Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 46. Nasib Kang Ojek.


__ADS_3

"Terimakasih. Semoga bos kami puas. Dan kita bisa menjadi langganan kalian. Karena saya juga senang mendapat supplier yang jujur dan amanah," ucap Ardi sambil menyalami Ghazali, Zaki dan juga Imron.


Mereka berempat seumuran, kecuali Zaki yang memang terlihat lebih dewasa dari usianya. Mungkin karena brewok yang menghiasi dagu sampai rahang.


"Sama-sama, Bro! Kita berharap bisa terus bekerja sama. Semoga restoran bos ente makin kaya dan berkah," sahut ghazali. Kebetulan mereka mengenal Ardi dari salah satu sosmed yang menggalakkan hijrah di kalangan anak muda. Hingga, Ardi mengetahui bahwa gaya dan kawan-kawan memiliki usaha tambak. Menurutnya sangat kebetulan dan cocok, karena restoran tempatnya bekerja sedang mencari partner untuk dapat menyediakan bahan baku dari menu utama restoran tersebut. Yaitu, lobster, udang galah dan juga rajungan.


"Aamiin, aamiin insyaallah!" jawab Ardi dengan senyum. Sesekali ia melirik ke arah Reva. Membuat gadis berkerudung yang sedang mencuri pandang padanya itu terkesiap dan malu karena ketahuan.


Tak lama, Ardi pun mohon pamit. Agar tidak keburu magrib di jalan.


Zaki pun mengundang Zahra dan Reva makan. Olahan dari produksi tambak mereka. Betapa Zahra dan Reva senang. Selama ini keduanya belum pernah merasakan makanan mewah. Karena itulah Zaki sengaja menyisakan beberapa dari hasil tambang mereka hari ini. Bahkan Zara dan Reva juga dapat membawanya pulang, meskipun tak banyak.


"Ra. Ini nanti kamu bawa pulang ya biar dimasak sama Bunda. Gapapa ya, udang sama rajungannya sisa sortiran," ucap Ghazali merasa sedikit tidak enak karena memberikan hasil tambak yang kecil-kecil. Karena yang berkualitas bagus sudah dikirim ke restoran semua.


Ada tiga restoran yang mengambil hasil tambak mereka sejak kemarin. Alhamdulillah inilah hasil dari kesabaran, ketekunan dan kerja keras Ghazali dan dua orang kawannya selama beberapa tahun ini.


"Zahra gak nyangka. Bang Ghazali punya usaha sekeren ini," puji Zahra takjub.


"Keren apaan, Ra. Bau amis iya," tawa Ghazali. Di akhir sesi makan mereka.


"Keren lah Bang. Meskipun amis, tapi kan duitnya wangi," kelakar Reva, yang kemudian disambut tawa oleh semuanya.


Selepas salat magrib Ghazali mengantar Zahra. Sedangkan, Zaki menawarkan diri untuk mengantar Reva sampai ke kosan.


Di pertengahan jalan Ghazali sempat mengutarakan maksud dari Kazenia yang ingin bertemu dengan Zahra. Tentu saja hal itu sekilas membuat Zahra kaget, akan tetapi karena niat dari orang tua Ghazali ini baik, maka tak ada salahnya jika ia menerima undangan ini.


"Insyaallah, nanti Zahra kabarin lagi."


"Makasih ya. Mama pengen banget ketemu kamu. Siapa tau nanti mama sama adik aku, ketularan kamu, Ra."


"Ketularan apa Bang?" heran Zahra.

__ADS_1


"Liat aja nanti, Ra. Kamu juga bakal tau," jawab Ghazali penuh teka-teki.


________


Kazenia dan Shireen telah selesai berbelanja.


Beberapa paper bag coklat di kedua tangannya itu terus saja di pandangi olehnya. Karena memang Kazenia sudah menyiapkan hadiah untuk calon menantunya itu.


Ia juga membelikan beberapa kaos untuk putra lelakinya. Karena Kazenia sangat sedih melihat penampilan lusuh dari Putra satu-satunya tersebut.


Sejak kecil, Ghazali tidak pernah hidup dalam kekurangan. Namun, ternyata putranya itu mampu berdamai dengan keadaan. Dimana dirinya diharuskan berjuang sendirian di luar sana. Kazenia cukup bersyukur ketika mengetahui bahwa putranya baik-baik saja. Serta dapat hidup tenang karena tidak ada yang mengenalinya. Tentunya dengan keadaan rupanya yang rebel dan urakan seperti saat ini.


Batin memang cukup teriris di saat mengetahui bahwa keadaan putra semata wayangnya itu, lusuh tak terurus. Bahkan, pekerjaannya hanya menjadi seorang driver ojek online.


Menyesal, mungkin itu yang sedang di rasakan oleh nya saat ini. Mungkin juga perasaan itu yang sedang di sembunyikan oleh suaminya. Untuk apa mencari harta sampai menghalalkan segala cara. Akan tetapi, keluarga menjadi berantakkan serta tercerai berai.


Benar nasehat Ghazali sebelum ia pergi meninggalkan mansion kala itu. Bahwa harta yang halal akan mambawa keberkahan dan ketenangan. Karena ridho dari sang Illahi Robbi akan menentramkan hati.


Keyakinan itulah yang membuat putranya bisa menjalani hidup serba kekurangan. Dengan hidup apa adanya. Namun, jiwanya tenang.


Semua itu sudah tidak terlalu berarti lagi baginya kini. Bahkan Kazenia rela meninggalkan itu semua termasuk Arkan suaminya. Jika memang pria itu masih terus keras kepala. Meskipun berat namun kesenian lebih memilih kedua anaknya.


Ia tidak mau tersiksa rindu di masa tuanya.


Ia tidak mau kesepian. Kini dirinya telah sadar bahwa anak adalah harta terbesar yang ia miliki selama ini.


"Ciee ... yang mau ketemu calon menantu. Hadiahnya sampe satu bagasi mobil gini," ledek Shireen ketika ia melihat bagasi penuh dengan paper bag dan juga beberapa kotak.


"Ya ampun, nih anak kerjaannya ngeledek mulu dari tadi. Mama gak ajak ya nanti ketemu sama calon kakak ipar kamu!" ancam Kazenia. Membuat Shireen sontak mengerucutkan bibirnya.


"Udah deh, nggak usah drama sama Mama. Mana, udah ketemu belum hadiah buat calon kakak ipar?" Kini giliran Kazenia yang meledek putrinya itu.

__ADS_1


"Udah dong!" seru Shireen. Nampak memeluk tas selempangnya.


"Eh, apaan tuh! Mama liat dong!"


Namun, keinginan Kazenia sontak pupus seketika. Ketika Shireen menyembunyikan apa yang ia siapkan untuk Zahra nanti.


"Rahasia dong! Mama gak boleh tau. Pokoknya ini aku beli pake uang aku sendiri. Hasil tabungan Ilen," jelas gadis cantik jelita dengan rambut lurusnya yang berwarna kecoklatan.


Kedua bola matanya yang jernih nampak berkilat menampakan binar ketidak sabaran. Menanti masa ia berjumpa dengan wanita yang spesial di hati saudara lelakinya itu.


Pria, yang merupakan satu-satunya saudara yang ia miliki. Merupakan pelindung sekaligus musuh ketika di rumah. Ghazali yang sering membuatnya menangis karena diledek. Akan tetapi jika sudah di luar maka Abangnya itu akan membelanya mati-matian.


Ghazali, sejak dirinya kecil memang sangat sering menjahilinya. Ia sudah tidak sabar ingin menceritakan momen itu kepada Zahra. Semua hal jelek yang dilakukan abangnya akan dibongkar semua.


Tunggu pembalasan ku Abang sayang. Sekarang Ilen bakalan punya sekutu.


Gadis berusia delapan belas tahun itu terkekeh diam-diam.


"Kamu lagi merencanakan apa Len? Kok kayaknya seneng banget?" Kulik Kazenia. Bahkan ia memicingkan kedua matanya ke arah anak gadisnya itu.


"Ih, Mama kepo banget deh!"


" Pokoknya ini mah nanti bakalan jadi urusan Ilen sama Kak Zahra." Setelah menjelaskan kepada sang Mama, Shireen kembali tertawa. Kazenia hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Menanggapi betapa antusias putrinya itu.


__________


"Jangan lupa kabarin aku. Mama udah gak sabar. Adik aku juga," pinta Ghazali pada Zahra. Setelah pria berambut ikal pendek itu mengantarkan Zahra hingga ke rumah.


"Iya, Nanti aku kabarin!" Zahra pun masuk ke dalam tanpa menawarkan Ghazali masuk. Karena kalau mampir pasti bakalan lama. Begitulah menurutnya.


Tega banget deh kagak di suruh mampir. Emang nasib kang ojek.

__ADS_1


...Bersambung...


...Bersambung...


__ADS_2