
"Arkhan ..." Kazenia menatap suaminya dengan sendu. Wanita paruh baya yang semakin cantik dengan pakaian muslimahnya ini memegangi sebelah pipinya yang panas.
Sementara itu Arkhan berjalan mundur sambil memandangi telapak tangannya yang baru saja memukul istrinya. Seumur hidup belum pernah Arkhan menerima menyakiti keluarganya. Sebelum ia menerima penolakan dari Ghazali dan kini dari Kazenia.
"Nia ... aku--"
"Kau puas Arkhan." Kini Kazenia pun menyebut nama kepada suaminya. Membuat kedua mata Arkhan mendelik. Karena itu pertanda, jika hubungan mereka tak lagi seperti dulu.
"Selamat tinggal. Aku akan pergi memilih kedua anakku. Karena tidak ada yang namanya bekas anak. Akan tetapi ada yang namanya bekas suami. Kau tidak akan pernah mengerti rasanya jadi aku. Kau kau lupa jika Aku adalah seorang ibu yang telah melahirkan dua orang anak untuk mu. Aku tidak pernah bisa terpisah dari anak-anakku. Tidak sepertimu yang lebih memilih harta kemewahan dan kekuasaan. Kami tidak lagi berarti meskipun berada di sisimu. Kami tidak pernah menjadi prioritas dari segala integritas yang kau junjung tinggi. Talak aku, agar diri ini tidak lagi mengotori duniamu." Kazenia menghapus air mata uang terus mengalir deras di kedua pipinya.
"Aku tidak akan pernah melakukannya! Kalau mau pergi, pergi saja!" usir Arkhan disertai gerakan tangannya. Pria itu bahkan memalingkan wajah enggan menatap Kazenia. Dadanya turun naik dengan napas yang memburu.
Kazenia tetap pergi. Mungkin dia yang akan menggugat Arkhan di pengadilan agama jika suaminya itu tetap tak mau menceraikan dirinya.
Kazenia berlaku tanpa menoleh lagi. Padahal beberapa jam lalu mereka masih berbagi peluh energi dan gelora yang tinggi. Dalam hitungan waktu yang teramat singkat perasaan dan keadaan berubah begitu saja. Tentu tak ada satupun dari keduanya yang telah memprediksi akan terjadi kejadian seperti ini.
Arkhan membiarkan Kazenia berlalu hingga gak lagi nampak melalui pandangan matanya. Seketika raganya luruh keatas sofa. Arkhan termenung seorang sini di dalam kamar hotel yang mewah. Kini, dirinya bukan hanya ditinggalkan oleh anak-anaknya tapi juga istri yang selama ini sangat ia cintai. Akan tetapi, Arkhan tak mempunyai kekuatan Untuk menghentikan langkah kepergian Kazenia.
__ADS_1
"Argghh!" Arkhan mengacak rambutnya penuh emosi. Pria ini nampak frustrasi. Sisi hati kecilnya menginginkan keluarganya yang dulu harmonis dan selalu tertawa bersama. Ketika Ghazali kecil, ia masih menjadi asisten kepercayaan dari pemimpin perusahaan elektro. Hingga, lada akhirnya ia di percaya memimpin salah satu cabang. Di sanalah Arkhan salah jalan karena berkerja sama dengan mafia. Demi melancarkan segala usahanya.
Demi kekayaan yang instan, Arkhan juga menjalin kerja sama dalam penyelundupan barang-barang terlarang. Perusahaan yang ia pimpin semakin jaya dan berada di puncak karena campur tangan orang-orang kuat yang korup serta kriminal.
Semenjak terjun ke lembah hitam dan merasakan nikmatnya kekuasaan. Arkhan pun lupa jati diri yang sebenarnya.
"Untuk apa harta yang mau miliki. Jika tak ada siapapun yang setia untuk berada di sisi mu. Ternyata, aku harus membayar dengan sangat mahal demi menukar kebahagiaanku dimasa lalu." Arkhan mengusap wajahnya kasar.
Pria yang masih gagah di usia paruh baya nya ini terlihat merogoh saku untuk mengambil ponsel pintarnya.
"Atur pertemuanku dengan Roger Oxxon, besok." Setelah memberi perintah kepada asisten kepercayaannya, Arkhan kembali membuka laptopnya untuk memutar kegiatan pada pernikahan Ghazali tempo hari.
Di rumah sederhana Kazenia.
Keempat orang nampak bercengkrama seusai makan malam. Padahal malam ini, Zahra hanya membuat nasi goreng seafood dengan cumi dan kerang.
Akan tetapi, Kazenia dan Shireen sangat menyukainya dan tak henti memuji masakannya.
__ADS_1
"Ra, ini bisa jadi menu baru di restoran, Mama," ucap Kazenia yang seakan menemukan ide baru untuk memperbarui salah satu menu di restoran miliknya itu.
"Beneran, Ma?" Zahra memekik tak percaya. Karena dirinya memang suka masak dan menciptakan variasi menu.
"Besok kita coba!" ucap Kazenia lagi.
____________
Ghazali mengijinkan Zahra ikut sang mama ke restoran. Ghazali tak lagi mengejar setoran. Ia menggantung jaket ojek onlinenya. Karena kini akan fokus pada usaha tambaknya yang sedang maju.
Kazenia menggunakan taksi online menuju restoran. Sementara Shireen ikut Ghazali ke tambak. Ia yang masuk jurusan bisnis lebih tertarik dengan UKM.
Kazenia dan Zahra sang menantu beberapa kali bertukar cerita. Sehingga terdengar tawa renyah dari belakang kursi penumpang. Tak lama, kebahagiaan ini seketika berubah menjadi kejadian yang cukup mencekam.
Hingga ....
Ckiiitt!
__ADS_1
...Bersambung ...