
Ghazali terlihat menelan ludahnya. Beberapa kali kalimat itu hendak keluar namun ia kembali menelannya lagi bulat-bulat.
Zahra terdiam. Dirinya masih menunggu dengan sabar. Ia mampu menutupi dengan epik rasa penasarannya serta gemas. Karena pria di hadapannya ini yak juga bersuara. Sungguh, Zahra akan mendengarkan apa yang akan di utarakan pria di hadapannya ini. Tanpa berniat untuk memotongnya sedikit pun.
"Aku ... ingin menjadikan kamu mahrom dan menjadikan berduaan kita ini halal." Ghazali akhirnya bisa juga mengungkapkan isi hati yang di pendamnya sejak tadi.
Memberanikan diri menatap kearah gadis di hadapannya ini lekat. Karena sejak tadi ia berbicara sambil menatap piring kosong di atas meja.
Zahra seakan tersedak ludahnya sendiri. Namun ia tetap berusaha tenang meskipun sebenarnya si hati sudah berloncatan kesana-kemari.
"Zahra, mengerti. Tapi, bolehkan kalau aku meminta waktu? Untuk kita berdua? Agar lebih memantapkan lagi perasaan dan keyakinan masing-masing. Karena ... pernikahan adalah ibadah terpanjang dan terlama. Zahra berharap melakukanya sekali seumur hidup. Sebab, Zahra tidak akan sanggup yang namanya berbagi hati." Zahra bertutur dengan lembut dan perlahan. Ia berharap Ghazali mengerti maksudnya.
"Alhamdulillah, kalau kamu ngerti, Ra. Pikirkanlah. Seenggaknya, aku udah mengungkapkan apa yang harus aku katakan," sahut Ghazali. Ia merasa lebih tenang dan lega. karena isi telah tersampaikan dan tidak ada penolakan langsung dari Zahra.
"Kita, harus melibatkan Allah sebagai penentu dari setiap keputusan, agar kita tidak akan menyesal di kemudian hari," jelas Zahra dengan lembut tapi mengena.
Ghazali mengangguk, bibirnya pun mengulas senyum. Ia sudah menyiapkan hati nya bila mendapat penolakan. Tapi, ternyata gadisnya hanya meminta waktu dan mengajaknya untuk melakukan munajat kepada Allah. Bukankah itu artinya, Zahra juga menyimpan rasa dan asa yang sama dengannya.
"Kamu benar. Insyaallah, aku akan melakukan apa yang Zahra katakan barusan.
"Setelah hati kita berdua benar-benar yakin. Barulah, Abang bicara sama ayah dan bunda," ucap Zahra lagi. Membawa angin sejuk ke dalam relung hati Ghazali yang gersang.
"Baiklah. Makasih. Udah menanggapi ungkapan hati aku dengan jawaban yang baik. Hati ini gak salah sudah menetapkan pilihannya padamu. Tapi, walaupun begitu aku akan tetap memohon petunjuk lagi padanya," ungkap Ghazali. Tanpa ia tau jika kedua pipi Zahra bagaikan tomat matang di pohon.
"Sekarang, kita pulang, takut ayah sama bunda kamu khawatir. Walaupun, kamu pulangnya sama aku, tapi kan status kita masih orang lain," jelas Ghazali seraya bangun dan mengeluarkan dompetnya.
__ADS_1
"Abang benar sih. Ya udah yuk!" Zahra tersenyum tipis dan ikut bangun dari duduknya. Mereka berdua pun berjalan menuju kasir. Setelah Ghazali selesai membayar, keduanya langsung keluar dari cafe. Kebetulan, pas adzan berkumandang.
Keduanya pun segera memutuskan untuk mencari musholla atau masjid di sekitar tempat itu untuk melaksanakan sholat Maghrib.
Sepulang mengantar Zahra pulang, tinggallah Ghazali seorang diri di atas tunggangannya yang setia. Pria berwajah manis itu terlihat senyum-senyum sendiri.
Jawaban dari Zahra tadi mampu membuatnya seakan ingin meledak. Ingin rasanya ia berteriak saat ini untuk mengeluarkan kebahagiaannya yang membuncah.
Apalagi penerimaan dari kedua orang tua Zahra juga baik dan hangat padanya selama ini. Meksipun, dirinya hanyalah seorang pengemudi ojek online yang miskin dan tak memiliki apapun selain iman dan tekad yang kuat untuk merubah nasib.
Ia berani mengambil langkah ini dikarenakan usahanya dengan salah seorang kawan ketika di pesantren kala itu telah membuahkan hasil. Setelah beberapa kali mengalami jatuh bangun selama beberapa tahun usahanya. Kini ia mendapatkan hasil yang di luar dugaan. Sehingga Ghazali akan menggunakannya untuk biaya menikah nanti.
Meskipun ia harus melakukan munajat terlebih dahulu. Akan tetapi, tanggapan baik dari Zahra sudah menerbangkan asanya sampai ke galaksi bima sakti.
Betapa Ghazali saat ini sangat bersyukur kepada Rabb-nya. Karena di tengah kesepiannya. Di kala ia terbuang dari keluarganya. Ia masih mendapat secercah kebahagiaan. Ia masih bisa merasakan kehangatan dari keluarga Zahra. Si gadis manis berkerudung syar'i, yang ternyata jago bela diri.
Keluarga itu begitu menghargainya. Menerima dia apa adanya. Tidak ada tuntutan akan materi maupun status sosial. Tak pernah mengulik masa lalu maupun latar belakangnya. Mereka semua menerima kehadirannya tanpa embel-embel.
Ghazali mengerti, ia telah berusaha belajar dan terus belajar agar nanti mampu menjadi imam serta pembimbing di dunia dan akhirat bagi istri dan juga keluarga yang kelak akan dia bangun.
Ghazali ingat betul pelajaran yang pernah di sampaikan oleh Kyai. Bahwa, menikah bukan hanya perkara menyatukan dua hati. Akan tetapi juga menyatukan dua keluarga yang artinya, akan ada banyak hati yang akan ikut terhubung di dalamnya.
Di atas sajadah beludru tempatnya bersimpuh mengadukan semua masalah hati dan jiwanya selama ini.
Saksi bisu dari air mata dan harapan yang ia munajatkan pada sang pemilik kehidupan.
__ADS_1
"Apakah aku harus menceritakan yang sesungguhnya. Tentang keluargaku pada keluarga zahra. Tentang siapa papa dan pekerjaannya. Bagaimana kalau mereka menolak dan menjauh? Apa tidak cukup dengan meminta restu mama saja? Apa aku harus menjelaskan darimana aku berasal? Ghazali bingung ya Allah ...," lirih pria berambut pendek ikal ini seraya mengusap wajahnya kasar.
___________
"Bunda perhatiin, Kaka sejak pulang tadi cerah banget mukanya. Ada apa sih? Boleh dong ceritain ke Bunda," Kulik Maryam yang mana hati kecilnya mengatakan jika sang putri tengah bahagia. Ada sesuatu yang belum Zahra ungkapkan padanya.
Akhir-akhir ini, Maryam sangat sadar jika banyak hal yang putrinya ini sembunyikan dari keluarga. Namun, Maryam tau jika Zahra melakukan semua itu demi menjaga hati dan juga pikirannya. Sang putri selalu menyelesaikan masalahnya sendiri.
Zahra sangat pengertian dan selalu siap mengorbankan apapun demi keluarganya.
Hal itu yang membuat Maryam terkadang sedih dan kasihan pada Zahra. Karena, putrinya itu harus menanggung semua beban. Hingga, merelakan cita-citanya kandas karena keadaan dia dan juga suaminya.
"Masa sih, Bun. Perasaan Kakak biasa aja deh," elak Zahra. Ia merasa ini belum saatnya sang bunda tau. Meskipun dalam hati sebenarnya, Zahra sangat membutuhkan sosok untuk dia ajak bertukar pikiran.
"Mungkin, dia akan bercerita pada Reva saja. Zahra merasa lebih nyaman. Karena, Zahra sangat takut jika apa yang ia sampaikan nanti akan menjadi beban pikiran bagi sang bunda.
"Perasaan seorang ibu itu gak bisa di bohongi, Kak. Bunda tau, akhir-akhir ini kamu menanggung semua masalah seorang diri. Maafin, Bunda. Seharusnya keluarga ini tempat satu-satunya bagi kamu untuk meminta pertolongan dan berlindung," ucap Maryam lirih. Bahkan ia menunduk demi menutupi raut sedihnya.
"Bunda ... bukan kayak gitu. Rara cuma gak mau bunda sama ayah itu banyak pikiran. Alhamdulillah, Allah selalu membantu dengan menghadirkan orang-orang yang baik. Semua juga berkat doa dari ayah dan Bunda. Jadi, jangan merasa seperti ini. Doa dari Bunda adalah tameng dan penjagaan yang paling hebat. Karena itu, Allah selalu bersama dengan, Rara," ucap Zahra mengembalikan semangat dan kepercayaan diri Maryam.
"Bunda selalu mendoakan kamu sayang. Semoga kamu mendapat jodoh yang bisa membahagiakan kamu," ucap Maryam tulus seraya mengusap pipi Zahra yang memerah.
"Nda, kalau seandainya ada laki-laki Sholih yang ingin melamar, Rara. Gimana?"
...Bersambung...
__ADS_1