
Jeep yang membawa Kazenia dan Zahra di hadang dengan dua mobil sedan mewah berwarna hitam metalik. Tak lama beberapa motor pun menyalip mereka dari arah belakang.
Arkhan nampak keluar dari mobil hitam yang pertama. Ia bahkan menodongkan senjata ke arah mobil Jeep. Tak lama kemudian seorang pria berambut ikal membuka helmnya dan turun dari motor. Ia memukul kaca mobil Jeep hingga pecah mengunakan helm full face miliknya.
"Sial! Kenapa mereka bisa tau!" Ketua preman menutupi kepala menghindar dari pecahan kaca jendela.
Ma. Bang Al dan Suami mama dateng nolongin kita.
Zahra berusaha menggoyang tubuh Kazenia menggunakan lututnya. Karena semua preman turun meninggalkannya di dalam mobil. Zahra merasa ini lah kesempatannya untuk dapat melepaskan diri.
Zahra menggerakkan tangannya dengan truk hingga, belitan dari tali itu terlepas. Menarik sempalan pada mulutnya dan kini berusaha membangunkan sang mama mertua menggunakan aroma terapi oles.
"Eugh!" Kazenia terlihat melenguh kecil.
"Alhamdulillah, Mama akhirnya bangun juga. Ayo, Ma. Kita harus keluar dari mobil ini," ucap Zahra seraya membangunkan Kazenia yang masih sedikit linglung.
"Ra. Kita dimana? Apa kita di culik?" Kazenia membekap mulutnya dan menangis.
"Iya, Ma. Tapi mobil ini tiba di berhentikan. Mama lihat, di sana ada Abang Ghazali juga suami Mama. Ayo, Ma. Kita harus mencari cara untuk keluar dari dalam mobil yang terkunci dari luar ini," terang Zahra. Ia mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Melihat situasi dan juga kondisi dari dalam.
"Satu-satunya jalan kita harus memecahkan kaca mobil. Ayo, Ma. Cari benda yang berat." Zahra dan Kazenia sibuk mengorek apapun mencari benda yang sekiranya dapat digunakan untuk memecahkan kaca.
Sementara itu di luar, Ghazali dan kawan-kawannya tengah bertarung dengan para preman tersebut. Sementara Arkhan, menghadapi Roger yang baru tiba bersama Gilbert dan juga Saka.
Dag dug duagh!
Pukulan demi pukulan, serta serangan demi serangan mewarna pertarungan pagi itu di pinggiran kota.
Jalanan yang sepi membuat kejadian ini bebas dari perhatian orang lain.
Beberapa preman telah tumbang kini giliran Ghazali menghampiri sang papa yang hampir terpojok. Bagiamana pun orang tuanya itu memiliki ilmu beladiri yang sangat tinggi. Sehingga, baginya melawan dua atau tiga orang bukanlah hal yang berarti.
"Pa!" Ghazali memberi tendangan memutar kepada Saka yang hendak menyerang Arkhan dari belakang. Sementara itu Gilbert nampak mengeluarkan pisau lipat dari balik sakunya.
Srett!
Ghazali berkelit dengan cepat, hampir saja pisau itu menusuk bagian perutnya. Dengan mengeratkan rahang, Ghazali membalik keadaan. Ia menekan punggung tangan Gilbert, lalu membelok sikunya. Hingga, pisau yang di genggam Gilbert menusuk perut pria itu sendiri.
"Argh!" Ghazali kembali mendorong hingga Gilbert terpental jauh. Membiarkan pria itu menggelinjang. Ia melihat sang papa tengah bertarung hebat dengan Roger. Hingga, keduanya nampak terengah-engah.
Keduanya sama-sama terpental karena saling melayangkan tendangan.
Ghazali menahan tubuh Saka yang hendak membantu Roger. Kemudian keduanya bertarung.
Di dalam mobil.
Kazenia dan Zahra sudah berkeringat karena udara di dalam sangat pengap dan panas. Mereka berdua mulai kehabisan tenaga, napas sudah kembang kempis.
"Mama istirahat aja dulu. Biar Zahra yang cari." Zahra menyeka peluh di kening Kazenia. Membiarkan Mama mertuanya itu bersandar di kursi.
__ADS_1
Zahra beralih ke bagian bawah kursi paling belakang. Seperti dugaannya. Ia menemukan kotak perkakas di sana. Segera, Zahra mencari kunci Inggris yang paling besar.
"Ketemu, Mah!" Zahra mengangkat tinggi benda tersebut. Napasnya juga mulai habis. Namun, ia tak boleh menyerah. Ia harus mengeluarkan mama dari dalam mobil.
Zahra memukulkan kunci Inggris ke kaca. Hingga ...
Prankk!
Prankk!
Sekali, dua kali, hingga ketiga kalinya kaca pun pecah juga. Keduanya pun menghirup napas panjang. Kemudian, Zahra membersihkan pinggirannya agar tak menusuk tubuh ketika keluar nanti.
Mama tunggu sini, biar Zahra cari cara untuk mengeluarkan Mama," ucap Zahra seraya menatap mata sayu Kazenia. Ia berpikir untuk keluar lebih dulu lewat jendela. Karena Kazenia tidak akan bisa melakukannya. Terpenting, udara sudah tidak pengap.
"Hati-hati, sayang." Kazenia hanya bisa berkata lirih. Dalam hati ia berdoa demi keselamatan suami dan juga anak serta menantunya. Ia tak menyangka hal seperti ini akhirnya terjadi juga dalam hidupnya.
"Hubby"
Duh duagh!
Zahra membantu Ghazali menghajar Saka. Karena ternyata pria itu memiliki ilmu beladiri yang lumayan membuat Ghazali kewalahan.
"Sayang. Dimana Mama?"
"Masih di mobil, By." Ghazali dan Zahra berbicara sambil menangkis serangan dari Saka.
"Apa yang kau lakukan. Beraninya kau menyakiti istri dan menantuku!" teriak Arkhan. Kedua tangannya telah mencengkeram leher Roger.
"Aku akan tidak akan pernah menyerahkan projek itu pada organisasimu yang payah!"
Roger melihat sela, sehingga ia berhasil membalikkan keadaan. Dirinya yang tak pernah berhasil memenangkan tender. Menjadikannya sangat marah serta dengki. Karena itulah ingin menghabisi Arkan menggunakan kelemahannya. Yaitu, keluarga.
Niatnya semula yang ingin menjodohkan Gazali dengan Rasti ternyata tidak berhasil. Setelah ia tau, bahwa driver ojol yang menyelamatkan Zahra wanita incarannya kala itu. Menjadikan amarahnya semakin mendidih.
Roger mengeluarkan senjata api dari balik jas yang ia kenakan. Menodongkan kedepan Arkhan. "Gua bakal menghancurkan elu perlahan-lahan. Lu bakal menyaksikan kemenangan gua!"
"Ini hari na'as buat keluarga lu! Kawan ..." Roger menyeringai sebelum ia menarik pelatuknya dan membidik ke arah Ghazali. Arkhan meneriaki putranya.
"Ghazali!"
Arkan yang langsung bangun bermaksud menerjang Roger.
Bruakk!
Dorr!
Ia berhasil menggagalkan hingga tembakan meletus ke atas. Merampas dengan cepat dan langsung membidik.
Dorr, Dorr!
__ADS_1
Timah panas itu melesat menembus kaki dan juga bahu Roger.
"Argghh!" Pria itu tumbang sambil memegangi kakinya kesakitan.
Arkhan, berbalik dan berniat menghampiri Kazenia. Akan tetapi sang putra telah lebih dulu si sana. Arkhan hanya berani menatap kearah Kazenia yang menatapnya nanar.
"Maafkan aku," ucap Arkhan seraya mendekat. Kazenia menubruk pria yang masih menjadi suaminya itu.
Tak lama, ia beralih menatap kearah Ghazali.
"Maaf, telah melibatkan kalian. Bahkan, istri mu juga menjadi korban." Arkhan merasa malu dan bersalah. Apa yang diucapkan putranya ternyata benar. Ia hampir saja kehilangan seluruh anggota keluarganya.
"Bawa Mama dan Ilen bersama mu. Hidup mereka dan kalian tidak akan aman jika bersama ku. Papa minta ma--" Belum juga selesai berbicara dengan Ghazali putranya, tiba-tiba sepasang mata Arkhan membola.
"AWAS!" Arkan menarik lengan Ghazali sehingga putranya itu berpindah tempat dengannya. Sebab, Arkhan melihat Gilbert menyerahkan senjata api pada Roger. Dan ...
Dorr!
Bola Arkhan semakin mendelik ketika timah panas itu menembus melalui punggungnya. Ia merasakan peluru tersebut menjalar hingga meledakkan jantungnya. Seketika itu juga, cairan berwarna hitam pekat keluar muncrat dari mulut Arkhan.
Ghazali yang terkejut bukan main ketika melihat sang papa menjadi tameng peluru baginya. Darah, Arkhan bahkan muncrat mengenai tubuh dan juga sebagian wajah Ghazali.
"PAPA!"
" ARKHAN! YA ALLAH!" Ghazali dan Kazenia menubruk raga Arkhan yang tersungkur penuh darah yang keluar dari tubuhnya sendiri. Ghazali pun reflek mengambil senjata api yang tergeletak di sisi tubuh sang papa kemudian ...
Dorr, Dorr!
Ia pun melepaskan tembakan yang menghentikan pergerakan dari Roger dan juga Gilbert.
"Hubby!" Zahra terkesiap melihat suaminya menembaki pelaku. Ia pun langsung mengamankan senjata api itu. Mengambilnya menggunakan kain. Membungkusnya dengan erat. Zahra tak mau suaminya di masukkan penjara karena ini.
Zaki yang berada di belakangnya menerima benda tersebut dan segera membuangnya ke jurang. Jauh di bawahnya terdapat sungai yang mengalir deras. Ia dan Imron mengangguk agar Zahra tenang. Semua beres! Begitulah maksud mereka.
Zahra mengusap bahu Ghazali yang bergetar. Pria itu menatap nanar raga sang papa yang tergolek bersimbah darah.
"Semoga, Papa sudah bertobat. Kita harus selalu berhusnudzon kepada Allah. Tidak ada yang tau apa yang terjadi nanti. Siapa tau saja, Papa sudah sempat mengucapkan taubat itu di dalam hatinya, By. Allah itu maha pengampun. Yakinlah akan kebesaran Rahmat Allah." Zahra terus membisikan kalimat yang akan menenangkan hati Ghazali.
"Kasih sayangnya selama ini tidak pernah berubah, Bang. Papa tetap menganggap mu sebagai putranya. Meskipun, bibirnya selalu menolak. Semoga, kamu Husnul khatimah, Pa ..." lirih Kazenia seraya memeluk raga Arkhan yang kaku tak bergerak.
Hari ini merupakan waktu berkabung bagi Ghazali dan Kazenia. Mereka kehilangan seseorang yang sangat berarti.
Ia yang berniat meninggalkan Arkhan, akan tetapi justru pria itu yang pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya.
"Pa," lirih Ghazali terus terisak.
Dalam hati kecilnya berharap, semoga segala dosa sang papa di ampuni.
"Kasih sayang orang tua, kadang tak bisa terurai oleh kata dan kalimat. Karena tidak semua orang tua mampu mengutarakan perasaan sayang mereka.Terkadang, perbuatanlah yang mampu menafsirkan perasaan yang terpendam itu." Ucapan bijak dari seseorang ini membuat semua orang seketika berbalik.
__ADS_1
"Ayah!"
...TAMAT...