
Setdah, Pak. Ngehina amat! Lah kontrakan engkong aye malah udah pake shower sama bath up. Mana ada nimba di sumur!" sahut Jaka mulai emosi. Tapi tetap lucu. Suaranya yang cempreng membuat tampangnya gak menakutkan sama sekali.
"Lah, entu kan di kontrakan. Di rumah yang elu tempatin masih sumur pan?" ledek pak RT lagi. Belum puas kalau Jaka belum nangis.
"Enak aje! Aye udah pasang keran!" seru Jaka yang di jawab dengan gelak tawa dari Ghazali dan pak RT.
'Kalian berdua. Memang kiriman dari Allah buat nyenengin gue. Kalian yang paling bisa buat gue menyadari nikmat agar lebih banyak bersyukur lagi.' Ghazali mengulas senyum. Ke depannya ia akan lebih menjaga kesehatannya lagi.
Tak ingin, membuat orang-orang di sekitarnya ini susah dan khawatir padanya.
"Nanti kita cari rumah makan Padang, Jak. Lu mau makan tunjang kan?" Ucapan dari Ghazali barusan sukses membuat bibir manyun Jaka menjadi senyum lebar.
"Beneran neh, bang Al? Mao banget dah! Pak RT jangan di ajak yak!"
Pletuk! Sebuah botol air mineral kosong mendarat sukses di kepala Jaka.
"Enak aja lu ngata! Aye coret nih dari daftar warga penerima bansos!" ujar pak RT dengan tatapan horor ke arah Jaka.
"Lah, emang sejak kapan aye dapet pak RT!" geram Jaka menahan gemasnya. Kalau bukan aparat mungkin sudah dia remas jadi perkedel sejak tadi.
__ADS_1
"Hahaha! Lu berdua emang udah kayak tikus ama kucing. Capek ketawa nih, baru sembuh juga," ucap Ghazali di sela tawanya menguat kak RT dan Jaka kembali membantunya rapih-rapih.
Sementara itu, Kazenia dan Shireen terus mengikuti brangkar yang membawa bapak penjual Cuanky hingga ke ruang unit gawat darurat.
"Maafkan saya, Nya. Saya gak ngeh tadi. Benar-benar gak bisa mengelak." Sapto terus menunduk seraya mengungkapkan penyesalannya. Ia akui memang bagaimana pun dirinyalah yang salah.
"Sudahlah. Namanya juga musibah. Kita tunggu aja semoga lukanya tidak parah," ucap Kazenia bijak. Hal itu membuat Sapto lega dan akhirnya duduk dengan tenang. Beruntung ia memiliki majikannya seperti ini. Sudah lebih dari sepuluh tahun mengabdi. Baru kali ini ia melakukan kesalahan.
"Pak. Besok Shireen Anter periksa mata ya. Bapak kan udah umur. Siapa tau ada masalah pada mata. Biar kejadian ini gak terulang lagi. Maaf, Shireen tidak maksud menyinggung Bapak." Shireen berkata sambil menangkupkan telapak tangan dan tersenyum.
"Iya kah, Neng. Alhamdulillah kalau begitu. Bapak senang malahan. Mau banget Neng. Kayaknya iya. Mata bapak suka tiba-tiba berkabut gitu," ucap Sapto.
"Pak Sapto jangan sedih. Mama tidak marah kok. Hanya menegaskan agar lain kali Bapak jgn sungkan lagi." Shireen menjelaskan agar sopirnya ini tidak tersinggung. Kazenia begitu lantaran khawatir.
"Iya, Non. Gapapa dimarahin juga. Emang bapak yang salah." Sapto mengangguk dan tersenyum tipis. Ia justru merasa senang karena majikannya begitu perhatian. Tidak menyalahkannya meski telah menabrak orang.
"Ma, Shireen mau ke toilet dulu ya. Gapapa kan, tinggal sebentar?"
"Gapapa, sayang. Perlu di antar pak Sapto tidak?"
__ADS_1
"Gak usah, Ma. Toiletnya juga dekat situ!" tunjuk Shireen. Ke arah yang tak jauh dari lift.
"Oke, hati-hati.
Beberapa saat kemudian.
Shireen yang baru saja keluar dari toilet dikejutkan oleh seseorang yang ia lihat keluar dari dalam lift.
Seketika tubuhnya terpaku dengan kedua mata yang berembun.
Sementara, sosok yang berada di hadapannya ini, juga tengah menatap dirinya dengan menelisik.
'Kayak kenal, tapi apa mungkin dia--'
"Abang ...!"
DEG!
'Suara itu kan. Apa dia Shireen? Adikku?'
__ADS_1
...Bersambung ...