Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 19. Nabrak Orang


__ADS_3

Nantilah, aye bahas sama bang Al. Penting, ambil surat-surat dulu buat." Selesai bergumam sendiri aparat warga itu pun membuka kunci rumah kontrakan Ghazali dan mengambil beberapa barang yang ia perlukan untuk membawa pulang Ghazali dari rumah sakit.


_________


"Gimana, Ma. Masih gak enak perasaannya?" tanya Shireen.


"Iya, sayang. Seperti ada yang tejadi pada abangmu. Sayang, kampung itu terlalu sepi. Tak ada yang bisa kita tanyai." Kazenia menjawab dengan sedih.


"Shireen sudah memerintahkan pada Argo, agar dia terus memantau rumah itu dan memberi laporan berkala," jelas Shireen yang memang menugaskan anak buah Kazenia. Karena mereka berdua tidak bisa juga berlama-lama ada di tempat seperti itu.


"Baiklah, Mama harus lebih bersabar lagi. Satu hal yang pasti, kita sudah menemukan identitas serta tempat tinggal abangmu kan," ucap Kazenia berusaha tersenyum. Ia mencoba menenangkan debar batinnya yang bergemuruh entah karena apa.


'Semoga, Abang baik-baik saja. Semoga penyakitmu tidak kambuh.' doa Kazenia penuh harap dalam hati.


"Mama tenang ya, Abangku kan strong!" seru Shireen berusaha menghibur Kazenia. Ia pun turut sedih dan juga khawatir. Namun, hal itu sengaja tidak ia tampakkan di depan mamanya. Shireen berharap Argo segera dapat mengabarinya dengan satu informasi baru mengenai Abang kesayangannya itu.


"Jadi ke kampus?" tanya Kazenia pada Shireen.


"Aku nemenin, Mama aja ya. Mama mau kemana?"

__ADS_1


"Mau ke--"


Ckiittt ....


Brakk!


"Allahu Akbar!"


"Pak sopir!"


"Yah, saya kayaknya nabrak orang deh, Nya," lirih pak sopir menoleh ke belakang. Menatap Kazenia dengan gurat khawatir.


"Astaga! Cepat turun dan kita cek!" Marah Kazenia. Bisa-bisanya sopir pribadinya ini menabrak orang.


"Ya Allah. Tukang Cuanky!"


Kazenia langsung menghubungi ambulance.


"Bawa ke pinggir dlu, To! Saya lagi panggil ambulance.

__ADS_1


Sang sopir yang bernama Sapto ini pun menggendong di pedagang Cuanky panggul ke pinggir bersama beberapa warga.


"Maaf ya Pak. Ini kesalahan saya. Saya gak liat bapaknya tadi jalan terlalu ke tengah," ucap Sapto penuh sesal.


"Saya ... juga salah. Jalan sambil melamun," ucap pedagang itu lemah. Sepertinya kakinya luka atau mungkin patah. Sapto menatapnya kasihan. Sudah tua tapi masih jualan keliling. Mana mukanya terlihat pucat. Mungkin bapak ini memang tadi oleng karena kepanasan. Sehingga ia berjalan ke tengah jalan tanpa sadar.


"Sabar ya Pak. Saya akan bertanggung jawab. Sebentar lagi mobil ambulance akan datang," ucap Kazenia.


Tak lama para warga sekitar yang berkerumun untuk membubarkan diri. Karena mereka merasa tenang bahwa korban tersebut bukanlah tabrak lari. Setidaknya menabrak telah berniat untuk apa tanggung jawabkan perbuatannya. Meskipun sempat beberapa warga melihat jika memang pedagang cuanki tersebut berjalan terlalu ke tengah.


Ambulance datang sana segera membawa si bapak pedagang cuanki ke rumah sakit unit daerah. Kebetulan tidak jauh dari lokasi tersebut. Hanya berjarak sekitar empat belas kilometer.


Sementara itu di rumah sakit. Keadaan Ghazali semakin membaik. Karenanya, dokter telah memperbolehkan dirinya untuk pulang siang ini.


"Alhamdulillah, bang Al udah bisa pulang. Saye udeh ngurus semuanye. Tinggal, nunggu surat jalan dan kite langsung cus!" jelas pak RT yang sangat membantu keadaan Ghazali saat ini. Pria yang begitu peduli pada sosok warganya yang sebatang kara.


"Lu kagak mandi, Jak?"


"Tar aja dah di rumah. Ribet ah!"

__ADS_1


"Elu sih, biasa nimba kali. Bingung si sini pake keran." celetuk Pak RT yang membuat Ghazali terkekeh geli melihat keduanya selalu saja bertengkar lucu.


...Bersambung ...


__ADS_2