
Pria bertubuh sedikit berisi dengan postur tinggi besar. Mata sedikit sipit seperti Gilbert. Walau usianya sudah tidak muda lagi, tapi wajahnya seakan bebas dari kerutan.
"Halo, Uncle Roger. Perkenalkan ini Zahra dan itu Reva. Mereka yang ingin melamar kerja di cafe milik Uncle," terang Sisca kepada lelaki dewasa di hadapan mereka, yang mana kedua mata elangnya tengah memindai dan menelisik.
Perempuan manapun akan jengah jika di perlakukan seperti itu.
"Silahkan!" titah Roger setelah ia mendengus pelan lantaran gagal menyentuh tangan Zahra. Sebab, gadis berkerudung ini tidak menjabat tangannya.
"Kenapa kamu gak salaman, Ra. Kasih kesan pertama yang bagus dong," bisik Sisca pada Zahra. Membuat gadis itu menoleh heran ke arahnya.
"Beginilah caraku berkenalan. Aku cukup menangkup telapak tangan di depan dada dan sedikit menunduk padanya. Apakah itu sudah kurang hormat?" balas Zahra. Membuat Sisca menghela napas.
Ia tak berkomentar apapun lagi, persetan itu semua. Terpenting, sebentar lagi notif saldo bertambah dalam rekeningnya akan segera masuk kedalam ponselnya.
"Kalau begitu, Sisca pergi dulu ya, Uncle. Awas jangan galak-galak. Temen aku ini polos," ucap Sisca sebelum ia pamit dan berlalu. Zahra sempat melihat interaksi tersembunyi dari Sisca dengan Roger melalui isyarat mata. Dari situ, Zahra semakin yakin jika Sisca memang berniat buruk padanya.
Aku gak akan biarin Sisca pergi. Dia harus tetap disini.
"Kamu harus tetap di sini. Atau aku pulang!" ancam Zahra. Ia terlihat mencekal lengan Sisca. Membuat sahabatnya itu, yang apakah masih layak dianggap sahabat, mendelik ke arahnya.
Mau tak mau, Sisca pun ikut duduk bersamanya.
Roger melirik sekilas dan mengangguk kecil. Memerintahkan pada Sisca untuk tetap si sini.
Sepertinya gadis ini cukup pintar. Apanya yang gadis polos. Ia sejak tadi menunjukkan siapa dirinya. Tapi, dia menarik. Wajahnya sangat cantik meski dengan polesan sederhana. Tubuhnya yang tertutup rapat ini pasti menyimpan keindahan di dalamnya. Aku harus mendapatkannya. Harus!
"Minumlah, kalian pasti haus kan? Jangan sungkan santai saja. Kita mengobrol dulu biar akrab." Lelaki paruh baya itu menyilangkan sebelah kakinya dan bersandar di sofa single.
__ADS_1
"Terima kasih, atas jamuannya. Saya rasa, kita langsung ke inti nya saja," ucap Zahra dengan tetap menundukkan pandangannya. Ia tahu lelaki di hadapannya itu sedang menilainya.
"Kau pasti yang bernama, Zahra. To the point sekali," ucap lelaki itu yang bernama Roger itu karena ia sebagai pemilik dari cafe ini.
"Maaf, saya hanya ingin memanfaatkan waktu sebaik-baiknya, " jawab Zahra memberanikan diri untuk mendongakkan wajahnya, melihat kepada lawan bicaranya. Dari sinilah perasaannya semakin yakin. Ia berharap pertolongan Allah agar dapat segera bebas dari tempat manipulatif ini.
Selamatkan kami ya Robb. Berikan kami keberanian dan jalan keluar dari tempat ini. Mereka ternyata benar-benar orang jahat.
"Saya suka, gadis simple seperti kamu, tidak berbelit dan berisik ," ucap, Roger ambigu. Pria paruh baya itu kemudian terkekeh dengan tak melepaskan pandangannya dari Zahra.
"Jadi, tolong segera jelaskan apa pekerjaan saya di sini."
"Soal itu, kamu bisa bicara secara empat mata dengan saya. Biarkan temanmu di sini. Karena saya hanya butuh satu karyawati," jelas Roger, semakin memperjelas kecurigaan yang Zahra dan Reva pikirkan.
"Maaf, aturan dalam agama saya melarang jika berdua dengan lawan jenis yang bukan mahrom, didalam satu ruangan," tolak Zahra halus. Ia bahkan menangkupkan kembali telapak tangannya di depan dada.
"Maaf, Pak. Kami berdua datang bukan untuk menerima jamuan. Bukan hendak menolak rejeki, tapi saya kesini dengan niat mencari pekerjaan. Tapi, saya rasa itu semua batalkan saja. Saya dan kawan saya nampaknya tidak akan cocok berada di sini. Terima atas waktunya, saya permisi!" Zahra berkata dengan tegas. Ia berdiri dengan tetap memegangi Sisca.
"Mana bisa begitu! Sekali masuk ke tempat ini, maka kalian tidak akan semudah itu kembali!" sergah Roger mengeluarkan suaranya yang berat. Hilang seketika keramahan yang ia buat-buat tadi.
"Kenapa begitu, Sisca? Jelaskan pada bos-mu. Aku tidak jadi melamar kerja di sini. Aku dan Reva mau pulang!" Zahra menatap tajam ke arah Sisca. Ia meminta padanya agar bicara. Namun, Sisca menepis cekalan Zahra.
"Kau bodoh, Zahra! Kau kan butuh uang untuk pengobatan ibu dan ayahmu. Kau itu kepala rumah tangga. Menurut saja apa kata, Uncle Roger, maka dia akan membebaskanmu dari kesulitan itu!" hardik Sisca. Seketika Zahra pun mendaratkan telapak tangannya dengan keras ke arah pipi Sisca.
Plak!
Kepala Sisca sampai menoleh keras kesamping, kemudian ia berbalik dan melotot tak percaya pada Zahra. "Lu udah gila ya! Gue niat nolong tapi lu malah gampar gue! Sialan Lo!" Sisca pun hendak membalas perlakuan dari Zahra dengan cara yang sama, tapi Reva keburu mencekal tangannya.
__ADS_1
"Jangan harap Lo bisa nyakitin, temen gue!" ancam Reva dengan sorot matanya yang tajam.
"Sepertinya, ini memang bukan tempat untuk Kami." Zahra dan Reva sudah melangkah menuju pintu tapi, terkunci.
"Apa maksud anda dengan mengunci pintu keluar!" Zahra mengesampingkan rasa takutnya. Ia harus berpikir secara logis dan cerdas untuk saat ini.
"Bodoh kalian!" hardik Roger pada Sisca dan Gilbert.
Sontak, Gilbert langsung menghampiri Zahra dan mencekal lengannya. Vera hendak maju tapi tarikan dari Sisca pada ujung pasminanya membuat ia menjauh dari Zahra.
"Lepasin tangan kotor lu dari gue!"
"Gimana, bang Al. Armada udah kumpul nih. Apa kita serbu langsung aja?" tanya salah satu ojol yang ikut Ghazali memantau keadaan gedung dari luar.
Karena menurut sepengetahuan Ghazali ini adalah salah satu gedung diskotik milik Roger Oxxon. Salah satu pengusaha ilegal yang masuk daftar hitam.
Dengan keahlian IT yang ia miliki, Ghazali berhasil melacak nomer ponsel Zahra. "Saya sudah dapat nomer ponselnya, sebentar saya hubungi dia dulu." Ghazali menghubungi Zahra, dan tersambung. Tapi, gadis itu tak mengeluarkan suara ketika mengangkat panggilannya. Tapi, ia dapat mendengar keributan berasal dari sana. Tentu saja hal itu menjelaskan satu situasi yang berbahaya bagi Zahra dan juga kawannya.
"Kita bergerak serbu sekarang aja, Beh. Benar-benar gak beres ternyata. Ayok!" Ghazali pun diikuti oleh belasan pengemudi ojek online lainnya.
Untuk berjaga-jaga, sebagai amunisi pertahankan diri. Mereka menggunakan, pemukul bisbol dan beberapa kayu. Ada juga yang membawa besi. Macam seperti mau tawuran saja. Karena yang mereka hadapi ini diketahui memiliki beberapa penjaga yang jago berkelahi.
"Ingat! Jangan gegabah. Kalau saya tidak turun dalam waktu sepuluh menit. Panggil polisi!" titah Ghazali.
Beberapa saat kemudian, pasukan yang Ghazali bawa mampu melumpuhkan penjaga bagian depan. Para penjaga yang pingsan diikat di pohon oleh pasukan ojol ini.
"Cancang biar kuat!" teriak salah satu ojol yang tempo hari menolong Ghazali.
__ADS_1