Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 27. Kecurigaan


__ADS_3

Tanpa Ghazali tau, Zahra pun merasakan hal yang sama. Rasa nyaman itu, asik dan tidak ada kecanggungan sama sekali. Namun, Zahra yang memang terlalu protective terhadap dirinya sendiri membuat ia meletakkan batasan yang tinggi. Apalagi, Zahra berkali-kali mengalami sikap dan perbuatan yang hampir mencelakai dirinya.


Zahra nampak membanting raganya yang lelah di atas tempat tidur. Ia menelungkup dan perlahan air matanya jatuh membasahi bantal. Ia telah cukup lama menahan sesak itu. Kini ketika sendirian di kamar, Zahra kembali merasakan tekanan yang menghimpit dadanya lagi. Kebetulan, sang adik belum pulang sekolah. Bunda sedang cek up ke puskesmas dengan ayah. Pada saat inilah waktu bagi Zahra luas hati melupakan apa yang ia pendam sejak tadi.


"Kenapa ya Allah. Zahra gak pernah bersikap di luar batas. Kenapa perlakuan seperti ini sering aku dapatkan dari mereka?" Zahra hanya bisa merintih sendirian. Ia tak mungkin menceritakan hal ini pada kedua orang tuanya. Atau, ayah tak akan lagi mengijinkannya bekerja.


Zahra segera menghapus air matanya. Bergegas mandi agar nanti Maryam dan Umar pulang, mereka tak melihat wajah sembabnya itu. Selepas mandi ia mendapatkan keadaan ponselnya yang berkedip-kedip.


"Apa ini? Inbox di FB? Namanya seperti ku kenal dan profilnya ... masyaallah! Ini kan --"


Di seberang seorang wanita muda berkulit putih dengan tindik di hidungnya, tengah tersenyum sambil berbalas chat melalui ponsel pintarnya yang cukup mahal.


"Kena kamu, Ra. Seneng banget aku bisa nemuin kamu di sosmed. Kamu pasti mahal. Karena kamu itu cantik dan satu hal terpentingnya, perawan." Wanita cantik bernama Sisca itu tertawa nyaring, ia tergelak membayangkan betapa beruntung telah mendapatkan aset bagus untuk menambah saldo di rekeningnya.


"Uncle Roger pasti suka." Sisca pun segera menghubungi pria matang yang di ketahui sering bermain dengan sugar baby ini. Satu hal yang Sisca tak ketahui adalah, bahwa Roger bukan sekedar pengusaha tapi juga bagian dari sindikat mafia di negara itu.


[ Oke, Sis. Aku tunggu di taman dekat pasar malam biasa kita main dulu ya. Nanti, aku bawa temen kesana. ]


[ Oke, Ra. Sampai Ketemu! ]


Sisca pun tersenyum ketika umpannya hampir berhasil masuk kedalam perangkap.


____________


Ghazali nampak merenung dan berpikir keras. Siapa sebenarnya orang-orang yang mencarinya beberapa hari ini. Hingga ia menghubungi Shireen tapi adiknya itu sulit di hubungi.


"Apa iya, papa masih mencariku hingga saat ini? Bukankah pria itu sudah tak pernah lagi peduli semenjak aku keluar dari istananya." Ghazali mendengus. Ia rasa iri hal yang yang tak mungkin. Lagipula untuk apa Arkhan Sanjaya, seorang Presdir dengan perusahaannya yang besar, berniat mencari seseorang yang dengan sepenuh hati ia usir kala itu.


Meskipun begitu, Ghazali tak dapat melupakan hal ini begitu saja. Siapapun itu yang mencarinya, pasti orang yang memiliki niat sesuatu padanya. Ia berharap, itu bukan bagian dari musuh-musuh Arkhan, sang papa.


Ia harus waspada mulai dari sekarang. Jika mama dan Shireen bisa menemukannya, kemungkinan besar yang lainya pun bisa. Termasuk pesaing bisnis dari ALPHA Corporation.

__ADS_1


__________


Sore ini, Sisca akan menemui Zahra ditempat yang telah keduanya sepakat. Dalam mobil kekasihnya, terlihat wanita berusia tak jauh dari Zahra ini terus melengkungkan bibirnya.


Senyumnya merekah sambil membayangkan ketika rencananya berhasil. Ia akan segera mewujudkan mimpinya untuk bisa liburan ke Korea melihat pertunjukan dari para idolnya yang berkulit bak porselen itu.


Pria berkulit putih, dengan mata sipit dan tubuh yang berisi. Sesekali mencuri pandang pada wanita seksi di sebelahnya ini. Matanya beralih pada paha mulus Sisca yang terekspos. Karena kekasihnya ini mengenakan gaun super mini.


Pria berwajah Tionghoa itu menoleh ke arah kekasihnya. Ia meraih tangan Sisca dengan sebelah tangannya, meremas jari-jari lentik itu pelan.


Sang gadis bertindik di hidung itu pun menoleh lalu tersenyum nakal. Kemudian ia memiringkan tubuhnya hingga menghadap pria yang sedang berada di depan kemudi tersebut. Bergelayut manja, dan sekilas mengecup pipi sang pria.


"Jangan menggodaku," ucap Gilbert, mulai terusik. Berusaha menahan hasratnya yang sudah terpancing oleh wanita di sebelahnya ini sejak tadi.


"Kau yang mulai duluan," kilah Sisca, tanpa rasa bersalah. Ia mengenakan dress mini tanpa lengan di atas lutut, membuat paha dan betis mulusnya terekspos nyata.


Ia malah mengusap-usap dada sang pria.


Kemudian, Gilbert nampak membanting setir untuk menepikan mobilnya. Mereka berhenti tepat dipinggir jalan yang agak sepi, tak ada bangunan di sana, hanya pohon besar dan semak belukar serta pagar pembatas.


Ia melepas seat belt-nya, kemudian meraih tangan Sisca yang sejak tadi menggodanya.


Menariknya hingga wanita seksi itu terduduk diatas pangkuannya.


"Kau ini benar-benar gadis kecil yang nakal."


Sisca hanya merespon ucapan Gilbert dengan tersenyum menggoda seraya menyampirkan rambutnya kesamping. Hingga hal itu menampakkan lehernya yang putih dan jenjang dengan tato kecil bergambar kupu-kupu.


Gelora hasrat Gilbert tentu saja semakin bergejolak, kala ia melihat penampakkan indah di hadapannya. Dengan tak sabar lagi ia pun langsung menerkam kelinci kecil di hadapannya ini dengan buas.


Ia melahapnya dengan begitu rakus, melakukan suatu hal yang diharamkan karena status mereka yang belum di sahkan oleh agama.

__ADS_1


Hingga terciptalah sebuah alunan melodi dalam setiap kecapan yang terdengar serta deru nafas yang memburu di antara keduanya. Setan telah merasuki pikiran dan hati kedua anak manusia ini.


Dan setiap desah laknat yang keluar dari bibir bergincu merah muda milik wanita di atasnya itu. Nyatanya, seakan memicu otot salah satu bagian tubuh sang pria membesar berkali-kali lipat dari bentuknya semula.


Pakaian bawahnya kini kian sesak, suatu benda yang hidup disana sudah meronta dan menggeliat. Sisca benar-benar menyiksa nya dengan nikmat.


"Udah ah, nanti sahabat lamaku nungguin." Sisca menghentikan tangan sang pria yang sudah setengah masuk lewat dress bagian bawahnya. Hendak menarik benda segitiga tipis dengan renda di samping kanan dan kirinya.


"Ck, kan kamu yang mancing duluan!" kesal sang pria sambil mengarahkan tangan sang gadis pada pedang tumpulnya.


"Ish, aku juga udah tau kali, ga perlu di suruh megang juga," desis nya sambil mengerling nakal dengan sedikit memijat kepala pedang tumpul itu.


Membuat sang pria melenguh berat, kemudian mendelik sebal, karena setelahnya sang wanita kembali ketempat duduknya semula.


"Awas aja! Gak akan ku beri ampun kamu nanti!" ancamnya kemudian kembali menjalankan mobilnya.


"Ish, pendendam amat jadi orang!" Wanita bertindik itu kemudian terkekeh. Dimana akhirnya mendapat tekanan manja pada salah satu buah yang menonjol pada tubuh bagian atasnya.


"Aw! Lagi dong, hahaha ...! "


Sisca terus saja menggoda sang pria yang sudah menekuk wajahnya hingga sepet.


Pasangan iblis.


Entah apa yang mereka rencanakan pada Zahra.


Di atas sajadah, Ghazali kembali memikirkan gadis yang acap kali berkelebat tak kenal waktu dan tempat.


"Zahra, kamu lagi apa."


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2