Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 8. Awas! Udah Mulai Terpesona!


__ADS_3

Ghazali, segera bersiap untuk memutar balik kendaraannya. Karena ia tak mau menerima upah dari Zahra. Ia tulus hanya ingin membantu gadis itu yang ia tau sedang dalam kesulitan. Hingga, spontan terdengar suara petir menggelegar di hadapannya.


GELEDAR


Hal itu membuat, Ghazali terlonjak dan Zahra berlari cepat ke dalam rumah sambil menutup kedua telinga dengan telapak tangannya. Lama terlihat gadis itu tak keluar lagi, justru nampak seorang wanita yang tak kalah cantiknya dari, Zahra keluar menghampiri, Ghazali dengan terseok. Maryam nampak di tuntun oleh Umar.


Ghazali terpaku, seketika ia teringat sosok wanita yang ia rindukan. Ia nampak mematung di halaman yang tak seberapa luas itu. Tanpa peduli air langit yang mulai meneteskan curahnya semakin intens.


"Loh, itu ... bukannya ibu sedang sakit?" heran Ghazali meski raut pucat itu masih tampak di wajah Maryam.


"Istri saya ini khawatir terhadap Zahra. Kirain tadi kemana. Soalnya mau hujan dan pasti banyak petir," jawab Umar menjelaskan sambil menelisik ke arah pemuda dekil di hadapannya ini.


"Masuk aja dulu, Dek! Daripada main hujanan nanti sakit. Soalnya, ini hujan pertama di musim ini!" Wanita yang nampak lebih muda dari sang mama, nampak tulus mengundang dirinya masuk. Kekhawatiran yang tercetak jelas di wajah teduhnya, seketika membuat kedua mata, Ghazali memanas.


"Itu saya--"


"Gapapa, Dek. Neduh aja dulu. Terimakasih udah mengantar Zahra tepat waktu," ucap Umar seraya membawa balik Maryam ke dalam rumah.


Pada akhirnya, Ghazali, memutuskan untuk memarkirkan motornya di pojok halaman. Lalu, ia langsung membuka sepatunya, meletakkannya di kolong kursi plastik yang berada di pojok teras.


Zahra yang mengintip dari ruang tamu, hanya bisa melongo dibuatnya, di mana pengemudi ojek online itu, seenaknya saja duduk di balai seraya bersandar sambil meluruskan kedua kakinya.


'Apa-apaan, dia? Kenapa segala disuruh mampir sih sama Bunda.' Zahra yang masih bergelung dengan selimut terlihat mengintip di balik jendela.


"Kakak, ngapain masih di situ?! "


"Astagfirullah, adek!" Zahra menahan geram ketika yang membuatnya kaget adalah Adam, sang adik.


Adam pun tersenyum seraya menunjukkan barisan giginya. Kemudian segera berlalu kedalam tanpa menghiraukan, ocehan tanpa suara dari sang kakak.


Zahra, kembali mengintip, sosok, driver tampan yang sedang selonjoran santai berasa dirumah sendiri itu.


'Ck, kok ada si orang kayak gitu, sok akrab banget, pokoknya aku harus bayar jasanya, aku gak mau utang budi sama dia.' batin Zahra.


DUAR


Petir kembali menyambar halaman depan.

__ADS_1


"Bunda!!"


Zahra kembali berlari kedalam kamar sambil berteriak.


'Keluarga ini pengertian juga. Menawarkan gua supaya bisa berteduh. Maaf ya, Met. Lu keujanan di sana. Gua gak mungkin masukin lu ke teras orang.'


"Seharusnya tadi, masukin aja motornya ke teras, Dek." Di saat Ghazali tengah berbicara sendiri dalam hati, tiba-tiba sebuah tepukan mengembalikan kesadarannya. Ghazali pun lantas menoleh cepat.


"Eh, iya Pak. Gapapa. Motor mah, gak bakal kedinginan," sahut Ghazali dengan bibir yang sedikit bergetar. Karena angin dan curah hujan lumayan deras.


'Kasian ni anak muda kedinginan. Bisa meriang dan masuk angin dia kalo aku tinggalin di teras sendirian.' batin Umar.


"Masuk deh ke dalem, ujiannya makin deres anginnya juga kenceng tuh!" ajak Umar.


"Gak usah, Pak. Biar saja saya di sini. Udah di kasih tempat neduh juga makasih banget. Gapapa, Bapak masuk aja temenin ibunya," ucap Ghazali, menolak halus tawaran Umar meskipun ujung jari kakinya mulai beku.


Umar tersenyum tipis, ia tau jika pemuda yang berada di hadapannya ini adalah pria yang baik. Karena itu, ia pun sedikit memaksa agar Ghazali mau masuk ke dalam rumahnya. Setidaknya, pria itu tidak akan menggigil seperti ini.


Benar saja, keadaan di dalam rumah sederhana Zahra ternyata lebih hangat.


'Jadi inget rumah mama. Kapan kita bisa kumpul seperti ini lagi?' Ghazali buru-buru menyusut genangan di sudut matanya. Ketika sosok gadis manis itu menghampiri dirinya dengan wajah ketus.


"Ghazali, tapi bisa juga di panggil, Al," ucap ojol berambut ikal dengan tampang yang manis karena sejak tadi ia terus tersenyum.


Kebahagiaan itu memancar alami dari dalam lubuk hatinya. Kehangatan keluarga harmonis yang telah lama tak ia rasakan serta nampak di depan matanya.


Setelah, ayah dari Zahra yang tak lain adalah Umar menjamunya makan ala kadarnya. Namun, bukan menu yang menjadi sorotan utama dari, Ghazali. Akan tetapi kehangatan dari setiap perhatian yang mereka berikan padanya mengingatkan pada kehangatan keluarga yang telah lama tak ia rasakan.


"Bang, Ghazali, kalo mau solat, bisa diruang tamu, nanti biar di antar sama, Adam kalau mau wudhu," ucap, Zahra tanpa ekspresi pada pengemudi ojol yang menurutnya agak menyebalkan itu.


" Eh, iya, maaf ya saya jadi ngerepotin," jawab Ghazali sedikit kikuk.


"Lebih cepat sedikit, deh, sebelum waktunya habis," perintah, Azura lagi padanya.


'Ketusnya ... tapi manis.' Ghazali menyeletuk dalam hati. Ia pun segera berdiri dan beranjak ke dalam bersama, Adam. Namun langkahnya seketika terhenti di depan pintu.


"Kenapa, Bang? " tanya Adam pada Ghazali yang tiba-tiba terpaku sambil menatap kaosnya dan juga bawahannya.

__ADS_1


"Baju dan celana, Abang lembab, Dek. Mana sudah dipake dari pagi. Takutnya udah enggak bersih. Kalau solat, Abang jadi enggak sah gimana?" ungkapnya, dengan setengah berbisik pada Adam.


" Ck, gitu aja di bikin pusing, "


"Tinggal mandi aja, Bang, terus ganti deh tu baju ama celananya," sahut Adam ikut berbisik-bisik.


"Ye, ni, bocah. Masalahnya, Abang kagak bawa ganti," ucapnya pelan sambil mengeratkan gigi.


"Bilang, napa dari tadi. Pake muter-muter segala," celetuknya kemudian sambil memutar bola matanya malas.


"Ye, kalo to the point malu dong, ah," kilah, Ghazali terus membela diri, tak mau kalah dari adiknya, Zahra ini.


Mereka berdua tidak tahu saja ada sepasang mata indah bola ping pong, yang sedang memperhatikan gestur dua lelaki beda generasi tersebut.


'Pada ngomongin apa sih, pake bisik-bisik segala, bukannya cepetan, lekasan, buruan!' Zahra terlihat, menahan gemas di balik tirai gorden kamarnya.


"Gampang, Bang. Entar, Adam pinjemin kain sarung, deh," ucap remaja bertubuh tinggi ini, sambil memperhatikan tubuh lelaki dewasa di sebelahnya.


"Kayaknya, Adam juga ada kaos yang gede. Muat deh, kayaknya di badan, Abang. Ya, paling pres body dikitlah," katanya sambil menyeret dan menarik Ghazali masuk kedalam kamarnya yang kecil.


Tak lama kemudian, Ghazali nampak telah rapi dan selesai sholat asar.


"Ngopi aja dulu sini, Dek. Pulangnya nanti abis magrib, tanggung juga," tawar, Maryam pada pemuda yang menjadi tamu dadakannya ini. Entah kenapa ia, nampak begitu welcome terhadap, Ghazali.


'Mereka baik banget sih. Kan gua jadi betah.' batin Ghazali senang.


Driver ojek online itu nampak sudah lebih segar, karena telah membersihkan tubuhnya serta, berganti pakaian bersih. Seketika ia mendapat tatapan terkesima dari seseorang di balik tirai.


Sesekali, petir masih terdengar karena itulah, Zahra masih bersembunyi di dalam kamarnya.


'Keliatan lebih rapi sih, apa karena habis mandi terus solat, jadi auranya keluar?' Tanpa sengaja sepasang bola mata indah itu terpaku menatap penampilan si abang ojol yang tiba-tiba bergabung di tengah-tengah keluarga kecilnya.


Sang, bunda nampak lebih baik dan tak lemas lagi setelah mendapat infusan dan juga vitamin dari klinik tadi. Juga, setelah lambungnya terisi makanan. Meskipun hanya buah dan ubi.


'Ternyata ... kalo rapih begini tampangnya lumayan juga.' Tanpa sadar, Zahra, telah menciptakan sebuah lengkungan sabit di wajahnya.


[ Terpesona ku pada pandangan pertama ... ]

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2