
"Hemm. Jadi begitu? Maaf, kalau pertemuan kita malah dalam keadaan saya yang seperti ini. He." Ghazali tertawa sebentar lalu meneruskan kembali penuturannya. " Saya sempet kaget aja tadi dan saya sempat berpikir ada di alam lain, karena ..." Ghazali tak lagi meneruskan kata-katanya, akan tetapi malah menatap Zahra tak berkedip.
"Karena?" Zahra mengernyitkan kening pertanda heran sekaligus khawatir, dan seketika ia
merasa merinding.
"Karena ada bidadari," celetuk Ghazali dengan seulas senyum tipis, dan jangan lupakan matanya yang masih menatap Zahra dengan intens. Baru kali ini dirinya dengan mudah melempar gombalan seperti itu kepada seorang gadis. Lebih tepatnya perasaan jujur yang memang ia rasakan dalam hatinya.
Seketika, Zahra merasakan kedua pipinya menghangat, mungkin sudah tercipta semburat merah, kuning, hijau, biru, ungu di sana.
Zahra merasa seperti ada kupu-kupu yang mengepakkan sayap kecil mereka di dadanya. Belum pernah ia merasa efek rasa senang hanya dari gombalan receh seorang pemuda yang baru ia kenal.
'Huh, aku harus bertahan! Keluarkan jurus kebal rayuan maut-mu Zahra!'
Zahra berusaha menetralkan kembali degup jantung, dan rona di wajahnya. Secepat kilat ia kembali mengubah raut wajahnya tanpa ekspresi lagi. Dingin.
Berdoa dengan penuh harap semoga pemuda di atas brangkar itu tidak menyadari perubahan warna di wajahnya sesaat tadi.
"Lagi terkapar juga, masih aja gombal," ketus Zahra. Ia berlagak biasa saja. Usahanya sangat hebat.
Ghazali terkekeh. Cukup lama, entah apa yang lucu. Sampai kedua mata teduhan kembali menatap Zahra, dengan senyum miring.
'Zahra, udah jelas tadi kamu tersipu, sampe setengah mateng gitu. Sekarang pake sok kebal dan jutek sama aku. Oke deh, eneng jual abang beli!' tantang Ghazali yang akan mengikuti sampai mana pertahanan Zahra.
Baru kali ini ia gemas terhadap wanita. Sebelumnya ia selalu cuek dan tak peduli. Tapi berbeda dengan Zahra. Ia sangat suka menggoda gadis jelita di hadapannya ini.
"Saya emang kagak bisa gombal ke cewek, maaf deh kalo garing kayak rengginang,"ucap Ghazali setelah ia menghentikan tawanya. "Lagian, Mbak Zahra pasti sering ya dapet pujian lebih dari itu.
"Makanya belajar dulu sama Andika Pratama si raja gombal," ucap Zahra bercampur sedikit kekehan, karena ia merasa lucu sendiri dengan saran yang diberikan secara asal itu.
Ghazali semakin terkesima, seketika ia merasa ada kehangatan yang merasuk kedalam tubuhnya. Membuat tenaganya kembali perlahan-lahan.
"Oh, jadi kalo saya udah belajar sama Andika, berarti saya boleh gombal ke kamu lagi gitu?" tanya Ghazali menjebak, tentu dengan senyum yang sedari tadi tak lepas dari bibirnya. Bahkan kini tanpa sadar dirinya sudah dalam posisi duduk.
__ADS_1
'Sebahagia itukah dia ketemu aku? Bahkan wajahnya sudah tidak sepucat ketika pertama kali ku datang. Syukurlah, Alhamdulillah. Setidaknya kehadiranku berguna.
"Bolehlah!" tantang Zahra seraya menyilangkan tangan di depan dadanya.
" Okelah, oke! Sehat nanti saya akan langsung belajar dengan guru saya. Dijamin, Mbak Zahra pasti langsung klepek-klepek !" sahut Ghazali dengan yakin sambil memainkan alis-nya naik dan turun.
"Kita liat aja nanti," tantang Zahra, dengan tersenyum miring menyepelekan.
Ghazali terkekeh, Zahra, begitu lucu dan menggemaskan. "Hei, ada kaki enggak pegel berdiri terus? Itu ada bangku di sana! Duduk gih!"
tunjuk Ghazali pada kursi di sebelah brangkarnya.
"Iya makasih. Aku mau pamit aja. Mau besuk sahabat aku dulu ya, udah di tungguin juga soalnya daritadi. Nanti, takutnya mereka kira aku nyasar lagi di rumah sakit ini, " tolak Zahra halus sambil sesekali melihat angka pada jam yang melingkar manis di pergelangan tangan kirinya.
"Tapi ..." Ghazali entah kenapa nampak berat melepas Zahra.
"Abang gapapa kan sendiri. Aku pamit dulu!" Zahra hampir berbalik dan melambaikan tangannya. Tiba-tiba Ghazali kembali memanggil namanya.
"Zahra, nanti masih mau nemuin saya lagi kan? tanya Ghazali langsung. Ketika Zahra menatapnya, pria itu tengah memasang wajahnya dengan ekspresi memelas.
Zahra menggaruk kepala dari luar khimarnya. "Insyaallah ya, " hanya itulah kata yang bisa ia keluarkan dari bibirnya.
"Ya udah, kan sebentar lagi saya mau dipindahkan kekamar perawatan. Jadi, Mbak ketik aja nih nomernya di hape ini, biar nanti saya hubungi kamu." Ghazali dengan percaya diri penuh meminta Zahra mengetik nomer ponsel di smartphone miliknya. Tentu saja hal itu mendatangkan tatapan aneh bin menelisik dari Zahra.
"Nomer ponsel? Buat apa? Kamu gak lagi modus kan? Lagipula saya gak suka sebar kesembarang orang." Zahra berucap tegas. Sepertinya ia terlalu lembut ketika berhadapan dengan Ghazali. Ia tidak ingin terus berhubungan dengannya. Atau ... entahlah, Zahra agak bingung.
'Loh ni perawan. Ya ampun, gua di anggap orang sembarangan. Ternyata mendekati dia gak semudah itu.' batin Ghazali sedikit kecewa.
"Jika Allah berkenan, aku akan menemuimu lagi!" Setelah mengatakan hal itu Zahra pun berlalu tanpa menoleh lagi. Membuat Ghazali menghela napasnya kasar.
Sampai di luar Zahra pun tak lupa untuk berpamitan dengan dua orang tetangga Ghazali.
"Eh, iya Neng. Makasihh!" Jaka berteriak ketika dilihatnya Zahra berjalan dengan cepat.
__ADS_1
Zahra bergegas ke lantai atas, dengan menaiki lift.
Tak lama ia pun menemukan kamar perawatan Mona.
Karena Mona di rawat di kamar kelas lll, sehingga ada beberapa ranjang saling berhadapan di dalam ruangan ini.
Mereka semua menatap Zahra dengan senyuman. Tapi, entahlah. Zahra merasa aura diskriminatif sebentar lagi akan menyeruak. Tapi tetap saja ia menghampiri mereka dan menyalaminya satu persatu.
"Gimana keadaannya?" tanya Zahra sambil melihat ke atas hospital bed, dimana seorang perempuan muda sedang tertidur, dengan selang oksigen yang melingkari hidungnya.
Tak lama Zahra berpamitan karena waktu menunjukkan jam satu siang. Zahra menemukan lokasi musholla setelah bertanya kepada pihak keamanan rumah sakit.
Sebait doa ia panjatkan teruntuk dua orang yang telah ia temui pada hari ini. Dimana dua kenyataan terungkap. Pertama Ghazali yang ternyata sebatang kara.
"Pantas saja, waktu di rumah. Dia begitu terlihat ... bahagia, tapi hampa." Zahra bergumam seraya merapikan sajadah. Ia tak mengenakan mukena karena pakaian yang ia kenakan telah menutup aurat sempurna dan longgar.
Di kamar perawatan Ghazali, pak RT dan Jaka terlihat kaget ketika mereka mengetahui jika Zahra benar-benar hanya kenalan sepintas saja. Mereka pikir, gadis itu kekasih pemuda yang kini kembali lesu.
"Saya gak mungkin pacaran Pak. Kalo ketemu yang cocok, langsung ajak nikah aja. Temuin deh orang tuanya," jelas Ghazali membuat pak RT menyikut Jaka.
"Kenapa saya sih, Pak!" protes, Jaka tak terima.
"Kamu kan seneng sama si Murni. Langsung lamar aja, kasih kontrakan satu!" celetuk Pak RT. Membuat Jaka langsung mendengus.
"Gak mau ah, Ama cewek keganjenan!"
Interaksi keduanya mampu membuat Ghazali melupakan sesaat kesedihan dan rasa kesepian yang membelenggu hatinya.
Ia berharap Zahra kembali muncul sebagai keajaiban dalam hidupnya yang hampa dan kosong ini. Tapi, sekali lagi Ghazali berpikir realistis bahwa tak ada harapan yang dapat ia berikan pada gadis muslimah seperti Zahra.
Mungkin takdir telah menetapkan kesendirian pada sosok hangat sepertinya.
'Zahra, akankah kita bertemu lagi? Akankah ada kebetulan berikutnya?'
__ADS_1
...Bersambung ...