Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 42. Ayo, Bang. Ajak mama ketemu Zahra!


__ADS_3

Ghazali tiba di lantai atas, kemudian ia mengedarkan pandangannya.Tatapannya berhenti mencari ketika sosok yang ia rindukan berada tepat di ujung sebelah kanan.


Seketika kedua iris matanya menangkap senyum sumringah seorang gadis yang di ketahui periang dan manja itu. Shireen, ia berjalan cepat menghampiri kemudian menutup pintu ruangan.


Seketika gadis berkulit putih itu meraih telapak tangan Ghazali dengan antusias. Kemudian ia mencium dengan takzim.


Sementara itu, seorang wanita paruh baya yang berpenampilan elegan, tengah membekap mulutnya. Ia telah berdiri dari duduknya. Kakinya sudah siap melangkah untuk menghampiri sang putra, namun Ghazali mendekat lebih dulu dan meraih raga yang sangat ia rindukan itu untuk mendekapnya erat.


Tak berapa lama, Kazenia mendongak dan melerai lekukan sang putra. Ia menatap lamat ke arah Ghazali, menyisir penampilan sang anak sulung dari ujung rambut hingga ujung kaki.


"I–ini ...?" Kazenia menatap tak percaya.


"Iya, ini pekerjaan Abang, Ma," jelas Ghazali, karena ia tau itulah arti dari sorot mata Kazenia yang penuh pertanyaan kenapa ia mengenakan kostum hijau khas driver ojol ini.


Karena itu Ghazali mengenakan jaket yang baru, yang belum bau matahari.


Kazenia terlihat menghela napasnya. Ia tak menyangka jika sang putra bisa bernasib sesusah ini. Mencari makan dengan berpanas-panasan di jalan. Mencari penumpang dan orderan. Demi uang yang tidak seberapa. Pantas saja penampilan Ghazali kucel dan tak terurus. Kulitnya jadi sawo matang. Padahal, sebelum putranya pergi dari mansion, kulit Ghazali putih bersih.


Ternyata keadaan dapat mengubah semuanya. Termasuk penampilan dan fisikmu. Tentu saja, Kazenia. Keadaan terawat karena uang dengan yang tidak terawat tentu saja berbeda.


Meski sudah berusia setengah abad, namun garis-garis kecantikan Kazenia masih kentara jelas di wajah dan juga bentuk tubuhnya yang masih langsing semampai.


Tak kuasa menahan gejolak rindu yang belum usai. Kazenia kembali memeluk Ghazali erat. Sementara Shireen ikut memeluk juga dari samping. Hingga tak lama kemudian, ada yang mengetuk pintu ruangan mereka.


Kazenia menggigit bibirnya guna menahan isak yang tercekat itu agar tidak keluar. Ia harus berusaha mengendalikan dirinya di depan orang lain. Tapi perasaannya tak bisa di ajak kompromi.


Hatinya begitu perih teriris melihat kenyataan yang nampak di hadapannya saat ini.


Bagaimana keadaan Ghazali begitu mengiris batinnya sebagai seorang ibu. Merasa bersalah tentu saja. Bagaimana tidak, ketika ia melihat sang putra hidup begitu susah. Makan apa adanya. Sementara ia tinggal enak di mansion mewah dengan makanan yang selalu enak setiap hari.


Hati ibu mana yang tidak akan sedih. Melihat putra satu-satunya hidup sengsara di luar sana. Kazenia sama sekali tidak menyangka. Ternyata pada saat Ghazali keluar dari kediaman mewah mereka. Putranya tidak membawa sama sekali barang miliknya dan juga uang.


"Maaf. Mama baru menemukan surat di dalam kamarmu setelah sebulan kepergian, Abang. Jika saja Mama tau, Abang pergi tanpa membawa apapun, pasti Mama akan langsung mengerahkan orang untuk mengejar abang. Bahkan, Mama juga baru sadar, jika abang tidak pernah menarik uang sejak saat itu. Lalu, bagaimana kau bisa hidup di luar sana selama ini?" Kazenia benar-benar berkata dengan suara yang tersendat-sendat.

__ADS_1


Ia tak habis pikir. Tak mengerti bagaimana Ghazali mampu melewati itu semua selama ini. Bagaimana dia bertahan. Tinggal dimana tanpa uang. Kepala Kazenia sampai sakit selama beberapa bulan memikirkan keadaan Ghazali.


Bahkan, tim yang ia sebar tak mampu menemukan sang putra. Semua pencarian terpaksa berhenti ketika Arkhan membatasi semua akses. Keras hati pria itu tak mampu Kazenia lawan. Karena pada saat itu dirinya masih ikut pola pikir Arkhan, suaminya. Hingga, lambat laun, Kazenia pun sadar. Bahwa harta dan kemewahan yang ia punya, justru membuat hati serta hidupnya kosong.


Shireen nampak sudah berkali-kali menyapu derai air matanya dengan tisu. Sementara Ghazali menyatukan gerahamnya kuat-kuat.


Ia menengadahkan wajahnya ke atas.


Guna, menahan guliran bening itu.


Bila saja, tidak mesti begini keadaannya.


Sungguh ia akan mencium dan memeluk surganya setiap saat.


Tuhan, permainan apakah ini?


Mereka keluarga tak bisa hidup bersama.


Ghazali pun mengajak sang mama untuk duduk.


Kazenia mengangkat kepalanya menatap Ghazali dengan buliran bening yang terus bergulir menuruni pipinya yang tirus. Matanya berkilat, menatap kedua darah daging yang ia keluarkan dari rahimnya sendiri bergantian. Karena Ghazali dan Shireen duduk bersebelahan. Anak perempuannya itu, terus saja melingkarkan tangannya pada lengan sang Abang.


"Mama mau keluar juga dari mansion. Mama sudah tidak perduli lagi terhadap itu semua. Kemewahan dan isinya. Semua tak berguna!" ucap Kazenia dengan emosi tertahan. Ia menengok ke suatu sudut. Sepertinya Kazenia sudah tidak tahan dengan keadaan yang menyiksa batinnya ini.


" Tenang, Ma. Jangan mengambil keputusan saat emosi. Setidaknya kita minum dulu, Mah," tahan Shireen, seraya menggenggam tangan sang mama.


"Ilen benar, Ma. Jangan begini. Jangan tinggalkan Papa. Ghazali paham, jika papa saat ini tengah mengalami tekanan dari berbagai pihak karena kepergian Ghazali. Bagaimana jika Mama juga pergi. Apa yang akan terjadi pada papa? Tolong, Ma. Pikirkan itu," ucap Ghazali menegaskan agar Kazenia melupakan rencananya.


"Kau masih, memikirkan keadaan papamu. Setelah apa yang di lakukannya padamu?" Kazenia tak habis pikir. Terbuat dari apa hati putranya ini.


"Bagaimana pun, papa adalah orang tua yang harus Abang hormati. Terlepas dari apa yang telah ia lakukan. Lagipula, harta papa memang bukan milik Abang. Karena itu ketika keluar dari rumah. Abang tidak berhak membawa apapun. Abang yakin, jika Allah tidak akan membiarkan hambanya kelaparan. Mama lihat, sekarang. Abang masih sehat dan punya pekerjaan." Ghazali berusaha membuat Kazenia tenang dan mengerti. Bahwa Allah itu maha kaya.


"Ilen, akan membawa Abang dan Mama ke suatu tempat. Bersabarlah sedikit lagi. Kita harus bermain cerdik dan juga hati-hati." Shireen menjelaskan dengan perlahan disertai senyum manis yang tercetak di wajah cantiknya.

__ADS_1


"Abang, rambutnya lucu. Kriwil gitu. Jarang keramas ya?" ledek Shireen. "Tapi, ada untungnya sih Abang jadi gembel gini." Shireen terkekeh pelan sambil menutup mulutnya. Gadis muda belia ini yang baru masuk semester pertama di universitas terbaik di kota. Tak mampu menahan geli melihat keadaan sang Abang yang urakan.


"Bisa banget ya ngeledek, pas lagi tegang-tegangnya. Udah lama gak di bikin nangis, ni anak!" gemas Ghazali seraya mengulurkan tangannya untuk menarik hidung mancung Shireen.


"Ih, abang! Sakit tau!" pekik Shireen seraya menepis paksa tangan Ghazali.


" Kalian ini. Meskipun Mama merindukan moment berantem kalian berdua, tapi, kalian harus tahan, jangan sampai ada yang curiga melihat interaksi kalian ini," ucap Kazenia tenang sambil menyeruput jus alpukat di hadapannya.


"Mama benar, Bang. Dengerin tuh!" sungut Shireen sambil mengusap hidungnya yang memerah karena ulah Ghazali.


"Ma, Abang kesini sekalian mau minta ijin dan restu dari Mama." Akhirnya Ghazali pun mengungkapkan apa yang ia inginkan.


"Oh iya, kata Ilen Abang punya calon istri. Apa itu benar?" tanya Kazenia antusias. Dalam sekejap ia melupakan kesedihannya.


"Iya, Ma. Ini fotonya." Ghazali membuka galeri pada ponsel dan menunjukkannya pada Kazenia juga Shireen.


"Ih, cakep banget Bang! Serius? Dia mau sama Abang?" ledek Shireen sambil melihat penampilan sang Abang kemudian menggeleng.


"Hei, anak kecil!" Lagi-lagi, kedua kakak beradik ini saling pukul manja.


"Bawa Mama untuk menemuinya!"


"Serius? Mama mau ketemu sama Zahra?" Ghazali sontak melebarkan senyumnya mendapat tanggapan positif dari Kazenia.


"Jadi, namanya Zahra? Sungguh cantik seperti parasnya. Pasti hatinya juga baik. Iya kan?" Kulik Kazenia. Ia sangat senang mendapat kejutan bahwa sang putra berniat mengakhiri masa lajangnya. Inilah salah satu harapannya.


"Tepat banget. Lagipula dia bukan pilihan Abang. Tapi pilihan Allah, Ma. Kami beberapa kali ketemu karena kebetulan. Dan ketika Abang mengungkap niat untuk menjalin hubungan halal. Zahra mengajak untuk melibatkan Allah bukan hanya pasal hari dan perasaan yang sedang mendominasi. Akhirnya Ghazali menurut, dan hasil selama beberapa hati ini. Perasaan dan keyakinan Abang tetap condong kepadanya," tutur Ghazali dengan sekali tersenyum.


"Seneng banget ya. Ilen gak sabar mau ngeliat langsung deh. Sepertinya dia akan menjadi kakak perempuan yang manis," ucap Shireen membuat Ghazali tergelak. Hal itu tentu saja membuat Kazenia dan Shireen mengerutkan kening mereka pertanda heran.


"Aslinya itu jutek banget asli! Dingin tak tersentuh." Ghazali terus menceritakan mengenai Zahra dan awal pertemuan mereka berdua pada mama dan juga adik perempuannya ini. Tentu saja kedua orang ini akan sesekali tersenyum dan tertawa geli. Hingga pada bagian akhir mereka serempak menutup mulut dengan telapak tangan.


"Ya Allah, perfect banget. Ilen nangis deh ini."

__ADS_1


"Ayo, Bang. Ajak mama ketemu Zahra!"


...Bersambung...


__ADS_2