Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 12. GGS. ( Ganteng-ganteng sebatang kara. )


__ADS_3

Mobil Avanza yang membawa raga lemah Ghazali tiba di depan lobi sebuah ruang sakit unit daerah. Segera petugas membawa berangkat dan menyambut raga yang sudah tidak sadarkan diri itu.


"Ya Allah, semoga bang Al kagak kenapa-napa. Kasian tuh anak kagak ada aodaranya," gumam pak RT. Menatap nanar brangkar yang sudah memasuki ruangan gawat darurat. Gagal sudah rencananya ikut rapat dengan pak Camat. Ternyata keadaan salah satu warganya lebih membutuhkan kehadiran dirinya di sini. Apalagi Ghazali hanya sebatang kara.


"Maaf, siapa yang anggota keluarganya?" tanya petugas ruang unit gawat darurat tersebut.


"Sa–saya, Mas." Mau tak mau pria berkumis dengan kemeja batik itu menunjuk dirinya. Karena siapa lagi yang bertanggung jawab dan mengurus Ghazali. Kalau ia tidak berinisiatif mengambil peran itu. Menghubungi keluarganya, mungkin akan ia coba lakukan nanti.


"Baik, Pak. Silakan ke pendaftaran dan ikuti prosedurnya di sana ya. Permisi!"


Zahra baru saja turun dari angkot. Ia berdiri tegak di depan gerbang rumah sakit. Menatap gedung megah nan luas itu dengan tatapan bingung. Sejak tadi, dadanya berdebar terus. Ia takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada salah satu kawan sekolahnya itu. Bagaimana pun Mona selalu bersikap baik padanya hingga kini.


Setelah bertanya pada resepsionis, Zahra mendapat nama kamar perawatan Mona. Untuk menuju ke gedung itu Zahra, harus kembali ke lobi dan melewati ruang instalasi gawat darurat terlebih dulu.


Terlihat sekali kesibukan di ruang tersebut.


Karena, sepertinya banyak pasien gawat darurat yang baru masuk.


Tiba-tiba debaran tadi pun muncul lagi, bahkan semakin kuat. Hiingga, Zahra sedikit menekan dadanya yang terbalut kerudung menjuntai.


Karena, tiba-tiba saja ia merasa sedikit sesak.


"Ya Allah, firasat apa ini? Untuk siapa? Berikan aku petunjuk, ya Robb," gumam Zahra menguntai doa dalam hati.


Zahra pun mencoba mencari tempat duduk diruang tunggu keluarga pasien. Guna menenangkan debaran aneh di dadanya ini sebentar.


Tarik nafas, hembuskan.


Terus, Zahra ulangi hingga debaran jantungnya kembali normal.


'Apa jangan-jangan aku memiliki penyakit jantung? Jangan-jangan ini bukan pertanda atau firasat buruk. Akan tetapi, salah satu gejala penyakit, pada jantungku.' pikirin buruk mengenai dirinya seketika berkelebat. Karena Zahra merasakan dadanya semakin tertekan.


Ia pun memegangi kepalanya yang tiba-tiba juga sakit. Di depan sana, tepatnya di ujung ruang UGD. Beberapa orang tampak panik dan hilir mudik.


Nampak pemuda di sebelah Zahra sekitar jarak satu kursi. Terlihat beberapa kali mencoba menggunakan ponsel, mencari sesuatu.


"Mana nomer keluarganya dah? Kok kagak ada sih? Cuma nomer beberapa resto dan customer ojek langganan. Lah, pegimana dah ini." Jaka beberapa kali berganti posisi duduk berdiri begitu terus berulang-ulang. Membuat kepala Zahra semakin pusing.

__ADS_1


"Gimana, Jak. Ketemu kagak?" tanya Pak RT.


"Boro-boro dah, Pak. Mata Jaka sampe kicer inih kagak ketemu mu juga jejak keluarga bang Ghazali!" terang Jaka, sedikit kesal. Karena, keadaan Ghazali cukup kritis tadi. Bagaimana pun pihak keluarga harus tau. Sayang, tak ada satupun dari pak RT sekalipun yang tau mengenai asal-usul dari Ghazali.


Zahra memasang telinganya. Ia sayup-sayup mendengar percakapan antara dua orang beda usia itu. Dimana mereka menyebut nama seseorang yang tak asing di telinganya.


"Ah, itu bukan dia kan? Hei, sepertinya otakku masih belum waras. Buktinya, aku masih memikirkan dia." Zahra berbicara seorang diri. Karena kesal sejak pertemuan terakhirnya dengan pemuda itu ia terus memikirkannya.


Tiba-tiba anak muda itu duduk tidak jauh dari Zahra. Seharusnya, gadis manis berkerudung ini pergi saja, dan segera menjenguk Mona. Akan tetapi, Zahra bingung kenapa sepasang kakinya seakan berat sekali untuk melangkah, dan lebih memilih memperhatikan pemuda tengil di sebelahnya.


Jaka terus bergumam sendiri.


Berkali-kali dia menyebut nama Ghazali atau bang Al. Dan setiap kali mendengar nama itu, jantung Zahra kembali bereaksi. Ia berdenyut hingga Zahra merasa sakit.


"Astagfirullah! Apa aku udah benar-benar kesemsem sama itu driver? Sampai ketika mendengar nama yang hampir mirip saja, debaran jantungku langsung tidak normal? Atau, aku ini kena pelet kali ya? Astagfirullah, makin ngaco aja nih. Kok aku malah jadi suudzon sih!'' Zahra pusing. Ia bingung dengan apa yang ia rasakan saat ini.


Rasanya ingin membenturkan saja kepalanya ini ke dinding biar sadar. Karena, Zahra merasa jika dirinya sedikit oleng. Ia terus memikirkan ojol itu di kepalanya.


Pada akhirnya Zahra pun berniat beranjak bangun, dan pergi. Karena ia berfikir lebih baik segera mencari ruangan dimana Mona di rawat. Melihat sebentar, kemudian pulang ke rumah.


Namun, sebelum kakinya melangkah lebih jauh, Zahra mendengar ...


"Ya ampun, Sianan banget si lu bang. GGS, ganteng-ganteng sebatang kara!" celetuk Jaka, sembari gemas. Karena ia sudah frustrasi menemukan jejak keluarga Ghazali.


Ocehan dari Jaka membuat jiwa penasaran Zahra menyeret langkahnya untuk menghampiri pemuda itu.


"Maaf, Bang."


Jaka pun menoleh ketika ada suara lembut memanggilnya.


"Enengnya, manggil saya?" tunjuk Jaka ke depan hidungnya.


Zahra mengangguk seraya mengulas senyum tipis.


"Oh, ada apakah gerangan gadis cantik bicara pada saya yang buluk ini?" Kelakar, Jaka hampir membuat Zahra tertawa.


Karena ekspresi pemuda ini seperti komedian. "Boleh saya tau? Apa bang Ghazali yang kamu sebut sejak tadi, berprofesi sebagai ... tukang ojek?" tanya Zahra agak ragu, entah kenapa dirinya terus memikirkan satu nama itu sejak tadi.

__ADS_1


"Iya bener tuh! Eh, tapi emang si Eneng kenal sama bang Ghazali? Apa jangan-jangan, Eneng ini sodaranya?" cecar Jaka kepada Zahra.


"Eh bukan! Maksud saya kalau tukang ojek online yang kamu maksud berambut pendek ikal dengan wajah sedikit manis meskipun dekil, iya saya kenal," jelas Zahra begitu detil mendeskripsikan tentang Ghazali. Membuat Jaka senyum-senyum tak jelas.


"Pas banget! Emang iya dia! Tepat!"


"Emang bang Ghazali itu, Neng. Persis, banget ciri-cirinya," jawab Jaka antusias. Bagikan mendapat voucher belanja sepuasnya ke Alpa. Jaka seketika berdiri dengan wajah sumringah tidak kusut seperti tadi.


"Lalu kenapa Abang mencari-cari keluarganya? Memangnya --"


"Eneng pacarnya ya? Pacar bang Al? Iya dah ngaku aja!" tebak Jaka setengah memaksa.


Zahra langsung mundur dan mengibaskan kedua telapak tangannya. Menolak apa yang telah di asumsikan oleh Jaka.


"Bu–bukan! Saya hanya kebetulan kenal aja. Terus, apa dia sakit? Apa yang di ruang UGD sana itu ... yang kalian maksud tadi-- " Zahra menghentikan ucapannya ketika raut wajah Jaka berubah sendu.


'Ya Allah! Apa ini arti debaran ku sejak tadi?


Dan apa ini kebetulan yang di maksud oleh dia?' Zahra sontak membekap mulutnya. Ia menoleh ke arah pintu ruang unit gawat darurat itu. Dimana di sana nampak pria berkumis dengan kemeja batuknya bicara serius dengan salah satu tenaga medis.


"Iya, kita nemuin dia pingsan di kamarnya, "


jawab Jaka lesu. Ia kembali mendudukkan pantatnya di kursi tunggu lalu menatap Zahra dan kembali berdiri lagi.


"Oh, iya Neng. Dari tadi saya nyari nomer keluarganya, tapi kagak nemu pisan ini," ucap Jaka sambil menyodorkan hape milik Ghazali ke arah Zahra.


"La–lalu, apa hubungannya dengan saya?" Heran, Zahra bingung. Meskipun hatinya masih dag-dig-dug.


Tiba-tiba.


"Gimana, Jak.Elu ketemu kagak nomer keluarganya?" tanya pria paruh baya yang memakai kemeja batik. Dengan kumis tipis yang bertengger diantara hidung dan mulutnya. Dimana tiba-tiba saja sosoknya sudah ada di hadapan kami.


"Kagak Pak RT. Tapi ini ada temennya, " jawab Jaka sontak menunjuk ke arah Zahra. Seketika itu pula, pak RT menoleh dan memperhatikan Zahra dengan seksama.


"Lha, ini mah bukan temennya kali, Jak , tapi calon bini!" ujarnya sambil tersenyum lebar. Zahra pun seketika mematung.


'Tadi pacar sekarang calon istri. Kenapa kalian suka sekali berspekulasi seenaknya!' batin Zahra geram.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2