Dosen Dingin Suamiku

Dosen Dingin Suamiku
13. Debat Antar Sahabat


__ADS_3

Setelah kepergian Zeline, Ars menuju ruangannya yang berhadapan dengan ruangan CEO di lantai 15. Dia urungkan niatnya masuk keruangannya karna penasaran kenapa Zeline keluar dengan mata sembab tadi.


Tok tok tok


Ars melewati meja Bella yang diacuhkannya, mengetuk pintu CEO tapi tidak ada balasan.


 


Sedangkan di dalam ruangan Damian. Dia sedang menatap tajam gadis yang merupakan sahabat istrinya itu. Yang di tatap hanya acuh seolah biasa saja. Membuat Damian jengkel.


“Lain kali jangan sembarangan berbuat di ruangan saya” tegas Damian dingin.


“Saya gak sengaja tergelincir Pak,”jawab Echa tak berdosa.


“Ck.. lain kali kalo ada tambahan pada proyek, biar PA saya yang handle” putus Damian dingin.


Sebenarnya Damian sedang kacau, mengkhawatirkan istrinya yang tadi memergokinya dengan posisi yang sedikit intim. Padahal niat Damian menolong Echa yang hendak melangkah pergi dari sampingnya yang tadinya ingin menjelaskan proyek susulan dari sang Papa. Tapi sialnya Echa tergelincir oleh heels nya dan berakhirlah adegan yang terpergok Zeline.


“Tapi kan saya jug—“


“Kamu bisa pergi dari ruangan saya” sambar Damian dingin.


Echa mengepalkan tangannya kuat, berbalik melangkah pergi dari ruangan Damian. Dia terkejut ketika membuka pintu ternyata ada Ars berdiri didepannya. Ars pun hanya diam dengan tatapan dinginnya.


“Permisi” ucap Echa ketus dan dibalas deheman oleh Ars, kemudian Ars menggeser tubuhnya memberi jalan. Echa pun berlalu dari sana dengan wajah jengkelnya.

__ADS_1


“Zeline cuman mampir doang kesini Dam ?” tanya Ars. Damian mengurungkan niatnya untuk menjawab pertanyaan Ars saat matanya melihat kota bekal yang di bawa Ars.


‘Itu kan kotak bekal yang Zeline bawa tadi’ batin Damian berpikir.


Ars bingung kenapa Damian diam saja memandang dirinya, Ah lebih tepatnya memandang kotak bekal yang ia bawa.


“Dari Zeline, tau aja tuh Bocan kalo gue belum makan siang” ucap Ars sambil menunjuk kan kotak makan Zeline.


“Bocan ?” tanya Damian penasaran.


“Humm, Bos Cantik. Katanya loe dah makan, timbang mubadzir, dikasi gue deh. Perhatian banget sama karyawan” ucap Ars tersenyum, tak tau apa jika sekarang Damian tengah mengobarkan api cemburu.


“Eh tuh si Echa dari tadi baru kel—“


“Gue laper lagi, ini buat gue. Loe cari makan sana” ketus Damian. Sedangkan Ars hanya melongo tak percaya, dia ngomong belum selesai Damian di depannya main langsung nyambar bekal di tangannya aja.


“Serius Dam, kayaknya tuh bekal banyak deh soalnya berat tadi pas gue bawa.” Ucap Ars.


“Bagi dua dong Dam, gue kan pengen ngerasain masakan Bocan” tawar Ars yang malah memperbesar kobaran api cemburu di hati Damian mendengar sahabatnya memuji istrinya.


“Gue bisa habisin, sekarang loe ke.lu.ar” ucap Damian penuh penekanan.


“Aelah pelit banget lu, tiati kesedak lu pas makan” cibir Ars sambil pergi dari ruangan sahabatnya itu. Tapi langkahnya terhenti saat ingat tujuannya kemari.


“Dam, tadi loe apain Zeline. Gue ketemu di bawah pas dia mau keluar. Muka nya kayak abis nangis.” Ucap Ars, berbalik menatap Damian yang terlihat tegang mendengar ucapannya.

__ADS_1


“Loe lagi ada masalah sama Zeline” tebak Ars tepat melihat Damian yang diam menegang tak merespon ucapannya.


“Atau tadi loe sama si Echa—“


“Gue gak segila itu ya Ars. Loe tau gimana perasaan gue buat Zeline” sambar Damian memotong ucapan Ars.


“Oke, gue gak tau apa masalah kalian. Tali mending kalian beresin dari pada tambah rumit nanti” saran Ars


“Ini rumah tangga gue, gak perlu loe ikut campur” sahut Damian tajam.


“Bukan ikut campur Dam, gue kasi saran. Gue tau gimana sikap loe ketika ada masalah” tegas Ars


“Gue tau, gue bisa atasin masalah rumah tangga gue sendiri” ucap Damian penuh penekanan. Ars mendesah, mengalah. ‘Damian kalo lagi jadi batu sulit di leburin Ars, sabar’ batin Ars mengeluh.


Ars pergi dari ruangan Damian, daripada perdebatan nya memanjang dia lebih memilih mengalah. Setelah keergian Ars, Damian masih berdiri termangu.


‘Zeline sampe nganterin makan siang buat gue’


‘Tapi gue malah bersikap cuek ke dia’


‘Pasti dia marah liat gue sama si Echa tadi’


“Maafin aku sayang” lirih Damian sambil menatap sendu kotak bekal di tangannya.


~Aloha.. author-nim balik lagi. Terimakasih yang udah mau baca cerita membosankan author-nim. Tapi mohon kasi jempol, love and tinggalkan jejak cinta kalian dong, kasi masukan atau saran untuk novel baru author-nim. Gomawo~

__ADS_1


__ADS_2