Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 15. Pacar Apa Calon Istri?


__ADS_3

[ Jika ada seseorang yang membuatmu merasa, surga itu lebih dekat ketika bersamanya.


Maka, perjuangkanlah dia. ]


Pesan dari Kyai Ibrahim mendadak kembali terngiang didalam benak Ghazali. Pemilik pondok pesantren yang pernah menyelamatkan dirinya ketika di hajar para begal beberapa tahun yang lalu itu. Sempat memberikannya beberapa pelajaran hidup, sehingga Ghazali memutuskan menerima takdirnya yang seperti sekarang ia jalani.


Meski imbas dari semua itu adalah hidup bagaikan sebatang kara tanpa sanak saudara. Namun, Ghazali selalu berusaha meyakinkan dirinya sendiri jika ia mampu dan sanggup karena bantuan dari Tuhannya.


Ghazali sama sekali tidak menyesal dengan keputusan yang ia ambil meskipun kenyataan membuatnya bergelung dalam rindu.


Di dalam kamar perawatan kelas tiga. Ghazali terpekur menatap langit-langit kamar. Ruangan yang berisi sekitar delapan pasien itu. Nampak ramai dan sesak.


Sesekali ia mendengar suara mengaduh dan juga dengkuran dari pasien yang juga berada di ruangan yang sama dengannya. Mungkin ini sudah nasibnya menjadi rakyat kelas bawah. Dimana ia berobat menggunakan fasilitas kartu jaminan kesehatan gratis.


Beginilah dan di sinilah ia berada. Meksipun, baru pertama mengalami, tapi Ghazali harus sebisa mungkin membiasakan dirinya. Ia harus menerima bagaimanapun keadaannya saat ini. Justru ia bersyukur karena pak RT mau membuatkannya kartu ini beberapa waktu yang lalu. Ghazali juga bersyukur lantaran dirinya masih di beri kesempatan untuk hidup.


Ghazali nampak memejamkan matanya. Ia masih berharap jika gadis jelita yang mengenakan pasmina sebagai penutup kepalanya. Kembali datang menemuinya.


Sebab, pak RT dan Jaka ijin pulang sebentar. Mereka akan membawa baju ganti untuk Ghazali nanti. Ketika kedua matanya terpejam, tiba-tiba Ghazali melihat senyum lembut yang lama tak ia lihat rupanya.


"Mama ..."


"Ma, ini abang Al, ma ...!"


"Abang lagi sakit, ma. Abang mau ketemu mama dan Shireen. Ma ... Mama--"


"Assalamualaikum, Bang!" Seketika tepukan keras membangunkan Ghazali yang ternyata ketiduran.


"Astagfirullah!" Lantaran kaget Ghazali pun langsung terbangun dan duduk.


"Mbak Zahra?"


"Iya, Bang. Ini saya," sahut Zahra seraya menunjuk ke depan hidungnya.


"Kamu datang lagi? Kok bisa tau saya di kamar ini?" cecar Ghazali.


"Kalau soal kamar kan saya bisa nanya bang sama perawat jaga di ruang UGD tadi," jawab Zahra kembali ketus. Ia merasa kedatangan tidak diinginkan Ghazali.


"Terus, kenapa datang lagi?" tanya Ghazali memastikan.

__ADS_1


"Oh jadi gak boleh ya? Ya udah kalo gitu, saya pamit!"


'Aduh! Salah pertanyaan deh!' Ghazali menepuk keningnya dan ia menemukan ide dadakan.


Baru saja Zahra hendak melangkahkan kakinya ketika baru saja berbalik. Terdengar teriakan tertahan dari Ghazali.


Engh!


Zahra pun spontan menoleh kembali. Seketika, dua bola matanya membulat sempurna, kaget.


Ghazali terdengar mengerang kesakitan sambil memeluk perutnya sendiri dengan kedua tangan. Matanya terpejam dengan mulut meringis.


"Ya Allah, Abang kenapa?" Zahra nampak kebingungan menghadapi Ghazali yang terlihat kesakitan. Tanpa sadar ia telah mendekat ke arah hospital bed.


Dibalik itu semua, Ghazali nampak menyembunyikan senyum kemenangan.


' Maaf karena aku udah bohongin kamu. Kelihatan manis sekali. Wajahnya yang tanpa make up, terlihat segar karena sudah tersapu air wudhu. Ya Allah ampuni aku yang telah mengagumi ciptaanmu ini.'


Dan, tiba-tiba saja.


"Assalamu alaikum!"


"Waalaikum salam."


"Eh, si Eneng nongol lagi, duh, duh, duh!"


"Bang Al kayaknya besok udah bisa pulang dah ini!" Kelakar Jaka yang tau-tau telah datang membawa satu tas berukuran sedang.


"Mukanye aje dah seger gitu," goda Jaka lagi yang mana semakin yakin akan asumsinya tadi. Bahwa mereka adalah pasangan.


Jangan bayangkan bagaimana raut wajah Zahra saat ini. Ia terlihat membuang wajahnya ke samping, guna mengalihkan rona yang bersemu dan mencuat di balik kedua pipinya itu.


'Cowok itu! Sedari awal ketemu ngeledek terus kerjaannya! Bikin orang malu aja! Eh, aku ngapain malu? Kan aku sama Ghazali gak ada hubungan apa-apa. Harusnya aku biasa aja kan?' batin Zahra bergumam kesal sekaligus gemas.


Di goda begitu rupa oleh Jaka. Membuat Ghazali yang sedang saat ini telah bersandar, menegakkan kembali tubuhnya dan mengusap tengkuknya. Ia merasa tak enak kepada Zahra. Apalagi gadis itu nampak tak nyaman setiap kali Jaka meledek mereka.


Tanpa sadar Zahra, memejamkan matanya. Lalu mulai berkomat-kamit, terlihat dari bibir mungilnya yang bergerak-gerak lucu. Ia berdiri di pinggir kasur tak bergeming.


Kemudian, terlihat Zahra mengusap wajah dengan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain, Mbak?"


Pertanyaan dari Ghazali sontak mengembalikannya pada keadaan.


"Aku bukan Mbak kamu! Berhenti panggil aku dengan sebutan itu. Lagian aku kan lagi baca doa. Kenapa di ganggu!" Jawab Zahra dengan ketus.


"Woah ...! Tuh kan, co cuit banget! Ciiee ... pacarnya di doain. Biar cepet sembuh ya, Neng ya!" Jaka tiba-tiba saja menyela pembicaraan mereka berdua. Masih dengan jalan pemikirannya sendiri.


'Dasar nyamuk cikungunya!


Bisa diem kagak!' umpat Ghazali dalam hati. Ia memberi kode pada Jaka tapi tetangganya itu tidak mengerti.


Jaka tetap saja tertawa dan terus meledek keduanya.


"Maaf ya, Ra. Efek jomblo kelamaan jadi otaknya geser." Ghazali membujuk agar Zahra tidak terbawa emosi. Karena Ghazali dapat merasakan bahwa Zahra sudah mulai tidak nyaman dengan segala banyolan yang dilempar oleh Jaka.


"Eh, dengar ya! Dia itu bukan pacar saya! Saya menemuinya atas dasar kemanusiaan! Jadi, berhentilah berspekulasi!" tutur Zahra penuh ketegasan. Membuat Jaka menelan ludahnya kasar. Sebab, ia menerima tatapan menghunus tajam dari sorot kedua mata Zahra.


"Oh, gitu. Jadi, Eneng pacar tapi calon istrinya Bang Al. Gitu kan? Maaf dah kalo gitu," celetuk Jaka polos, yang mana hal itu membuat Zahra memijat keningnya.


"Aamiin!" Ghazali berucap seraya mengusap wajahnya.


"Eh!" Zahra pun sontak menanggapi perbuatan Ghazali itu dengan kening berkerut.


Sahutan yang keluar dari mulut pemuda berbaju pasien itu. Sontak membuat kedua mata gadis manis itu membola di susul dengan mulut yang terbuka lebar.


'Haish, apa-apaan sih dia!'


Merasa tak ada guna nya menyangkal seperti apapun juga. Zahra lebih memilih untuk mengunci bibirnya, dan sesekali terlihat ia mengurut pelipisnya. Pertanda dia pusing melihat kelakuan para lelaki somplak di depannya ini.


Andai, Zahra tau jika dirinya di jadikan bahan godaan seperti ini. Lebih baik dirinya langsung pulang saja tadi. Hati seolah menyesal tapi mata, justru curi-curi pandang.


Sekilas ia melirik pemuda yang tadi wajahnya begitu pucat ketika pertama kali ia datang, kini terlihat segar bugar, tak nampak macam orang sedang sakit.


Hanya saja di lengannya masih terjulur selang panjang, tersambung dengan kantong berisi cairan bening yang di gantung, di tiang infuse berkaki tiga tersebut.


Seketika, kedua tatapan mata mereka kembali beradu pandang, dalam waktu sepersekian detik. Namun, hal itu tetap saja mampu mengaliri sengatan kedalam urat nadi, mengalir lewat pembuluh darah menuju vena, hingga menimbulkan detakan tak biasa pada jantung.


"Deg"

__ADS_1


__ADS_2