
Setelah kehebohan yang Damian buat di koridor kampus tadi, ia memutuskan meniadakan kelas hari ini dan di ganti dengan tugas saja.
Dan Cindy, entahlah bagaimana nasibnya setelah mendapat amukan dari Dosen idaman nya sendiri.
Sekarang Damian dan Zeline berada di kamar mereka. Damian sedang mengobati luka Zeline dalam diam dan tatapannya yang dingin sedari tadi.
“Mas, kamu marah ?” tanya Zeline di sela Damian mengompres memar di pipi dan sudut bibir nya. Tapi Damian hanya diam fokus mengobati luka Zeline.
“Mas..” panggil Zeline lagi.
“Berani-berani nya dia membuat kamu terluka. Akan aku hancurkan semua yang dia miliki” ujar Damian tegas. Kemudian ia mengambil salep dan mengoleskan pada bagian memar di wajah istrinya.
Zeline hanya diam sesekali meringis menahan sakit.
“Siapa dia ?” tanya Damian tajam.
“Yang mana ?” tanya balik Zeline.
“Yang menamparmu” singkat Damian.
“Cindy si kating sok cantik” ucap Zeline santai.
“Masa kamu gak tau sih, kan kamu juga ngisi materi di kelas dia kan” lanjutnya.
“Aku gak tau” jawab Damian.
“Aish.. kasian, padahal dia fans berat kamu” ucap Zeline pura-pura prihatin.
“Aku gak peduli” singkat Damian.
“Nah, selesai. Kamu istirahat saja, aku ke ruang kerjaku dulu.” Lanjutnya.
Setelah mendapat anggukan dan senyuman tanda terimakasih dari sang istri, Damian berlalu menuju ruang kerjanya sembari menelpon seseorang.
“Pindahkan kerjaan yang belum selesai ke rumah sekarang” ucap Damian di sela obrolannya dengan seseorang di telpon.
__ADS_1
“Aku butuh loe gerak cepat Ars” lanjutnya tegas
“Gue tunggu di ruang kerja rumah gue” ucap Damian kemudian menutup telpon nya tanpa mendengar jawaban dari sang asisten nya.
--------------------------------------------------
“Ini informasi yang loe minta” ucap Ars ketika memasuki ruang kerja atasan sekaligus sahabatnya itu. Tak lupa dia menjatuhkan setumpuk berkas di meja Damian.
“Ini udah gue periksa, tinggal loe tanda tangan aja” lanjut Ars. Ia kemudian berjalan kearah sofa tak jauh dari meja kerja Damian, menjatuhkan tubuhnya bersandar di sofa. Sedangkan Damian fokus membaca informasi yang di dapat dari anak buahnya.
“Cindy Handoko, anak dari Teguh Handoko ketua yayasan di Univ” ucap Damian.
“Emang ngapain si loe suruh gue cari informasi cewek, jangan-jangan loe—“
“Gue gak gila ya Ars” potong Damian ketus. Dia tau apa yang ada di pikiran asisten sekaligus sahabatnya itu.
Ya, Damian tadi menyuruh Ars yang sedang sibuk untuk mencari informasi tentang siswi bernama Cindy di Univ tempat dia mengajar. Ars yang awalnya ingin memaki atasannya itu ia urungkan kala mendengar suara tajam dan dingin dari atasannya itu. Dia yakin pasti orang yang sedang di target Damian sekarang sudah mencari masalah dengan Damian.
“Lah terus ngapain loe cari informasi cewek di kampus loe ngajar ?” tanya Ars.
“Ya tau, emang dia ngapain loe ?” tanya Ars lagi
“Dia berani nampar istri gue, bully istri gue di depan banyak orang” sahut Damian.
Ars yang semula menyandarkan tubuhnya di sofa seketika menegak dengan mata yang melotot kaget.
“Zeline.. gimana kondisi dia sekarang” cecar Ars.
“tadi sih gue suruh istirahat selesai gue obatin tadi“ ucap Damian
"Gak parah kan Dam, seberapa keras dia nampar Zeline ?" tanya Ars khawatir. Damian mengerutkan dahi nya.
"Kenapa loe kayak khawatir banget. Zeline istri gue kalo lo lupa" sarkas Damian. Ars melongo tak percaya, masih sempatnya Damian cemburu saat ini.
"Yaelah Dam, wajar dong gue khawatir. Zeline kan Bocan gue, adik sahabat gue juga. Otomatis gue menjadikan dia adek gue juga kali" ceplos Ars.
__ADS_1
"Cemburuan banget lu es batu" cibir Ars. Damian melotot tajam pada Ars.
"Apa loe bilang ? Gak mau ker--" ucapan Damian terpotong ketika terdengar suara ketukan dari luar.
Zeline menyembulkan kepalanya setelah mengetuk pintu, sembari satu tangannya membawa nampan minuman.
“Tadi aku ke dapur terus Bi Ima bilang ada Kak Ars.” Ucap Zeline sembari meletakan nampan berisi orange jus, tak lama Bi Ima juga menyusul dengan membawa camilan setelah itu ia kembali keluar meninggalkan 3 orang di ruangan tersebut.
“Kak Ars, di minum. Pasti capek kan. Sekalian jangan pulang, makan malam bareng disini aja” ujar Zeline ceria. Ars bisa melihat bekas tamparan di kedua pipi dan memar di sudut bibir Zeline. Dia meringis membayangkan betapa kerasnya tamparan tersebut.
“Ini kalo abang loe tau bakal uring-uringan dia Zel” ucap Ars
“Maka dari itu jangan bilang abang ya Kak Ars” ucap Zeline santai.
“Ya mas.. ?” ucap Zeline memohon dengan puppy eyes nya
“Aku kalah, Oke. Iya.” Ucap Damian pasrah.
“Tapi aku yang akan menghukum mereka, terutama Cindy. Akan ku buat mereka menyesal dengan caraku” ujar Damian dingin.
“Mas.. udahlah biarin aj—“
“Itu keputusanku sayang” ucap Damian tegas.
Zeline menghela nafas, menoleh kearah Ars untuk meminta bantuan. Ars hanya mengendikan bahunya acuh, dia tak bisa membantu Zeline. Dia tau bagaimana sifat Damian. Pria dingin itu tak akan melepaskan targetnya yang sudah melukai orang-orang yang Damian sayangi.
“Huh, terserah kamu lah. Jangan terlalu keras ke dia.” Ucap Zeline
“Aku ke dapur dulu nyiapin makan malam. Kamu lanjutin aja. Kak Ars aku tinggal dulu yaa” lanjutnya. Zeline berlalu keluar dari ruang kerja Damian setelah mencium pipi sang suami. Damian tersenyum cerah mendapat ciuman manis di pipinya. Amarah nya yang membara seakan meredam hanya dengan sentuhan lembut istrinya.
“Dasar bucin. Ck.ck.ck” cibir Ars pelan, melihat kemesraan dua sejoli yang seperti masih merasa jatuh cinta. Selalu mengumbar keromantisan di waktu yang tepat.
~Annyeong man-teman. Bantu author-nim biar semangat dong. Kasi Like, Love, Vote nya untuk author-nim. Komen juga untuk masukan author-nim.
Gomawo~ 🙏🏻🙏🏻❤️
__ADS_1