
"Ditanya, sih gak jawab! Ini kita mau kemana!" teriak Zahra lagi bertanya dengan nada gusar yang kentara. Bagaimana pun dirinya tak bisa mempercayai siapapun. Sekalipun itu pria yang selalu menolongnya. Karena niat hati bisa sekejap berubah. Sebab, iman manusia itu naik-turun.
Ghazali hanya terkekeh mendengar kekesalan Zahra. Ia tau jika gadis yang sedang ia bonceng di atas kendaraannya ini pasti sedang khawatir. Karena Zahra termasuk gadis yang paranoid.
Ghazali terus mengemudikan si Komet. Ia yang memang mahir dalam mengendarai kendaraan beroda dua itu, meski kendaraan legend sekalipun. Akan tetapi, payah dalam mengemudikan hati sang gadis pujaan.
Dikarenakan tidak ada respon berlebihan. Bahkan, tanda-tanda ataupun sinyal yang mengisyaratkan dirinya untuk maju ataukah mundur. Zahra dan keluarganya sangat menerima baik dirinya. Namun, sikap Zahra tetap tertutup padanya. Gadis itu masih menutup diri dan juga hatinya.
Ghazali semakin melajukan motornya karena ia ingin segera sampai tempat tujuan.Tentu saja hal yang ia lakukan justru semakin membuat Zahra kesal.
"Kalo Abang gak mau jawab, mending berhenti aja di sini!" Zahra berteriak sambil menepuk bahu Ghazali. Akhirnya Ghazali pun buka suara.
"Jangan nanya kemana, soalnya ini surprise!" jawab Ghazali dengan terkekeh sesudahnya.
Pria berwajah hitam manis dengan rambut pendeknya yang ikal ini, hanya ingin. mengutarakan perasaannya. Sebelum ia bertindak terlalu jauh. Sebelum ia membawa Kazenia dan Shireen untuk menemui Zahra. Dirinya harus tau dulu bagaimana tanggapan Zahra terhadapnya.
Karena hati kecilnya berkata.
Pantang pulang sebelum perang!
Jangan padam sebelum berkobar!
Hingga disinilah mereka berdua pada akhirnya. Dengan satu niat ingin mengeluarkan inti atau jurus terakhir dari perjuangannya. Apapun hasilnya nanti. Semoga sang hati siap untuk menerima segala hasil akhirnya.
"Abang, cuma mau ngajak kamu makan." Ghazali berkata seraya membuka helmnya. Ketika kendaraan roda duanya telah berhenti di sebuah lahan parkir sebuah restoran.
"Ya ampun, Bang. Bilang aja kali. Gak udah pake main surprise segala. Kan aku jadi mikir yang enggak-enggak tadi." Zahra protes dan menggerutu kesal sambil menghentakkan kakinya ke atas aspal. Ia ungkap semua rasa khawatir di hatinya tadi. Tanpa Zahra sadari bahwa ekspresinya barusan membuat Ghazali kelepasan.
Ghazali mengulurkan tangannya dan mencubit ujung hidung mancung Zahra. Hal itu sontak saja membuat Zahra mundur satu langkah dan memandang Ghazali berharap penjelasan.
"Eh, eh ... maaf. Abang kelepasan. Abis kamu sih gemesin banget marahnya." Ghazali berkata mengungkap penyesalannya, akan tetapi kembali tergelak pada akhirnya. Ia tak tahan. Wajah Zahra sungguh menggemaskan.
Sepertinya memang harus segera di halalkan. Atau bisa jadi bahaya yang keterusan.
Meskipun Zahra terlihat cuek dan masa bodoh. Namun ujung bibirnya tetap melengkungkan seulas senyum. Dalam hatinya pun sebenarnya dia bersorak girang. Karena, sifat perempuan itu memang paling senang kalau di beri kejutan.
Berasa spesial dan di perhatikan.
Meski tidak terlalu besar dan luas dan tidak menampung terlalu banyak pengunjung. Justru restoran ini di minati karena lebih private.
Resto sederhana ini cukup menarik dengan arsitekturnya yang simpel namun menciptakan kesan yang menenangkan dan romantis.
Dengan lampu yang teduh dan warna cat yang tidak terlalu mencolok. Serta kursi dan meja yang berbentuk oval.
__ADS_1
Zahra mengedarkan pandangannya pada sekeliling bangunan. Hingga sorot matanya berhenti pada sebuah kursi yang di tarik oleh Ghazali. "Silahkan yang mulia Ratu," ucap Ghazali seraya menundukkan kepala. Menggoda Zahra dengan gaya memberi hormat ala bangsawan.
Hal itu sontak membuat Zahra terkekeh pelan, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Abang, mau ngajak aku makan ... apa main drama?" ucap Zahra setengah berbisik karena takut di dengar pengunjung lainnya. Karena sikap Ghazali barusan sudah mengundang beberapa mata kepo untuk sekilas melirik mereka berdua.
Ghazali hanya tersenyum kikuk sambil menarik kursi untuknya di depan Zahra. Sepertinya, gadis di hadapannya ini memang tidak bisa di ajak romantis.
Tak lama kemudian datang seorang pelayan menghampiri mereka. Perempuan berjilbab itu menyapa dengan ramah dan menyodorkan buku menu.
"Pesan apa?" Keduanya terperanjat ketika saling bertanya dalam waktu yang bersamaan.
Ghazali pun tersenyum tipis.
Begitupun Zahra, ia langsung menundukkan wajahnya untuk menyembunyikan rasa malu yang tiba-tiba mencipta rasa hangat di kedua pipinya.
"Samain aja deh!"
Mereka berdua akhirnya tertawa renyah karena sudah dua kali berucap secara berbarengan.
"Duh kompaknya! Jadinya mau pesan apa?" tanya pelayan wanita itu, menghentikan tawa dari keduanya.
Sebelum menjawab mereka berdua kembali saling menatap. Hingga pada akhirnya, Zahra memilih menu tongseng kambing jumbo dengan dua nasi serta dua gelas jeruk peras hangat.
"Mohon di tunggu ya!"
Setelah mencatat pesanan elayan wanita yang berpakaian sopan itu pun pamit undur diri. Sepeninggal pelayan tersebut, tersisa hanya kecanggungan di antara mereka berdua.
Zahra memutuskan untuk mengotak-atik ponselnya. Ia merasa dag-dig-dug bila duduk berhadap-hadapan dengan laki-laki sederhana yang mampu membuatnya tersenyum ini.
Dengan sangat sadar, Zahra tahu jika pria di hadapannya saat ini sedang memperhatikannya dalam dan intens.
Gimana cara mulai ngomongnya ya ini. Susah banget ni lidah buat merangkai kata. Enaknya pas udah makan apa sebelum ya?
Ghazali bingung dan nampak masih menimbang-nimbang apa yang akan ia lakukan selanjutnya.
Zahra berpura-pura tak tau jika dirinya tengah di perhatikan oleh Ghazali. Zahra seakan menatap tenang dan asik pada layar enam inchi di hadapannya. Namun ekor matanya terus memperhatikan gerak-gerik dan gestur pria yang duduk di seberang meja.
Yah, si Eneng malah asik sendiri. Tampang udah keren gini juga. Gak ada pujian gitu atau komentar apa kek.
"Ra, aku ngajak kamu kesini. Karena ada yang mau aku omongin sama kamu." Mendengar ucapan Ghazali Zahra langsung mendongak. Memindahkan atensinya pada raut wajah menawan di hadapannya.
"Sebenernya --"
__ADS_1
Zahra berdehem pelan. Kemudian memotong ucapan Ghazali.
"Maaf, Bang, aku mau belakang. Sebentar aja kok gak pake lama." Tanpa menunggu jawaban dari Ghazali, Zahra langsung berdiri dari duduk dan segera berlalu dari tempat menegangkan itu.
Emangnya medan perang?
"Ck. Mau ngomong malah di tinggal. Itu kata-kata udah kesusun. Ambyar lagi deh." Ghazali menghela nafas serta merebahkan punggungnya pada sandaran kursi.
Pria itu nampak mengusap wajahnya pelan.
Apa Zahra punya perasaan yang sama kayak aku? Tapi, kenapa kesannya seperti menghindar gitu. Hush! Al, pokoknya lu harus usaha dulu. Tetaplah berhusnudzon.
Ghazali mengulas senyum Ia telah kembali percaya diri ketika menyerahkan segala hasilnya pada sang penentu nasib.
Ia merentangkan tangannya.
Menarik nafas dalam serta menyemangati dirinya dengan mengepalkan tangannya di udara.
Tidak ada perjuangan yang mudah. Semua ini baru awal.
Senyum percaya diri itu pun kembali terlukis di paras rupawannya itu.
Bahkan ia sempat di lirik beberapa perempuan di ujung sana. Hingga, bisik-bisik itu pun sempat tertangkap melalui indera pendengar Ghazali.
Ghazali memalingkan wajah dan menolehkan pandangannya ke arah luar. Menatap langit sore yang hampir senja. Pria ini nampak menghela napasnya pelan.
Males banget gini kan kalo gue dandan agak rapih dikit. Semoga aja gak ada yang ngenalin.
Ghazali nampak menarik poninya ke depan keningnya. Ia kembali mengacak-acak rambutnya.
Sementara itu di toilet khusus wanita.
Zahra terlihat berkali-kali mengusap wajahnya dengan air dingin yang mengalir dari keran di wastafel. Beberapa saat menatap pantulan wajahnya di cermin.
Zahra menghirup udara dalam dan membuangnya dengan perlahan. Sekaab tengah membuang sesuatu yang sudah menghimpit dadanya sedari tadi. Ia merapihkan pasmina lebarnya. Mengeringkan wajahnya dengan tisu.
Kemudian sedikit memoleskan pelembab.
Tumben banget kan si Abang ngajak aku kesini. Bukan takut dia gak bisa bayar. Soal itu dia pasti sudah mempersiapkan segalanya dengan baik. Cuma aja kenapa hati aku merasa gimana gitu. Apa yang mau dia omongin sebenarnya? Gimana kalo? Ah, apa iya ...?
Zahra menempelkan kedua telapak tangannya pada pipi. Sembari sesekali memejamkan mata dan tersenyum.
...Bersambung...
__ADS_1