
3 minggu berlalu dengan rutinitas baru Zeline yaitu Magang nya di perusahaan suaminya sendiri. Dan 3 minggu pula dia jarang mengobrol dengan sahabatnya karna kesibukan tiap team untuk acara Fashion seminggu lagi, dan kebetulan hari ini adalah rapat final pengambilan desain tiap team.
Saat Zeline memasuki lobby kantor, seluruh karyawan sedang berbisik-bisik. Zeline yang cuek pun hanya mengendikan bahunya acuh.
“Katanya CEO pusat mau kunjung lo”
“Gak pernah kesini, kok tiba-tiba ya ?”
“Dan berita hebohnya, CEO pusat tuh ganteng parah,”
Sekelebat Zeline mendengar kasak-kusuk karyawan yang ia lewati.
“Suami gue mau kesini ? Kok gue gak tau ya.” Gumam Zeline pelan.
Di tengah pikirannya, suara bariton tiba-tiba menginterupsi nya.
“Zeline” yang di panggil pun secepat kilat menoleh kemudian menundukkan kepalanya sebagai hormat.
“Desain kamu sudah jadi ?”
“Sudah Kak Bim” jawab Zeline pada lelaki yang memanggilnya tadi. Bima, ketua pelaksana team nya.
“Nanti jam 9 kita meeting bahas ini sama CEO pusat”
“Beneran mau kesini ya Kak Bim ?”
Bima mengerutkan dahinya bingung dengan ucapan Zeline. Di pikirnya Zeline ini bertanya atau lebih ke memastikan begitu.
Melihat gelagat bingung Ketuanya, buru-buru Zeline menjelaskan.
“Tadi denger karyawan lain berita itu Kak”
“Oh, ya seperti yang kamu dengar”
“Oh..”
Bima menatap bengong Zeline yang sudah berlalu. Baru pertama kali nya Bima mendapat ucapan yang singkat, malah terkesan acuh. Sungguh gadis magang itu membuatnya tertarik dengan pesona, dan pembawaannya itu.
Jam 8.50 Damian sudah berada di perusahaan tempat istrinya magang. Dalam hati ia mendesah, ia yakin istrinya sudah tau berita berkunjung nya dia ke perusahaan fashion. Pasti istrinya akan mengomel dan mengancamnya nanti.
“Buru masuk, diem aja sih” ucap Ars setelah turun dari mobil dan melihat Damian yang diam mematung memandang perusahaan nya.
__ADS_1
“Pasti gue kena omel nanti” keluh Damian.
“Siapa yang berani ngomelin lu di sana nanti” tanya Ars sembari menunjuk gedung kokoh itu.
“Siapa lagi kalo bukan nyonya gue”
Ars menahan tawanya, ia tau kalau Damian tak memberitahu istrinya perihal kedatangan nya ke tempat magang sang istri. Tapi dia gak tau jika Damian setakut ini pada sang Nyonya nya.
“Ekhem.. mari silahkan Pak Damian” ucap Ars setelah menetralkan suaranya.
Keduanya berjalan masuk ke dalam. Tepat di lobby semuat staff penting menyambut kedatangannya. Damian yang tak suka berbasa-basi langsung meneruskan langkahnya menuju ruangan meeting di ikuti para staff yang lain. Ia mengacuhkan setiap pujian dari karyawan yang ia dengar.
Sedangkan ketiga team desain sudah berada di ruang meeting, menyiapkan beberapa desain mereka yang sudah fix untuk di presentasikan nanti.
Cklek.
Pintu ruangan terbuka, ketiga team menoleh dan melihat beberapa staff yang sedang memberi jalan seseorang. Setelah itu munculah Damian di ikuti Ars di belakangnya.
“Ekhem bisa kita mulai” ucap Ars memecah keheningan, lebih tepatnya memutus kontak mata pasutri yang duduk nya hanya berjarak 5 kursi dari posisi Damian duduk memimpin.
Zeline yang duduk di belakang kursi meeting ini langsung melengos.
“Pak, mohon konsentrasi pada monitor, ini meeting” kata Ars pelam mengingatkan, pasalnya Damian terus memperhatikan sang istri.
Saat bersamaan, ada sepasang mata yang melihat geram kearah mereka, tepatnya kearah pandangan Damian.
“Emm.. maaf menganggu. Tapi bolehkah saya izin ke toilet sebentar” ucap Zeline di tengah rapat berlangsung.
“Silahkan Nona” sahut Ars cepat, ia tau bahwa ia tak akan terkena semprot Damian. Kan yang izin istrinya sendiri, begitu pikir nya.
Setelah Zeline keluar, Damian tiba-tiba berdiri dan langsung melenggang pergi. Para anggota meeting melongo, CEO yang dingin itu bisa berbuat begini.
“Maaf, Pak Damian ada perlu menjawab telpon” jelas Ars.
‘Sial, si Bos. Seenaknya pergi. Gue tau lu nyusulin bini loe pasti. Ck. Bucin nyusahin’ gerutu Ars dalam hati.
Grep.. Sraak
Zeline terkejut dengan tarikan yang tiba-tiba saat ia keluar dari toilet. Ia di seret cepat menuju ruang CEO. Kebetulan di lantai 10 hanya ada tempat CEO dan ruang meeting.
__ADS_1
“Apa sih mas” sahut Zeline sembari menyentak tangan Damian.
“Mas minta maaf” lirih Damian. Ia gusar karna semenjak meeting tadi, Zeline selalu mengacuhkan nya dan ia tau apa penyebabnya.
“Kenapa gak bilang ?”
“Mau buat kejutan maksudnya sayang”
“Aku gak terkejut tuh”
“Malah sebel sama kamu, gak bilang di rumah tapi aku denger di kantor”
“Aku berasa kaya istri oon tau gak”
“Maaf yang..”
“Awas yaa kalo bongkar identitas”
Damian menganggukan kepalanya.
‘Tapi gak janji’ ucap Damian dalam hati.
“Awas aja kalo bongkar identitas, gak ada jatah 1 minggu” ancam Zeline lagi yang membuat Damian langsung mengangguk kepala lagi dengan cepat.
Bisa susah tidur dia kalo ga pake ‘iya-iya’ in istri nya dulu. Emang Damian semakin menjadi absurb setelah menikahi Zeline.
Kemudian keduanya keluar dari ruangan Damian dan bergantian masuk keruang meeting, seolah mereka tak saling kenal dan juga untuk meyakinkan yang lainnya. Melanjutkan meeting yang sempat tertunda karna keluarnya Damian tadi.
.
.
.
.
.
.
.
~ Annyeong teman, jangan lupa dukung author-nim yaa.. kasi Like,Love,Vote dan hadiah untuk author-nim yaa
__ADS_1
Gomawo~🙏🏻🙏🏻❤️