
Senyum Zahra akhirnya terkembang juga, ketika Ghazali menghubungi dirinya. Bahkan pria itu mengabarkan akan datang untuk membicarakan pernikahan mereka berdua. Restu itu telah di dapat. Namun, Ghazali berkata hanya akan ada mama dan juga sang adik saja.
Malam itu ia datang. Menjelaskan keadaannya pada Umar dengan sejelas-jelasnya. Tak ada satupun yang ia tutupi. Ghazali berkata bahwa keluarganya hanya sang mama dan juga adik perempuannya. Namun, ia juga akan mengundang dia kawan serta para butuh di tambak. Sedangkan Kazenia akan membawa para karyawannya yang berkerja di restoran.
Setidaknya mereka akan memiliki rombongan meskipun tidak banyak. Umar setuju. Pria yang mengenakan kain sarung bermotif kotak-kotak itu segera memutuskan waktu yang baik bagi pernikahan keduanya nanti. Waktu satu bulan, ia rasa cukup untuk mempersiapkan segalanya.
Berjuta syukur, tambak akhirnya panen lagi yang kedua. Setelah mengalami kegagalan berkali-kali. Setidaknya Ghazali memiliki cukup modal untuk biaya pernikahan serta biaya ketika menjalani rumah tangganya nanti. Ia yakin, dapat membahagiakan Zahra dengan hasil usahanya sendiri.
Umar salut akan keyakinan serta kerja keras Ghazali. Ia tak dapat menolak dan mengelak jodoh untuk putrinya itu. Ia berharap Allah senantiasa melindungi mereka. Melancarkan segala hajat dan keinginan dari kedua manusia yang hendak melaksanakan sunah rosul mereka. Menyempurnakan sebagian dari agamanya.
Gerak gerik dari keluarga Sanjaya, selalu saja ada yang mengawasi. Karena itulah, Arkhan secara diam-diam menempatkan beberapa mata-mata terpilih dan tercanggih untuk mengawasi pernikahan putranya. Untuk mengecoh musuh yang notabene ingin merebut kekuasaannya, Arkhan sengaja meng-upload di laman media sosialnya bahwa sang istri dan putrinya sedang berlibur ke negara dimana putranya itu tinggal.
Kenapa ia melakukan itu? Semua lantaran rasa penasarannya. Arkhan telah menemukan sebuah kenyataan yang Kazenia dan putrinya tutupi selama ini darinya. Arkhan terus menyelidiki hingga ia mengetahui bahwa sang istri memiliki usaha restoran. Kenyataan jika istri dan putrinya tidak pernah menggunakan uang miliknya selama 2 tahun belakangan ini.
Hal ini membuat Arkhan berpikir keras. Bagaimana bisa kedua wanita yang ia cintai ini sanggup menjalani kehidupan yang jauh dari kata mewah seperti biasanya. Pantas saja, Kazenia dan Shireen selalu menolak ketika ia menawarkan liburan keliling dunia pada keduanya.
Sementara itu, Kazenia ternyata sudah merencanakan penyamaran mereka. Beberapa pekan sebelum hari pernikahan tiba mereka telah meninggalkan mansion mewah, untuk tinggal sementara di sebuah kampung yang tak jauh dari tempat tinggal Zahra. Mereka tak hanya hidup sederhana namun juga berpenampilan ala rakyat kelas menengah.
Kebetulan, rumah yang Kazenia beli, tidaklah mewah. Ia menyesuaikan keuangan yang ia miliki. Karena Kazenia juga menyiapkan hadiah atau barang seserahan uang tidak sedikit bagi Zahra. Ia juga menjadikan rumah yang ia tempati ini sebagai mahar untuk Zahra.
Arkhan sempat kehilangan jejak istri dan putrinya selama beberapa pekan. Hingga mata-mata sewaannya menemukan tempat tinggal Ghazali. Sang sopir pribadi Kazenia, yang melapor pada Arkhan.
Semua lantaran keinginan Kazenia agar semua berjalan natural seperti semestinya. Ia tak mau para musuh suaminya tau dimana Ghazali berada lalu mengusik kehidupan anak dan menantunya nanti. Biarlah Arkhan dengan kehidupannya sendiri dan Ghazali pun begitu.
Awalnya, Arkhan geram sekaligus marah, tapi lambat laun ia membiarkan anak dan istrinya itu berlaku sesuka hatinya. Pikirnya, Kazenia si ratu sosialita tidak akan betah hidup ala rakyat jelata begitu juga putrinya yang sejak kecil ia manjakan dengan materi berlimpah.
"Kita lihat saja, sampai kapan kalian betah tinggal di kampung kumuh itu! Kalian sudah terbiasa dengan gelimang harta dari ku! Hahaha ...!"
Arkhan tergelak, bahkan suaranya menggema di ruang kerjanya yang luas itu.
Tak lama kemudian, ia terlihat menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Arkhan memegangi kepala dengan kedua tangannya. Ia menunduk menenggelamkan kepala di atas lutut.
__ADS_1
Isak kecil yang keluar dari bibirnya begitu menyayat hati, bagi siapa saja yang melihat. Bahunya terguncang perlahan naik dan turun.
Kerapuhan yang ia sembunyikan dari siapapun termasuk dunia.
Hari pernikahan itu pun tiba.
Hari ini, Kazenia dan Shireen mengenakan baju gamis dan hijab yg mengulur sampai ke dada. Tanpa sepengetahuan Ghazali, keduanya telah memulai merubah gaya berpakaian semenjak memutuskan tinggal di kampung sebelah.
Tampilan keduanya tetap mempesona meskipun tanpa polesan make up berlebihan juga tanpa perhiasan dan barang- barang branded yang menempel. Kazenia menggunakan barang-barang yang ia beli dengan hasil kerjanya sendiri. Begitupun dengan Shireen.
Ghazali sangat bersyukur dengan perubahan yang terjadi pada mama dan juga adik perempuannya itu. Dalam hati ia berdoa, berharap jika semua itu menjadi jalan dan pintu hidayah untuk keduanya.
Kazenia dan Shireen berangkat dari hotel berikut dengan karyawan restoran dan juga kawan sekaligus partner kerja Ghazali.
Rombongan Ghazali telah sampai. Mereka semua beriringan berjalan melewati gang kecil. Memarkir kendaraan pada lokasi yang sudah mereka sewa demi acara hari ini.
Mereka berdua turun dengan anggun dari taxi online yang di pesan melalui aplikasi. Beberapa karyawan restoran juga turun dengan bawaan di tangan mereka.
"Bukannya repot, tapi seperti ini tradisinya." Kazenia berbisik kemudian tersenyum.
"Abang juga udah nyiapin Ma,tu liat aja yang di bawa rombongan." Ghazali menunjuk pasukannya yang keluar dari dua mobil Avanza.
"Mama cuma mau membahagiakan serta menghargai calon kakak iparnya, Ilen. Jadi ... Abang diem aja gak usah berisik apalagi banyak protes!" selak Shireen di tengah perdebatan ibu dan kakak lelakinya itu.
Ghazali akhirnya hanya dapat menghela nafasnya. Ia hanya tidak ingin membebani sang mama. Sebab ia tahu keadaannya sang mama saat ini. Wanita itu pasti cari cara menggunakan bermacam trik demi membelanjakan uangnya agar tidak terdeteksi oleh sang papa.
Walaupun memang uang sebanyak adalah hal yang tidak seberapa bagi sang mama. Ia juga tidak ingin terlihat mencolok di kampung ini. Mereka semua, terutama keluarga Zahra hanya mengenalnya sebagai ojek online yang sering wara-wiri di sana.
Rombongan ini pun di sambut dengan ramah oleh para tetangga dekat dan keluarga ayah Umar serta Maryam. Meskipun keluarga yang Zara undang-undang memang tidak banyak. Karena pernikahan mereka ini tertutup.
Mereka semua menyambut di halaman depan.
__ADS_1
Para ibu-ibu dengan sigap menyambut barang bawaan. Mata mereka nampak berbinar bahkan ada yang terbelalak. Tatkala barang bawaannya itu tak habis-habis.
Akhirnya kedua sosok manusia ini saling bertemu dan tatap muka. Tak lama kemudian, ijab dan qobul Ghazali ucapkan dengan lantang seraya mengenggam tangan Umar.
Sebuah mas kawin atau mahar berupa seperangkat perhiasan emas yang Ghazali beli dari uang hasil perolehan tambaknya. Sementara yang tunai sebesar dua puluh juta telah Ghazali berikan tiga malam sebelumnya. Uang itulah yang kedua orang tua Zahra gunakan untuk membuat walimatul ursy sederhana ini.
Umar sengaja menyerahkan pada penghulu, karena ia tak mampu melakukannya. Seluruh tubuh bahkan suaranya ikut bergetar. Akhirnya, Umar memilih menyaksikan saja dari sebelah pak penghulu.
Kazenia begitu bahagia ketika melihat, Zahra menantunya. Apalagi terhadap keluarga besar yang begitu hangat dan kompak satu sama lain.
Rumah yang kecil dan sederhana ini ternyata dapat membuatnya nyaman dan betah. Di banding rumahnya yang megah dan mewah.
Namun auranya dingin dan senyap.
*Zahra, Kamu cantik sekali sayang.
juga solehah.
amal apa yang Ghazali punya sehingga bisa mendapatkan kamu.
Padahal aku dan juga suamiku memiliki dosa yang sangat banyak.
Akan tetapi Allah masih saja baik, dengan menghadirkanmu sebagai penyejuk hati Putra kami satu-satunya*.
Kazenia terlihat mengusap pucuk kepala Zahra yang terbalut pasmina lebar berwarna putih. Ia memeluk kemudian terisak hebat di hadapan menantu yang kelopak matanya juga sudah tak mampu menampung genangan kristal bening.
Kazenia dengan suara lembut berbisik kepadaz Zahra yang kini berada di dalam pelukannya.
"Terima kasih,sayang. Tolong bimbing dan bantu kami, agar dapat kembali ke jalan Allah ya, Nak!"
...Bersambung....
__ADS_1