya loe cantik, pasti Pak Damian terkejut liat lo yang begini” ucap Echa. Entahlah sejak Zeline bilang jika dia akan menikah dengan Pak Damian, Echa menjadi sedikit pendiam. Mungkin hanya feeling Zeline aja.


“Makasih, emang gue cantik dari lahir” Ana hanya memutar bola matanya malas


Mereka bertiga nyerocos ngalor ngidul, tapi lebih tepatnya Ana yang mendominasi, maksudnya untuk mengalihkan kegugupan yang kentara sekali diraut wajah Zeline. Ana mengernyit heran karna Echa juga tak banyak bicara seperti biasanya.


“Loe kenapa si cha ? Dari kemaren-kemaren jadi anak pendiam. Sok kalem loe” Tanya Ana heran.

__ADS_1


“Gue biasa aja, lagi gak mood nge-beo gue. Capek kali ngerusak pita suara” jawab Echa.


“Baru nyadar lo” sindir Zeline, yang hanya mendapat tatapan penuh arti dari Echa, entah tatapan apa itu karna Zeline tak bisa menerawangnya.


Tok tok tok


Cklek. Suara pintu di buka bersama munculnya seseorang.


“Ibuu,. Kenapa ?” tanya Zeline. Kegugupan nya kembali lagi setelah tadi sempat dialihkan oleh Ana.


“Kamu gak sadar kalo kita mau mulai akadnya, ibu jemput anak gadis ibu. Ayo Ana, Echa, Zeline nya di bawa keluar. Udah di tunggu nih.” Ucap Ibu Ara.


Perlahan Zeline menuruni tangga diapit oleh dua sahabatnya. Semua orang reflek menoleh kearah tangga ketika Zeline datang, semua terpaku, terpesona oleh kecantikan dan aura Zeline. Damian sang mempelai pria pun hanya diam mematung tak berkedip menatap wanita yang beberapa menit lagi akan menjadi istrinya itu. Zeline sungguh mempesona dengan kebaya brokat putih dengan selendang di pundaknya menambah kesan anggun dalam dirinya. Setelah Zeline sudah di dudukan disebelah Damian, ayah Jerry berdehem pelan.


“Ekhem, Dam nanti kamu bisa liat lagi sepuasmu. Bagaimana kalau sekarang kita Ijab Kabul dulu biar cepet di bayar tunai Zeline nya” Goda ayah Jerry karna melihat Damian yang tak berkedip menatap putrinya. Damian hanya diam dan berdehem, malu karna ketahuan mengagumi paras ayu Zeline.


Setelah itu di ucapkannya Ijab Kabul, dan diikuti oleh Damian dengan Tegas dan lugas,.


“Bagaimana, saksi. SAH ?” Tanya penghulu kepada saksi yang tak lain abang Zayn dan Ars selaku sahabat Damian.


“SAH..” sahut mereka. Damian menghembuskan nafas lega, akhirnya Zeline menjadi miliknya.


Setelah doa dari penghulu, lanjut sesi foto dan salam-salaman tamu undangan. Hanya kolega dari kedua orangtua mereka dan teman Zeline dan Damian.


“Sedikit sih mm-mas” jawab Zeline gugup, masih belum terbiasa memanggil suaminya Damian dengan sebutan Mas.


“Kamu duduk aja kalo capek biar aku yang ladenin tamunya” ucap lembut Damian. Zeline menggeleng menolak.


“Gausah, bentar lagi kan udah selesai, orang yang dateng sedikit”. Jawab Zeline, saat Damian ingin membelai pipi mulus Zeline, tapi ia dikagetkan dengan serobotan tangan halus yang mencekalnya untuk membelai pipi Zeline.


“Selamat ya Pak Damian untuk pernikahan nya dengan sahabat saya. Semoga langgeng dan segera dikasih momongan” ucap Echa yang mencekal tangan Damian. Entah apa maksudnya.


“Ya Terimakasih, bisa lepaskan tangan saya” ucap dingin Damian, begitulah sikap Damian pada orang lain.


“Ah.. maaf Pak” ucap Echa setengah mendesah, yang membuat heran Zeline dan Ana yang kebetulan di belakang Echa. ‘Nih si Echa kenapa suaranya dibikin agak aneh gitu ya’ Batin Zeline.


Dan setelah sesi foto dengan sahabatnya, datang Ars dan bang Zayn.


“Dam, selamat menempuh hidup baru yaa.. semoga langgeng sama adek gue. Maafin ya kalau setengah slebor nya dia kadang kambuh. Maklum adek gue limited edition” ucap bang Zayn yang menuai cebikkan kesal dari sang adek.


“Selamat menikah Dam.. bae-bae lu yaa sama bininya, cepet buat Damian junior” seloroh Ars. Zeline merona mendengar ucapan Ars, dia malah takut dengan malam pertamanya.


“Oh ya Dino sama Andro kemana ?” tanya Damian, mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Dino tadinya mau kesini dah otw dia. Tapi ya gitu di jalan di telpon RS ada operasi caesar mendadak” jawab bang Zayn.


“Iya, kalau Andro dia gak bisa dateng sekarang. Mungkin nanti kalo udah beres urusan pertambangannya dia” kali ini Ars yang menjawab. Damian hanya ber-oh ria menanggapi ucapan kedua sahabatnya itu.


 


Setelah acara pernikahan Damian dan Zeline yang selesai sore hari tadi, disinilah mereka sekarang, di sebuah rumah yang tidak terlalu megah dari rumah kedua orangtua nya. Rumah 2 lantai dengan basement itu tampak megah dengan desain modern nan simple tapi mampu menampilkan kemegahan nya karna rumah itu juga berdiri di kawasan perumahan elite. Ya, setelah acara pernikahan Zeline di boyong Damian ke rumah baru mereka yang sudah disiapkan oleh Damian. Awalnya kedua orangtua mereka keberatan, karna ingin mereka adalah, Damian dan Zeline tinggal bergantian dirumah mereka.


Memasuki pintu rumah, Zeline di buat terpukau dengan desain interior nya yang serba simple tapi terkesan modern dan nyaman, selera Zeline banget. Di lantai 1 terdapat ruang tamu dan ruang keluarga yang luas bersekat dinding kayu berongga, masuk kedalam lagi terdapat 2 kamar berjajar, ruang makan dan dapur dengan penyekat mini bar. Samping dapur ada koridor yang mengarah ke tempat laundry dan 1 kamar untuk Asisten rumah tangga nanti. Kembali kedepan di bilik sebelah kiri ruang makan terdapan jendela kaca besar yang dapan di geser, menampilkan taman tempat bersantai dan kolam renang nya.


“Kamu suka ?” tanya Damian ketika melihat Zeline duduk di kursi taman. Menoleh dan senyum manis di berikan Zeline, membuat hati Damian berdebar tak karuan.


“Mau lihat lantai 2 ?” tanya Damian lebih seperti mengajak. Zeline hanya mengangguk sebagai jawaban


Di lantai 2 lagi-lagi Zeline terkagum, disana terdapat 4 kamar, 1 kamar utama, 1 kamar kosong, 1 untuk ruang kerja, dan 1 untuk ruang fitnes.


“Kamar kita yang tengah menghadap tangga itu.” Ucap Damian. Zeline melangkah menuju kamar utama. Dibukanya kamar tersebut dan betapa terkejutnya Zeline. Kamar utama begitu luas dengan desain yang hampir seperti apartemen.


“Suka ?” tanya Damian.


“Banget mas” seru Zeline girang.


“Yaudah kita istirahat aja sekarang, besok kamu lanjutin tour rumahnya ya” ucap lembut Damian.


Mereka berdua pun membersihkan diri masing-masing. Saat Zeline keluar dari walk in closet dia begitu gugup. Apakah dia harus melakukan malam pertama nya sekarang. Tapi dia belum siap.


“Kamu ngapain diam disitu, ayo tidur aku nunggu kamu” ucap Damian. Zeline berjingkit kaget di tempatnya berdiri. ‘aduh gimana nih, gue gak siap’ batin Zeline.


“Tenang aja aku gak bakal minta HAK aku sekarang kok kalau kamu gak siap. Aku bakal nunggu kamu siap” Yang seperti tahu apa yang dipikirkan istrinya, Damian berucap demikian. Zeline bernafas lega kemudian dengan semangat dia berjalan ke kasur king size mereka. Memposisikan dirinya dengan nyaman, kemudian.


“M-mas janji ya gak ambil kesempatan dalam kesempitan ?” tanya Zeline yang di balas anggukan.


“Udah ayo tidur, night Istriku” Ucap Damian kemudian berbaring menidurkan tubuhnya yang seharian lelah dengan acara pernikahan.


Zeline terkejut mendengar panggilan dari Damian, tapi kemudian bisa menormalkan keterkejutannya.


“Night too mas” balas Zeline menyusul suaminya yang terlelap.


NB :


- Halabeoji : Kakek dalam bahasa Korea


- Halmeoni : Nenek dalam bahasa Korea

__ADS_1


__ADS_2