Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 25. Kenapa Wajahmu Merah, Zahra?


__ADS_3

Saka kembali menghubungi para bawahan yang ia perintahkan untuk terus mencecar para driver yang mangkal di sekitar lokasi penjambretan kala itu. Tapi, kebanyakan dari mereka mengaku tak kenal dengan Ghazali. Meskipun, para pencari informasi itu telah mengeluarkan uang agar mereka mau membuka mulut.


Namun, tetap saja mereka bungkam dan menggeleng. Mustahil jika tidak ada satupun yang mengenal Ghazali. Bukankah sang driver memang mangkal dari daerah situ. Sayang ia tak memiliki foto maupun plat kendaraan.


Sehingga hal itu semakin mempersulitnya dirinya. Satu-satunya jalan adalah menekan langsung perusahaan dimana Ghazali bernaung. Meski mereka juga sempat menutupi identitas. Namun, dengan sedikit tekanan dan ancaman dari nama besar bos, yang kebetulan adalah ayah dari Rasti, majikanya. Karena itulah Saka berhasil mendapatkan sebuah identitas lengkap tentang Ghazali. Berikut tempat tinggalnya.p


Pria berambut di kuncir bak Steven Seagal ini pun, memasang seringai bangga pada dirinya. Bahwa, ia bisa menelan perusahaan yang memiliki otoritas dalam melindungi biodata para karyawannya. Ternyata kekuasaan dari tuan besar masih luar biasa. Pengusaha mana yang tidak mengenal namanya. 'Maaf tuan, saya telah menggunakan nama besar anda tanpa ijin. Ini semua karena putri kesayangan anda.' batin saka, seraya keluar dari ruang IT milik perusahaan jasa tersebut.


Di lain tempat, Zahra menghentikan laju kendaraan umum tersebut dan segera turun. Perasaannya berkecamuk antara senang, kaget dan bingung. Karena ia dapat melihat Ghazali dalam keadaan sehat dan agak rapih. Namun, aneh karena pria itu berjalan kaki dan tiba-tiba memuat drama membahayakan seperti tadi.


Setelah membayar ongkos angkot, Zahra kembali berjalan dan membiarkan Ghazali berjalan di sisinya. Ia masih bingung ingin memulai bicara apa. Hatinya berdegup kencang sejak pria itu masuk ke dalam angkot dan duduk di sebelahnya. Ingin menyapa dengan senyum sumringah tapi, ekspresi dan sikap mengkhianati keinginan dalam hatinya itu.


"Udah boleh ngomong kalo ya. Kita udah jauh dari ibu-ibu yang tadi." Mendengar ucapan dari pria berwajah manis menggemaskan, yang kenyataannya berjalan disebelahnya. Sontak, Zahra tertawa terpingkal-pingkal.


Ghazali spontan menghentikan langkahnya dan melongo menatap ekspresi dari Zahra yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Zahra yang seketika sadar langsung membekap mulutnya. Namun, Ghazali sudah terlanjur terpana dan terpesona. Sebelum ia akhirnya juga sadar dan mengalihkan tatapannya. Atau, keburu setan-setan itu menguasainya hati serta pikirannya.


"Maaf. Bang Ghazali lucu jadi aku spontan aja ketawa. Astagfirullah." Zahra terlihat menyesal karena telah mengeluarkan pesonanya secara tanpa ia sadari. Ia hanya bersikap refleks saja tadi. Baru kali ini ia bisa tertawa lepas apalagi di depan laki-laki. Setidaknya hal tadi mengurangi efek gemetaran karena kejadian yang belum lama berlaku padanya.


"Gapapa kok. Asal jangan lakukan itu di depan laki-laki lain ya."


"Eh, kenapa memangnya?" tanya Zahra menelisik apa maksud dari larangan Ghazali. Meskipun tanpa di larang pun takkan ia lakukan lagi. Tadi juga kelepasan.


Karena tawamu mampu menggetarkan hati sanubari dan membangkitkan gelora untuk memilikimu, Zahra. Itu akan sangat berbahaya jika banyak pria yang terpesona padamu. Mereka tidak akan melepaskanmu. Sama sepertiku. Tidak bisa melepaskan sedikit pun bayangan dirimu.

__ADS_1


"Ekhem! Mereka tidak akan kuat menahan dirinya. Untuk tidak berusaha memiliki tawa dan bahagiamu itu." Perkataan ambigu Ghazali ternyata semakin membuat kening Zahra berkerut. Ia bingung Ghazali bicara apa.


"Maksudnya apa sih?" Zahra kembali melanjutkan langkahnya, tapi sengaja ia ia tak membelokkan kakinya masuk ke dalam gang. Karena dia belum tau apa maksud dari Ghazali mengikutinya.


"Cukup aku saja yang tau. Pokoknya jangan lakukan itu lagi. Mengerti!" Zahra semakin memicing heran, kenapa pria ini memberi perintah begitu padanya. Memangnya siapa dia? Punya hak apa dia memerintah dirinya. Begitulah yang ada di pikiran Zahra saat ini.


Pria aneh.


"Loh, kok kamu ngelewatin gang rumah mu, Ra? Kita mau kemana ini?" heran Ghazali. Karena ia baru sadar kalau Zahra lurus tak pernah berbelok.


"Eh, kita? Aku aja kali, lah kamu ngapain ikut?" cecar Zahra menatap Ghazali tajam. Kini keduanya telah duduk di kursi penjual es kelapa muda. Segar sekali jika disiang hari mengkonsumsi minuman alami ini. Apalagi gilanya dari tebu asli.


Ghazali menelan ludahnya kasar tatkala melihat serutan dari alpukat dan irisan buah nangka di campur ke dalam es kelapa mereka. Tanpa mereka memesan pun tukan jualannya sudah tau mereka butuh kesegaran.


Zahra masih menunggu jawaban dari pria manis di hadapannya yang nampak lebih bersih dan segar. Terlihat dari wajah Ghazali.


Zahra memukul bibirnya sendiri pelan, tapi hal itu ternyata di lihat oleh Ghazali. Ia meringis kecil ketika menyaksikan Zahra memukul bibirnya. Ingin komentar takut jika Zahra tau kalau dia terus memperhatikannya sejak tadi.


"Sebenarnya aku gak sengaja dan gak niat mengikuti kamu. Hanya saja, tadi gak sengaja liat kamu lagi nunggu angkot, aku jadi pengen nyamperin," jawab Ghazali jujur.


"Emang darimana tadi? Naik apaan?" cecar Zahra sambil menyeruput minuman segar yang bagus untuk mengembalikan kesegaran tubuhnya dan juga semangat. Ia membutuhkan ini setelah dalam keadaan tertekan tadi.


"Cek up, kerumah sakit tempo hari. Naik taksi online," sahutnya menutupi kejadian yang sebenarnya. Mana Ghazali baru ingat jika ponselnya tertinggal di mobil mewah sang mama.

__ADS_1


"Tumben gak bawa motor? Apa masih belum sehat benar? Kalau gitu, kenapa perginya sendirian?" cecar Zahra yang entah kenapa ia nampak sekali peduli pada Ghazali.


Kok aku seneng ya. Melihat Zahra nampak khawatir gitu. Abang terharu, dek. Helehh, gayamu Al! Ngaku-ngaku!' Ghazali tersenyum simpul menyembunyikan rona bahagia dan perasaan penuh bunga-bunga mekar di dalam hatinya.


"Kebetulan, si Komet lagi di bengkel dulu. Ngiri dia Ama aku. Katanya mau sakit juga." Ghazali terkekeh sendiri dengan dalih yang ia lontarkan padahal semua itu hasil karangannya saja.


"Ada-ada aja, soulmate itu artinya." Zahra pun ikut tertawa.


"Kamu benar. Cuma dia satu-satunya, sobat aku. Sebelum aku bertemu dengan pendamping hati yang sesungguhnya," ucap Ghazali ambigu.


"Gak usah dicari, Bang. Nanti juga muncul sendiri. Sekarang fokus aja dulu, sama kesehatan, mimpi dan cita-cita. Allah itu, nyiptain mahluknya berpasangan. Gak Nemu di dunia gapapa gak usah sedih. Nanti juga di kasih kok, meksipun di akhirat."


"Jadi, karena ini kamu tenang. Tidak memikirkan akan ada pendamping hidup atau tidak?" tanya Ghazali menelisik.


"Iya, tentu aja. Aku hanya fokus mengejar apa yang membuat keluargaku bahagia, Bang. Saat ini, urusan pasangan dan cinta itu soal ke sekian. Nampaknya malah belum ada dalam daftar list pencapaian yang ingin aku gapai tahun ini. Tapi, sekali lagi kita tetap harus ingat. Manusia boleh berencana, tetaplah Allah yang berkah menentukan akhirnya. Jadi, tetaplah susun rencanaku seapik mungkin. Tapi juga, persiapkan hatimu menerima segala ketentuan daripada-NYA suatu saat nanti," tutur Zahra membuat Ghazali terdiam, terpaku.


Kau semakin mengagumkan. Semakin mengenalmu, semakin aku menyukaimu, Ra.


"Jadi, menurut kamu, apa yang harus aku lakukan saat ini? Diam saja menunggu ketentuan dari-NYA? Atau mengejar sesuai dengan planning yang telah kubuat?" tanya Ghazali, seraya memandang Zahra dengan tatapan serius.


Kenapa ngeliatin aku kayak gitu sih? Emang maksud dia apa? Hei! Kenapa tiba-tiba jantungku berdetak cepat!


Zahra memalingkan wajahnya seraya menstabilkan debaran yang hampir membuatnya kehabisan napas.

__ADS_1


"Kamu kenapa, Ra. Muka kamu kayaknya merah."


...Bersambung ...


__ADS_2