
Acara tak sampai malam. Sore selepas ashar pun sudah selesai. Meskipun beberapa kerabat dan tetangga ada saja yang berdatangan. Nampak, Reva mendatangai Zahra yang sedang duduk sendirian di pelaminan. Ghazali suaminya itu sedang berganti pakaian. Mereka harus bergantian, takut ada tamu susulan.
Sementara, Kazenia dan Shireen terlihat mengobrol santai dengan Maryam dan juga Umar. Adam, nampak malu dan canggung ketika Shireen menatap dirinya lekat.
Ini anak kenapa ya. Umurnya pasti di bawah aku. Tapi, kenapa gayanya kayak cowok lagi malu sama cewek seumuran? Ampun deh bocil. Aku ini tuh adik dari Abang ipar kamu..
Shireen sengaja mengintimidasi Adam. Agar anak pra remaja itu takut padanya. Benar saja, adam pergi meninggalkannya.
Reva yang tengah memajukan ujung bibirnya ini menatap kedepan dengan geram. "Kamu kenapa?" tanya Zahra.
"Sebel deh. Kenapa mereka bertiga ada dalam satu frame?" keluh Reva.
"Mereka siapa?" Zahra belum nyambung, sahabatnya ini bicara ke arah mana. Apa yang ia bicarakan.
"Itu loh, Ra. Cowok ganteng." Reva menjawab sambil mengeratkan giginya gemas. Karena Zahra belum juga mengerti.
"Ngomong yang jelas kenapa, Re. Cowok mana yang kamu maksud? Kan itu ada tiga cowok yang kayaknya naksir sama kamu!" Akhirnya Zahra tak mampu menahan gemasnya itu.
"Lah, itu tau!"
"Ya, mereka ini yang mau gue bahas, Ra. Masa sih mereka ada di satu tempat. Gila aja ya gak !" Reva nampak semakin kesal. Kali ini iya boleh sedekat sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ya itu sih, salah elu, Re. Makanya putuskan deh untuk memilih salah satu dari mereka. Jangan tiga-tiganya lu kasih harapan doang. Dosa tauk mempermainkan perasaan orang lain. Kalo nggak suka lepas, jika sebaliknya pertahankan. Kalo bisa langsung minta biar halal.
"Karena, laki-laki yang mencintaimu, maka akan melarangmu untuk berbuat dosa. Dia akan berusaha untuk segera membawamu kepada kebaikan." Ucapan bijak dari Zahra barusan seakan membuka mata hati Reva.
"Masyaallah, makasih banget ya Ra. Elu udah buat hati gue gak galau lagi. Gue jadi tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Ya udah, gue tinggal dulu ya. Mau ngasih kepastian nih buat mereka bertiga. Capek gue dikejar-kejar mulu. Tuh, suami lu yang ganteng udah balik lagi! Mending ajak masuk kamar aja gih sana!" seloroh Reva seraya terkekeh. Hal yang sama pun juga dilakukan oleh Zahra.
Hingga tatapan aneh dari mata Ghazali menyorot padanya. Tatapan mata dari keduanya pun bertemu. Saling mengunci dalam hingga menembus ke jantung yang berdegup kencang.
Zahra tidak bisa membuka mulutnya, lidahnya mendadak kaku, giginya pun terkunci rapat. Padahal tadi ia mau bilang sesuatu, tapi apa itu dia pun lupa sudah.
__ADS_1
Seakan di buat mabuk oleh tatapan dalam dan tajam dari pria yang sudah sah menjadi imamnya ini. Wajah rupawan dengan garis rahang yang tegas, serta mata teduh. Di sempurnakan dengan alis hitam dan tebal, serta hidung yang mancung.
Meskipun tampan, namun Ghazali tidak pernah sombong. Bahkan dia tidak sadar akan itu. Dia sama sekali tidaka takut terlihat jelek dan kumal. Satu hal yang penting adalah penampilannya itu nyaman untuk dirinya.
Entah dorongan dari mana, tau-tau wajah mereka semakin dekat. Ghazali menyusuri pipi kemerahan itu dengan jarinya.
Zahra tersentak. Ia merasakan sengatan bagai setrum itu mengalir ke setiap sendinya.
Membuatnya seketika sesak napas. Udara disekitarnya menipis.
Ghazali meniup wajah Zahra, membuat wanita cantik yang sudah sah menjadi istrinya itu mengerjapkan matanya kaget.
"Udah gak ada tamu. Ke kamar gih, kamu sisa ganti baju. Pasti gerah pake gaun ini seharian," titah Ghazali membuat Zahra mengangguk cepat. Ia nampak malu karena sudah berpikiran yang iya-iya. Ketika barusan Ghazali mendekatkan wajahnya.
Zahra pun masuk ke kamarnya yang tak jauh dari letak pelaminan. Ia hanya tinggal menyibak tirai yang sengaja dibuat seindah mungkin agar ruang tamu terlihat mewah.
Didalam kamar Zahra terlihat tengah mempreteli satu persatu hiasan khas pengantin yang ada di kepala.
Zahra, selama beberapa saat terhanyut dalam kejadian demi kejadian yang belum lama Ia lalu. Seakan tak percaya jika ia dan Ghazali sekarang telah sah menjadi suami dan istri. Zahra menggeleng gemas seraya memegang kedua pipi dengan telapak tangannya.
"Kenapa sih? Kok senyum-senyum sendiri?" Sontak suara yang ia kenal ini membuat Zahra tersentak kaget.
Sejak kapan pria ini masuk? Eh maksudnya, pak suami? Pikir Zahra.
"Serius banget, menghayal nya. Sampe gak sadar kalo ada yang masuk ke dalam kamar. Gimana kalo itu bukan aku, hayo!"
"Ya aku kasih ini!" Zahra sontak menunjukkan kepalan tangannya ke depan wajah Ghazali. Suaminya itu hanya terkekeh geli.
Tiba-tiba, Ghazali mendekat dan membalik tubuh zahra. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk membuka resleting pada gaun pengantin yang membalut tubuh Zahra. Tak dapat mengelak maupun berkutik. Zahra hanya bisa menerima perlakuan dari Ghazali dengan memejamkan kedua matanya.
Gaun itu pun terbuka, termasuk dengan hijab yang Zahra kenakan. Untung saja ia mengenakan inner panjang sebagai dalaman dari gaun pengantin tersebut.
__ADS_1
Ghazali langsung menarik pinggang Zahra, melingkarkan kedua lengan erat di pinggang ramping istrinya itu. Mendekatkan wajahnya, kemudian menciumi rambut Zahra yang tergerai leluasa. Sebab, Ghazali juga telah membuka ikatan pada rambutnya.
Mereka begitu dekat, jarak terbunuh seketika. Ghazali terlihat semakin merapatkan tubuh wanitanya. Hembusan nafasnya yang hangat menerpa belakang telinga Zahra. Harum maskulin khas ala pria menyeruak hingga menelusup melalui penciuman Zahra. Sehingga membuat irama dalam dadanya berdentum kuat. Zahra mulai merasa kesulitan bernafas lagi.
Haihh, Kenapa aku selalu berusaha bernapas ketika Ghazali berada di dekatku? Bagaimana ini? Bagaimana jika ia meminta lebih dari ini? Ah, jantung ku pasti akan copot.
Zahra hanya bisa membatin. Menimpali kelakuan dari pria yang berstatus sebagai suaminya ini.
Begitupun dengan Ghazali. Pikirannya seakan kosong saat ini. Ia hanya melihat pantulan dari bibir merekah merah di cermin.
Kenapa begitu menggoda? Hingga membuatnya seketika haus dan harus melepas dahaga segera.
Ia melihat wanitanya tak bergeming di dalam rangkulannya. Matanya pun sayu seakan merasa dan menahan gelora yang sama. Senyum itu sekilas bagai magnet untuknya. Ketika keduanya hanya saling bertatapan lewat pantulan cermin di depan mereka.
Ibarat lampu hijau yang menyala di tengah macet karena lampu merah. Ia yang sudah tidak sabar segera menerobos dengan laju yang pasti. Ghazali membalik perlahan tubuh Zahra.
Ia memberanikan diri untuk mendekatkan wajahnya, hingga kedua benda kenyal itu pun bertemu untuk pertama kalinya.
Mereka bertabrakan dengan lembut. Menempel sekian detik untuk merasakan pengalaman pertama yang baru keduanya rasakan.
Lama-kelamaan sesapan lembut dan pelan itu semakin dalam. Manis, basah dan hangat. Itulah yang keduanya rasakan saat ini.
Zahra yang merasakan terbuai seakan melayang. Ia merasa kakinya sudah tidak sanggup berpijak lagi. Dengan reflek ia pun mengalungkan kedua tangannya di leher Ghazali.
Ghazali yang merasakan gerakan Zahra, justru semakin mengeratkan pelukan mereka.Jarak sudah terkikis habis. Dada keduanya menempel erat. Kecupan ringan itu, kini sudah berubah menjadi semakin menggebu dengan gelora yang membara dari keduanya. Mereka bebas karena merasa sudah halal kini. Tak ada lagi yang mereka tahan. Semua yang mereka lakukan justru menjadi ladang ibadah yang mendatangkan pahala bagi keduanya.
Ghazali melepas tautan mereka. Ia menempelkan kening keduanya. Saling menyuplai oksigen yang tadi seakan habis tertelan suasana yang hampir panas.
Ia menatap mata bulat jeli itu, dengan bulu mata lentik menggemaskan. Menatapnya dalam. Mengurai senyum bahagia yang menular pada Zahra.
...Bersambung...
__ADS_1