
Seno masih menyimak dan memperhatikan. Ia menangkap beberapa gambar sebagai bahan laporan nanti.
Kazenia ikut sang putri merangkul Zahra. Membuat gadis itu kikuk ketika berjalan masuk kedalam gang menuju rumahnya. Zahra agak risih. Apalagi, pakaian kedua wanita di sampingnya ini agak terbuka. Karena, Kazenia dan Shireen mengenakan dress tanpa lengan.
Ghazali sengaja tidak melarang. Biar kedua wanita ini sadar sendiri nanti.
"Assalamualaikum, Yah, Bun. Ini ada tamu. Mama dan adik dari Bang Ghazali."
Umar dan Maryam pun menyambut tamu mereka dengan gembira. Meksipun mereka berdua sekilas sempat kaget. Tak menyangka jika Ghazali yang mengerti agama, tapi mama dan adiknya sangat awam. Bahkan, mereka tidak pakaian yang sopan jika di kenakan ketika bertamu.
Ghazali menyesal. Seharusnya ia tekankan pada mama dan sang adik. Setidaknya, mereka mengenakan cardigan.
Sehingga, Umar ayah dari Zahra tak perlu menundukkan wajahnya sebegitu rupa. Umar hanya menatap Ghazali maupun Zahra ketika berbicara. Sementara pada Kazenia dan Shireen hanya sekilas saja. Tak lama, ia pun mengundurkan diri. Pergi ke musholla.
"Yok, Bang Al. Kita laki-laki harus ke masjid," ajak Umar yang sudah rapih dengan koko dan kain sarungnya. Begitupun, dengan Adam. Adik dari Zahra satu-satunya.
"Jangan bilang kalau Abang mau mandi dulu baru solat?" sindir Adam. Ia pun mendapat jitakan kecil dari Ghazali.
"Enggak lah! Pinjem sarung aja deh!"
Mereka pun berjalan beriringan menuju musholla. Zahra tersenyum, melihat kedekatan antara sang adik dan pria yang entahlah, apa memang dia jodohnya. Zahra masih tak yakin. Apalagi setelah bertemu Kazenia dan Shireen. Zahra semakin yakin jika Ghazali bukan berasal dari keluarga biasa.
Zahra menawarkan. "Mama dan Ilen kalau mau sholat. Di kamar Zahra saja."
Tawarannya itu pun hanya diangguki dengan senyum malu-malu oleh Kazenia dan Shireen juga.
"Kakak aja duluan. Perut ilen masih begah," kilah gadis remaja ini.
"Ya udah, nanti Zahra balik lagi." Zahra pun berlalu setelah menutup pintu depan.
"Len, gimana ini? Mama udah lama banget gak solat," bisik Kazenia.
"Ih, Mama parah banget. Masih mending Ilen dong," sahut putrinya itu seraya berbisik juga.
__ADS_1
"Jadi, kamu pernah solat?"
"Pernah, pas idul Fitri dan idul adha," jawabnya polos.
"Dih, itu juga Mama iya. Maksudnya yang lima waktu sehari. Bukan yang setahun sekali," gemas Kazenia.
"Ya udah, Kuta bilang aja lagi haid. Selesai kan," celetuk Shireen lagi.
"Bohong, dong. Dosa tau," ucap Kazenia lagi pelan.
Kesibukan keduanya yang berbisik-bisik tak luput dari perhatian Maryam. Ia pun mendekati keduanya dengan seulas senyum manis.
"Tak ada waktu terlambat untuk memulai kebaikan. Yuk, Mbak bisa solat di kamar saya. Nanti, Shireen di kamar Zahra." Mendengar ajakan dari Maryam. Shireen maupun Kazenia tak mungkin menolak lagi.
Ketika di dalam kamar mandi pun. Kedua ibu dan anak ini sempat berdebat tentang bagaimana tata cara wudhu yang baik dan benar. Alhasil, Shireen membuka aplikasi merah di ponselnya.
"Yah, Ma! Ponsel Ilen nyebur ke kolam!" pekik Shireen seraya segera membekap mulutnya.
"Ya udah ambil cepetan!"
"Baju Mama juga basah gara-gara kamu!"
Tak lama keduanya keluar. Zahra sudah sempat khawatir.
Maryam pun tersenyum melihat pakaian keduanya yang basah.
"Ayo masuk kamar. Mumpung orang laki belum pulang dari musholla," Maryam mengajak Kazenia kedalam kamarnya.
"Baju, Mbak harus diganti. Tapi saya hanya punya ini." Maryam pun menyerahkan sepotong pakaian yang membuat Kazenia menelan ludahnya.
Begitu pun dengan Shireen. Ia terpaksa menggunakan pakaian ganti yang di sodorkan oleh Zahra. Daripada mengenakan pakaian basah. Bisa-bisa masuk angin nanti dia.
"Ternyata, Pas di badan kamu. Kalau suka ambil aja buat kamu. Kalau enggak, nanti kembalikan aja lagi," ucap Zahra sebelum akhirnya ia keluar kamar. Menuju ke dapur untuk mencuci perabot bekas makan yang kotor barusan.
__ADS_1
Di kamar yang berbeda. Kazenia dan Shireen terpekur di atas sajadah. Mereka berdiri menghadap kiblat dengan kedua mata yang telah berembun.. Entah apa yang keduanya rasakan saat ini. Satu hal yang pasti, hati seakan memperoleh aliran hangat. Seakan ada yang berkata pada mereka. Akhirnya kalian kembali padaku.
Hingga Kazenia melakukan gerakan serta bacaan salat sesuai ingatannya saja. Walaupun begitu ia merasakan rasa bersalah yang teramat sangat di hatinya. Ia merasa telah menjadi manusia yang menyia-nyiakan waktu. Kemana saja selama ini?
Apa kau tidak malu saat kembali nanti. Kau akan engkau tuhanmu siapa? Mengaku agama apa nanti? Lalu Nabimu siapa?
Hingga Kazenia menyentuh ujung sajadah dengan keningnya. Dan ia lama ketika melakukan sujud. Terlihat bahunya bergetar hebat. Pertama kalinya solat, tapi bukan di rumahnya. Bukan di kamarnya. Melainkan di sebuah rumah sederhana yang dihuni oleh orang-orang berkepribadian hangat dan ramah. Bagaimana seorang Kazenia tidak menangis.
Begitupun Shireen. Sepersekian menit dia hanya terpaku Di atas sajadah tak tahu harus melakukan apa. Hingga ia kembali mengingat kejadian terakhir kali Ia melakukan ibadah ini. Tentu saja lama sekali telah terlewati. Hingga pada akhirnya, Shireen mengikuti panduan melalui ponselnya.
Selesai salam. Gadis itu menangis sejadi-jadinya. Zahra yang mengintip mengusap air matanya. Ia membiarkan saja, hingga Shireen puas berbicara pada sang khalik.
Ghazali di depan terlihat mandi keringat. Ternyata ayah Umar baru saja menegaskan sesuatu padanya.
"Benar kata, Ayah. Segera halalkan. Karena tak baik jika kalian sering jalan berdua. Meskipun, niatnya hanya pulang dan pergi kerja. Kita gak dapat memprediksi apakah iman kita akan berada di titik aman selamanya." Kali ini, Maryam ikut menegaskan. Apalagi, mereka telah saling mengenal keluarga satu sama lain.
"Tapi, ada satu hal lagi yang ingin Ghazali katakan. Bahwa papa--"
Ghazali pun menjelaskan. Ia sesekali menoleh ke arah Zahra demi melihat raut dari gadisnya itu. Namun, Zahra hanya menunduk. Tanpa sepengetahuannya. Zahra telah menjatuhkan kristal bening itu ke atas pangkuannya.
Kenapa dia menangis? Apa Zahra akan menolak setelah mengetahui ceritaku yang sesungguhnya? Ah, bagaimana ini ya Allah. Berikan lah ketetapan yang baik untukku.
Ghazali membuka kedua belah telapak tangannya yang berada di atas lutut. Sekejap ia memejamkan mata untuk mengucapkan aamiin.
"Semua Ayah serahkan pada Zahra. Karena proses kalian ini seperti ta'aruf. Meskipun tidak resmi menggunakan aturan itu. Karena, kalian sudah bertemu dan kenal sebelumnya."
"Bagaimana, Kak. Selagi ada keluarga dari Bang Al. Katakan apa yang ada di dalam hatimu. Tegaslah pada apapun keputusanmu." Kali ini Maryam yang mendorong kejujuran dari putrinya itu. Ia juga tidak bermaksud, menggantung nasib Ghazali.
Zahra menyusut air matanya, dengan cepat. Ia mendongak kala melihat Shireen dan juga Kazenia berada dihadapannya.
"Nak Zahra. Mama mohon. Jangan menolak Ghazali karena Mama maupun masa lalunya. Pandang saja sosoknya. Sosok Ghazali yang sesungguhnya. Mama janji, akan berusaha membujuk suami. Atau, cukuplah dengan restu dari Mama saja." Kazenia terlihat memohon dengan kedua mata yang berkaca-kaca.
"Insyaallah. Zahra akan lanjut menjalin hubungan selanjutnya. Jika Abang ingin mengkhitbah Zahra sekarang. Tentu ini waktu yang tepat." Zahra menatap Ghazali penuh keyakinan. Membuat Ghazali berkata lantang dan yakin.
__ADS_1
Ayah, saya ingin mengkhitbah Zahra untuk menjadikannya istri saya." Ghazali berucap yakin, meskipun tatapannya pada Umar sangat tegang.
...Bersambung ...