Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 29. Sebuah firasat.


__ADS_3

Pagi menjelang siang, Sisca menjemput Zahra di taman kemarin. Maryam sang bunda mengijinkan karena lokasi tidak berada jauh. Meksipun perempuan paruh baya yang masih terlihat cantik ini agak berat melepas putrinya. Ia pun mengijinkan juga setelah, Zahra menjelaskan.


"Yah, Bunda gak tenang. Jantung ini berdebar-debar tak karuan." Maryam menatap suaminya penuh kekhawatiran. Umar menghela napasnya, ia paham jika naluri Maryam sebagai seorang ibu memang kuat. Apalagi terhadap Zahra.


"Jika perasaan, Bunda seperti itu. Sebaiknya kita doakan saja. Semoga kakak selalu Allah jaga dan selalu di bimbing untuk dapat melindungi dirinya," tutur Umar, berusaha menenangkan hati istrinya.


"Bunda akan coba, Yah. Seharusnya, kakak gak usah kerja. Bunda bisa jual tanah warisan sepetak itu untuk di jadikan modal usaha."


"Biarlah itu untuk simpanan anak-anak saja. Kakak sedang berusaha, kita sebagai orang tua hanya perlu mendoakan. Sudah jangan khawatir, percaya dan yakinlah Allah akan selalu melindunginya. Kakak gadis yang Sholih dan taat, insyaallah, malaikat selalu bersamanya." Umar menggandeng Maryam agar masuk kedalam rumah. Karena sudah sejak lima belas menit yang lalu kepergian Zahra ia masih saja berdiri di muka rumah.


Sementara itu di tempat Ghazali. Kemarin malam ia berhasil menghubungi sang adik. Mulai saat ini, Shireen akan mencari tau, apakah sang papa mengirim orang untuk mencari keberadaan sang abang.


"Mama mau ketemu lagi, Abang kapan ada waktu?" tanya Shireen melalui telepon.


[ Abang kapan waktu aja ada. Cuma kalian harus hati-hati. Jangan sampai nanti kalian kena imbas kemarahan papa karena nemuin Abang. ]


"Iya, Bang. Shireen punya cara kok. Mungkin, kita akan menyamar nanti untuk mengelabui para penguntit itu, barangkali," jelas Shireen.


[ Oke, waspada dan jangan ceroboh. Kabarin aja nanti mau ketemu dimana. ]


"Emang gak boleh kalo datangnya kekontrakan abang aja?"


[ Sebaiknya jangan, kita ketemu di luar. Tempat umum. Dimana sekitarnya orang gak akan percaya jika kalian berdua pergi ke sana. Bukankah, kau ingin mengelabui? ]


"Oh, oke. Ilen paham, Bang."


Setelah itu panggilan mereka terputus. Ghazali senang karena ia akan bertemu dengan keluarganya lagi. Meksipun dengan cara sembunyi-sembunyi. Karena, keberadaannya tidak boleh sampai terendus. Atau sang papa yang akan terkena imbasnya.


Apalagi, mama Kazenia mengatakan bahwa Arkhan sang papa mengumumkan pada hampir seluruh relasinya bahwa Ghazali tengah memegang perusahaannya yang berada di salah satu negara adidaya terbesar dunia. Karena itulah, Arkhan belum mengundurkan diri dari jabatannya.

__ADS_1


Ghazali memutuskan untuk kembali melakukan pekerjaannya seperti biasa. Akan tetapi, tiba-tiba dadanya berdentum kuat, dan di kepalanya berputar satu nama. Zahra. "Sayang sekali, aku gak punya nomer kamu. Aku cuma mau tau kabar kamu aja. Email ku sudah laku balas belum ya?" Ghazali pun kembali duduk dan mengeluarkan ponselnya. Ia mengecek bagian email.


Seketika senyumnya terkembang saat ia mendapat notif dari Zahra. Mereka berdua memang saling mengirim biodata melalui email. Sebagai cara perkenalan satu sama lain, untuk menentukan hubungan mereka ke depan.


Karena Zahra tidak mau berpacaran.


"Kenapa isi biodata Zahra begini? Masa iya, sifatnya jelek semua? Apa dia sengaja agar gua mundur? Ck, itu gak akan terjadi." Ghazali tersenyum penuh arti. Namun, matanya beralih pada satu email baru yang terkirim lima menit lalu.


"Gedung ini. Apa yang Zahra lakukan di sana?" Ghazali yang mengingat siapa pemilik bangunan berlantai enam itu pun segera menyambar jaketnya. Ia mematikan aplikasi, tak jadi mencari orderan lagi menjelang siang ini. Ia tau jika Zahra menghubunginya karena gadis itu menyadari sesuatu.


Zahra dan Reva yang telah berada di dalam mobil, bersama Sisca dan kekasihnya. Terlihat beberapa kali saling lirik. Reva yang memang selalu berpenampilan tomboy ini tampil casual dengan kemeja yang ukurannya lebih besar dari tubuhnya. Dipadukan dengan celana jogger dan pashmina.


Zahra pun terlihat manis dengan cardigan gamisnya. Sementara ia mengenakan kulot sebagai bawahan. Pasmina lebar menjulur hingga menutupi dada.


Sepanjang perjalanan mereka hanya mengobrol ala kadarnya. Sekedar mengusir kecanggungan saja.


"Ra, apa kamu menghubungi pacarmu? Sejak tadi kulihat kau terus mengetik sesuatu di ponsel." celetuk Sisca sekalian menelisik dan mencari tau.


"Kenapa kamu gak punya pacar, Ra? Jangan bilang kalau gak ada cowok yang gak suka sama kamu. Karena dari dulu itu kamu selalu di kejar-kejar kan?" cecar Sisca yang kini sengaja menghadap belakang demi mengulik semua tentang Zahra. Karena dia penasaran di akun sosmed tak ada sama sekali jejak percintaan dari sahabat lamanya ini. Ah, apakah mereka masih bisa di katakan sahabat jika ada niat buruk untuk menjatuhkan salah satunya?


"Aku gak pernah minat menjalin hubungan dengan pria, yang hanya menginginkan kesenangan semu. Aku punya cita-cita yang belum tercapai. Hanya mau fokus membahagiakan mereka yang patut ku bahagiakan. Karena itu, aku akan menerima pekerjaan apapun, asalkan tidak melangkahi norma dan syariah agamaku," terang Zahra membuat Sisca tak mampu bertanya lagi.


Dari dulu kamu memang selalu sok suci dan pintar. Kita lihat saja nanti. Sejauh mana kau mampu menjaga kesucian mu itu. Zahra.


Sisca menyeringai sinis setelah ia kembali pada posisi duduknya.


___


Kendaraan beroda empat itu akhirnya menghentikan laju nya, tepat di depan sebuah bangunan bertingkat. Bangunan yang di dominasi dengan warna coklat dan hitam itu memiliki beberapa lantai ke atas. Cafe di bagian bawah, dining room di lantai dua dan tempat karaoke di lantai tiga.

__ADS_1


Zahra menatap bangunan itu dengan seksama, sepasang matanya berkeliling memindai situasi dan kondisi yang ada. Vera selalu berdiri tak jauh darinya. Mereka telah memutuskan untuk saling menjaga dan melindungi di dalam sana. Zahra ingin membuktikan, apakah perasaannya terhadap Sisca bukan sekedar prasangka. Karenanya, ia tetap bertekad mengikuti ajakan Sisca tanpa tau siapa yang akan ia hadapi di dalam sana. Bukan lagi, pria macam buaya akan tetapi sebangsa alligator kejam.


Sisca segera menggandeng Zahra untuk masuk. Karena ia tak mau buruannya ini lepas. Mangsa besar yang akan mendatangkan kekayaan untuknya. Sementara itu, Gilbert berjalan paling depan di antara mereka.


Mereka masuk ke dalam ruangan yang sepertinya adalah private room. Menunggu di sana dengan minuman yang telah di sediakan di atas meja.


Gilbert masuk terlebih dahulu untuk melaporkan kedatangan mereka.


"Bos, Sisca sudah di depan bersama kawannya."


Mendapat laporan dari salah satu anak buahnya. Pria paruh baya yang bernama Roger ini tersenyum lebar. Rambutnya masih hitam semua karena rutin di cat. Bahkan nampak klimis dan rapi. Meskipun telah dimakan usia, namun para dan sosok pria ini masih nampak menarik.


"Kerja bagus! Bawa mereka masuk! Aku sudah mempersiapkan semuanya!" titah Roger.


Tak lama kemudian Gilbert keluar dengan senyum menawannya. Ia menganggukkan kepala dan kemudian mempersilahkan mereka untuk masuk.


"Ayo, Kak, kita udah di tunggu di dalam." Sisca kembali merangkul lengan Zahra dengan posesif. Membuat Zahra menoleh kearahnya heran. Karena cekalan tangannya terlalu kuat.


Sementara itu, Vera masih setia mengekori mereka berdua. Macam body guard saja.


Ketika masuk, Zahra di sambut seorang pelayan wanita yang cantik yang mengenakan kaos lengan pendek serta rok rempel mini di atas lutut.


Kemudian seorang laki-laki paruh baya keluar dari ruangan lain yang ada di dalam ruangan ini. Pria yang mengenakan kacamata berbingkai hitam itu tersenyum melihat intens ke arah Zahra.


Haish, apa dia ini sugar Daddy?


Reva membatin dalam hatinya. Menelisik penampilan dari Roger.


Pasti ada yang tidak beres. Apa yang sebenarnya kau rencanakan padaku, Sisca? Apa benar kau sejahat ini?

__ADS_1


Zahra semakin memasang kewaspadaannya. Bagiamana pun caranya. Ia harus keluar dari gedung ini utuh.


...Bersambung ...


__ADS_2