Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 47. Mengajak Zahra Ketemu Mama dan Ilen.


__ADS_3

"Tidak perlu mengalahkan yang terkuat untuk menjadi hebat dan di takuti. Cukup kalahkan napsumu sendiri, maka kau takkan memiliki musuh yang akan menyerangmu." Ghazali mengangguk dalam. Sore ini Zahra mengijinkannya mampir. Karena memang sang ayah ingin bertemu dengan Ghazali.


Semenjak, kejadian di cafe Roger Oxxon. Ghazali memaksa agar Zahra mau ia kawal setiap berangkat dan pulang kerja. Apalagi, tempo hari Zahra sempat hampir terserempet oleh pengendara bermotor. Ghazali yakin jika kejadian itu di sengaja. Ayah Umar setuju, asalkan mereka bisa menjaga diri. Sebenernya ada yang pria itu tahan di hatinya.


"Iya, Pak. Saya akan selalu ingat pesannya," sahut Ghazali.


"Saya juga mau minta ijin. Mengajak Zahra makan malam. Bersama mama dan juga adik perempuan saya," terang Ghazali. Sekalian saja ia meminta ijin langsung pada umar. Agar Zahra tidak sekedar janji terus padanya. Sementara, mama terus menagih janji itu.


"Boleh. Setelah itu, ajaklah kesini. Biar nanti istri saya buat baso aci yang banyak. Kita makan sama-sama," ajak Umar. Ia berharap ini merupakan awal kemajuan dari hubungan tidak jelas keduanya.


Ucapan dari ayah Umar membuat Ghazali ingin bersorak. Ia gembira sekali. Bagaimana pun Zahra pasti akan mengikuti apa kata ayahnya. Pria berambut ikal dengan senyum manisnya itu, nampak berbinar kala Zahra keluar mengantar minum untuk keduanya.


"Kak, tunggu sebentar. Ayah mau tanya sesuatu." Umar menahan Zahra yang hendak masuk kembali.


"Ayah mau nanya apa?" Hati Zahra dag-dig-dug. Ia berpikir apakah Ghazali membicarakan rencana serta keinginannya pada ayah. Sementara ia belum menemukan jawaban pasti dari doa yang ia panjatkan selama beberapa hari ini.


Sebenarnya, hanya logika Zahra yang tengah menolak. Sementara hatinya merasa nyaman dengan hubungan mereka selama ini. Semua karena asal-usul Ghazali yang masih abu-abu. Sehingga, gadis itu ragu.


"Kapan, mau ketemu sama mama dan adik dari, Nak Ghazali ini? Nanti suruh mampir kesini sekalian. Biar ayah dan bunda buat baso aci yang banyak," tanya Umar memastikan.


"Besok juga bisa sih, Yah. Kan Zahra libur. Biar nanti Zahra bantuin buat acinya ya," ucapnya pada Umar, tapi matanya melirik kearah Ghazali. Membuat driver ojol yang mempunyai usaha tambak ini mengangguk mengerti.


Tak lama kemudian, Zahra pamit kembali untuk masuk ke dalam. Ia meletakkan nampan di rak piring, lalu masuk kedalam kamar. Memikirkan apa yang akan ia lakukan di hadapan keluarga Ghazali. Siapa mereka? Karena perasaannya mengatakan ada sesuatu yang sedang pria itu sembunyikan.

__ADS_1


"Dari namanya aja gak ketara kalau mereka itu orang susah. Ghazali juga, semakin diperhatikan maka semakin jelas. Bahwa identitas yang melekat pada dirinya saat ini bukanlah yang sesungguhnya." Zahra nampak bergumam sambil memeluk guling di atas pangkuannya.


Keesokan harinya.


Ghazali, yang mana semalam kebetulan telah dihubungi oleh Shireen. Ia langsung mengatakan jika Zahra telah bersedia bertemu. Adik perempuannya itu menghubunginya dengan meminjam ponsel dari tukang nasi goreng.


Ghazali terkekeh geli karena sang adik ternyata cerdik juga.


Pagi menuju siang ini, Ghazali berencana akan menjemput Zahra lebih dulu di rumahnya. Sambil menunggu di teras. Ia melihat beberapa pesan dari Shireen yang belum sempat terbaca.


Rupanya, adik dan juga sang Mama akan sedikit terlambat. Karena mereka harus kembali mengelabui para pekerja di rumah. Ternyata pak Sapto tidak di berhentikan melainkan pindah tugas menjadi supir kantor. Dia yang akan membawa Arkhan kemana pun.


Kejadian lagi tadi sebelum Arkhan berangkat ke kantornya.


"Ku perhatikan. Kau nampak semakin sibuk akhir-akhir ini? Apa yang sebenarnya kau lakukan? Bukankah teman-teman sosialitamu itu sedang ke Dubai," tanya Arkhan mengulik keseharian Kazenia yang menurutnya aneh. Karena istrinya itu sibuk sekali. Tak lagi protes jika dirinya hendak keluar kota maupun lembur.


Arkhan yang mengira Kazenia telah kembali dan tak marah lagi, nampak menghampiri. Ia meraih kepala Kazenia dan mengecupnya sekilas. "Baguslah. Kau jadi tidak akan protes terus jika suamimu ini sibuk," ucap Arkhan, setelahnya pria itu sudah tidak ada di dalam kamar.


Kazenia menghela napasnya." Maaf, jika aku membohongimu. Kau yang memulainya terlebih dulu. Kau yang tidak terbuka saat ini. Maaf, jika nanti aku lebih memilih putramu," gumam Kazenia seraya mengusap air yang menggenang di sudut matanya.


Mereka telah sampai di lokasi pertemuan Ghazali memarkirkan kendaraan bermotornya di parkiran khusus, yang terletak di samping pusat perbelanjaan. Mereka temu janji di sebuah rumah makan khas Sunda. Karena memang, Kazenia berdarah Pasundan.


Lelaki tegap berjaket hijau khas tukang ojek beraplikasi itu. Terus berjalan semakin masuk ke dalam area rumah makan yang luas sambil terus menatap gawainya.Terlihat ia meletakkan layar enam inchi itu di indera pendengarannya.

__ADS_1


Ghazali terus dipandu oleh sang adik lewat telepon seluler. Hingga ia dan Zahra masuk semakin dalam ke area rumah makan yang sekaligus tempat wisata itu.


Shireen menggiring mereka ke bagian paling belakang area rumah makan wisata ini. Agar mereka bisa leluasa berbicara nantinya. Tentu saja sambil menikmati ikan gurame bakar serta rujak kangkung.


Kenapa sampai seperti ini, sang mama mengecoh mereka. Orang-orang yang kemungkinan besar mengintai kegiatan mereka. Atau mungkin juga suruhan dari Arkan. Pria yang berstatus papanya.


Hingga, sang mama. Wanita yang sudah menampungnya selama berbulan-bulan di perutnya. Berjuang dengan nyawa yang jadi taruhan pada saat menghadirkan ia ke dunia.


Rela mengambil jalur yang sulit seperti ini hanya untuk menemuinya. Mengenal wanita yang Ghazali harap dapat menjadi pelabuhannya hingga akhir masa.


Ghazali paham bahwa mamanya adalah ratu sosialita. Sepanjang hidupnya wanita itu tidak pernah menginjakkan sepatu mahalnya ke tanah berumput. Sekali lagi, pintu surganya itu berkorban untuknya.


Shireen ternyata telah, memboking satu paviliun yang untuk mereka berempat nanti. Ia juga telah memesan makanan pribumi. Kazenia melihat sekeliling rumah makan ini yang ramai oleh pengunjung. Ia memiliki ide untuk membuat tempat nyaman seperti ini di restorannya nanti.


"Ra, itu mereka di sana!" tunjuk Ghazali ke sebuah paviliun paling ujung. Namun begitu, Kazenia dan Shireen belum menyadari kehadirannya. Karena ia datang dari arah belakang.


"Kenapa?" tanya Ghazali penuh selidik. Ketika ia memperhatikan wajah Zahra yang menunduk risau.


"Eh, aku cuma--"


"Santai aja. Mereka udah gak sabar ketemu kamu. Mereka juga pasti tegang," jelas Ghazali. Berusaha mengembalikan kepercayaan diri Zahra. Padahal apa yang ia ucapkan benar. Sekarang ini, Shireen bahkan menolehkan kepalanya ke kanan dan kiri. Mencari keberadaan sang abang dan calon kakak iparnya itu.


Zahra menghela napas dan kembali melanjutkan langkah kakinya. Mengekor di belakang sang driver ojol. Dimana Ghazali masih setia mengenakan atributnya.

__ADS_1


"Itu sepertinya mereka, Ma!" pekik Shireen nampak kegirangan.


...Bersambung ...


__ADS_2