
Seorang pria paruh baya melangkah perlahan menyusuri lantai atas mansion miliknya. Dimana ia tak tahan lagi menahan rindu, sebab telah hampir satu pekan tak melihat putri bungsunya. Tangannya yang masih kelar meski usianya tak lagi muda itu, terulur ragu untuk membuka pintu kamar anak gadisnya itu. Karena, kemungkinan besar Shireen sudah tidur.
KLEK.
Ternyata pintu kamar tidak di kunci. Putrinya masih seperti waktu kecil. Tak pernah mengunci kamar. Gadis itu bahkan terkadang masih suka masuk kekamarnya dan mereka akan tidur bertiga setelah itu.
Melihat ruangan yang sudah temaram, Arkhan semakin berjalan perlahan. Untung saja kamar sang putri beralaskan karpet bulu. Sehingga ketukan dari sepatu pantofel miliknya tidak menimbulkan suara yang berisik.
Arkhan, menghampiri tempat tidur sang putri. Menurunkan selimut sampai bahu sang anak gadis.
'Kebiasaan sekali, selalu menutup seluruh tubuh dengan selimut. Bagaimana kalau kau tidak bisa bernafas.'
Pria paruh baya yang rambutnya memiliki kolaborasi dua warna itu. Mengusap pelan ujung kepala sang putri. Merapikan anak rambut sang gadis kecil yang kini dengan cepat tumbuh semakin dewasa. Ia berharap, putrinya ini tidak membangkang seperti putra satu-satunya.
Karena kehilangan seorang putra sudah membuat hari-hari nya selama lima tahun serasa sulit dan menghimpit. Ia tidak tau, apa yang akan terjadi bila putrinya juga seperti itu.
Jauh, jauh di lubuk hati yang terdalam. Terdapat penyesalan yang menggerogoti kebahagiaan mu perlahan. Setiap orang tua, tidak ada yang sepenuhnya benci terhadap anaknya.
Mereka hanya mengambil jalan yang salah dalam mempertahankan harga dirinya. Terkadang penyesalan akan membunuh hari demi hari dan dari waktu ke waktu tanpa rasa. Namun, ego yang kepalang menjajaki hati di dalam dada, membutakan realita. Bahwa rindu akan mengikis usia.
Arkhan menghela napas berat seraya mengusap wajahnya. Sejak dari kantor ia langsung ke kamar Shireen. Sejak pertengkaran beberapa waktu lalu dengan Kazenia, istrinya. Pria paruh baya itu tak lagi mendapat kehangatan dan sikap manis manja seperti dulu.
Kazenia, memilih berdamai demi Shireen, akan tetapi sikapnya berubah dingin padanya. Kazenia tetap menjalankan perannya sebagai istri, hanya saja tak lagi menuntutnya ini dan itu.
Justru, hal itu membuat Arkhan semakin merasa hampa. Rumah dan keluarga yang ia bangun susah payah ini seperti kehilangan jiwanya.
Terkadang, rasa penyesalan itu ingin membuat Arkhan menyerah. Tapi, lagi-lagi ego-nya kembali menang.
__ADS_1
'Akan papa temukan abangmu itu. Meskipun, dia telah mengganti identitasnya sekalipun.
Tanpa Arkhan ketahui, bahwa Kazenia dan putrinya telah menemukan jejak dari Ghazali. Secara tak sengaja sang putra tertangkap kamera dan berseliweran di salah satu story Ig kawan dari Shireen.
Pada saat itulah, ia mengirim anak buah untuk mencari tau keberadaan sang putra berbekal foto yang agak blur itu.
Hingga sang pesuruh mendatangi kantor driver ojol tersebut dan kini Kazenia telah mengantongi data-data mengenai Ghazali. Beberapa hari ini dirinya tak enak badan, ia tak bisa mencari Ghazali. Meskipun perasaannya juga tak enak. Entah kenapa kesehatannya tiba-tiba menurun. Semua itu karena terdapat beberapa masalah yang terjadi di penginapan miliknya. Sehingga Kazenia harus pulang-pergi Jakarta-Lombok.
Usaha yang Kazenia rintis untuk masa depan kedua anaknya ini, tersembunyi di daerah Lombok dan Bali. Sementara, sang suami, Arkhan Sanjaya tak mengetahuinya.
Karena, Kazenia beralasan jika dirinya memiliki grup sosialita. Padahal tidak ada sama sekali. Dirinya bukan tipe perempuan yang seperti itu.
Hari ini ia berbelanja di butik di temani Shireen. Putrinya itu sangat senang mendengar kabar baik ini. Beberapa paper bag coklat di kedua tangannya itu terus saja dipandangi oleh nya.
Ia sudah menyiapkan beberapa pakaian untuk putra lelakinya. Karena, Kazenia sedih melihat penampilan lusuh Ghazali
Bahkan, pekerjaannya hanya menjadi seorang driver ojek online. Satu hal yang ia syukuri, adalah kenyataan bahwa sang putra masih dapat hidup tenang dan baik-baik saja. Serta tidak ada yang mengenalinya dengan keadaan rupanya yang rebel dan urakan seperti itu. Karena jika tidak, bisa saja Ghazali menjadi sasaran dari para musuh Arkhan.
Kazenia faham, bukan tanpa sebab sang suami mengusir dan mengeluarkan putra mereka dari kartu keluarga. Meski sejak awal Arkhan sempat tidak terima bahkan marah besar. Disaat sang putra berani mendikte dan mengajak Arkhan untuk kembali ke jalan yang benar.
Menyesal, mungkin itu yang sedang di rasakan oleh nya saat ini. Mungkin itu juga perasaan yang sedang di sembunyikan oleh suaminya.
Apalah arti harta yang melimpah ruah. Akan tetapi hidup tidaklah tenang. Selalu di bayangi ketakutan dan ancaman. Bahkan, terpisah dari anak kandung sendiri.
Sampai mereka harus memalsukan identitas kematian Ghazali demi melindungi putranya itu. Sebab, Ghazali menolak lamaran dari sang ketua Mafia yang selama ini membantu Arkhan melindungi usahanya.
Untuk apa mencari harta sampai menghalalkan segala cara. Tapi, keluarga berantakkan dan tercerai berai. Salah Arkhan yang bersekutu dengan para penjahat kelas kakap itu. Sehingga, hidupnya mewahnya tak bebas merdeka. Ia terkekang.
__ADS_1
Kazenia lagi-lagi meluruhkan air mata, tetakqla mengingat nasihat sang putra sebelum pergi meninggalkan rumah mewah mereka. Bahwa harta yang halal akan mambawa keberkahan dan ketenangan. Karena ridho dari sang Robbi akan menentramkan hati.
Keyakinan itulah yang membuat putranya bisa menjalani hidup serba kekurangan. Dengan hidup apa adanya. Namun, jiwanya tenang.
"Ma." Shireen menyentuh punggung tangan Kazenia. Ia turut dapat merasakan sesak itu.
"Dek, Mama harus ketemu Abang. Bagaimanapun caranya. Sebelum, Mama benar-benar mengambil keputusan." Kazenia menoleh dan berbisik lirih sembari menggenggam kedua tangan putri nya itu.
Shireen spontan mengangguk dengan dengan mata yang sudah mengembun. Dirinya yang tau bagaimana sang mama tersiksa dalam rindu.Tak bisa berkutik dalam segala tekanan serta ancaman.
"Kita belok ke swalayan, Pak!" Perintah, Shireen kepada sopir yang mengemudikan Pajero hitam itu.
"Baik, Non."
Kazenia mengangguk dan tersenyum simpul. Ia akan mengikuti apapun rencana anak gadisnya.
Kazenia akan melakukan apapun demi melepas rindunya. Ia tidak mau tersiksa rindu di masa tuanya. Ia tidak mau kesepian.
Kini ia sadar bahwa anak adalah harta terbesar.
"Kenapa rumah ini kosong? Padahal menurut informasi ini tempat tinggal Abang selama lima tahun terakhir ini." Shireen nampak mondar-mandir gelisah. Apalagi, Kazenia. Ia terus menerus memegangi dadanya yang berdebar kencang.
Tak lama mereka pergi meninggalkan kontrakan Ghazali. Di saat pak RT baru sampai tepat di depan pekarangan kontrakan itu.
"Siapa ye, tu orang pade? Apa keluarganya bang Al? Tapi kayaknya orang gedongan. Mobilnye aje mewah bener." Pak RT mulai berspekulasi. Namun, ia tak bisa mengambil kesimpulan secara buru-buru. Karena, ia pun tadi tak jelas melihat wajah dari tamu rahasia Ghazali ini.
...Bersambung...
__ADS_1