Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 51. Penyamaran Ghazali


__ADS_3

Sejak malam itu, hampir setiap hari, Ghazali akan menyambangi rumah Zahra. Seperti biasa untuk mengantar dan menjemput Zahra yang bekerja. Mereka tak pernah berdua jika di rumah gadis itu. Justru lebih sering bercengkrama dengan ayah Umar ,mendengar nasihat dan petuah yang berguna untuk masa depannya nanti.


Berbicara dari hati ke hati antar sesama lelaki, tak pernah sekalipun di jumpai nya bahkan dengan papanya sendiri. Hingga, setiap nasihat dari calon mertuanya itu semakin memantapkan hatinya.


Setelah beberapa kali menemui Umar serta mendapat nasehat darinya mengenai bagaimana pun ia harus tetap meminta restu pada Arkhan sang papa.


Ghazali memutuskan akan menemui pria arogan. itu. Dimana dalam pembuluh darah mereka mengalir darah yang sama.


Sebelumnya ia telah bicara dan tukar pikiran dengan mama dan juga adik perempuan satu-satunya itu.


Hingga pada akhirnya, Ghazali menggunakan ide nya sendiri agar dapat menyusup masuk kerumah besar itu. Tanpa di curigai dan di kenali oleh siapapun.


Shireen telah memberikannya beberapa alat tempur. Juga telah mengajarkan padanya dalam menggunakan benda-benda aneh itu. Kini, didepan cermin pada kamar rumah kontrakannya. Ghazali mulai memoles bedak yang dapat membuat kulit menjadi lebih gelap pada wajahnya.


Ia juga memakai rambut palsu yang agak berantakan. Serta memberikan beberapa aksen seakan jika wajahnya ini berjerawat. Ghazali memutuskan untuk tetap menggunakan identitasnya sebagai driver ojek online.


Beberapa kemudian Ghazali telah sampai di depan mansion mewah. Ia berkata pada sang penjaga rumah bahwa Shireen yang menggunakan jasanya. Hingga, satpam itu akhirnya mendapat telepon dari nona muda mereka. Ghazali pun diantar masuk kedalam. Kebetulan, Shireen sedang berada di halaman belakang. Melihat sang papa melakukan rutinitas olahraganya.


Arkhan memiliki lapangan golf mini di belakang mansion mereka. Melihat ada orang asing masuk dengan seragam ojek berbasis aplikasi ini. Kening Arkhan berkerut, alisnya menukik.


"Siapa dia? Bagaimana bisa masuk?" cecar Arkhan pada Shireen. Karena putri kesayangannya itu uang menyambut dengan ramah dan antusias.


"Abang hebat, bisa mengelabui penjaga depan." Shireen justru sibuk mengomentari penampilan Ghazali yang menurutnya perfect sebagai penyamaran. Ia terlupa jika sang papa bertanya.


"Shireen! Siapa dia? Kenapa kau bisa kenal dengan makhluk seperti ini!" sarkas Arkhan lagi. Ghazali masih tetap berusaha untuk melakoni perannya. Ia berpura-pura tidak mengenal sosok yang sesungguhnya sangat ia rindukan.


Tiba-tiba ...


"Jadi kau sudah datang!" Kazenia membekap mulutnya melihat bagaimana penampilan sang putra saat ini. Begitu berbeda tak dapat dikenali. Namun ada satu hal yang membuatnya yakin. Yaitu, tatapan dari mata Ghazali yang pekat dan dalam padanya.

__ADS_1


"Sebenarnya, ada apa!" Arkhan mulai tak dapat menguasai emosinya. Tak ada satupun yang menjawab keheranannya sejak tadi. Ia sangat geram. Sejak kapan, putrinya bergaul dengan orang rendahan macam ini.


"Sayang, sebaiknya kita ke ruangan mu." Kazenia merangkul suaminya itu, masuk.


Sementara Shireen membawa sang Abang ke sebuah ruangan untuk membersihkan wajahnya. Hingga tak lama, seorang lelaki berbadan tegap muncul dengan penampakan aslinya.


Sepasang mata Arkhan tak berkedip melihat penampilan kedua dari lelaki di hadapannya ini. Ia lantas berdiri dari duduknya saking kaget. Semburat rindu itu seketika membuat matanya memanas.


Rasa bersalah dan iba itu sekelebat muncul menggelitik hatinya.Tapi tak lama terhempas oleh rasa kesal dan egoisnya. Ia mengeraskan rahangnya menahan rindu itu agak tak mencuat keluar.


"Penampilanmu tidak lebih baik dari yang tadi." Dengan senyum remehnya Arkhan menatap sang putra dari atas hingga bawah. Jelas saat ini ia sedang merendahkan lelaki yang ketampanan dan gagahnya menurun dari Gen-nya itu.


" Pa!"


Ingin rasanya Kazenia mencubit dan menjambak lelaki yang berpangkat suami di sebelahnya ini.


"Apa begitu sulitnya hidupmu, di luar sana? Hingga membeli pakaian layak pakai pun kau tak mampu?" cela itu terus keluar dari bibir Arkhan Sanjaya.


Ia malah terus mencerca dan mencela,


seakan yang di hadapannya sekarang,


bukanlah darah dagingnya sendiri.


"Aku nyaman seperti ini, Pa. Karena, kesederhanaan semakin menyadarkan. Siapa kita yang sebenarnya di hadapan Allah. Ehm, apa aku masih boleh memanggilmu, Papa?" Lelaki berambut ikal itu berbicara dengan sangat hati-hati sekali.


"Tanya pada dirimu sendiri! Apa kau pantas menjadi anakku!" sarkas Arkhan pelan namun menusuk sampai hati.


Mata Kazenia mulai memanas, ia berusaha meredam emosi Arkhan dengan menggenggam tangan laki-laki yang keras hati itu.

__ADS_1


Jangan tanyakan keadaan Shireen. Wajahnya kini sudah di banjiri oleh air mata. Hidungnya sudah semerah tomat. Bahkan ia sudah beberapa kali menyusut ingusnya dan membersihkannya dengan tisu. Meskipun hal itu sudah ia prediksi. Tetap saja dia sedih. Sang papa sama sekali tak tersentuh saat melihat abangnya itu.


"Maaf. Kalau Al, sudah mengecewakan. Aku memang tidak pantas menjadi putramu. Aku--" Seketika suara Ghazali tercekat di tenggorokan. Namun sebisa mungkin ia harus menahan tangisnya.


Ia harus kuat, setidaknya itu yang harus ia perlihatkan di depan sang Papa. Ia, bahkan sudah mempersiapkan hal ini dari jauh-jauh hari. Meskipun kenyataannya di luar bayangan. Karena Ghazali berharap Setelah 5 tahun kepergiannya, setidaknya ia akan mendapatkan lagi pelukan dari sang papa.


Betapa lelaki di hadapannya ini sangat ia rindukan selama bertahun-tahun. Ternyata, Arkhan sama sekali tidak suka melihat kehadirannya. Seakan ia adalah sampah yang harus segera enyah agar tidak menimbulkan penyakit.


Jangankan menyentuh atau sekedar menerima uluran tangannya. Jika menatapnya sebagai darah dagingnya pun enggan.


"Sekalipun, hubungan darah itu ... Tidak bisa dipisahkan dengan cara apapun. Tak mengapa, jika aku sudah tidak dianggap sebagai anak lagi. Setidaknya, izinkan Al tetap menganggap Papa sebagai orang tua." Ghazali kembali berkata dengan terbata karena menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya.


Sementara itu Arkhan hanya mampu bergeming. Ia tidak membantah satu kata pun yang keluar dari mulut Ghazali. Sang putra yang sempat menjadi kebanggaannya. Sang putra yang di harap dapat menjadi penerusnya. Harapannya terlampau besar terhadap Ghazali.


Dadanya kian sesak mengingat nasehat yang lima tahun lalu di lontarkan oleh Ghazali.


Karena putranya itu sudah tahu kebusukan dari dunia hitam yang di gelutinya selama ini.


Arkhan yang dulu pernah di buang oleh keluarganya, hingga di temukan seorang wanita pemilik panti asuhan. Memiliki dendam untuk menghabisi seluruh keluarga yang telah membuangnya dulu.


Sekarang ia telah melakukan hal serupa, kepada putranya. Tapi, apa yang terjadi?


Sang putra sama sekali tidak membencinya. Sang putra bahkan hidup dengan baik tanpa sepeserpun harta darinya. Bagaimana bisa?


Terbersit pertanyaan besar yang bersarang di kepala batu seorang Arkhan Sanjaya.


" Sudahlah! Jelaskan saja apa maksudmu datang kesini? Bukankah kau tidak butuh pada harta haramku? Lalu--" Arkhan menyeringai sinis.


Mengingat hartanya tak berguna, membuatnya kesal saja.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2