Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 22. Bukan Sebatang Kara.


__ADS_3

Sekali lagi Ghazali bersuara kecil dan lemah. Namun kali ini Kazenia mengangguk karenanya mendengarnya. Mendengar suara itu yang telah sangat lama tak ia dengar memanggil dengan sebutan mama. Suara dari sosok yang sangat ia rindukan.


"Abang ..." Kazenia tak tahan lagi dan langsung menghambur ke pelukan sang putra.


Raga keduanya bergetar, berkolaborasi dalam Isak tangis. Tak ada lagi ucapan. Hanya pelukan dan dekap yang semakin erat takut terpisah lagi. Mereka menyatu melebur dalam kerinduan yang mungkin sudah menggunung.


Jaka dan pak RT pun turut larut dalam suasana hati biru dari pertemuan antara ibu dan anak ini. Ia pikir, Ghazali benar-benar sebatang kara dan tanpa sanak saudara. Buktinya, tiba-tiba muncul dua sosok wanita cantik dan berkelas yang memeluknya erat dengan kerinduan yang dapat terasa bagi yang melihatnya saja.


Baru kali ini ia menyaksikan adegan yang menguras emosinya seperti ini. Hingga dadanya pun ikut sesak. Berapa lama Ghazali pergi. Hingga pria itu tak mengenali adiknya sendiri? Mungkin pertandingan inilah yang mampir di dalam isi hati dan kepala pria berkumis tipis ini.


Jaka menyikut pak RT agar mereka sedikit menjauh dari Ghazali dan keluarganya. Mereka butuh waktu sendiri untuk saling mencurahkan kerinduan yang menumpuk tinggi. Pak RT mengangguk setuju. Mereka pun mencari kursi tunggu yang kosong tak jauh dari ibu dan anak yang masih saling berpelukan ini.


"Syukurlah Pak. Ternyata bang Ghazali punya sodara," ucap Jaka sambil mengelap ingus menggunakan lengan baju.


Pak RT meringis melihat aksi kelakuan dari salah satu warganya ini. Namun walaupun begitu ia mengiyakan apa yang Jaka ucapkan barusan. Setidaknya dirinya tak perlu khawatir lagi dengan keadaan salah satu warganya yang berprofesi sebagai driver ojek online ini. Karena menurut saran dokter untuk beberapa pekan ke depan Ghazali tidak boleh terlalu lelah. Pria itu harus menjaga pola makan dan juga istirahatnya.


Setidaknya dengan begini maka Ghazali akan lebih ada yang menjamin hidupnya. Karena dilihat dari mata telanjang Pak RT dan Jaka, sosok keluarga Ghazali ini nampak berasal dari bukan orang sembarangan.


"Kayaknya bang Al, asalnya orang tajir Jak. Lu liat aje deh pakean, tas ame jem tangan. Barang bermerk mahal semua." Pak RT berdecak sambil menggelengkan kepalanya tanda takjub.


"Bener juga Pak. Keliatan sih dari kulit cewek yang tadi ngaku jadi adeknye. Mane wanginye aje sampe kecium idung saye." seloroh Jaka. Membuat pak RT menoyor kepalanya.

__ADS_1


"Otak lu emang gak boleh liat yang bening. Awas digorok bang Al entar. Kalo berani coba-coba lu kadalin adeknye."


"Ye, siapa yang Mao ngadalin Pak. Kalo emang jodoh siape tau. Pasti saye bakalan setia."


"Ye, emang berkah banget buat elu, Jak."


"Lah entu Pak RT tau."


"Tapi musibah buat die!" celetuk Pak RT membuat Jaka bungkam seketika. Karena kalau di pikir benar juga.


'Pak RT kalo nyeletuk sesuai kenyataan banget sih. Kalo aye kan burik. Sementara, si eneng botoh kinclong bener licin mencilak kayak porselen!' gerutu Jaka dalam hatinya.


Kazenia melepas pelukan dari putranya . Ia menelisik raga Ghazali dari ujung rambut hingga ujung kaki. Dimana ia lihat tampang putranya kini bagaikan orang yang baru saja bangun dari sakit.


"Ghazali tak apa, Ma. Mungkin karena terlalu kaget ketemu, kalian disini. Gak nyangka banget." Ghazali kembali memeluk raga Kazenia yang lebih pendek darinya. Ia pun merentangkan tangannya agar Shireen ikut berpelukan.


"Kita duduk yuk, Mama pasti lelah berdiri," ucap Ghazali seraya mencari tempat duduk. Tanpa mereka sadari ada satu sosok lagi yang tengah teriakan menahan tangisnya. Dialah Sapto sopir pribadi terlama di keluarga Sanjaya.


"Den."


"Ya Allah, Pak Sapto!" Ghazali bangkit dan meraih telapak tangan pria itu untuk menciumnya. Namun, sang sopir lekas menarik karena merasa tak pantas. Sebab Ghazali adalah anak majikannya.

__ADS_1


"Apa kabar, Den?"


"Alhamdulillah baik. Pak Sapto ternyata masih setia. Syukurlah. Makasih banyak ya, Pak!" Ghazali menepuk-nepuk bahu sopir pribadinya sejak ia sekolah dasar dulu.


"Sama-sama, Den. Gak nyangka bakal ngeliat Aden lagi," ucapnya seraya mengusap ujung kelopak matanya.


"Masih jodoh, Pak."


"Oh, iya. Ada apa, Mama dan Shireen kesini?"


"Oh itu ...."


KLEK!


"Nyonya Kazenia!" Panggil sang perawat.


Kazenia pun langsung menghampiri dan ikut kemana sang suster pergi. Sebelum berlalu ia menoleh dan tersenyum sekilas ke arah Ghazali. Memohon agar sang putra tenang karena dirinya baik-baik saja.


"Semua salah saya, Den." Sapto menunduk penuh rasa bersalah.


"Pak, semua yang terjadi sudah kehendak Allah. Kita jadi ketemu Abang si sini." Shireen, meskipun muda usianya dan cengeng. Namun, ada kalanya ia juga mampu menjadi pribadi yang bijak.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2