
Selama masa pemulihan hubungan Zahra dan Ghazali semakin dekat. Perhatian demi perhatian dari pria itu membuat es yang membeku di hari Zahra selama ini mencair.
Hal itu membuat Zahra merenungi awal pertemuannya dengan Ghazali selama ini. Dimana pria itu adalah orang baru yang tidak ia kenal, sebelum akhirnya Zahra memesan jasa ojek online melalui aplikasi.
Secara tulus pria itu selalu membantunya, tepat waktu. Kemudian berbaur dengan keluarga kecil sederhana dan seketika akrab dengan Adam. Bahkan, sang adik beberapa kali menanyakan lewat chat. Selain menanyakan kepulangannya kerumah.
Padahal, Ghazali hanya orang asing yang kebetulan tersangkut paut dengan setiap urusannya. Dan dia yang notabene orang asing itu, mau membantunya cepat dan ikhlas.
Zahra terus teringat kata-kata Ghazali kala itu, di halaman rumahnya. Dimana kalimat itu terus terngiang-ngiang.
[ Semoga Allah mempertemukan kita lagi, dan kalo sampe itu kejadian, berarti kita berjodoh. ]
Apa iya?
Benarkah ada hal yang seperti itu.
Kebetulan yang semacam permainan takdir. Bukankah selama ini hal semacam itu hanya ad di novel dan drama.
Tapi ayal kedua garis sudut bibir Zahra tertarik perlahan ke atas. Bukankah tak ada hal yang tak mungkin terjadi jika Allah sudah berkehendak? Apa mungkin jika ia dan Ghazali memang benar-benar berjodoh?
Buru-buru, Zahra menggelengkan kepalanya. Mengusir semua bayangan tentang pemuda yang selama ini selalu ada untuknya.
Tapi, bayangan itu tidak juga kunjung pergi. Sekuat apapun Zahra menggeleng. Ia menoleh ke arah Reva yang sudah pulas. Sahabatnya itu jika sudah ketemu bantal dan guling pasti langsung terbang ke alam mimpi.
Untung aja Reva udah tidur. Bisa diledek abis klo tadi dia liat gue kayak orang gila.
__ADS_1
Huh, dia itu kan urakan. Pemuda biasa saja. Tapi ... kenapa seperti ada sesuatu dalam dirinya. Atau masa lalunya ...
Seketika Zahra tersadar dan kembali menggelengkan kepalanya. Kali ini sambil meringis.
"Hei, sejak kapan aku memikirkan laki-laki? No way!" Zahra akhirnya mengeluarkan suara hati lewat mulutnya.
"Iya sih, orangnya emang baik terkadang kocak. Suka ceplas-ceplos, dan bicara apa adanya, padahal dia punya sesuatu. Tapi apa?" gumamnya lagi.
Dan sekelebat bayangan ketika Ghazali mengenakan sarung tanpa dalaman.m membuat Zahra seketika terkekeh geli.
Kenapa harus ingat scene bagian itu sih?
Zahra terlihat menepuk samping kepalanya.
"Sepertinya, dia memang sosok yang religius, dan taat kepada Tuhannya. Haih, kenapa gue menemukan banyak kelebihan dia? Apa iya gue udah mulai suka? Ah gak mungkin!" Zahra terus menolak apa yang mulai ia rasakan dalam hatinya. Ia tidak mau berspekulasi segampang ini.
Ghazali baru saja melaksanakan ritual mandi dengan cepat, kemudian berwudhu.
Setelah rapi dengan setelan koko berlengan pendek dan kain sarung, pria ini membentangkan sajadah ke arah kiblat.
"Aku akan mengadukan kamu pada Tuhanku, wahai gadis pencuri hati." Ghazali bergumam sambil melihat tampilannya di depan cermin. Ia nampak begitu berkharisma dengan kopiah hitam bertengger di kepala.
Tak berapa lama.
Selesai sudah sesi pengaduannya pada sang Maha pemilik hati. Kemudian terlihat Ghazali merebahkan tubuh dengan beralaskan sajadah, pikirannya pun menerawang.
__ADS_1
"Haruskan aku membawa mu masuk dalam kehidupanku yang--" Ghazali menghela napas tak meneruskan ucapannya. Ia seketika merasa tak percaya diri.
'Hanya kepada-MU, aku akan menyerahkan segalanya Ya Robb.
Pantaskan diri ini, untuk sosok nya.
Aku berharap bisa membahagiakan dan melindungi, siapapun wanita yang akan mendampingiku kelak. Aku ingin menyempurnakan agamaku dengan melaksanakan sunnah Rosul-MU.
Dosakah? Jika aku berharap memimpikannya?'
Perlahan, Ghazali memejamkan matanya demi mengistirahatkan pergolakan batin dan juga raga.
Keesokan hari di mansion milik Arkhan Sanjaya.
"Ma, kita gak bisa ketemu bang Al dulu dalam waktu dekat ini. Karena papa baru aja mengganti sopir kita. Apa mungkin, jika papa mencurigai kita?" ucap Shireen ketika Kazenia berada dalam kamarnya. Akhir-akhir ini, Kazenia sering tidur dikamar Shireen. Karena, Arkhan sering pergi keluar kota. Membuat, Kazenia semakin merasa kehilangan kehangatan dan kehadiran dari suaminya.
"Kamu benar, Ren. Sepertinya sopir baru itu bertugas mengawasi kita. Itu berarti bahwa papa curiga. Lalu bagaimana? Mama kangen abangmu," sahut Kazenia nampak risau.
"Shireen juga, Ma. Belum banyak ngobrol sama abang. Karena waktu itu juga kita terhalang waktu. Tapi, kita emang harus hati-hati, kalau mau ketemu Abang. Karena, para relasi bisnis papa taunya Abang itu di Rusia." Penjelasan dari putri kecilnya yang tanpa terasa sudah beranjak dewasa ini membuat Kazenia manggut-manggut.
Analisa Shireen ada benarnya.
Ada, saatnya nanti ia takkan takut untuk menemui sang putra.
"Apakah ponselmu, juga di sadap, Ren?" tanya Kazenia yang tanpa sengaja melihat ponsel Shireen.
__ADS_1
"Apa! Kapan?" Shireen langsung memeriksa ponselnya. Untung saja ia belum menghubungi Ghazali.
...Bersambung...