
Ia pun lantas mundur, karena takut jika Ghazali mendengar dentuman keras pada jantungnya. Semua di akibatkan posisi yang terlalu dekat ini.
"Maaf, kamu jadi liat muka jelek aku," jawab Ghazali melantur.
"Ck, lagi sakit juga masih aja mikirin tampang! Lagian emangnya kamu tadinya cakep!" omel Zahra pelan.Tapi masih bisa di dengar oleh pemuda di hadapannya.
Ghazali menanggapinya dengan kekehan kecil, ia beringsut pelan berusaha merubah posisinya, sambil meringis memegangi perutnya. 'Cuma kamu yang bisa bikin aku seneng di saat kayak gini, Ra.'
Zahra yang tak tega akhirnya memajukan dirinya lagi untuk mendekati posisi ranjang. Ia ragu, takut bersentuhan dengan lawan jenis tapi kasihan.
Ah, di lema yang berat.
'Ck, ini yang manggil dokternya mana coba!'
"Sini aku bantu. Maaf!" ujar Zahra sambil menumpuk bantal dan memegang bahu serta lengan Ghazali. Ia menahan dengan sedikit tenaga karena pria itu nampak lemas setelah kesakitan tadi.
"Aku ang minta maaf, Ra. Sudah merepotkan kamu. Padahal aku ini bukan siapa-siapa kamu." Ghazali tak lepas menatap Zahra di hadapannya.
Jangan tanyakan bagaimana kondisi jantung kedua orang ini sekarang. Mungkin seperti bedug yang di tabuh ketika malam takbiran, bertalu-talu dan bersahutan. Apalagi ketika kedua mata keduanya bersitatap.
Setelah sadar Zahra memundurkan tubuhnya, kemudian berbalik, dan sengaja membelakangi posisi Ghazali. Gadis ini berusaha mengambil oksigen sebanyak-banyaknya, karena sesaat tadi ia menahan napas demi tak mencium aroma maskulin dari pemuda di atas brangkar itu.
Sedangkan Ghazali saat ini sedang memegangi dadanya sendiri. 'Hah. Niatnya mau pura-pura sakit perut tapi, malah sakit beneran. Di tambah bisa-bisa sakit jantung juga ini.'
"Apa Abang udah baikan? " tanya Zahra.
Ternyata ia sudah berbalik dan bingung karena melihat sang pasien yang tersenyum sambil memegangi dadanya.
Ghazali pun gelagapan, karena kepergok lagi mikir yang iya-iya.
" I–iya. Agak mendingan. Maaf ya jadi ngerepotin?" ucapnya sambil mengusap tengkuk.
Malu?
Iyalah malu.
"Temen Abang gak balik-balik sedari tadi. Jadi, biar aku aja yang manggil dokternya. Sekalian nanti aku mau pamit," ucap Zahra.
Dengan berat hati Ghazali merelakan kepergian Zahra. Baru saja ia merasa ada yang menghawatirkan keadaannya. Tapi, wanita itu harus pergi meninggalkannya. Karena Ghazali tak memiliki hak untuk menahan.
__ADS_1
Sudah takdirnya selalu di tinggal sendirian, kesepian, kesakitan.
POV Ghazali.
Apa kau percaya akan cinta pada pandangan pertama?
Ya, aku percaya. Karena cinta butuh visual sebelum ia beralih menjadi debaran. Selanjutnya serahkan pada hati dan logika.
Aku yang baru saja terbang ke awang-awang, sekejap terasa terhempas ke dalam jurang. Mungkin harapanku terlalu cepat. Kami baru kenal dan baru satu kali bertemu. Namun, pertemuan itu terasa sangat membekas.
Semua sakit dan kecewaku atas takdir ini seakan terhempas sementara waktu, ketika melihat senyum bahkan gaya judesnya.
Akhirnya ku relakan juga Zahra kembali pergi. Entah kapan lagi aku dapat bertemu dengannya.
Mungkin, Yang Kuasa tak suka aku melanggar etika. Bukan begini caranya. Bukankah aku sudah berikrar, dan yakin akan semua ketentuan dari-NYA? Aku sudah berjanji akan menjadi lebih baik apapun rintangannya. Termasuk, menjadi sebatang kara.
Karena bagaimana pun setan lebih kuat segala-galanya. Apalah arti imanku yang masih tipis ini. Hingga berfikir untuk mencuri kesempatan. Sementara aku sudah menulis janji kepada illahi-ku. Bahwa akan menyerahkan hati kepada jodoh pilihannya.
Tinggallah aku si jomblo merana ini terpaku menatap langit-langit kamar perawatan kelas ekonomis. Berharap pandanganku bisa menembus plafon. Tapi sekuat apapun keinginanku, semua hanya harapan semu. Hanya tinggal menunggu ketentuan dari-NYA yang memang baik untukku.
Terdengar suara derap langkah kaki memasuki bilik kamarku. Ku dengar pula suara Jaka yang cempreng mirip pelawak Komeng sedang bercerita pada salah satu petugas medis. Meski kedua mata ini terpejam, akan tetapi telingaku ini masih dapat mendengar apa yang terjadi di sekitar.
Ku paksa kedua mata ini membuka, karena petugas medis masuk dan membuka tirai sehingga menimbulkan suara berisik. Satu pertigaan memeriksa cairan infus apakah sudah habis atau belum, macet atau tidak. Sementara yang satu lagi melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap ku.
"Kata pacarnya tadi, perut, Mas sakit ya? Kalau boleh tau bagian mananya?" tanya perawat itu setelah memeriksa tekanan darahku. Kemudian, ia beralih memeriksa perutku dengan sedikit menekan dan mengetuk. Aku memalingkan wajah, ketika kedua pipi perawat muda itu merona merah.
Mungkin, dia belum pernah memegang perut kotak-kotak. Aku pun jadi semakin risih di buatnya.
"I–iya sedikit, Sus, barusan," jawabku gagap lantaran sedikit gugup. Bagiamana tidak perawat di depanku ini terlihat memandangiku meski sebentar. Dia cukup manis dan segar. Astagfirullah! Aku harus cepat-cepat keluar dari sini. Bisa jadi banyak dosa.
"Baik, nanti kami observasi lagi. Sekalian nunggu hasil lab-nya keluar ya. Tapi ... bukannya sudah baikan setelah di beri obat ya tadi? Karena semuanya normal. Tensi, saturasi oksigen, juga suhu tubuh," jelas perawat tersebut. Masih sesekali mencuri pandang ke arahku. Aku pura-pura saja tidak tau.
"Cuma, keram dan perih di ulu hati," jelas ku jujur.
"Baiklah, mungkin nanti sore akan di observasi lagi sama, dokter. Apa ada keluhan lain?"
Aku menggeleng.
"Kalau tidak ada keluhan lagi kami permisi." Perawat itu pun tersenyum manis kepadaku sebelum ia berlalu dan menutup kembali tirai dalam bilik.
__ADS_1
Aku meraih botol air mineral di atas nakas kecil samping hospital bed. Aku langsung menenggaknya, hingga separuh. Kemudian aku menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Penyakit maag akut yang sudah lama diidap oleh tubuh, kini tiba-tiba saja kambuh lagi. Mungkin karena waktu istirahatku yang kacau dan pola makan yang asal-asalan, menjadi salah satu pemicunya.
Aku berharap Zahra yang masuk ke bilik tapi ternyata Jaka. Aku pun mendengus, membuat Jaka mengernyitkan kening. Ia duduk di kursi dan entah mengunyah apa. Aku bersyukur masih ada orang lain yang perduli.
Aku kembali memejamkan mata. Mengingat wajah gadis muslimah yang sejak pertemuan itu, selalu ada disetiap untaian doaku. Bayangannya selalu ada di ujung harapan.
Entah kenapa, pertemuan pertama itu begitu membekas di ruang terdalam jiwa ini.
Seakan mengisi ruang hampa yang sekian lama kosong tak terisi.
Tanpa kusadari ujung bibir ini sedari tadi sudah tertarik ke samping, mencipta lengkungan tipis, gambaran akan isi hati dan juga pikiran.
Kesan yang unik, lucu, namun hangat.
Begitu membekas hingga terkenang.
Mencipta rindu yang entah sejak kapan membuat sarang di pelupuk mata.
Meski ini bukan kali pertama aku mengalami, jatuh hati kepada sosok seorang wanita. Dulu, pernah beberapa kali. Sebelum, aku faham dan mengerti batasan dan aturan dari agama yang ku anut. Karena itu aku menyebutnya zaman kebodohan.
Hanya ada keterpurukan dan kekecewaan dalam diri. Ketika kita berharap lebih pada manusia. Ternyata semua yang terjadi di luar kendali hati. Dia pergi, menjelajah kepada hati yang lain.
Sejak saat itu, aku tak pernah berani untuk berpikir. Bahkan, tak pernah lagi berhasrat untuk kembali jatuh cinta. Bukan takut untuk mengalami luka lagi. Tetapi ... hanya tak ingin mengecewakan hati. Tak ingin pupus harapan untuk yang kedua kali.
Namun, takdir dan ketentuan dari-NYA berkata lain. Kenapa, ketika bertemu dengannya, menatap mata dan meresapi senyum itu. Menelan sikap dingin, ketus dan kesan antipati darinya, justru membuat penasaran.
Kenapa hati ini berbeda?
Kenapa ia mengkhianati perjanjian tak tertulis?
Kenapa ia melemah, hanya karena tatapan dari bola mata lucu dan menggemaskan ketika mendelik sebal itu.
Sekali lagi, aku hanya manusia biasa. Aku tak punya daya dan kuasa untuk mengendalikan hati ini. Hanya dapat berharap dan berlindung padanya. Agar aku tak lagi kembali pada jalan tanpa restu Ilahi.
"Bang!" teguran dari Jaka menyadarkanku dari lamunan.
"Jangan bengong aje. Tar malah masuk RSJ."
__ADS_1
Sialnya, Jaka bergidik dan tertawa setelah mengucapkan hal itu padaku.
...Bersambung...