
[ Ingat ya. Jatuh cintalah bukan hanya karena debaran, Nak. Juga bukan hanya karena getaran didalam dada saja. Karena, cinta yang memabukkan akan membutakan nurani. Karena kamu akan terlalu fokus memuja ciptaannya tanpa mengingat untuk memuji penciptanya. Akan tetapi, jatuh cintalah karena ingin melengkapi. Karena, sesungguhnya cinta yang hakiki, adalah cinta yang tidak membuatmu lupa.
Kepada Sang Maha Cinta. ]
Seketika, ucapan serta nasihat dari ayah Umar terngiang di telinganya. Zahra masih memegangi kedua pipi dengan kedua tangannya.
"Ya Allah, kaki aku jadi bergetar begini sih? Ini juga jantung. Tolong kondisikan." Zahra pun menarik dan menghela napasnya lagi berulang-ulang kali. Sontak kedua pipinya memerah membayangkan hal yang tiba-tiba melesat kedalam pikirannya.
"Lagian si Abang, kenapa mendadak jadi menawan begitu ya? Sikapnya juga akhir-akhir ini beda banget. Semakin serius. Apa ini sebuah kode? Ah, aku jadi bingung sendiri kan."
Zahra masih saja bergumam sambil menampar pelan kedua pipinya.
Sudah cukup lama ia menenangkan dirinya di depan wastafel. Ghazali pasti sudah terlalu lama menunggu. Pria itu pasti sedang manyun sekarang. Zahra terkekeh geli membayangkan apa yang ia pikirkan.
Berkali-kali Zahra melakukan olah nafas.
Exhale ... Inhale.
Guna mengontrol degup dan detak jantungnya yang tak beraturan sejak tadi.
Setelah menghela napas untuk yang kesekian kalinya. Akhirnya, gadis sederhana yang terlihat menawan meskipun menutup auratnya itu, memutuskan keluar dengan hati yang lebih tenang ketimbang tadi. Zahra siap terhadap apapun yang menunggunya nanti.
Seketika, langkah kaki Zahra berhenti melangkah. Ketika ia melihat pria itu begitu mempesona meski dari jauh. Apalagi kala ia mendapatkan kenyataan bahwa ada beberapa gadis yang terlihat tengah mencuri pandang. Bahkan mereka secara terang-terangan menggoda Ghazali.
Mereka ini ya. Gak bisa liat cowok bening dikit matanya udah jelalatan aja!
Zahra menggerutu kesal di dalam hatinya. Ketika berjalan menghampiri arah dimana letak mejanya dengan Ghazali tadi, Zahra sengaja memberi tatapan sinis ke arah anak baru gede yang super genit itu.
Para remaja usia anak SMU itu langsung menundukkan kepala mereka sambil menggerutu. Tentu saja setelah Zahra menjauh dari mereka.
Ghazali langsung merapikan duduknya, tatkala bola mata hitam pekatnya, melihat gadis yang sudah membuatnya resah itu mendekat.
Kenapa auranya kayak berbeda ya. Lebih, segar dan tenang. Gak tegang macam tadi sebelum dia ke toilet. Apa Zahra baru aja dapat pencerahan di sana.
Ghazali terkekeh dalam hati mendengar jalan pikirannya itu.
Setidaknya, aura yang tercipta pada raut wajah Zahra sekarang. Membangkitkan kembali asa yang sempat layu sesaat tadi.
__ADS_1
"Maaf, agak lama," jelas Zahra, memberi penjelasan singkat dengan alasan yang tentunya hanyalah fiktif belaka. Karena keadaan toilet benar-benar sepi tadi.
Astagfirullah, Zahra bohong ya Allah. Maafin ya.
batin Zahra sadar diri.
"Langsung di makan aja ya. Takut keburu dingin." Ghazali berkata seraya memberi senyum terbaiknya.
Terus saja bang tebar pesona. Tapi sama Zahra aja ya. Jangan sama yang lain.
Aku ngeri bang, kalo kamu senyumnya kayak gitu. Ngeri jatuh cinta. Astagfirullah.
Zahra hampir saja tersedak karena terus berbicara dalam hati.
Zahra berusaha menyembunyikan senyumnya.
Bagaimana pun dirinya adalah wanita normal. Selama kebersamaan mereka dan segala yang sudah di lakukan laki- laki di hadapannya ini. Tentunya telah membawa arti tersendiri di dalam hatinya.
Hati yang selama ini terkunci rapat bagi laki-laki manapun di luar sana. Kini hati bekunya itu mulai mencair karena telah tersentuh, oleh segala sikap dan perlakuan tulus dari pria yang sudah menyelamatkan kehormatannya beberapa waktu lalu.
Ia menyadari bahwa pria maskulin ini menyimpan rasa padanya sejak pertemuan di rumah sakit kala itu. Hanya saja Zahra tidak mau semudah itu membuka hatinya. Dia bukanlah tipe wanita yang gampang jatuh cinta. Bukan perempuan yang gampang melow, gampang baper dengan segala puji dan rayuan gombal.
Mereka berdua pun makan tanpa bersuara hanya sesekali terdengar dentingan sendok yang beradu dengan piring.
Sesekali, Ghazali nampak mencuri pandang kepada gadis manis di hadapannya ini.
Sesi makan pun akhirnya selesai. Pada saat inilah Ghazali berani bicara lagi.
"Ra." Ghazali seperti ingin memberi tahu sesuatu. Terlihat dari jari telunjuknya yang mengarah ke wajah Zahra.
"Eh, iya! Kenapa? Ada apa?" Mendapat tatapan serius dari Ghazali, membuat Zahra mendadak tegang.
"Mau kasih tau, itu--" Ucapan Ghazali terpotong dengan ucapan Zahra yang menyambar tiba-tiba.
"Itu apaan!"
"Ada sisa makanan tuh, nempel. Sini biar aku --"
__ADS_1
"Eh, ga usah! Biar Zahra aja." Zahra pun langsung mengambil tissue dan kaca kecil dari dalam tas.
Kemudian ia menyeka sudut bibirnya yang terdapat noda santan.
Makan sampe belepotan gini. Bikin malu aja deh kamu, Ra.
Ghazali kembali menarik tangannya dan akhirnya tissue itu berujung sebagai pengering peluh di pelipisnya sendiri.
Lupa, kalo belum mahrom. Udah pasti Zahra nolak dong. Bahlul kamu, Al.
Ghazali mengumpat dirinya sendiri dalam hati. Ketika ia menyadari bahwa apa yang hendak ia lakukan tadi hanya menunjukkan kebodohannya saja. Sangat jauh dari kesan romantis.
Rojali kembali mempersiapkan diri.
Ia menegakkan punggungnya dan menatap gadis yang memiliki lesung kecil di pipinya itu.
Dengan meletakkan kedua tangannya yang saling bertaut di atas meja.
Rojali membuka suaranya.
"Ra. Sebenernya ada yang mau aku omongin. Makanya aku aja kamu ke tempat romantis ini," terang Ghazali. Masih dengan kegugupan yang berusaha ia tutupi mati-matian. Dengan mencoba beraksen sekeren mungkin.
"Em ... mau omongin apa? Ngomong aja, Bang. Serius banget." Zahra meledek demi menghalau kegugupannya sendiri. Zahra berusaha berbicara dengan nada setenang mungkin. Padahal ujung jari kakinya sudah pada kesemutan saking tegangnya.
Bahkan, saat ini dirinya tidak bisa menggerakkan jempolnya yang tertutup kaus kaki.
"Aku harap kamu enggak kaget, karena ini semua agak terkesan cepat. Tapi, ini semua demi menjaga kamu, menjaga kita," ungkap Ghazali lugas dan tegas.
Zahra sok tenang. Ia nampak hanya memasang senyum nya, membuat sang pria tambah kikuk saja. Padahal, Zahra sendiri memang tak tau mau bilang apa, jadi dia hanya menunggu kelanjutan dari ucapan Ghazali saja.
Kaget? Hei ... Ini aku lagi tegang bang. Ayo cepet terusin. Jangan banyak mikir.
Zahra malah terkesan tak sabaran. Bukan karena apa ... ia hanya tak ingin banyak menduga-duga. Namun, Ghazali nampak sedang menyusun kata-katanya di dalam hipotalamus.
Aku harus segera menghalalkan mu, Ra. Karena Roger tidak akan tinggal diam begitu saja. Pria itu adalah pendendam. Bahkan, papa saja kewalahan menghadapi kelicikan mantan partner bisnisnya itu. Sayang, papa tidak mau mendengar apa nasihatku.
"Iya, Bang. Zahra siap nih. Jadi, ngomong aja."
__ADS_1
...Bersambung ...