Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 45. Terpesona Pada Pandangan Pertama.


__ADS_3

Salah ngomong nih kayaknya. Keliatan mukanya langsung horor gitu , nih cewek.


Zaki berdehem untuk menghilangkan rasa canggungnya. Dia memang adalah laki-laki yang tidak pandai berkata-kata kepada wanita. Karena itulah mungkin di usianya yang sudah kepala tiga ini ia belum memiliki pasangan. Sebenernya, Zaki adalah pria yang harmonis dan senang berguyon.


Namun dirinya seringkali salah menempatkan waktu dan posisi. Karena tidak semua wanita suka bercanda. Apalagi jika momennya tidak tepat waktu.


"Maaf ya, Mbak. Saya udah salah ngomong," ucap Zaki penuh sesal. Ia tak mau ada orang yang tersinggung akan kata-katanya. Karenanya ia lebih baik meminta maaf terlebih dulu.


"Iya, Bang. Gapapa. Saya, cuma mau nyari temen saya. Katanya mau liat temennya panen lobster. Tapi saya gak tau tempatnya dimana dan ponsel saya gak dapet sinyal. Jadi gak bisa hubungin dia. Makanya saya bingung ini harus kearah mana? Luas banget sih tempatnya," jelas Reva tanpa titik koma, bahkan dalam satu tarikan napas saja.


Tentu saja hal itu membuat Zaki melongo. Baru kali ini ia melihat dengan mata kepalanya sendiri seorang gadis berbicara dengan sangat cepat bagaikan kereta api express.


"Hei Bang! Denger gak sih?" Reva melambaikan tangannya di depan wajah Zaki membuat pria itu tiba-tiba terkesiap kaget.


"Astagfirullah. Iya Mbak. Saya tau. Karena ini memang tambak kami. Mari saya antar!" ajak Zaki. Namun, Reva nampaknya masih kaget dengan penjelasan pria sederhana di hadapannya ini.


Bagaimana tidak jika saat ini Zaki hanya mengenakan kaos oblong dan juga celana panjang yang digulung sebatas lutut. Terlihat, begitu kucel dan kumal. Belum lagi topi lebar penuh noda yang menutupi kepala Zaki dari panas matahari.


Apa! Dia salah atau pemilik tambak di sini? Aduh malu deh gue. Mana udah jutek banget. Siapa tau, dia ini salah satu kawannya bang Ghazali.


Reva menghela napas sebelum ia menyunggingkan senyum tak enak hati pada pria yang lusuh di hadapannya ini.


"Bro! Ada yang nyariin harim ente nih!" Zaki datang menepuk bahu Ghazali. Membuat ia dan juga Zahra menoleh serempak. Karena kuping Zahra itu memang bagaikan telinga kelinci. Ia dengar saja apa yang Zaki bisikkan pada Ghazali. Sekali lagi, Zaki tersenyum kikuk. Ia takut jika Zahra salah paham padanya.


"Rev!" panggil Zahra seraya melambaikan tangan agar sahabatnya itu segera mendekat ke arahnya. Benar saja, Reva yang malu berjalan sambil menunduk kala melewati Zaki dan Ghazali.


"Kemana aja sih lu kok lama banget? Gak enak banget tau nggak gue sendirian perempuan di sini. Lu buang air kecil di kali apa di kamar mandi?" cecar Zahra campur mengomel. Karena Reva meninggalkan hampir setengah jam lebih.


"Ya Allah, lemes amat dah tuh mulut. Tau gak sih kalau sahabat lo yang cantiknya paripurna ini tuh nyasar!" tukas, Reva tegas. Karena dirinya tidak mau disalahkan begitu saja oleh Zahra.

__ADS_1


Reva sontak, dia ketika dirinya mendapatkan tatapan tajam dari Zahra.


Akhirnya, mereka berdua pun menghabiskan waktu membantu Ghazali dan dua kawannya panen lobster, rajungan juga udang hingga hari menjelang sore.


Mereka berdua hanya mendapat bagian bagian pengemasan saja. Tentunya di ajari lebih dulu oleh Zaki. Karena yang turun ke tambak hanya Ghazali dan satu kawannya lagi yang bernama Imron. Tentunya mereka menggunakan tenaga tambahan dari beberapa anak muda yang menganggur di sekitar kampung itu.


"Alhamdulillah. Sebelum Maghrib, barang udah diambil oleh pemesan. Kita memang sengaja tidak menyediakan jasa pengantaran. Karena, biar para klien dan relasi bisnis kita mengetahui bagaimana keadaan tambak di sini," jelas Zaki.


Ternyata dia adalah leadernya. Ya ampun. Gue udah menilai. Gak seharusnya melihat orang itu dari penampilan. Kirain kacung ternyata bos.


Reva berdecak kagum dalam hati. Menyesali perkiraannya tadi. Karena ia sudah sempat ilfeel dengan Zaki saat pertemuan pertama mereka. Padahal, ketika di perhatikan pria dewasa ini yang memiliki janggut di dagunya terlihat dewasa dan berkharisma dalam memimpin. Sangat pantas menjadi leader.


"Jaga pandangan woy!"bisik Zahra. Hingga ucapannya yang pelan tapi menyadarkan itu membuat Reva seketika menunduk.


"Sampe gak kedip gitu," bisik Zahra lagi. Membaut Reva semakin salah tingkah karena ulahnya di ketahui oleh orang lain. Meskipun itu adalah temannya sendiri.


"Diem ah! Nanti dia denger aja, gue kan malu," balas Reva berharap itu dapat membungkam keluhan kecil Zahra. Memang temannya ini jahil sekali. Reva berbeda dengan Zahra. Dia tipe wanita yang mudah terpesona dengan ketampanan laki-laki. Melihat pria macho dan menawan maka Reva akan bersorak kegirangan. Ia tipe wanita yang memang ekspresif.


Kazenia terlihat menerawang jauh ke depan. Ia terpikir kenapa begitu pelik takdir mempermainkan mereka. Semua karena dosa dirinya dan juga Arkhan suaminya. Entah bagaimana caranya ia bicara agar Arkhan bangun dan sadar. Apa harus ia tinggalkan lebih dulu baru pria itu mau mendengarkan kata-katanya?


Kazenia terlihat menghela napasnya. Ia berkata pada salah satu anak buahnya di sana. " Rusdi, saya pulang ya. Ada janji sama Shireen mau ke butik. Nanti, kalau barangnya sudah sampai kamu kirim aja laporannya melalui video ke saya," ucap Kazenia.


"Baik, Bu. Kata Ardi tadi jalanan agak macet. Mungkin sampai ke resto habis magrib, Bu," jawab anak buah Kazenia yang bernama Rusdi ini. Sementara, yang bertugas mengambil bahan pokok untuk restoran adalah Ardi. Di mana dia itu termasuk kaki tangan atau orang kepercayaan dari Kazenia.


Baru saja hendak keluar dari restoran. Kazenia mendapati Shireen sudah datang menjemputnya. Putrinya itu datang menggunakan mobil pribadi yang di beli oleh Kazenia dengan uangnya sendiri. Karenanya, kendaraan tersebut tidak terlalu mewah akan tetapi standar.


"Yuk, Ma, kita ke butik sekarang. Katanya, kan Mama mau beli baju buat calon mantu," goda Shireen. Hingga wajah sang mama merona merah. Kazenia merasa bahagia padahal baru membayangkan saja ia akan memiliki seorang menantu perempuan. Bertemu pun belum.


Seketika, Kazenia terlihat kembali bersemangat.

__ADS_1


Ia pun tersenyum lebar.


"Ya udah yuk, kita cari baju buat calon kakak ipar kamu." Shireen pun bertepuk tangan. Gadis belia ini juga sangat senang. Karena sebentar lagi akan mempunyai kakak ipar perempuan.


kebahagiaan Shireen terlihat dari pancaran matanya yang berbinar. Aku pasti nanti bisa punya temen curhat. Kalau Abang punya istri. Hihii ... Aku punya kakak perempuan.


Kazenia terkikik sendirian dalam hati.


"Tapi, kita isi perut dulu ya! Ilen laper, Ma!" pinta Shireen sambil memegangi perutnya.


"Ih, kamu tuh ya, bikin semangat Mama buyar dan ambyar!" gemas Kazenia sambil memukul kecil tangan anak gadisnya itu.


"Ya, Ma. Kan Ilen belum makan dari siang. Gara-gara kejar-kejaran sama tugas kampus dan bimbel," sungut Shireen. Membuat Kazenia menatap putrinya itu dengan penuh iba.


"Kamu berhenti aja deh ngajarnya. Fokus kulihat aja dulu. Biar gak terlalu capek," saran Kazenia.


"Gak bisa gitu, Ma. Ilen di butuhkan disana." Kazenia tak bisa berkata-kata lagi. Karena niat sang putri memang baik.


"Ya udah. Lain kali jangan sampai telat makan lagi!"


Shireen hanya bisa mengangguk sambil menikmati menu yang sudah ia pesan.


Kembali ke tambak.


Ardi sudah sampai dengan sopir yang mengendarai mobil pick up.


"Mari mbak, biar saya aja!" ujar Ardi mengambil alih tumpukkan kemasan lobster dari tangan Reva. Kemudian ia memasukkan ke kotak penyimpanan dan mengangkutnya.


"Terpesona lagi!"

__ADS_1


Zahra mendengus sambil melewati Reva. Karena sahabatnya itu sampai terpaku ketika melihat sosok Ardi.


...Bersambung ...


__ADS_2