Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 56. Pertama Bagi Keduanya.


__ADS_3

Kening, hidung, kedua pipi dan bibir tak luput dari kecupan basah nan hangat malam ini. Kedua iris yang sama-sama menatap lekat dan dalam. Menyalurkan perasaan tulus keduanya.


Pasangan suami istri berbeda usia cukup jauh ini, saling lekat memandang. Embusan napas hangat mereka saling bertabrakan dalam balutan desir asmara yang terpendam.


Zahra melihat pria dihadapannya itu telah berselimut kabut gairah. Nafasnya yang memburu telah menyapu hangat ke wajahnya. Jakunnya yang seksi terlihat turun naik menahan gelora yang memaksa untuk dikeluarkan.


'A–aku mengerti apa yang harusnya terjadi malam ini. Aku pun paham apa kewajibanku serta hak untuk suamiku. Hanya saja, selama mempelajarinya lewat teori sepertinya ini semua akan mudah. Tapi ternyata, keadaan di lapangan sungguh sangat mengancam keselamatan pada jantungku. Karena dia selalu berdetak lebih cepat ketika abang menyentuhku. Kenapa tidak ada penjelasan seperti itu di buku yang kubaca?' Zahra hanya bisa bicara seperti itu lewat kalbunya. Ia telah mempelajari tentang pernikahan dan hal serta kewajiban pasangan suami istri. Hanya saja ternyata prakteknya benar-benar mendebarkan.


Mata hitam pekat yang menatapnya dalam itu, seakan menghipnotisnya. Hingga, lidahnya tak lagi mampu mengeluarkan satu kata pun. Zahra hanya mampu mengikuti serta menikmati apapun yang Ghazali lakukan pada tubuhnya.


Konyolnya lagi, suara indah nan seksi mengalun mencipta desah dan lenguhan. Ia merasa payah karena semua terlepas begitu  tanpa mampu di kontrolnya. Ketika, sang suami kini mulai menguasai tubuh bagian atasnya.


"A–abang ... sudah baca doa kan?" tanyanya parau. Ia mendorong wajah pria itu dari ceruk lehernya. Satu tanda merah tak permanen berhasil Ghazali cetak dengan indah di sana.


" Tentu saja sudah, sayang ...," jawab, Ghazali  serak.


Blush.


Mendengar kalimat yang keluar dari bibir sensual Ghazali, membuat Zahra seketika merasa kesemutan pada wajahnya. Mendengar panggilan mesra yang Gibran bisikkan pada daun telinganya membuat warna merona di kedua pipi itu semakin menjadi.


'Sayang? Um, manis sekali.'


"Jangan panggil, Abang  lagi, pada suamimu ini," ucap, Ghazali dengan suara seperti orang yang setengah meracau.


"Lalu, ahh ...! Zahra ha–harus panggil apa?" jawabnya dengan desah dan geliat tubuhnya yang semakin membuat Ghazali kegerahan.


"Uh ...!" erangnya kecil karena, Ghazali telah membuka seluruh kain yang menempel pada tubuhnya. Kini, terpampanglah nyata keindahan dunia yang selama ini ia tutupi dari dunia.

__ADS_1


Zahra sontak menutupi sebagian kecil karena ditatap begitu rupa oleh Ghazali.


Ghazali, meminta ijin pada Zahra untuk memandanginya sampai puas. "Jangan di tutupi, sayang." Ghazali menyingkirkan pelan tangan Zahra.


Ia tak mau melewatkan satu senti pun dari lekuk yang begitu indah. Hingga, beberapa kali ia mengucap puja dan puji pada Tuhannya. Yang mana telah begitu luar biasa hebat sehingga mampu mencipta wanita yang begitu sempurna di matanya.


'Betapa beruntungnya aku ya Allah. Kau berikan wanita yang sholihah dan menjaga ***********. Hingga, hanya akulah pria pertama yang memiliki hak untuk menjamahnya.' batin Ghazali penuh syukur.


Sensasi aneh yang baru pertama kali ia rasakan membuat intinya berdenyut di bawah sana. Begitupun dengan Zahra, apalagi ketika jemari pria hitam manis ini menyusuri setiap inchi tubuhnya. Ghazali ingin melakukannya dengan perlahan dan penuh penghayatan. Menikmati apa yang telah tersuguhkan secara halalan toyyiban.


Huh ... hah.


Terdengar, Zahra kesulitan mengatur serta mengontrol deru napasnya, ia merasa jika  oksigen di sekitarnya menipis, namun di beberapa titik tubuhnya ia merasakan sensasi menggelitik dan panas.


Sementara, Ghazali semakin asik bermain dengan apapun yang terpampang jelas. Semua itu kini telah menjadi miliknya. Ia menikmati itu semua dengan puas bak bayi yang kehausan.


"Ayo sayang, panggil aku ..."


"Iya, apa ... emh." Zahra bertanya tapi tak fokus. Karena Ghazali tengah membawanya terbang.


"Panggil apa saja, asal jangan Abang." Ghazali berbicara sambil sesekali melepas dan kembali menghisap. Membuat Zahra semakin kesusahan untuk menjawab permintaannya.


Raga indah itu meliuk kesan dan kemarin. Terkadang melenting ke atas merespon setiap hal yang Ghazali lakukan. Karena Zahra merasakan, setiap sentuhan sang suami di tubuhnya seakan menyengat hingga ke ujung kepala.


Aksinya itu tentu saja membuat gairah pria yang telah halal untuknya ini semakin memuncak dalam geloranya. Ghazali pun semakin liar memainkan setiap sisi sensitif di tubuh putih nan mulus itu.


Bibir dan jemarinya bergerak seirama erangan dan desah merdu dari Zahra. Suara indah yang mengalun dari bibir manis yang merekah itu. Semakin membuat paku bumi mendesak hendak melesak keluar dari sarangnya.

__ADS_1


Keinginan dari gelora lelakinya telah mendorongnya untuk melepaskan kain segitiga bermuda dengan giginya. Ia hanya  tinggal menarik simpul tali pada pinggul kanan dan kiri saja.


Nyatalah sudah sesuatu yang indah dan terjaga. Mahkota yang hanya diperuntukkan bagi suami yang dah di mata Tuhannya. Hingga, Zahra kembali spontan menutupi area pribadinya, yang tengah di tatap lamat-lamat oleh imam dunia akhirat nya itu.


"Masya Allah," Gibran berucap lirih menatap tubuh tanpa sehelai kain itu dari atas hingga bawah. Mensyukuri nikmat Tuhan atas rejeki yang di limpahkan untuknya.


"Buka sayang, tak perlu malu." Ghazali kembali menepis pelan tangan Zahra. Mendekatkan wajahnya untuk menghirup aroma khas yang wangi itu.


"Abang ...!"Zahra memekik membuat Ghazali semakin memperdalam ciumannya.


Hingga, semua berakhir ketika sang pemilik mahkota mengerang penuh nikmat karena ia telah mencapai pada titik geloranya lebih dahulu.


Pria yang tengah menatapnya dari bawah sana tersenyum, karena aksinya telah berhasil membawa sang istri setengah melayang. Ia pun membiarkan Zahra istirahat sebentar. Meskipun gairahnya sudah ada di ujung tanduk sebenarnya.


"Lakukanlah, suamiku sayang." Zahra yang baru saja terpuaskan  memberanikan diri untuk mengecup bibir sensual pria di atas tubuhnya ini.


Alunan suara yang indah serta desah nikmat dari keduanya yang bersahut-sahutan, memenuhi ruang kamar yang memang kedap suara. Hikaru telah mengubah sedikit kamar itu agar kegiatan mereka tidak terganggu oleh apapun.


Gibran telah melepas penutup pada area pribadinya, hingga paku buminya nampak berdiri dengan gagahnya.


Zahra yang melihat dengan jelas, langsung  menahan napasnya. Ia pun berdoa sambil memejamkan kedua matanya. Berharap benda perkasa yang sebentar lagi akan mengoyak bagian istimewanya itu tidak terlalu membuat sakit.


Ghazali melihat kekhawatiran itu, kembali melabuhkan kecupan demi kecupan yang akan kembali membuai istrinya itu. Ia juga membisikkan kalimat rayuan serta pujian yang akan membuat Zahra rileks dan tenang. Sehingga, rasa sakit yang timbul nanti dapat di netralisir. Sehingga, tidak terlalu terasa.


"Aku mulai ya."


'Oh tidak! Bunda!'

__ADS_1


__ADS_2