Dosen Dingin Suamiku

Dosen Dingin Suamiku
24. Terbongkarnya Rahasia


__ADS_3

Pagi ini, di kampus sedang heboh dengan rapat para Dosen dan Rektor, mahasiswa dan mahasiswi kompak berasumsi jika rapat kali ini membahas skandal Dosen terpopuler dan mahasiswi tercantik di kampus. Siapa lagi jika bukan tentang Damian dan Zeline.


Di aula pertemuan tampak para Dosen dan Rektor sudah berkumpul. Tak lama Damian pun datang.


“Silahkan Pak Damian” ucap salah satu Dosen. Damian hanya mengangguk. Dia bingung kenapa formasi rapat kali ini seperti meja bundar yang di tengahnya terdapat satu kursi kosong.


Tok tok tok


“Masuk” ucap Pak Sandi selaku Rektor di kampus.


Masuklah seorang gadis cantik yang memakai kaos putih di padukan cardigan pink dan celana bahan warna putih di padukan dengan sandal flat putih. Rambut yang di biarkan tergerai menambah kadar kecantikannya.


“Zeline” guman Damian ketika melihat sang istri masuk dan langsung duduk di kursi tengah yang tadi di pikirkan Damian.


“Pak kenapa ada Zeline disini ?” tanya Damian


“Yang akan kita bahas bukan hanya Pak Damian saja, melainkan Zeline yang juga bersangkutan” ucap Pak Sandi.


“Baiklah kita mulai saja rapatnya. Mengenai berita yang beredar di kampus. Apakah benar Pak Damian dan Zeline yang ada di foto itu ?” tanya Pak Sandi


“Zeline apa benar kamu menjual diri, kenapa kamu bisa ke hotel dengan Pak Damian. Kamu seorang mahasiswi bagaimana bisa berhubungan dengan Dosen kamu sendiri ?” tanya salah satu Dosen yang bernama Nina. Semua Dosen tau jika Bu Nina sangat menyukai Pak Damian.


“Bu Nina mohon jangan terlalu agresif” ucap salah satu Dosen mengingatkan.


“Maaf, Bapak dan Ibu sebenar—“ ucap Zeline terpotong karna Damian menyelanya terlebih dulu.


“Biar aku yang jelasin” ucap Damian yang sontak membuat semua orang di tempat itu terkejut. Sejauh mana hubungan antara Dosen dan mahasiswi ini pikir mereka, hingga nada bicaranya tak formal begitu.


“Memang benar saya dan Zeline yang ada di foto itu, benar juga saya dan Zeline berada di hotel tengah menginap disana. Tapi dengan status saya dan Zeline yang jelas. Saya dan Zeline waktu itu tengah merayakan 1 tahun pernikahan kami.” Ujar Damian lugas.


Zeline hanya diam tersenyum kaku melihat para Dosen dan Rektor yang ternganga tak percaya. Apalagi Bu Nina yang langsung terlihat shock.


“Kalian sudah menikah ?” tanya Pak Sandi.


“Iya, saya dan Zeline sudah menikah. Maaf karna pernikahan yang kami sembunyikan. Saya dan Zeline sepakat menyembunyikannya agar masa kuliah Zeline bisa tenang.” Ujar Damian.


“Ke-kenapa harus begitu. Apa Zeline sudah—“ ucap Bu Nina bergetar tetapi langsung di sela oleh Damian.


“Tidak. Kami menikah karna di jodohkan. Tapi lambat laun kami bisa saling menumbuhkan rasa cinta diantara kami.” tegas Damian. Wajah Bu Nin pucat pasi, harapannya untuk bersanding dengan Pak Damian yang di gilainya pupus sudah.


“Apa benar itu Zeline ?” tanya Pak Sandi.


“Benar Pak, Pak Damian adalah suami saya” ucap Zeline sambil tersenyum.


“Kalo Bapak masih tidak percaya, saya bawa buktinya” sahut Damian, kemudian membuka tas kerjanya dan mengambil bukti buku nikah lalu ia serahkan pada Pak Sandi.

__ADS_1


Pak Sandi mengambil buku nikah tersebut, membukanya dan melihat data-data pernikahan Damian dan Zeline. Damian juga menunjukkan beberapa foto penikahan mereka.


“Baiklah, kalo begitu masalah ini hanya kesalahpahaman belaka. Bisa di selesaikan dengan cepat” ujar Pak Sandi. Tapi Damian membuat satu permohonan.


“Bisakah saya meminta untuk jangan membongkar pernikahan kami ? Seperti yang saya bilang tadi, biarkan Zeline berkuliah dengan tenang” ucap Pak Damian.


“Baiklah jika begitu. Kita akhiri rapat ini, mohon maaf untuk Pak Damian dan Zeline atas kesalahpahaman ini” ucap Pak Sandi


“Saya yang harusnya minta maaf Pak” ucap Damian dan Zeline kompak.


“Ya Ampun, kompak banget pasangan ini, semoga langgeng ya” ucap salah satu Dosen. Damian dan Zeline hanya tersenyum. Sedangkan Bu Nina dia masih merasa shock dengan semua ini, harapannya sirna sebelum terukir.


“Kalau begitu saya permisi Pak Bu” ucap Zeline sambil menunduk salam.


Rapat pun selesai, Zeline berjalan menuju kelasnya karna dia ada kelas siang ini. Saat melewati depan toilet ada segerombol mahasiswi senior yang menghadangnya.


“Eh, gadis m*****n” ucap salah satu dari ketiga senior yang mengadangnya.


“Permisi” jawab Zeline cuek. Zeline ingin meneruskan langkahnya akan tetapi terhenti saat seseorang menarik rambutnya kasar.


“Heh j****g kecil. Sok-sokan loe ya. Beraninya deketin Pak Damian. Dasar murahan” ucap Cindy. Sang ketua geng yang menghadang Zeline dan juga gadis yang tergila-gila dengan suami Zeline, Damian si Dosen dingin.


“Bisa jaga mulut loe gak. Loe kating disini, tapi kayak anak urakan aja” ucap Zeline dingin.


“Aww..” rintih Zeline kala rambutnya di tarik lebih kasar oleh Cindy.


“Ngapain gue takut sama kating anak TK kayak loe” sarkas Zeline sambil menahan rambutnya yang di tarik kasar.


“Lepasin rambut gue” lanjut Zeline dingin. Dia mulai tak nyaman saat melihat sekeliling banyak orang yang melihatnya.


“Gila, berani banget sama kak Cindy” bisik salah satu mahasiswi yang berkerumun disana.


“Udah nyari skandal, sekarang nyari masalah sama kak Cindy, dia gak tau apa kalau kak Cindy anak dari ketua yayasan Univ ini.” Cibir mahasiswi lainnya.


Zeline yang mendengar pun mulai geram. Disini yang salah Cindy, tapi kenapa dia yang di hujat. Sungguh menyebalkan bagi Zeline. Hari-hari tenang nya berkuliah terganggu.


“Eh ada apa tuh rame-rame” ucap Ana ketika keluar kelas, niatnya ingin mencari Zeline yang katanya tadi sedang di panggil keruang rapat. Ana khawatir bagaimana hasil rapat yang membahas skandal heboh kemarin.


“Berantem kali An” ucap Echa santai.


“Hai, kalian lihat Zeline ?” sapa Johan tiba-tiba dari belakang Ana dan Echa, yang membuat dua gadis itu berjingkit kaget.


“Jo, bisa gak kabar-kabar dulu kalo dateng. Kaget nih” ketus Echa.


“Ya maaf nih, gue refleks pas liat kalian keluar kelas. Pas banget gue lagi cari Zeline” ucap Johan menyengir kuda.

__ADS_1


“Kita juga lagi mau nyari Zel—“ ucapan Ana terpotong kala mendengar teriakan yang menyebut nama salah satu sahabat nya.


“ZELINE PUTRI ANGGARA, ANAK KONGLOMERAT TAPI JUAL DIRI. DASAR J****G KECIL, BERANI BANGET GAET DOSEN IDAMAN GUE LOE” teriak Cindy. Dia cemburu ketika melihat foto dosen idamannya yang tengah merangkul mesra gadis tercantik di kampus. Dia iri kepada Zeline. Dia yang mati-matian berusaha mendekati bahkan menggoda Damian tapi tak pernah berhasil.


Plak, Plak


Tamparan Cindy di pipi Zeline menggema di koridor Desain. Seketika juga membuat pipi Zeline memerah dengan sedikit darah di ujung bibirnya menandakan seberapa keras tamparan Cindy. Zeline yang tak siap pun terkejut dengan tamparan tiba-tiba dari katingnya itu. Dia hanya diam menatap dingin dan tajam pada Cindy.


“Zeline..” ucap Ana terkejut saat sampai di kerumunan dan melihat kondisi Zeline.


“CINDY APA-APAAN LOE” teriak Johan. Dia terkejut saat melihat kondisi gadis pujaannya dengan kedua pipi memerah dan di sisi bibirnya yang memar.


Ana menghampiri Zeline yang terdiam menatap dingin Cindy. Melepaskan cekalan Cindy pada rambut sahabatnya saat melihat Cindy yang lengah akibat terkejut oleh bentakan Johan. Sedangkan Echa hanya di mengamati sembari tersenyum tipis hampir tak terlihat.


“Gila ya loe, bullying ini namanya !” ucap Ana marah sembari membantu Zeline yang tersungkur akibat tarikan dan tamparan dari Cindy tadi.


“Ah..HEH gak usah sok jadi pahlawan loe” ucap Cindy setelah tersadar dari keterkejutannya.


“Dasar kating gil—“ ucap Ana terpotong kala mendengar suara dingin Zeline


“Loe nampar gue” dingin Zeline.


“Kenapa emang, gak terima loe” ketus Cindy.


“Kating rendahan yang ngandelin kuasa bokap. Cih” cibir Zeline dingin.


“Gak Pantes gue ladenin” lanjut nya.


“Sseulegi (sampah)” ucap Zeline lagi.


“Sialan, ngomong apa loe barusan. Belagu loe pakek bahasa as—“


“ADA APA INI” suara berat dingin menggelegar di koridor. Zeline tau siapa pemilik suara ini.


“Kenapa berkerumun disini, kalian—“ ucapan Damian terpotong saat sampai di depan kerumunan. Dia tertegun melihat siapa yang sedang menjadi tontonan. Dia melihat dari samping tak jauh dari Istrinya yang tengah diam dengan tatapan dingin mengarah ke seorang gadis di depannya. Damian bisa melihat pipi istrinya yang merah membengkak.


“Ini kenapa ?” panik Damian yang buru-buru menghampiri Istrinya. Menyentuh kedua pipi serta mengusap sudut bibir istrinya yang mengeluarkan sedikit darah.


“Awws” rintih Zeline. Sedangkan Cindy dan yang lainnya disana terkejut melihat reaksi Dosen dingin idaman mahasiswi itu.


“P-pak” ucap Cindy terbata. Damian menoleh dan menatap tajam Cindy, membuat yang di tatap ketakutan.


“Pak, tadi Zeline di tarik rambutnya terus di tampar sama si Kating gila ini” sahut Ana yang berada di samping kiri Zeline dambil menunjuk Cindy.


“Kamu tampar dia ?” tanya Damian dingin. Cindy hanya diam ketakutan merasakan aura dingin penuh kemarahan yang keluar dari Dosen idaman nya itu.

__ADS_1


“BERANI SEKALI KAMU TAMPAR ISTRI SAYA HAH” teriak Damian menggelegar di koridor. Cindy dan yang lainnya melotot terkejut dengan ucapan Damian, tak terkecuali Johan yang sedari tadi ada disana. Dia begitu shock mendengar pernyataan tegas itu.


Sedangkan Zeline hanya diam pasrah melihat suaminya yang tengah marah besar. Zeline tak berani menyela karna dia sudah berjanji mematuhi keputusan suaminya.


__ADS_2