
Sesampainya di rumah, Ghazali langsung mencuci kendaraannya yang juga sudah ia anggap sebagai.sahabat. Uang dari Zahra benar-benar ia belikan bensin untuk si Komet hingga full tank. Sebelum itu, Ghazali buru-buru mengganti sarungnya dan mengenakan underwear tentu saja.
Ia benar-benar mengutuk dirinya tadi, sebab bisa-bisanya menjatuhkan celana segitiganya di kamar mandi. Sudah begitu, udara yang dingin membuat si Otong beberapa kali berdiri. Apalagi, ketika tadi berhadapan lama dengan Zahra. Membuat Ghazali mati-matian menyembunyikan barang pusakanya yang tegak menantang.
"Malu banget, Met. Gua tadi! Pulang dari rumah cewek sarungan doang kagak pake segitiga pengaman. Mampus! Baru kali ini gue kagak punya muka dah." Ghazali menghentikan kegiatannya mengusap bodi motor dengan kanebo kering.
"Kira-kira, Zahra bakal ilfill kagak Ama gua ya, Met. Secara gitu, gua kagak ada menawannya sama sekali tadi. Dia kan cantik banget, walaupun berasal dari keluarga yang sederhana. Iya kan, Met. Lu pasti setuju kan ama gua?" Ghazali kembali terkekeh menertawakan dirinya yang selama beberapa tahun ini hanya bisa mengajak bicara benda mati.
Semenjak ia keluar dari istana megah sang ayah. Sejak saat itu juga dirinya yang dulu telah lama mati. Kini, Ghazali yang sekarang adalah pria yang bebas, lepas, merdeka. Ia bisa menjadi apapun yang ia inginkan sesuai dengan nurani dan mata hatinya. Meksipun kini, untuk makan dan bayar kontrakan saja ia harus mati-matian mencarinya.
Setidaknya, saat ini ia merasa tak lagi terpasung dan terkekang. Saat ini ia dapat memutuskan sendiri nasibnya. Tanpa campur tangan apapun dan siapapun. Seketika raut wajah Ghazali mendadak berubah sedih. "Met, pas tadi ngeliat Bu Maryam. Ibunya di Zahra. Gue inget sama mama. Gimana keadaannya sekarang ya, Met. Mama sehat apa enggak." Ghazali terduduk lesu di samping Komet yang sudah kinclong. Ia melempar kanebo kering itu ke atas lantai dan mengalihkan kedua tangannya untuk memegang kepala.
__ADS_1
"Gimana caranya, supaya gua bisa ngeliat, mama. Gua kangen, Met. Sama Shireen juga. Sumpah gua ngiri banget sama keluarga Zahra. Mereka harmonis banget. Bisa ngumpul seperti itu padahal keadaan mereka serba kekurangan. Tapi, mereka semua bahagia, Met. Lu tau, ternyata buat bahagia itu lu gak perlu banyak harta. Cukup punya keluarga yang utuh dan selalu ada di sisi lu. Hidup lu pasti bahagia." Ghazali kini mendongakkan wajahnya menatap kelangit hitam yang pekat tanpa bintang.
"Itu, yang gua liat dari keluarga Zahra tadi. Meskipun gua tau, buat makan besok aja mereka belom ada simpanan apa-apa. Tapi mereka tenang mereka gak galau, mereka hebat, Met. Beda banget Ama keluarga gua, kan? Ah lu mana tau, Met." Ghazali kembali melihat kendaraannya dan melemparnya dengan kanebo. Ia terkekeh. Karena lagi, mengajak bicara benda mati.
"Nasib, gua menyedihkan amat ya, Met. Punya temen sih benda mati. Coba lu tau, Met. Gimana gua diusir kala itu. Seandainya, mama gak terus menahan amarah papa. Mungkin, gua udah mati di tangannya. Karena itu yang gua mau pada saat itu, Met. Mati di tangan bokap gua sendiri. Gua sengaja gak ngelawan karena gua gak mungkin bisa nyakitin orang tua yang bikin gua ada di dunia. Tapi, Allah berkata lain, Met. Bokap gak tega karena mama saat itu udah nangisin gua gak karuan." Ghazali menundukkan kepalanya dengan bahu yang tiba-tiba bergetar naik turun.
Pria itu terisak tanpa suara.
Ia tak lagi mampu menahan rasa yang sejak berada di kediaman Azura sudah bergejolak hebat. Ia rindu sekaligus iri dengan kehangatan dan kebersamaan itu.
"Kenapa ya Allah. Kenapa setelah aku semakin dekat pada-MU dan mulai menjalankan perintah-MU, Engkau justru menjauhkan ku dari mereka. Dari orang-orang yang sangat kucintai. Kenapa?"
__ADS_1
Ghazali terus mengadu hingga air matanya luruh membasahi alasnya bersimpuh. Entah berapa lama ia bergelung disana. Satu hal yang pasti, kini fajar telah kembali menyingung. Untuk pertama kalinya Ghazali bangun subuh kesiangan.
"Ya Allah, kenapa perutku sakit sekali!" Ghazali memaksakan bangun dan sholat subuh sambil merasakan sakit di samping kiri perutnya. Hingga keluar keringat dingin membasahi pelipis dan juga keningnya.
Bahkan, selesai solat Ghazali kembali bergelung dalam selimut. Ia merintih dalam diam, merasakan setiap sakit yang menusuk area perutnya.
"Ya Allah, Jangan cabut nyawaku dalam kesendirian seperti ini. Ku mohon ..." Ghazali berucap lirih dan pelan, setelah itu ia nampak tak sadarkan diri.
__________
"Assalamualaikum! Bang Al!" panggilnya sambil mengetuk pintu beberapa kali.
__ADS_1
"Ni orang kemana yak? Gua teriak-teriak dari tadi kagak ada sautan?" Seorang pria berpakaian kemeja batik dan membawa map terlihat bingung di depan pintu kontrakan Ghazali.
...Bersambung ...