Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 32. Melepas Lara, Zahra.


__ADS_3

"Itu ... bang Ghazali. Dia dengan siapa? Apa yang ia lakukan di sini?" Rasti yang bingung tak memindahkan pandanganya dari sosok pria yang ia cari selama lebih dari dua pekan ini.


Matanya terus memindai sosok gadis muslimah yang mengenakan pakaian tertutup. Dimana ia nampak berjalan di sebelah Ghazali. Sementara di belakang mereka beberapa laskar pengemudi ojek online berbaris mengekori.


"Apa yang telah terjadi terhadap, papa? Saka!" teriak Rasti di samping mobilnya. Namun, pria itu sudah tak ada di samping raganya. Hal itu membuat Rasti menghentakkan kakinya ke atas tanah.


Saka segera menuju bangunan berlantai empat itu. Di dalam ia menemukan beberapa raga tergeletak dan terikat. Saka terus berlari hingga kelantai atas. Disana ia hanya menemukan Gilbert yang masih dalam keadaan pingsan.


Tak lama, ia mendengar jeritan melengking si sebuah kamar VVIP, karaoke room tersebut. Hingga beberapa kali terdengar suara benturan. Setelahnya tak ada suara lagi selain erangan dan lolongan panjang.


"Aku harus membawa, Nona pergi dari sini. Atau tuan akan marah ketika nona mengetahui kebejatannya." Saka bergumam dan kembali kemana ia meninggalkan nona mudanya sendirian. Rasti tidak akan berani masuk ke dalam klub tanpa dirinya.


"Asisten kurang ajar!" umpat Rasti berulang-ulang. Suasana hatinya sangat buruk. Melihat kenyataan di depan matanya. Di saat Ghazali nampak begitu terlihat khawatir pada gadis yang berada di sebelahnya.


"Kita pulang saja, Nona. Tuan sedang tidak bisa diganggu." Tiba-tiba Saka datang dan memberi perintah pada Rasti.


"Eh, Kok kita pulang sih! Aku mau ketemu papa! Masa iya sih segitu sibuknya! Aku ini kan anaknya!" pekik Rasti tak mau dengar ucapan dari Saka. Ia tetap bersikeras untuk masuk.


Dengan terpaksa Saka menarik tangannya, karena terlalu cepat, Rasti menjadi tak seimbang dan ia pun jatuh.


Tapi, Saka langsung menangkapnya. Hingga kini tanpa sengaja, nona mudanya ini masuk ke dalam dekapannya.


"Kurang ajar, lepasin aku!" pekik Rasti seraya memukul dada Saka. Padahal dalam sepersekian detik ia sempat terpesona ketika melihat ketampanan pengawalnya ini dari dekat.


"Maaf, Nona. Mari kita pulang. Lain kali saja temui tuan besar lagi," saran Saka. Berusaha membujuk Rasti untuk segera meninggalkan tempat ini.


Meksipun, di pikirannya berkelebat berbagai pertanyaan atas apa yang terjadi sebenarnya.


Ghazali membawa Zahra dan Reva ke klinik terdekat. Keduanya mendapat pengobatan dari beberapa luka kecil yang mereka dapat lagi perkelahian tadi.


Maaf, apa kamu gapapa?" tanya Ghazali pada Reva karena melihat bekas merah di sebelah pipinya yang kentara meninggalkan jejak telapak tangan.


"Reva, gapapa, Bang," jawab Reva singkat, sambil sekilas memperhatikan pria menawan di sebelahnya ini. Batinnya bertanya, bagaimana lelaki ini bisa hadir tepat pada waktunya? Dan sejak kapan Zahra mempunyai kenalan seperti dia. Kenapa tidak bercerita apapun padanya.


Jiwa kepo nya meronta, ketika wajah sangar Ghazali mendadak lembut tatkala menatap sahabatnya yang penuh luka lebam di wajahnya itu.

__ADS_1


Berbagai tanya mencuat di dalam benak gadis tomboy ini. Tatkala ia melihat kekhawatiran yang begitu tercetak jelas di raut wajah lelaki yang hanya mengenakan kaos oblong itu.


"Kenapa Zahra di dalam lama sekali?" gumam Ghazali seraya mengusap wajahnya kasar.


Aku harap kamu gak apa-apa, Ra. Aku gak akan bisa melihat jika terjadi sesuatu sama kamu.


Ghazali begitu terlihat risau dan khawatir. Setelah kejadian ini, Roger tidak akan melepaskan Zahra dan juga dirinya begitu saja. Ia harap, Roger tidak mengenalinya tadi. Pria itu hanya sempat bertemu dengannya beberapa kali. Ketika memperkenalkan sang anak gadis padanya. Bahkan, Ghazali pun lupa seperti apa wajah wanita itu.


"Oh iya, Rev. Gue boleh nanya gak?" ucap Ghazali penuh harap. Ia menatap sendu gadis yang duduk di sebelahnya. Karena Reva juga mengalami beberapa memar di wajahnya. Bahkan bibirnya juga sobek.


"Boleh, Bang, nanya aja," jawab Reva , karena ia yakin bahwa lelaki yang sedang berhadapan dengannya, adalah orang yang bisa di percaya.


"Sebelum datang ke tempat ini, apa kalian gak nanya dulu itu cafe apa? Lalu siapa pemiliknya?" cecar Ghazali merasa heran karena dua gadis ini nekat masuk ke kandang serigala. Ataukah, mereka memang sama sekali tidak tau siapa itu Roger Oxxon.


"Kita berdua sih, sempet curiga, Bang. Kalo cafe itu, sekedar kamuflase. Cuma kita gak nyangka aja, kalo ternyata niat Sisca sejahat ini. Makanya, pas kita berdua di suruh minum cairan merah itu. Kita gak mau. Sampai akhirnya, tua bangka itu hendak menjamu makan. Zahra menolak tegas, dan pamit pulang. Pada saat itulah, mereka membuka kedok itu akhirnya.


Ghazali seketika memejamkan matanya, ia kembali mengepalkan tangannya yang berada di atas lutut.


Ia merenung.


Entah apa yang terjadi?


Ghazali memberi remasan pada rambutnya, ia tak habis pikir. Bahkan tak berani memikirkan akibatnya. Mereka berdua rupanya gadis yang kuat, hanya saja musuh yang di hadapi tidaklah sepadan. Untung saja Ghazali datang telat waktu, meski ia harus menerobos lampu merah. Berharap perbuatannya tadi tidak terekam oleh CCTV .


Kalau tidak, mungkin saat ini ia sudah kena tilang online. Apalagi tadi ia mengebut macam pembalap yang melintas di atas sirkuit.


Ternyata si Komet, mendukung penunggangnya kali ini. Ia begitu perkasa di atas aspal tadi.


Padahal biasanya suka mendadak mati.


Apa karena baru ganti aki dan oli.


______


Di sebuah pinggir danau, kedua mata Ghazali menatap tajam sosok gadis dengan bahu yang bergetar. Zahra masih terisak kuat. Reva terus menggenggam tangannya. Dan, sesekali menghapus aliran air mata yang bercampur dengan tetesan hujan itu.

__ADS_1


Tubuh mereka berdua sudah menggigil, namun rupanya gadis yang terluka di hatinya itu.


Masih enggan untuk beranjak. Mungkin, Zahra ingin melepas semua rasa sakit serta kecewanya. Sempat tak percaya, bagaimana. seorang Sisca yang menjadi sahabatnya sejak kecil itu tega melakukan ini padanya. Bahkan, Zahra pernah menyelamatkan Sisca dari pelecehan ketika sekolah dulu. Tapi, apa yang telah ia coba perbuat padanya. Sisca, bahkan menjualnya pada om-om mesum gila.


Zahra ingin hari ini segala luka dan rasa kecewa terhadap sahabat masa kecilnya itu menguap. Terbawa arus dari guyuran hujan, menjauh dari sesal yang akan menggerogoti hatinya suatu hari nanti.


Di bawah guyuran hujan yang sudah tidak sederas tadi. Ghazali tak bergeming, dan sama sekali tak memindahkan pandangannya sejengkal pun dari gadis yang sedang berlutut di dalam rengkuhan sahabatnya itu.


Ghazali nampak mengepalkan tangannya, hingga buku-buku jarinya memutih. Kemudian ia memukuli pohon yang ada di hadapannya saat ini. Ia , butuh pelampiasan juga sepertinya. Karena lahir batin Ghazali merasa tak terima, gadisnya di buat seperti itu. Ingin rasanya ia yang merengkuh tubuh lemah yang naik turun di dalam sesenggukan. Tapi siapa dia?


Seandainya saja boleh?


Seandainya ia berhak?


Ingin rasanya ia yang menyapu derai air mata yang mengalir deras di kedua pipi Zahra. Membawa raga bergetar itu kedalam pelukannya. Kemudian mengusap kepala dan punggung untuk menenangkan.


Tapi, apa dayanya?


Ia hanya bisa menyaksikan gadisnya terluka sedemikian rupa.


Ghazali kembali menghela napasnya dengan keras. Ia mengambil sebuah batu, dan melemparnya jauh ke atas sungai.


"Argh ...! "


Teriakannya tertelan suara hujan dan tersapu angin. Ia melakukan hal itu berkali-kali. Setidaknya ia puas.


Ghazali, menyeka air yang tiba-tiba merosot dari ujung matanya yang memanas.


"Hatiku sakit sekali melihat mu seperti ini, Ra. Ingin rasanya aku menenangkan, membawamu dalam pelukan. Bahkan, ketika papa mengusirku, dan aku di pisah dari mama juga Ilen, aku tidak sedikit pun menangis."


"Ya Allah, kenapa takdirnya begitu malang? Izinkan aku bersatu dengannya. Aku tak ingin ada siapapun lagi yang menyentuhnya, apalagi melukainya. Roger adalah pria yang gila dan nekat. Kami tidak akan bisa melaporkannya z karena bekingan pria itu kuat. Bahkan usaha ilegalnya berjalan lancar ditengah kota besar."


Ghazali bergumam, dan sesekali memejamkan matanya. Kemudian ia menengadahkan wajahnya ke atas. Demi membiarkan tetes air yang tinggal gemericik itu menghujani wajahnya.


...Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2