
"Cukup sampai sini aja ya. Biar aku pulang sendiri. Oh iya, jaga kesehatan, mengejar mimpi boleh tapi juga harus memikirkan badan dan pikiran. Karena mimpi tidak akan terwujud jika tubuhmu ambruk," ucap Zahra dengan seulas senyum tipis. Tak mau memberi banyak-banyak. Karena bisa saja salah diartikan. Seperti beberapa kejadian di pabrik juga kosan.
Gadis ini, kenapa seakan memberi jarak padaku. Apa ini artinya aku harus berhenti saja. Ah jangan, Al. Kau harus tetap maju. Kapan lagi ketemu gadis semahal ini.
"Ijinkan, aku memastikan sampai keadaanmu aman. Hanya itu saja. Aku akan berjalan jauh di belakangmu. Anggap saja kita tak kenal juga tak apa." Ghazali tetap bersikeras ingin mengantar Zahra hingga sampai ke depan rumahnya.
"Tidak perlu, ini daerahku. Tidak akan ada masalah. Jangan mencari alasan." Zahra juga bersikeras menolak Ghazali. Pasalnya jika sang adik yang melihat penampakan pria ini maka bisa saja, kejadian tempo hari terulang lagi. Ia tak mau, Ghazali semakin dekat dengan keluarganya. Bukan karena apa, Zahra belum siap jika sang bunda sampai meminta untuk mengakhiri masa lajangnya.
Zahra masih ingin bekerja, mengumpulkan uang dan mencapai impiannya. Ia ingin suatu saat meskipun sudah menikah tidak terlalu bergantung pada laki-laki. Zahra ingin memiliki usaha sendiri.
Dia benar-benar menolak. Apa aku harus menjadi pemaksa? Ah jangan, nanti gadis ini bisa kehilangan respek. Aku tau dia sebenarnya mau, hanya saja sifat kemandiriannya tinggi. Ia tak ingin dianggap lemah dan membutuhkan orang lain. Aku harus ekstra keras mengambil hatinya. Bagaimana pun wanita itu kodratnya harus dilindungi.
"Baiklah. Aku tidak akan memaksa. Aku percaya kau bisa menjaga diri."
Ya Iyalah. Andai saja kau tau. Aku baru saja lepas dari cengkeraman pria gila. Kalian sejenis. Ku tau pikiran kalian juga hanya satu .
Kejadian barusan ternyata itu merubah perasaan nyaman Zahra kepada Ghazali. Ia kembali beranggapan bahwa pria yang mengejarnya ini memiliki modus yang sama.
Seperti ada yang aneh padanya. Kenapa reaksinya kembali antipati? Aku lebih baik mundur lagi. Tapi kapan lagi aku akan memiliki alasan untuk bertemu dengannya?
"Zahra, aku hanya ingin berteman denganmu. Ah, tidak. Sebenarnya lebih dari itu. Jujur, aku tertarik padamu. Apa boleh aku mengenalmu lebih dekat? Bimbing aku agar dapat menggunakan cara yang benar, yang sesuai dengan tuntunan."
Mendengar permintaan dilontarkan secara frontal oleh Ghazali membuat Zahra sempat menunduk dalam diam. Ia berusaha mencerna apa maksud dan tujuan dari pria sederhana ini.
"Aku tidak akan melarang niatmu untuk saling mengenal. Pekan depan kita akan bertemu lagi disini. Kau ajak Jaka, dan aku juga akan mengajak sahabatku Reva. Kita akan sama-sama menulis biodata lengkap yang di ketik komputer. Mengenai apa saja yang harus kau tulis. Aku akan mengirimnya lewat email. Jadi berikan alamat emailmu!" pinta Zahra, seraya memberikan note kecil dan bolpoin pada Ghazali.
__ADS_1
"Email? Kenapa gak nomer ponsel aja?"
"Itu privasi. Kita belum sedekat itu untuk bisa tukeran nomer ponsel," tukas Zahra membuat Ghazali terdiam. Bagaimanapun ia harus menghormati prinsip dari Zahra. Mungkin juga ini caranya untuk saling mengenal itu.
Oke dek, Abang ikutin permainan kamu. Asal bisa ketemu lagi apapun syaratnya gak masalah.
Ghazali tersenyum melihat punggung gadis yang perlahan mengisi ruang kosong di hatinya itu semakin menjauh. Sama sekali tanpa menoleh ke belakang membuat Ghazali tersenyum getir, menerawang harapannya.
"Hati ini berkata ingin nyatakan cinta. Tapi aku cukup malu untuk mengawali semuanya. Perkenalan kita baru beberapa kali jumpa. Namun, senyummu membuat jantung ini kerap bertalu-talu ketika menatap. Bibirku membungkam kala melihat senyuman itu merekah. Aku tak kuasa mengatakan isi hati ini jujur dihadapanmu. Bagaimana kalau kau justru jadi menjauh karena itu? Aku tau kau itu slalu menghindar dari laki-laki. Aku akan berusaha mengambil hatimu dengan cara yang benar Zahra. Entah kenapa aku merasa bersamamu akan semakin baik. Engkau yang terbaik."
Ghazali berbalik, dan ia merogoh kantung celana juga jaket hoodie yang ia kenakan. Apes! Ternyata bukan hanya ponsel, dompetnya pun sepertinya tertinggal.
Uang cash yang ia miliki, sudah ia berikan semua pada supir angkot tadi. Terpaksa, Ghazali nongkrong di pinggir jalan sampai salah satu driver ojek online lewat untuk ia mintai tolong. Semoga ia menemukan kenalan, atau seseorang yang mau membantunya. Karena tak mungkin ia kerumah Zahra dan meminjam uang.
Hal itu bisa saja di curigai sebagai modis darinya, dan hal itu akan membuat Zahra benci kemudian menjauhinya.
"Ngapain lu, Bro?"
"Panjanglah ceritanya, tar gue jelasin deh di kontrakan," jelas Ghazali kepada kawannya sesama driver ojol. Tak berapa lama mereka telah sampai tempat tujuan.
"Ini tempat tinggal ente, Bro?" tanya driver ojol yang mengenakan jaket hijau yang sudah lusuh itu.
"Iye, kecil sumpek, tapi lumayan kagak keujanan," sahut Ghazali seraya mengajak kawannya ini untuk masuk. Ghazali pun membuatkan kopi dan menyediakan kue-kue yang kebetulan banyak di bawakan oleh Kazenia. Juga berupa macam buah penuh diatas mejanya.
Mama, satu toko buah kali ya di bawa kesini. Kalo gak aku bagi-bagi pasti bakalan busuk.
__ADS_1
Dan, Ghazali pun memasukkan beberapa buah ke dalam kantung untuk kemudian ia serahkan pada Bejo. " Nih, bawa pulang buat anak-anak ente di rumah entar." Ghazali menyerahkan kresek merah berisi buah. Juga ongkos naik ojek tadi.
"Pake bayar segala ente, kayak sama siapa aje! Ini Udeh dikasi kopi, cemilan ame buah tangan aje Udeh barokallah!" seru driver yang bernama Bejo itu. Entah kenapa namanya begitu.
"Oh iya, Bro. Tempo hari ada orang-orang yang beberapa kali balik nanyain ente," ungkap Bejo, membuat kening Ghazali sontak berkerut.
"Siapa Bang?"
"Dua orang, pake jaket kulit warna item. Kendaraannya ane kagak tau dah tuh. Pokoknya tiap hari keliling base camp sama pangkalan buat nyariin Abang," terangnya lagi. Sambil menyeruput kopi dan menggigit kue pancong.
"Siapa mereka?"
"Kebetulan anak-anak kompak diem gak ada yang ngasih tau. Kita pura-pura aja kagak kenal. Karena mereka gak bilang alasannya apa nyariin ente, Bro. Malah, ada yang di tawarin duit. Mungkin, aja udah ada yang buka mulut," ucap Bejo nampak serius.
"Sampek ngasih duit segala, Bang?" Semakin bingunglah Ghazali. Apakah ini, orang-orang suruhan ayahnya? Pikir Ghazali seketika merasa terancam.
Karena, selain Arkhan Sanjaya, bisa juga ini adalah musuh dari ayahnya. Mungkin kabar ia keluar dari keluarga Sanjaya telah bocor. Padahal selama ini ia telah berkamuflase sangat baik. Meskipun keluar dari mansion, tapi Ghazali tetap menjaga nama baik sang papa dimata publik.
"Maaf, bukan ane Mao ikut campur. Tapi, ente lagi ada masalah ape sampe di cariin orang begitu?" tanya Bejo hati-hati. Karena selama ia mengenal Ghazali pria ini tak pernah ada berbuat hal-hal yang aneh.
"Entahlah, Bang. Ini saya aja lagi bingung. Perasaan kagak pernah buat masalah sama orang. Punya utang juga kagak dah Alhamdulillah," jelas Ghazali membuat, Bejo manggut-manggut.
"Abisin, Bang. Sisanya bawa pulang aja bakal anak ente di rumah."
Tuh kan, lu orang Baek bang. Gak mungkin kan ente sindikat narkoba yang lagi dicari ama Intel.
__ADS_1
Bejo menggelengkan kepalanya membuang pikiran jelek itu jauh-jauh.