
Setelah meeting tadi, Damian tak langsung kembali ke kantor pusat. Ia memilih menghabiskan harinya di perusahaan cabangnya, bekerja sembari mengamati istrinya.
Sedangkan Zeline, ia disibukkan dengan pembuatan gaunnya. Ya, gaun Zeline terpilih menjadi salah satu desain yang akan tampil di fashion week nanti. Ia begitu antusias, dan para seniornya juga tak iri dengan keputusan yang sudah di buat tadi. Mereka bersama-sama mengerjakan desain nya.
“Terang aja si Bos pilih desain lo, bagus banget. Classy simple gini” decak Fara kagum.
“Masih anak belajaran aku kak”
“Belajaran gimana, udah kayak pro gini, sekarang si Novi ada saingannya” canda Risa.
“Kak, kok gitu. Jangan ah, gak enak aku” ucap Zeline tak enak hati.
“Udah biarin aja Zel, emang mereka suka gitu. Kamu santai aja. Oke” ucap Novi tersenyum.
Ke empat perempuan itu asyik bekerja sembari bercanda ria, dan semua tak luput dari pengawasan Bima. Lebih tepatnya Bima, ia sungguh takjub dengan kemampuan Zeline. Dan dalam hati mulai mengagumi anak magang itu.
“Ah capeek, istirahat dulu yuk..” ucap Risa, Zeline melihat jam yang melingkar di tangan nya.
‘Ah udah waktunya makan siang’
‘Mas Damian udah balik kantor pusat apa belum ya’
‘coba deh aku telpon’
Batin Zeline, kemudian mengambil handphone yang ia letakkan di mejanya, berjalan sedikit menjauh dari para seniornya.
Tut..Tut..
Sambungan pertama tak di angkat, tapi tak membuat Zeline menyerah. Ia kembali menelpon suaminya..
Tut..Tut..
“Halo sayang” ucap Damian di sebrang sana.
“Halo. Assalamualaikum” sindir Zeline menekan di akhir ucapannya.
“Hehe, iya Waalaikumsalam sayang” ucap Damian
__ADS_1
“Ada apa yang” lanjutnya
“Mas udah balik ke kantor pu—“
Belum selesai bicara, suara bariton di belakangnya menyela.
“Zel, mau makan bareng ?” tawar Bima yang menyela pembicaraan Zeline barusan.
“Eh.. kak emm..”
“Yang lain udah pada makan, mau tanya kamu, tapi kamu nya lagi telepon” ucap Bima.
“Telpon siapa emang ?” lanjutnya
Zeline mengernyit kan dahi nya bingung, begitu pun Damian yang sudah panas di sebrang sana mendengar percakapan istrinya dengan seorang pria yang ia ketahui adalah Ketua pelaksana di team Zeline.
‘Ngapain tuh si cunguk kepo banget ke istri gue' batin Damian kesal
“Emm sama saudara Kak” bohong Zeline, sedangkan Damian melotot tak percaya dengan ucapan istrinya.
'Ishh, ngapain pakek bohong si yang’ batin Damian semakin kesal.
“Oh, mau aku tungguin. Sekalian makan bareng” ucap Bima
“Eh enggak perlu kak, Kakak duluan aj—“
“Udah ngga papa. Lagian kasian kamu gak ada temen nya nanti” sela Bima kemudian duduk di kursi Fara, menunggu Zeline.
Zeline tak bisa berkutik lagi, dia lalu kembali berucap ke suaminya di telpon.
“Emm, mas. Zeline makan siang dulu ya” izin Zeline.
“Sama orang tadi” datar Damian.
‘Mampus gue, marah pasti nih’ ucap Zeline dalam hati.
“Iya, sama senior aku mas. Sekalian nyusulin yang lain di kantin” jelas Zeline.
“Hem” jawab Damian singkat.
__ADS_1
“Maaf, nanti di rumah aku tebus deh” ucap Zeline pelan.
“Hem, Assalamualaikum” ucap Damian.
Zeline mendesah pasrah, kalau begini ia harus kerja ekstra membujuk suaminya malam nanti.
“Waalaikumsalam”
Telepon terputus bersamaan helaan nafas Zeline.
“Sudah ? Ayo” ajak Bima.
“Iya Kak, pasti yang lain udah nunggu di kantin” sahut Zeline.
“Tapi saya mau ajak ka—“
“Ayo kak ke kantin cepet” sela Zeline kemudian mendahului keluar dari ruangan menuju kantin di lantai 1.
Ting.
Lift terbuka, Zeline dan Bima berjalan menuju kantin, di tengah jalan berpapasan dengan Ars. Zeline sempat terkejut, tapi langsung menormalkan ekspresi wajahnya kembali.
‘Loh ada Kak Ars di sini. Jadi suami gue juga masih di sini’ batin Zeline.
‘Nanti deh gue susulin ke ruangannya habis makan. Gue kudu cepet makan nih.’ Imbuhnya.
Zeline tahu suaminya sedang kesal atau lebih tepatnya cemburu karna Zeline diajak makan pria lain. Niatnya nanti Zeline akan menjelaskan dan membujuk bayi besarnya itu.
.
.
.
.
.
~Annyeong teman, dukung author-nim yaa. Kasi Like, Love, Vote, dan hadiahnya untuk author-nim yaa biar makin semangat.. 😊
__ADS_1
Gomawo~🙏🏻🙏🏻❤️