Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 41. Rencana Meminta Restu.


__ADS_3

Seketika Maryam, membulatkan kedua matanya yang memang sendu. "Masyaallah. Alhamdulillah, bunda dan ayah akan menerima dahulu niat baiknya. Memangnya siapa yang mau melamar, Kakak?" tanya Maryam mengulik tak sabaran.


"Eh, itukan seandainya, Bun. Hehe ..." Zahra langsung ngacir ke kamarnya dan menutupi raganya dengan selimut. Menyesal kenapa ia bertanya seperti itu pada sang bunda. Pasti saat ini Maryam sedang berpikir yang aneh-aneh.


"Si kakak kenapa, ya? Tumben banget dia ngomong kayak gitu. Selama ini belum pernah ada satu laki-laki pun yang pernah Zahra bahas. Ya Allah, semoga ini pertanda. Jika Zahra mau berpikir untuk mengakhiri masa lajangnya. Semoga KAU hadirkan jodoh lelaki terbaik yang dapat menjadi imam pembimbing putriku di dunia maupun akhirat." Maryam memejamkan matanya mengucap doa pada sang pencipta. Itu adalah salah satu harapannya pada sang putri. Melihat Zahra menikah ketika dirinya dalam keadaan sehat. Karena ia tak tau kapan saat itu tiba baginya.


"Bun, kok bengong?" tegur Umar yang baru keluar dari kamar dan ikut duduk disamping istrinya. Saat ini mereka berada di ruang tamu. Lesehan di atas karpet sambil melihat televisi. Sementara Adam sedang belajar di kamarnya.


"Kakak, tadi nanya. Gimana tanggapan kita, kalau sewaktu-waktu ada yang melamar dia," jelas Maryam.


"Ayah, kayaknya tau siapa pria yang kemungkinan akan melamarnya, Bun," ucap Umar seraya memasang senyum penuh arti. Hal itu justru membuat kening Maryam berkerut pertanda bingung.


"Ayah, tau siapa laki-laki itu?" Pertanyaan yang dilontarkannya di jawab anggukan oleh sang suami. Maryam pun semakin bingung jadinya.


"Itu perkiraan Ayah aja, kita tinggal tunggu. Kapan pria itu berani ngomong ke Ayah."


___________


Suara motor bergaung memekakkan telinga di pagi hari. Sebelumnya Ghazali sudah meminta maaf pada tetangga sebelah kanan dan juga kirinya. Karena mungkin apa yang ia lakukan ini mengganggu aktivitas sebagian orang. Ia membutuhkan ini untuk mengetes performa kendaraannya.


Untung saja jarak rumah nya dengan tetangga agak berjauhan. Sehingga, para tetangganya itu tidak terlalu terganggu dengan aktifitas rutin dari seorang driver ojek online ini.


Lelaki berhidung mancung itu menyeruput sisa kopi hitamnya. Kemudian ia mengembalikan gelasnya ke dapur dan meletakkannya di dalam wastafel tempat pencucian piring. Ghazali langsung mencucinya, karena ia tak suka meninggalkan rumah dalam keadaan kotor.


Baru saja ia hendak mengunci pintu rumah kontrakan tiga petak ini. Ponsel di dalam saku jaketnya berdering nyaring. "Siapa ya, pagi-pagi udah calling aja," gumam Ghazali seraya menggeser tombol hijau itu. Karena hanya tertera nomer tanpa ada nama.


[ Assalamualaikum, Bro! Maaf, gue telpon pake nomer baru nih. Besok di tunggu, karena ada restoran baru yang bakal kerja sama ama kita." ]


"Wa'alaikum salam. Gue kirain siapa, Man. Oke deh, insyaallah gue dateng. Alhamdulillah, Allah mulai buka rejeki kita ya," sahut Ghazali dengan raut wajah gembira.


[ Iya, Bro. Alhamdulillah, usaha dan doa kita Allah ijabah pada akhirnya. Buah kesabaran dan juga ikhlas yang berakhir indah. Masyaallah. ]


"Alhamdulillah, wasyukurillah. Allah qobul tepat pada waktunya." Ghazali pun mengakhiri hubungan komunikasi jarak jauh itu setelah beberapa menit.


Senyum sumringah terus menerus menghias wajahnya yang rupawan. Allah sudah memberi lampu hijau terhadap rencananya. Tinggal satu hal lagi, yaitu bagaimana cara untuk meminta ijin dan restu pada kedua orangtuanya.

__ADS_1


Baru beberapa meter kendaraan legendaris itu melaju dengan dia di atasnya. Ponsel dalam saku Ghazali kembali berbunyi.


Satu hal baik lagi menghampirinya.


"Alhamdulillah. Iya, iya ... abang langsung kesana."


[ Tetap menyamar ya, Bang. Hati-hati di jalan! ]


Shireen mengembalikan ponsel milik tukang cilok yang berjualan di depan kampusnya ini.


"Makasi ya, Bang. Udah saya isi pulsanya lima puluh ribu," ucap Shireen seraya menyodorkan ponsel keluaran lama itu.


"Duh, banyak amat, Neng pulsanya. Tapi, makasih dah. Anteng nanti saya main em-el ini sepulang dagang," ucapnya sambil cengengesan.


"Iya, Bang. Sama-sama. Terserah buat apa pulsanya. Asal inget sama kewajiban aja, Bang. Jangan jadikan game itu segalanya. Sampe lupa makan, tidur dan juga ibadah. Apalagi, sampe lupa sama anak istri," tutur Shireen. Sedikitnya ia tau apa yang belakangan ini terjadi akibat kecanduan bermain game online.


"Insyaallah, enggak, Neng. Sekedar penghilang gabut dan hiburan. Gak sampe lupa ama anak bini kok. Lagian, rugi saya kalo sampe kehilangan mereka. Harta saya yang paling berharga di dunia dan akhirat," sahut si tukang cilok bijak.


"Cakep tuh, Bang. Keep waras ya. Soalnya jaman udah edan." Setelah mengatakan kata terakhirnya Shireen pun berlalu. Meninggalkan kekehan dari si tukang cilok.


Kembali lagi kepada Ghazali. Setelah pria ini kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.


Ia pun kembali menyalakan mesin motor dan melakukan si Komet menjauh dari kampung yang asri itu.


Hari ini ia libur lagi untuk mengangkut para customer yang mungkin membutuhkan jalur cepat sampai ke tujuan.


Karena misinya saat ini, adalah meminta restu dari kedua orangtuanya, sebelum ia lanjut pada step berikutnya. Ghazali berharap semoga Tuhannya mempermudah semua niat serta memuluskan rencananya.


Ia melajukan si roda empat ke lokasi di mana kata Shireen sang adik, ia dan sang mama akan menunggunya di sebuah restoran yang terletak agak di puncak. Daerah yang sedikit lebih sejuk ketimbang pusat kota.


Rasa tak sabar dan ingin cepat sampai, tentu saja menguasai hati Ghazali saat ini. Dia ingin segera meminta restu secara langsung dan menceritakan tentang bidadari yang telah mencuri hatinya itu.


Tapi, mau bagaimana lagi. Jalanan ibukota, selalu tersendat-sendat, macam metode pembayaran hutang si tetangga sarkas. Ketika minjam memelas ketika ditagih malas-malas.


Bikin emosi jiwa meronta keras. Bertahanlah untuk tetap waras. Kalau bisa sih lebih baik ikhlas.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian setelah kesabarannya di uji. Sampailah si Komet membawa sang tuan ke tempat tujuan. Biar kata motor tua staminanya masih mampu menanjak ke puncak.


Kedua mata Ghazali menatap lekat pada sebuah tulisan pada bangunan epik di depannya saat ini. Sebuah restoran dengan arsitektur sederhana namun berkelas. Dimana tempat ini menyajikan makanan khas daerah setempat.


Ghazali memarkirkan kendaraan roda dua miliknya. Meninggalkan komet bersama beberapa motor lainnya di tempat yang sudah di sediakan pemilik resto. Tempat itu di jaga oleh pria berseragam khusus.


Dimana penjaga itu saat ini melongo ketika menatap dirinya. Beberapa saat kemudian, setelah memperhatikan secara detil, pria itu pun bertanya.


"Eh! Bang ... Bang! Tunggu sebentar!" panggilnya. Tentu saja Ghazali yang memang merasa jika dirinya di perhatikan sejak tadi, segera menghentikan langkahnya. Kemudian, pria penjaga parkiran itu berkata lagi. "Perasaan saya, restoran ini enggak ada kerjasama dengan aplikasi manapun," jelas si penjaga parkiran, dengan tatapan remeh.


"Lalu, apa urusannya sama saya ya, Pak. Saya kesini janjian sama orang. Bukan ngambil orderan," jelas Ghazali tenang, seraya memasukkan kedua tangannya kedalam sakit jaket.


"Oke deh kalo gitu silahkan, Bang.Tapi, jaketnya mending di buka aja. Terus simpan di motor."


"Lho, kok gitu?" heran Ghazali.


"Ya iya, Bang. Jangan sampai menurunkan kredibilitas restoran ini," ucap sang penjaga parkiran sok tau.


"Kan ini hak saya. Lagipula, gak ada tuh peraturan yang melarang anak ojol makan di sini. Lagipula, jaket saya bersih kok. Gak bau matahari!" Ghazali mulai geram dengan sikap rasis penjaga parkiran ini. Kenapa gayanya macam sekuriti saja.


"Iya juga sih. Ya udah, masuk aja dah, silahkan."


Si penjaga parkir itu pun akhirnya membiarkan Ghazali masuk. Paling nanti penjaga pintu masuk yang akan mengusir pria itu. Pikirnya.


Si penjaga parkir sekilas melirik, sambil tersenyum miring ke arah Ghazali yang hanya nampak punggungnya saja.


Dengan santai dan tenang, Ghazali berjalan mendekat pintu masuk. Dua orang sekuriti kembali menghampirinya dan memerintahkan padanya untuk melepas jaket. Tapi Ghazali tetap bersikeras dan hanya membalik jaket tersebut.


Resepsionis kaget, karena Ghazali adalah sosok yang sedang ditunggu oleh pemilik restoran ini. " Anda sudah ditunggu di ruangan eklusif." Sang resepsionis pun memerintahkan seseorang untuk mengantar Ghazali.


Ghazali pun kembali meneruskan langkahnya ke dalam restaurant tersebut. Seperti orang yang sudah sering dan biasa datang ke tempat eksklusif.


Ghazali terus melangkahkan kaki nya ke depan.


Meski beberapa mata tak lepas memperhatikannya. Sejak dari pintu masuk pertama, hingga ia menaiki tangga menuju lantai atas seperti yang di arahkan oleh Shireen.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2