
Saat ini, Zeline, Ana dan Bi Ima sedang menunggu di poli obgyn setelah tadi Ana sudah mendaftarkan ulang Zeline.
Tadinya mereka periksa di poli umum, dan Zeline di beri beberapa pertanyaan yang kemudian ia di sarankan periksa ke poli obgyn. Mereka menunggu 1 nomor antrian sebelum giliran Zeline di panggil.
“Gue sakit apa ya An” ucap Zeline cemas.
“Ya nanti kan di periksa dokternya. Loe tenang aja” sahut Ana.
“Gue takut nih jangan-jangan gue ada penyakit di rahim gue” cemas Zeline.
Pluk
Ana menepuk mulut Zeline pelan.
“Sembarangan aja mulut nya ya. Berdoa yang baik dong. Emang nya kalo ke obgyn tuh karna penyakit doang” sembur Ana.
“Ya tapi ap—“
“Ibu Zeline Putri Anggara” ucapan Zeline terjeda saat perawat memanggil nama nya. Sekarang adalah giliran nya.
“Ayo Zel” ucap Ana sambil berdiri.
Zeline pun ikut berdiri. Namun saat akan melangkah kan kaki nya ia menoleh ke samping.
“Bibi gak ikut ?” tanya nya.
“Enggak Non. Bibi tungg Non di sini saja” jawab Bi Ima.
Zeline pun mengangguk dan kemudian berjalan bersama Ana memasuki ruangan dokter.
“Silahkan duduk” ucap dokter yang ber name tag Sofi itu ramah.
“Baik dok” sahut Zeline dan Ana.
Mereka berdua duduk setelah perawat menutup pintu ruangan praktik dokter.
“Emm.. jadi Bu Zeline nya yang mana ini ?” tanya dokter Sofi.
“Saya dok” sahut Zeline.
“Baik. Ada keluhan apa Bu ?”
__ADS_1
“Tadi sih saya muntah-muntah Dok, terus lemas gitu. Kayak perut tuh rasanya mual terus. Tadi periksa ke dokter umum, eh di suruh ke sini. Padahal rasanya saya cuman masuk angin aja sih, perut juga kayak agak kembung” jelas Zeline.
Dokter Sofi tersenyum kemudian merogoh rak meja nya seperti mencari sesuatu sambil bertanya.
“Ibu. Haid terakhir tanggal berapa ?”
“Eh.. Itu saya...” ucap Zeline menjeda, ia sedang berpikir.
“... Lupa Dok. Kenapa Dok ?” sambung nya bertanya.
Dokter Sofi kembali menegakkan tubuhnya setelah mendapat kan barang yang ia cari. Ia meletak kan di depan Zeline sambil tersenyum.
“Coba ke kamar mandi sebelah sana Bu untuk mencoba alat ini”
“Ini apa ya Dok ?” tanya Zeline polos.
Dokter Sofi mengernyit bingung, ia oun bertanya lagi.
“Apa Ibu sudah bersuami ?”
“Sudah Dok. Suami saya lagi kerja. Mangkanya saya ke sini sama teman” jawab Zeline.
“Udah deh loe cepet pakai tuh alat, loe gak liat apa tulisan nya. Itu alat tes kehamilan” bisik Ana kemudian yang masih bisa di dengar Dokter Sofi di depan nya.
Dokter Sofi pun terkekeh mendengar bisikan mereka yang bisa ia dengar.
“Ibu tingga taruh urine nya di wadah yang saya kasi ini, kemudian celupkan alat tes nya sesuai garis batas nya ya. Setelah itu bawa kesini alat tes nya” jelas Dokter Sofi.
Zeline mengangguk, ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi yang terletak di ruangan Dokter tersebut.
Beberapa menit kemudian, Zeline keluar membawa alat tes sesuai perintah Dokter Sofi dan menyerahkan kepada Dokter tersebut.
Dokter Sofi tersenyum melihat hasil tes Zeline. Kedua gadis itu menatap lekat Dokter Sofi, menunggu apa yang akan di katakan dokter tersebut.
“Bu Zeline silahkan berbaring di bed dulu, saya periksa ya”
“Ah baik” jawab Zeline segera melakukan apa yang di suruh Dokter Sofi.
Ana melihat dengan seksama setiap pergerakan di ruangan tersebut, mulai dari perawat yang memberi selimut di area bawah Zeline, kemudian menyingkap kaos yang Zeline pakai dan memberi gel di atas perut Zeline. Sedangkan Dokter Sofi terlihat memegang alat yang asing di mata Ana maupun Zeline dan meletakkan alat itu di atas perut Zeline yang sudah di lumuri gel tadi.
Alat itu bergerak kesana-kemari seolah tengah mencari sesuatu.
__ADS_1
“Nah bisa di lihat di layar depan Ibu ya. Ini. Di sini. Di dalam perut Ibu ada buah cinta Ibu dengan suami Ibu. Selamat ya Bu Zeline. Ibu tengah mengandung. Dan emm usia kandungan nya sekitar...” jeda Dokter Sofi sembari mengutak-atik alat di samping nya.
“... 9 minggu. Selamat sekali lagi ya Bu” sambung nya ramah.
Sedangkan Zeline diam terpaku sambil menatap haru layar di depan nya. Ia masih tak menyangka, terkejut, senang jadi satu saat ini memenuhi relung hati nya. Harapan yang ia inginkan selama ini akhir nya terkabul sekarang.
Ana perlahan menghampiri sahabat nya yang terlihat bergeming dengan tatapan yang masih ke arah layar. Ketika ia sudah mendekat, dapat ia lihat bahwa mata sahabat nya sudah berembun.
“Zel..” panggil nya.
“G-gue h-hamil An” ucap Zeline gemetar.
“G-gue bisa wujudin keinginan mas Damian An” lanjutnya menoleh kearah sahabat nya. Air mata nya sudah tumpah ruah membasahi pipi mulus nya.
Ana begitu terharu melihat kebahagiaan sahabatnya. Secepat kilat ia menyambar tubuh sahabat nya, memberi pelukan hangat.
“Emm.. Selamat Zel. Loe jadi Ibu” ucap nya.
“Emm.. Maaf jika saya memecah momen haru kalian berdua. Tapi bisakah kita lanjutkan lagi di bangku. Karena maaf, pasien yang lain juga sedang menunggu” ucap Dokter Sofi ramah.
“Ah maaf Dok. Kita bikin drama di sini” sahut Zeline tak enak hati. Ia kemudian bangkit dari brangkar kembali duduk di bangku bersama Ana.
“Nah, karena Bu Zeline mulai mual muntah jadi saya beri anti mual dan vitamin. Untuk mual itu wajar di trimester pertama atau 3 bulan awal kehamilan. Setelah 3 bulan atau memasuki trimester dua dan tiga itu sudah hilang akan tetapi ada beberapa juga yang mual lagi di trimester ketiga karena tekanan di perut, tapi itu tidak apa-apa kok. Makan yang bergisi, minum susu ibu hamil, dan jangan terlalu melakukan aktivitas yang berat ya” jelas Dokter Sofi
“Baik Dok. Akan saya ingat. Terimakasih” ucap Zeline.
“Baiklah. Kontrol kembali bulan depan ya. Sehat selalu ya Ibu dan bayi nya” ucap Dokter Sofi
“Terimakasih sekali lagi Dok” kini giliran Ana yang berucap. Dokter Sofi membalas dengan senyuman.
Mereka berdua berdiri, Zeline membungkukkan kepalanya memberi hormat. Sudah menjadi kebiasaan nya memang. Dan setelah itu mereka berdua keluar dari ruang Dokter tersebut dengan wajah yang masih ada sedikit keharuan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
~ Annyeong chinguya... terimakasih atas support nya.. terus dukung dengan kasi Like, Love, Vote untuk author-nim biar semangat terus update karya nya.. 😊
Gomawo chingudeul~ 🙏🏻🙏🏻❤️