
"Mama benar-benar tidak menyangka, Len. Kamu sehebat ini. Sejak kapan sayang?" tanya Kazenia seraya mengusap surau putrinya yang panjang tergerai.
"Sejak akhir semester pertama. Pada saat itu, diajak temen buat iku kajian di kampus jurusan agama Islam. Pas banget yang di bahas sama ustadz adalah tentang darimana hartamu berasal dan bagaimana kau membelanjakannya. Sejak saat itu, Ilen paham. Ternyata hal ini yang membuat Abang pergi dari rumah. Tapi, Ilen gak punya keberanian kayak Abang. Ilen lebih memendam semuanya dan mencari cara untuk menghasilkan uang dengan apa yang Ilen kuasai. Waktu itu, Ilen sempat bingung sendiri. Ilen mau bilang sama, Mama tapi takut." Shireen terisak kembali, sehingga hal itu membuat Kazenia menarik raga putrinya kedalam pelukan.
"Sayang, kamu membuat Mama bangga, Nak. Ilen. hebat. Mengerti cara menjaga perasaan orang tua. Kau memang harus menggunakan cara yang lembut, biar Abang saja yang sarkas. Karena itu memang kewajibannya. Mama jadi mulai belajar dari-mu sayang. Mama akan mulai berani untuk mengungkap kebenaran pada papa kalian. Berani untuk menolak dan mengatakan tidak lada harta yang papa berikan." Kazenia berkata dengan yakin seraya menatap Shireen dan juga Ghazali.
"Sabar, Ma. Bagaimana pun, Mama harus mendampingi hingga papa sadar. Mama tidak boleh meninggalkan papa sendirian. Apalagi saat ini. Papa sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan. Papa terlalu terjerumus hingga ia tak tau lagi bagaimana caranya untuk naik ke permukaan. Tak ada cahaya di lubang itu. Maka, Abang harap ... kalian bisa menjadi cahaya untuk papa," ucap Ghazali serius.
Kazenia dan Shireen mengangguk bersamaan. Meski isi di dalam hati dan pikiran mereka berbeda. Tapi mereka paham apa maksud dari Ghazali. Keadaan sang papa sebenarnya dalam bahaya, hanya saja sikap arogan Arkhan membuatnya selalu menolak setiap nasihat dan peringatan.
Meraka bertiga akhirnya berpisah lagi untuk sementara waktu. Meskipun pertemuan kali ini belum juga memberikan kepuasan pada mereka bertiga. Akan tetapi, Ghazali, Kazenia dan Shireen menemukan sebuah makna dan arti dari perpisahan mereka selama ini. Dari apa yang sudah terjadi terhadap keluarga mereka merupakan ketentuan dari yang maha kuasa.
Ghazali bingung bagaimana cara menepati janjinya untuk mempertemukan Zahra pada Kazenia dan Shireen. Sementara, Ghazali tak mau jika pandangan Zahra terhadapnya berubah. Ketika status keluarganya terungkap. Juga yang ia takuti adalah masalah yang menyelimuti keluarganya pada saat ini. Belum saatnya bagi Zahra untuk mengetahui seluk beluk dan alasan kepergiannya dari rumah.
Meksipun Ghazali tak berniat menutupinya. Ia hanya ingin Zahra melihatnya tanpa embel-embel apapun. Karena itulah, Ghazali mengajak Zahra untuk menemaninya ke tambak. Dimana di tempat itulah ia merintis usahanya selama beberapa tahun ini. Ia hanya tak ingin menutupi masa depan yang sedang ia usahakan. Setidaknya Zahra akan memiliki harapan kehidupan yang sejahtera dan berkecukupan dengan penghasilannya.
Meksipun, ia tak dapat menetapkan berapa pendapatannya perbulan.
"Assalamualaikum, Bro! Akhirnya lu Dateng juga!" Ghazali dan seorang pria yang merupakan sahabatnya itu saling berpelukan ala laki-laki. Sekilas, pria berjanggut tebal yang bernama Zaki ini melirik ke arah Zahra yang menunduk.
"Siapa tuh, Bro? Hareem ente apa binik?" cecar Zaki sambil berbisik, dengan segala keingintahuannya yang hakiki.
Ghazali hanya tersenyum, lalu ia berkata. "Doain aje, semoga mau jadi istri ane, Sob," bisik Ghazali. Kemudian mereka melepas rangkulannya.
"Ane doain semoga segala niat ente lancar, Bro. Nah, hasil dari bagi laba dari tambak ini. Bisa buat modal dah tuh buat walimatul ursy," ucap Zaki pelan. Zahra yang sedang melihat ke dalam kolam nampaknya tidak mendengar. Tapi mereka berdua salah. Pendengaran Zahra yang telah terlatih waspada, tentu dapat menangkap apa yang kedua pria tampan ini bicarakan.
__ADS_1
"Sebenarnya kita bertiga kesini, sama sahabatnya Zahra. Cuma dia lagi ijin ke toilet sebentar. Kalo gak ngajak kawannya, mana mau dia jalan sama ane, Sob," jelas Ghazali. Agar Zaki tidak berpikiran macam-macam terhadap Zahra. Jangan sampai ada pandangan, aurat sih tertutup tapi mau di ajak jalan berduaan sama yang bukan mahrom.
Zaki pun langsung antusias menengok dan mencari. "Cakep gak? Kenalin ya. Ane juga udah bosen nih jomblo terus." Zaki berkelakar membaut Ghazali menepuk bahunya.
"Gercep banget dah! Apa mentang-mentang punya duit, jadi langsung pengen nikah semua nih!" celetukan Ghazali membuat keduanya tertawa hingga tergelak.
"Ya, kan itu salah satu niat kita, Bro! Malah udah dari dua tahun yang lalu. Sayang aja kita selalu buntung kala itu. Qodarullah. Ternyata sudah Allah tetapkan sekarang rejeki kita. Di saat ente udah nemuin sandaran hati. Dan semoga ane sama Baim nyusul," tutur Zaki yang kemudian diaminkan oleh Ghazali.
Sementara, itu. Zahra hanya tersenyum sambil melihat jala yang terdapat begitu banyak lobster. Sangat menyenangkan sekali melihat orang panen. Apalagi jenis hewan ini belum pernah Zahra rasakan sebelumnya. Juga belum pernah melihat secara langsung bagaimana bentuknya.
Gadis itu nampak antusias sekali. Terkadang sesekali berinteraksi dengan beberapa orang yang sedang menjala.
"Nanti ikut nimbang dan mengemas ya, Ra. Kamu udah pernah makan lobster belum?" tanya Ghazali sambil tak melepaskan senyumannya. Wajah cantik gadis di hadapannya ini terlihat memukau ketika tertimpa cahaya matahari. Apalagi ekspresi Zahra yang terpukau kala melihat rajungan dan juga lobster hasil tambaknya. Belum lagi udang galah yang super besar.
"Insyaallah, Bang. Zahra pasti bantu. Kan itu niat Zahra dan Reva ikut kesini. Buat nyari uang tambahan, hihii!" Zahra pun terkekeh kecil. Membuat Ghazali semakin terkesima.
Ghazali hanya bisa membatin. Sembari sekuat tenaga menahan syahwatnya yang ingin sekedar mencubit pipi Zahra lantaran gemas. Padahal ini di tempat ramai. Bagaimana kalau cuma berduaan. Entah setan apa yang akan mendorongnya hingga lupa segalanya nanti.
Sebenernya aku senang, Ra. Melihat kamu banyak senyum sekarang. Senang karena kamu udah sedikit demi sedikit melupakan trauma dari masalah tempo hari. Cuma aja, hati aku gak kuat, Ra. Gak kuat lihat senyum kamu yang makin bikin wajah kamu menarik. Ya Allah.
Ghazali terlihat beberapa kali mengusap dadanya sambil mengucapkan kalimat istighfar. Ia juga, mengusap peluh yang menetes di pelipisnya.
Aku ngomong sekarang aja apa ya. Kalau mama mau ketemu.
Ghazali berdehem demi sedikit mengumpulkan keberaniannya.
__ADS_1
"Kenapa sih Bang? Keselek? Kemasukan nyamuk ya?" cecar Zahra karena melihat Ghazali berdehem dengan raut wajah gelisah.
"Ah, eng–nggak kok. Cuma agak haus. Kita kesana yuk, sambil cari minum," ajak Ghazali. Ia juga menyesalkan karena Reva tak kunjung kembali. Sehingga dirinya harus berduaan dengan Zahra. Padahal gak berduaan juga. Di sini banyak orang. Ghazali saja yang salah tingkah sendiri.
"Ngomong-ngomong, Reva mana ya. Masa dari tadi gak balik juga? Dia nyari toilet apa sungai sih?" Zahra terus saja menggerutu. Tanpa ia sadari jika Ghazali menertawakannya ocehannya saat ini.
"Nyari sungai ... mau ngapain Reva?"
"Ih kan dia mau pipis tadi!"
"Ya masa di sungai."
"Ya abisnya lama banget tu anak!"
Sementara itu, yang mereka bicarakan ternyata sedang kebingungan setelah keluar dari kamar mandi.
"Ih, tadi si Zahra kearah mana?" Reva pun celingak-celinguk bingung. Hingga, ada seorang pria berjanggut tebal yang menegurnya.
"Maaf, Mbak. Cari siapa?" tanya Zaki dengan senyum ramah yang tercetak di wajah tampannya.
"Eh, kaget. Astagfirullah. Masnya tiba-tiba kok nongol gitu aja!" protes Reva yang terkejut.
"Maaf, tadi saya lagi jalan di bawah. Cuma heran aja kok ada cewek cantik yang kayaknya lagi bingung banget. Kirain malah tadinya kamu penunggu Empang sini," kelakar Zaki. Hal itu sontak membuat kedua bola mata Reva melotot.
Sue banget nih cowok. Gue di kira penampakan. Ya kali ada setan siang bolong. Gilak kali ya!
__ADS_1
...Bersambung ...