Dosen Dingin Suamiku

Dosen Dingin Suamiku
7. Hari Pertama Jadi Istri


__ADS_3

Damian mengerjapkan mata nya karena silau matahari yang masuk melewati gorden jendela besar di kamarnya, setengah sadar dia meraba pelan sisi ranjangnya. Dia terbangun karna ranjang sebelahnya kosong tak ada istrinya. Damian berpikir apakah istrinya tidur di kamar lainnya, tapi kemarin sewaktu dia akan tidur dia melihat istrinya merebahkan tubuh nya di sisi ranjang sampingnya.


Damian segera beranjak keluar kamar, takut-takut apa yang di pikirankan nya benar. Tapi saat dia akan pergi ke kamar sebelah, ia mendengar suara gaduh dari arah dapur. Di hampiri nya, dan ketika sampai dapur dia hanya tersenyum mendapati pemandangan di depannya.


Zeline, istri nya tengah memasakk. Ya kemarin sebelum di tempati seluruh isi rumah bahkan kulkasnya sudah di isi lengkap oleh Damian. Gerakan Zeline yang lihai menunjukkan dia sudah terbiasa dalam hal memasak.


“Hmm.. aku hari ini masak ayam kecap doang aja deh. Kan hari pertama jadi istri, jadi harus sedikit nyantai dong” monolog Zeline. Damian hanya mengulum senyum lucu mendengar istrinya berceloteh sendiri, inikah yang di katakan bang Zayn jika istrinya itu kadang setengah slebor. Hah, hari-hari Damian pasti akan semakin berwarna.


“Kamu masak apa aja aku makan kok Zel” ucap Damian mengagetkan Zeline. Zeline memutar tubuhnya cepat, mendapati suaminya tengah berdiri menyender di samping meja bar, dengan kedua tangan bersedekap di dada, dengan rambut acak-acakan tapi malah mendambah kadar ketampanannya.


“Eh, m-mas udah bangun” tanya Zeline gugup.


“Hemm..” ucap Damian sambil mendekat kearah Zeline.


“Kamu mau sampai kapan sih gugup kalo manggil aku mas” ucap Damian terus mendekat, mengikis jarak antara dirinya dan Zeline.


“Hah.. ya ya nanti deh aku pikirin lagi sampai kapannya” jawab Zeline gugup karna Damian terus mendekat padanya, jantung Zeline terus berdebar saat Damian terus mengikis jaraknya.


Damian terkekeh mendengar jawaban lucu Zeline. Di rengkuhannya pinggang langsing Zeline, dan berucap.


“Sekarang biasakan ya Zel, karna aku suamimu. Jangan gugup lagi” bisik Damian tepat di telinga Zeline. Zeline membeku, tubuhnya merinding mendengar bisikan Damian, dia bisa merasakan nafas hangat Damian menyapu telinganya, membuat jantungnya makin tak karuan.


“I-iya mas.. emm tapi mas bisa di lepas dulu gak ini. Ak mau siapin sarapan dulu” Jawab Zeline mengingatkan Damian akan posisi mereka yang sedikit intim itu.


“Oke, aku mandi dulu" ucap Damian.


“Iya mas” sahut Zeline yang masih sibuk menyiapkan makanan ke meja makan.


Di kamar, Damian mendekap dada yang berdebar ketika berdekatan dengan Zeline. Tadi dia reflek mendekati Zeline karena pagi itu Zeline yang begitu menggoda ketika memasak dengan celana pendek dengan kaos longgar warna hitam yang menutupi celananya, rambut yang di cepol asal-asalan terkesan seksi di mata Damian. Apalagi leher jenjangnya yang terekspos, ingin sekali Damian memberi kecupan tanda bahwa Zeline miliknya.


“Hah, bisa gila gue kalo nunggu Zeline nerima gue. Untung aja tadi gak khilaf.” Keluh Damian.


Damian pun berlalu ke kamar mandi. Menikmati guyuran shower pada tubuh nya sekaligus meredam sesuatu di bawah sana yang berdiri sejak dia hanya melihat penampilan Zeline tadi.


 


Setelah tadi Damian mandi dan sudah sarapan bersama Zeline, sekarang mereka sedang bersantai di ruang keluarga. Damian yang sibuk dengan laptopnya dan Zeline yang sibuk melihat drama korea yang sempat tertunda ia tonton. Sampai konsentrasi mereka terbuyarkan saat bel pintu rumah berbunyi nyaring.


“Biar aku aja mas yang buka, mas lanjutin aja kerjaannya”sahut Zeline cepat yang mendapat anggukan dari Damian.


Cklek


Di bukanya pintu rumah Zeline, tapi Zeline mengernyit heran merasa tak kenal dengan 2 orang tamu di depannya ini.


“Emm.. maaf cari siapa ya ?” Tanya Zeline. Tapi kedua pria di depannya ini hanya diam mematung sambil menatap dirinya, membuat Zeline risih dengan tatapan mereka. Tak berselang lama suara langkah kaki dari dalam rumah terdengar mendekat kearah Zeline.

__ADS_1


“Siapa Zel ?” Tanya Damian sambil mendekati Zeline. Ketika sampai di ruang tamu, Damian melotot geram karena melihat 2 sahabatnya itu tengah menatap kagum istrinya. Sontak dengan langkah lebar dia maju kedepan istrinya, bermaksud menghalangi istrinya dari tatapan lapar 2 pria di depan rumahnya ini.


“Heh.. Istri gue bukan pemandangan yang bisa seenaknya di lihat ya” Hardik Damian cepat. Mana rela dia jika istrinya dilihat dengan mata penuh minat begitu.


Kedua sahabat Damian pun tersadar, dan segera menormalkan pandangan mereka.


“Yaelah Dam liat dikit doang juga” sahut Dino mencebik. Posesif banget si Damian setelah nikah.


“Dikit pun gak boleh ya, enak aja dia tuh is—“ belum selesai Damian berucap, karna di sela suara sahabat satunya lagi yang baru datang.


“Eh ngapain masih pada di depan sih, kenapa ? Gak boleh masuk nih Dam ?” tanya Ars sedikit menyindir.


“Eh Dam, ngapain adek gue berdiri di belakang loe, kalian lagi main kereta-keretaan ya” seloroh bang Zayn.


“Lebih parah dari itu bro, maksud hati Damian tuh nyembunyiin bininya. Katanya bininya bukan pemandangan jadi gak boleh diliatin gitu” ucap Andro mencibir si bucin Damian.


“Udah ah, ayo pada masuk semua. Zeline siapin cemilan sama minum dulu yah” sergah Zeline.


Damian dan keempat sahabatnya pun masuk ke ruang keluarga, tak lama Zeline datang dengan camilan dan minuman di nampan yang ia bawa.


“Silahkan diminum kak.. Zeline tinggal dulu, kalian ngobrol aja”. Ucap Zeline


“Mas, Zeline keatas dulu ya, mau nyiapin buat kuliah besok juga” pamit Zeline ke suaminya yang di balas anggukan oleh Damian.


Sepeninggalan Zeline, kini keempat orang itu tengah mengintrogasi 1 orang tersangka.


“Gol apa, emang gue lagi main bola ?” tanya balik Damian


“Elah sok-sokan lugu lu mah” ucap Dino sebal.


“Loe udah merawanin adek gue belum Dam ?” sekarang giliran Abang ipar nya yang bertanya.


Keempat pria itu diam menanti jawaban dari Damian, karna Damian yang tak kunjung menjawab pertanyaan bang Zayn tadi.


“Belum” singkat Damian mengundang decakan sebal dari semua sahabatnya.


“Ko bisa belum, loyo lo” sarkas Ars mengejek.


“Gue pecat lu ya Ars.” Hardik damian kesal. Enak aja di bilang loyo, tanding aja belum.


“Lah kenapa, apa itu gak bisa tegak ?” giliran Dino yang mengejek.


“Lu dokter mesum ya ternyata” sarkas Damian.


“Lah emang gue dokter spesialis hasil dari cetak-mencetak gol yang nantinya jadi seonggok daging yang bernyawa” jawab Dino sang Dokter Spesialis Kandungan.

__ADS_1


“Kenapa belum Dam, karena loe nikah terpaksa akibat perjodohan dengan adek gue ?” tanya Zayn penasaran.


“Dia mah malah seneng kali Zayn di nikahin sama adek loe, orang dia cin—“ belum selesai Ars menjawab, mulutnya langsung di bekap oleh Damian. Bahaya jika sampai Zeline tau. Kan malu dia.


“Apaan sih Ars, Dam lepasin Ars gak, dia belum selesai ngomong tuh” ucap Zayn kesal, dia kan pengen tau apa alasan Damian tak melakukan hal yang “iya-iya” pada sang adek.


“Gini Zayn, gue tuh gak mau maksa Zeline. Dia bilang kalo belum siap, yaudah gue terima aja” sahut Damian.


“Udah loe kesini pada ngapain ? Ganggu waktu istirahat gue aja “ ucap Damian kesal. Padahal sedang menghindar dia.


“Ganggu waktu istirahat loe apa ganggu waktu berduaan loe nih” cibir Andro


“Dua-duanya” serobot Damian.


“Yaelah kan gue kemarin sama si Andro gak bisa dateng, nah sekarang baru bisanya sekalian kumpul. Dah lama kita gak kumpul” jawab Dino.


Begitulah obrolan-obrolan mereka berlanjut, dari membahas hal yang sepele sampai ke hal serius yang di selingi dengan perdebataan dan candaan, hingga tak terasa sore hari pun tiba dengan begitu cepat. Akhirnya ke tiga sahabat Damian berpamitan pulang, Zayn tertinggal karna masih ingin berbicara dengan sang adek.


Saat Damian masuk setelah mengantar ke tiga sahabat nya sampai depan pintu, disana di meja bar, Zayn dan Zeline sedang berbicara serius dilihat dari raut wajah mereka yang tengah fokus membicarakan suatu hal. Damian pun berlalu ke kamar untuk membersihkan diri nya, tak mengganggu obrolan abang dan adik itu.


Ketika Damian turun ke bawah dilihatnya Zeline yang sendiri menyiapkan makanan di meja makan.


“Zel, Zayn kemana ?” tanya Damian


“Barusan aja pulang mas, katanya ada perlu, buru-buru jadi gak sempet kalo nunggu mas” jawab Zeline sambil sibuk menyiapkan makanan.


Damian hanya berdehem menjawab kemudian duduk diam di meja makan, Zeline dengan cekatan menyiapkan makanan untuk suaminya. Setelah piring Damian terisi barulah Zeline mengisi piring nya, mereka makan malam dengan hening.


Setelah makan malam mereka langsung masuk ke kamar. Damian yang bersandar di punggung ranjang tengah menatap Zeline yang sedang melakukan aktivitas nya sebelum tidur.


“Zel besok akan ada ART yang datang biar kamu gak kerepotan”


“Ngapain mas, aku bisa ko ngerjain rumah sendiri” ucap Zeline


“Ya, tapi nanti kalo udah kuliah pasti kamu capek, lagian ak cari istri ya bukan pembantu. Kamu cukup layani kebutuhan ku dan makanan ku sehari-hari” ucap Damian lugas. Zeline pun berpikir ada benarnya ucapan sang suami jadi dia hanya patuh saja.


“Yaudah terserah mas aja, aku nurut” ucap Zeline sambil beranjak memposisikan dirinya di ranjang


“Night mas, aku tidur dulu ya dah ngantuk, sisanya capek kemarin nih”kelakar Zeline. Yah, dia mulai mencoba mengakrabkan dirinya seperti nasehat abangnya tadi.


Kamu udah jadi istri dek, harus patuh sama suami. Meskipun nikah karna perjodohan kamu gak boleh mengacuhkan suamimu. Mulai lah mengakrabkan diri dengan Damian, dia sebenarnya lembut kok kalau kamu udah akrab sama dia. Begitulah nasehat abangnya.


“Hmm night too Zel,”balas Damian lembut. Setelah itu Zeline sudah berkelana di alam mimpinya. Sedangkan Damian tengah menatap Zeline dengan senyuman manisnya.


“Kamu cantik. Sayang kamu” ucap pelan Damian, kemudian ikut menyusul Zeline ke alam mimpi.

__ADS_1


~Aloha man-teman yuk bantu author-nim, jangan lupa kasi jempolnya ya biar author-nim semangat.. Gomawo~


__ADS_2