Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 34. Menyembunyikan Luka


__ADS_3

Zahra pun setuju dengan tawaran dari Ghazali. Ia memutuskan untuk tidak menceritakan kejadian yang telah menimpanya, kepada kedua orangtuanya.


Karena, Zahra tidak ingin mengganggu kesehatan sang bunda dan ayah yang sudah kembali normal dan mulai bekerja lagi. Ia dengar dari Adam jika ayah bekerja sebagai penjaga di perumahan yang tak terlalu banyak warganya. Ayah mengambil shift pagi sampai sore saja.


Sedangkan sang bunda sudah mulai menerima pesanan kue-kue dan juga nasi box. Zahra tak ingin menambah beban pikiran bagi kedua orang tuanya. Meskipun, mereka tau jika Zahra menguasai ilmu beladiri.


Zahra terpaksa menyembunyikan lukanya sampai sembuh. Ia mengajak Reva menempati kontrakan sederhana Ghazali. Dengan dalih bahwa dirinya sedang mengikuti training bekerja. Setelah ini selesai baru Zahra akan di tempatkan sesuai domisili. Terpaksa, sungguh ia terpaksa berbohong. Bahkan, ia meminta agar Adam mengirimkan pakaiannya melalui jasa ekspedisi.


Mulai kemarin malam Ghazali tinggal terpisah dengan menyewa salah satu kontrakan Jaka yang kebetulan kosong. Namun, Jaka menawarkan agar Ghazali tinggal sementara di rumahnya saja.


"Sorry, gua ngerepotin lagi nih," ucap Ghazali yang baru saja selesai sholat isya.


Sementara Jaka sedang memainkan game di ponsel sambil menggerutu Bahkan terkadang mengumpat.


"Santai, Bro. Kayak sama siapa aja. Lagian, gua tinggal sendiri. Seenggaknya jadi ada temen. Mabar nyok ah!" sahut Jaka sambil mengajak Ghazali main bareng game.


"Sorry, Jak. Gua gak suka main gituan," tolak Ghazali. Ia memang tidak pernah tertarik memainkan game online yang sedang viral itu. Meskipun, hampir semua kawan ojolnya suka memainkan permainan ini sambil menunggu orderan. Tapi, Ghazali lebih memilih membaca novel online atau membaca buku cetak jika di rumah.


"Aneh lu gak suka main game!" seloroh Jaka sambil sesekali mengumpat dengan kasar. "Anying! Kalah gua!" umpat Jaka. Membuat Ghazali menggeleng dan duduk agak jauh dari kawannya itu.


Tidak lama kemudian pak RT benar datang dan di sinilah Ghazali melapor dan meminta izin kepada pak RT yang bernama Romi. Ghazali menceritakan semua. Berhubung pak RT sudah mengenal Zahra yang pernah temui di rumah sakit tempo waktu lalu. Mendengar kisah Zahra yang lumayan menguras emosi, maka Romi pun berjanji akan membantu semaksimal mungkin. Setidaknya ia memberi ijin dan akan bantu mengklarifikasi jika ada warga yang bingung.


"Udah, tenang aje. Pokoknya semua beres. Asalkan kalian tau batasan aje!" ujar pak RT.


"Insyaallah, Pak. Saya dan Zahra bisa jaga diri dan tau batasan. Lagipula ada Reva yang menemaninya," jelas Ghazali.

__ADS_1


"Bagus. Nanti saye ajak bini deh, buat nengokin. Kirim makanan dikit. Kasian anak perawan orang, dia pasti rasa tertekan. Emang kadang, temen baek juga yang ngancurin masa depan. Bukan orang jauh. Kadang, gak semua perbuatan baek kita bakal dibalas baek juga ame orang. Biarlah, Allah yang maha adil yang bakal kasih timbal balik. Karena, rumusnye. Apa yang ente tanem itu yang bakal ente petik," tutur Romi bijak.


Ghazali mengangguk dan tersenyum. Ia bersyukur Allah mempertemukannya dengan orang-orang yang baik.


Di sebuah rumah sakit yang berada di lokasi yang berbeda. Seorang perempuan cantik sedang terkapar tak berdaya dengan berbagai alat yang terhubung ke tubuhnya. Kulit putihnya nampak pucat. Rambut pirangnya, kusut tak terurus.


Ia ternyata mengalami koma.


Tak ada yang menemaninya, tak ada keluarga yang membesuknya. Hanya beberapa teman sesama pekerja di klub yang terlihat mendatangi nya di rumah sakit itu.


Dialah Sisca, ia mengalami luka robek di beberapa alat vitalnya. Terutama pada bagian daerah pribadi miliknya. Ia mengalami kekerasan seksual hingga mengalami pendarahan dan juga keracunan obat.


Berkali-kali tim medis menanyakan apa yang terjadi pada kawan yang sudah membawa Sisca ke rumah sakit. Mereka hanya menggeleng, dan bilang tidak tahu. Mereka tidak mungkin mengatakan siapa dalang yang hampir menghabisi nyawa teman mereka tersebut. Mereka tidak mungkin mengatakan bahwa Sisca adalah korban kekerasan pria psikopat yang menjadi bos mereka.


Sepekan sudah Zahra menempati rumah kontrakan Ghazali. Selama pemulihan, sahabatnya itu tak pernah meninggalkannya. Reva rela jauh dari pabrik asal bisa menemani Zahra. Terkadang Ghazali yang mengantar. Terkadang juga Jaka.


Romi yang sempat tercengang dan miris dengan apa yang dialami gadis sebaik Zahra merasa simpatik. Ia pun membantu menjaga dan merahasiakan semua bahkan identitas Zahra sebenarnya.


Jaka rupanya sangat senang ketika mendapat giliran mengantar Reva. Sikapnya yang polos dan humoris membuat Reva nyaman dan terhibur. Pembawaan Reva yang tomboi menjadikan hubungannya dengan Jaka semakin dekat. Sambutan Reva yang ramah membuat Jaka salah tanggap.


"Bener kan, apa analisa gue. Lu pasti bakal dipromosiin, Rev. Karena lu itu pinter. Emang rejeki lu juga bagus," ucap Zahra ketika Reva pulang membawa kabar baik. Bahwa mulai besok ia sudah bukan karyawan kontrak lagi melainkan karyawan tetap. Pangkatnya juga naik, karena ia lolos seleksi yang pernah ia ikuti beberapa bulan lalu. Kebetulan, memang Reva pernah berkuliah hanya saja tidak sampai selesai.


"Gua gak nyangka aja lolos, Ra. Padahal masih banyak yang lulusan S1. Gue takut nih, nanti di demo mereka," adu Reva merasa tak percaya diri.


"Kalo mereka mau protes atau demo, ya ke PT bukan ke pekerja," tukas Zahra.

__ADS_1


Reva hanya mengangguk dan ia kembali tenang.


Malam ini, Ghazali terlihat beberapa kali tersenyum di tengah derunya laju kendaraan.


Malam ini lumayan dingin, mungkin karena hujan baru saja reda. Ghazali baru saja mampir kerumah kontrakannya menengok Zahra. Sekedar membawakan makan malam bagi gadis cantik itu.


Tetapi hal itu tidak berlaku dengan hati dan jiwa Ghazali. Karena hanya dengan mengingat senyum Zahra saja, seketika hatinya menjadi hangat.


"Ck! Seandainya lu bisa ngomong, pasti udah ngatain gua gila kan. Met."


"Sayangnye ... elu cuma benda mati, tapi gue sayang ame elu, Met. Elu yang udah nemenin gue bertahan selama lima tahun ini." Ghazali menepuk-nepuk body samping motor tuanya ini, sambil terus terkekeh.


"Apa gua, udah beneran gila sekarang? Gak ... gak boleh! Pokoknya gua kudu tetep waras, jangan sampe hasrat dan gelora itu mengalahkan akal sehat dan iman."


Zahra Medhina.


Akankah kita bersatu layaknya sayyidina Ali rodiallahu anh dan Sayyidatina Fatimah Az-Zahra rodiallahu anh?


Haruskah aku menikungmu dengan menyebut namamu di sepertiga malam?


Haruskah aku merayu pemilikmu agar hati kita dipersatukan?


Agar sesuatu yang serba kebetulan menjadi ketentuan.


Ya Allah bolehkan Ghazali mengharapkannya?

__ADS_1


Ya Allah ... gembel ini kayaknya jatuh cinta.


...Bersambung ...


__ADS_2