Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo

Driver Ojek Online Itu Ternyata Ceo
Bab. 9. Berteduh ( Perasaan Mulai Berkembang )


__ADS_3

"Kak, sini gabung! Ngapain, malah senyum-senyum di situ?" panggil, Adam. Tentu saja, panggilan itu membuyarkan lamunan, Zahra.


'Aih, punya adik, rese! Bikin malu aja! Kira-kira, dia liat enggak ya?' batin, Zahra. Ia pun menghampiri semua orang yang tengah berkumpul di ruang tamu.


"Jangan-jangan, Kakak beneran kesambet deh, tadi bengong, terus senyum-senyum sendiri gak jelas," duga Adam sambil bergidik pelan.


" Sembarangan, aja kalo ngomong! "pekik, Zahra tak terima sambil mengetuk pelan jidat sang adik dengan buku jarinya.


"Ish! Punya, Kakak, suka banget kdrt sama, Adeknya, "gerutu, Adam pelan. Namun, masih dapat di dengar oleh semua orang yang sedang duduk lesehan di atas karpet ruang tamu.


Umar sang ayah, terlihat menahan tawa. Sedangkan, Maryam hanya menggelengkan kepalanya pelan, melihat interaksi kakak beradik itu. Sementara, Ghazali yang berada di ujung sana, ternyata sedang memperhatikan, Zahra tanpa kedip.


'Kau, pasti sangat bahagia, lantaran memiliki keluarga yang saling menyayangi seperti ini. Meskipun, keadaan kalian sangatlah sederhana. Akan tetapi, kalian tetap masih memiliki satu sama lain.' batin, Ghazali membandingkan dengan nasibnya sendiri.


"Huh ... Hah!"


"Pedesnya nampol, Kak," ucap, Adam sambil mengusap keringat yang sudah membanjiri pelipisnya.


Padahal, Zahra hanya membuat seblak dari bahan yang ada di rumah. Sementara, Maryam terlihat lebih baik meksipun hanya makan sereal.


Sesaat kemudian adzan magrib berkumandang dari Masjid yang jaraknya tidak jauh dari rumah sederhana Zahra. Hujan telah reda dan genangan air yang tadi cukup tinggi langsung surut. Mungkin karena keadaan tanah yang terlalu kering.


Adam mencolek bahu Ghazali, mengajak teman barunya itu untuk ke masjid. Bahkan, dirinya tidak segan untuk merangkul bahu pemuda itu. Setelah izin mereka berdua pun berjalan beriringan.


'Tumben banget. Biasanya tuh anak susah akrab sama orang baru. Apalagi, Adam itu termasuk introvert selain denganku dan ayah bunda. Apa yang udah pemuda itu buat ke Adam?' batin Zahra mendadak curiga.


Hingga ia menatap tanpa kedip punggung mereka berdua, hingga menghilang di belokan gang. "Kakak ngeliatin siapa sih, magrib lho ini Kak!" seru bunda, seketika membuyarkan isi didalam fikiranku.


"Gapapa kok, Nda. Yuk masuk. Bunda di kamar aja istirahat. Jangan banyak aktifitas dulu. Baru juga mendingan tuh," tukas Zahra seraya merangkul Maryam dan membawa wanita itu ke dalam kamar.


"Bunda udah sehat kok. Lagian bosen di kamar melulu," tolak Maryam setengah merajuk.


"Iya deh, Bunda udah sehat. Alhamdulillah. Obatnya cocok." Zahra tersenyum menanggapi sikap keras kepala sang bunda.


"Iya dong, kan kamu obatnya. Bunda sebenarnya gak perlu berobat. Asal udah liat kamu juga pasti sehat." Sontak kata-kata Maryam barusan menyentuh relung hati Zahra. Ia pun merangkul sang bunda erat.


"Iya, nanti Zahra coba cari kerjaan yang gak jauh dari sini ya. Biar gak usah ngekos lagi. Biar bisa pulang kerumah setiap hari."

__ADS_1


Mendengar ucapan putrinya, Maryam langsung melepas pelukan itu dan menatap Zahra Lamat."Beneran ya? Kamu jangan jauh-jauh lagi dari, Bunda." Zahra pun mengangguk cepat, membuat lengkungan senyum itu tercipta di wajah teduh sang bunda.


Tak lama kemudian.


"Makasih, ya Dam. Udah ngajakin Abang solat. Tapi, mendingan Abang pulang sekarang deh biar gak terlalu malam. Panggil kakakmu gih!" titah Ghazali pada remaja tampan yang beralis tebal itu. Sama seperti Zahra.


"Oke deh, bentar ya. Adam panggilan dulu." Sepeninggal Adam, Ghazali hanya duduk di teras. Ia terlihat sudah mengenakan jaketnya yang lembab. Sementara pakaian kotornya telah ia masukkan ke dalam plastik, dan digantung depan motor.


"Berat banget ninggalin tempat ini, Met. Kapan ya gua bisa Dateng kesini lagi?" gumam Ghazali seraya melihat ke arah pintu. Berharap Zahra nampak untuk mengantarkan kepulangannya.


Tak lama yang diharapkan pun muncul bersama sosok sang bunda.


"Eh, itu gapapa, pulangnya begitu? " tanya Zahra dengan senyum yang tertahan.


Seketika, Ghazali pun menyisir penampilannya dari tengah sampai ke bawah.


"Emang kenapa dengan penampilan saya, Mbak?" tanya Ghazali seraya mengerutkan keningnya.


Zahra terlihat melirik sang bunda sebelum menjawab pertanyaan driver Ojek online ini.


"Ya gak apa-apa kok Bang, jadi kayak santri pulang dari Tabligh Akbar, " jawab, Maryam sambil mesem.


Ghazali kembali mengusap-usap tengkuknya, entah apa yang di rasakan oleh pemuda itu.


Ia pun menelisik sekali lagi penampilannya.


"Ya, mau gimana lagi, Bu. Saya kan gak bawa baju ganti," jawabnya dengan malu yang terlihat jelas dari mimik wajahnya. Sepertinya dia sudah sadar apa yang lain dari penampilannya itu.


Pfftt!


"Eh, maaf, kelepasan!" Zahra seketika membekap mulutnya sendiri saat ia tak sengaja melepas tawanya.


'Woy, otak! Please, jangan travelling kemana-mana kau!'


" Oh, iya Bang, ini ongkos yang tadi, mohon diterima ya, "ucap Zahra. Sambil menyodorkan selembar uang berwarna biru.


" Bukannya saya nolak rezeky, tapi tadi saya gak ngerasa ngojekkin, Mbak," ucapnya tidak menanggapi sodoran uang dari Zahra.

__ADS_1


" Diterima aja, Dek. Putri saya jadi gak enak hati kalo ditolak gitu," bujuk Maryam, membuat Ghazali salah tingkah. Ia bingung jika wanita itu yang telah memintanya.


" Saya ... niatnya hanya menolong, Bu," jawab Ghazali berusaha menolak halus perintah dari Maryam.


" Ya sudah, kalo memang begitu. Semoga berkah buat usahamu. Bunda ke dapur dulu, mau liat ayah buat bubur." Maryam, pun berlalu masuk kedalam rumah. Wanita itu memang nampak lebih segar ketimbang tadi siang.


Mbak ... saya pamit pulang dulu ya. Terima kasih banyak saya udah boleh neduh dan istirahat disini, dapet makan gratisan juga," ucap Ghazali seraya memasang senyum manis yang menambah kesan menawan pada parasnya.


"Aku tetap akan bayar, karena aku gak mau hutang budi sama orang asing," ucap Zahra tegas. Tentu saja ucapannya itu seketika membuat tatapan dari Ghazali langsung berpusat padanya.


'Ni cewek kepala batu benget ya. Harga dirinya benar-benar tinggi. Menarik sih!' batin Ghazali makin senang.


"Aku ikhlas loh, kamu gak berhutang apa-apa. "Mudah-mudahan, bunda kamu sehat kembali ya," ucapnya disertai doa.


Zahra tidak memperdulikan ekspresi dan ucapan Ghazali. Ia menyusul ke halaman, melewati cepat pengemudi ojek online yang secara kebetulan terdampar di rumah kecilnya itu. Kemudian, langsung menghampiri roda dua tunggangannya dan meletakkan uang itu di atas jok motor.


"Sekali lagi aku mengucapkan banyak terima kasih atas bantuannya. Terimalah, buat beli minum kendaraanmu. Dia pasti dia haus." Zahra berkata sambil mengetuk pelan motor yang sudah berumur itu, macam pengemudinya. Eh.


Tak ayal Ghazali pun menghampiri motornya.


"Okelah, demi Komet!" Ghazali menyambar uang itu, dan memasukkannya ke kantung jaket tanpa melihat berapa jumlahnya.


Lalu ia menyugar rambut pendek ikalnya itu kebelakang sebelum mengenakan helm hijaunya.


'Ck tebar pesona segala.' batin Zahra.


'Gadis ini kenapa, masih jutek aja sih. Bakal susah ngelupain deh ini mah ceritanya.' Ghazali berdecak dalam hati. Menertawakan raut dan ekspresi dari Zahra yang baginya, menggemaskan.


"Semoga, Allah mempertemukan kita lagi, dan kalau sampai itu kejadian ... berarti kita berjodoh," ucap Ghazali dengan senyumnya yang manis.


'Duh! Apa karena lampunya agak temaram jadi dia terkesan lebih ... cakep. Eh.' Zahra segera membungkam mulutnya dengan telapak tangan.Takut apa yang ada di dalam pikirannya meluncur melalui lidahnya yang tak bertulang.


"Assalamu alaikum," ucap Ghazali santun dan lembut.


Kemudian pemuda itu melajukan motor tuanya dan berlalu dari hadapan Zahra. Hingga, deru kendaraan roda duanya itu menghilang di belokan gang, barulah Zahra tersadar, atas apa yang dikatakan oleh Ghazali barusan.


"Waalaikum salam. Eh, tadi dia ngomong apa? Mana ada rumus kayak gitu? Semoga kita gak ketemu lagi." Zahra bicara sendirian, setelahnya balik kedalam rumah. Mengabaikan perasaan yang mulai berkembang dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2