
Ghazali yang baru keluar dari dalam lift bersamaan dengan Jaka dan pak RT. Seketika ia berdiri terpaku menatap gadis di depannya yang menatapnya penuh arti.
Ia menoleh ke kanan dan kiri. Memastikan apakah gadis cantik di hadapannya ini benar memanggil dirinya. Karena menurut Ghazali, tidak mungkin ia bertemu dengan adik perempuannya di tempat seperti ini.
"Maaf, apa adek manggil saya?" tanya Ghazali memastikan.
Shireen yang sedang menahan harunya hanya mengangguk dan sambil membekap mulutnya ia segera lari untuk menghambur memeluk Ghazali.
Ghazali mendelik kaget. Begitupun dua pria di sebelahnya. Mereka terlonjak ketika ada gadis belia imut yang tiba-tiba lari memeluk kawan mereka. Bahkan gadis itu tampak nangis sesenggukan sambil memeluk erat.
"Hei-hei. Kamu siapa? Apa kamu gak salah orang? Hei gak boleh gini, kita bukan mahrom, Dek!" Ghazali berujar seraya terus berusaha menahan bahu dan mendorong perlahan tubuh Shireen.
"Ini Ilen, Abaaang!" Akhirnya Shireen mengatakan siapa dirinya. Ia tak mau sosok pria yang sangat ia rindukan ini melepas pelukannya. Shireen tak peduli pandangan orang-orang yang tak tau apa-apa. Ia hanya ingin kembali merasakan kehangatan saudara satu-satunya ini. Dimana mereka telah terpisah selama lima tahun. Saat itu, Shireen masih kelas satu sekolah menengah pertama. Sehingga, wajah dan tubuhnya telah mengalami banyak perubahan.
Kulitnya sudah putih tidak sawo matang lagi. Hidungnya mancung dan giginya tertata rapih. Bahkan, rambutnya kini panjang sepunggung dengan warna coklat karamel.
Ghazali terkesiap kaget dengan penuturan gadis yang memeluknya begitu erat. "Hah, I–Ilen? Ilen adek bang Al?" Ghazali sontak mendorong bahu Shireen. Berusaha menjatuhkan dari raganya agar ia dapat menelisik seluruh wajahnya. Pada saat itulah, ketika Ghazali melihat dari dekat. Ia baru mengenali bahwa gadis muda belia yang kini berada dihadapannya adalah adik perempuannya.
"Kamu, kamu beneran Ilen si cengeng itu? Yang kalo nangis sampe keluar ingus?" cecar Ghazali menelisik, dengan kedua mata yang sudah berembun. Sebenarnya ia sudah mengenali, hanya saja ia sengaja meledek adik kesayangannya ini.
"Ih itu kan dulu, Bang. Sekarang udah enggak!" rengek Shireen seraya mengusap air mata yang membanjiri kedua pipinya. Matanya terus menerus berair kala melihat penampakan sosok yang telah lama ia rindukan. Sosok Abang yang semakin matang tapi sayang terlihat kusam tak terurus seperti dulu.
"Iya percaya, sekarang udah cantik benget gini. Glowing dan cetar membahana," puji Ghazali yang membuat Shireen kembali memeluknya.
"Ya Allah, adeknya Abang udah segede gini aja. Emangnya, Abang pergi berapa lama sih?" tanya Ghazali bingung. Karena postur tubuh, Shireen seperti wanita dewasa pada umumnya. Semua serba besar. Bahkan Ghazali dapat merasakannya. Karena itulah ia memberi jarak dari pelukan mereka.
__ADS_1
Meskipun adik sendiri, Ghazali tetap merasa risih. Ia menelisik pakaian yang di kenakan lelah Shireen. Ternyata begitu membentuk tubuh meski tidak terlalu terbuka. Celana jeans street yang sobek di paha kanan kiri. Juga kaus polos ketat yang menampilkan betapa besar buahnya dan ramping rata perutnya.
Ghazali langsung meraup wajah mupeng Jaka ketika pas ia menoleh. "Tutup ye mata lu Jak! Apa mau gua colok nih!" ucap Ghazali tegas seraya menunjuk menggunakan dua jarinya.
Jaka lantas menggeleng takut. Ia pun langsung mengalihkan pandangannya. Tak lagi berani menatap serius ke arah Shireen.
"Kamu kesini sama siapa? Mau ngapain?" tanya Ghazali dimana hal itu langsung membuat Shireen memekik kaget lantaran ia ingat sesuatu.
"Kamu kenapa malah teriak?"
"Itu Bang. Tadi shiren kesini sama mommy. Pasti mommy cemas deh aku kelamaan balik dari toiletnya," jawab Shireen panik, tapi seketika raut wajahnya berganti senang.
"Mommy pasti seneng dan bahagia banget deh ketemu Abang." Lagi-lagi Shireen kembali menangis.
"Jadi ini adiknya bang Al?" tanya Jaka tak percaya. Karena Shireen putih bersih dan Ghazali hitam manis.
"Kenapa lu Jak? Kagak percaya? Kan lu denger tadi dia ngomong sendiri, kalo dia adek gue!"tukas Ghazali.
"Beda banget sih, kayak majikan ama kacung," celetuk Jaka membuat Ghazali menendang tukang keringnya.
"Aw!" Jaka mengaduh sambil mengusap kaki.
"Makanya kalo ngomong jangan suka bener!"
"Oh ya, Len. Sekarang mama dimana? Apa yang terjadi sampe kalian kerumah sakit? Apa ada--"
__ADS_1
"Papa tidak ada, Bang. Kita kan memang rencana nyariin Abang. Tadi kita berdua udah dateng kekontrakan abang, tapi disana sepi. Ternyata Abang malah ada disini," tutur Shireen dengan ratu wajah bingung. Ia turut menelisik ke arah dua pria berbeda usia yang berada di samping sosok sang abang. Pak RT dengan beberapa carik kertas, dan Jaka dengan tas berukuran sedang di tangannya.
"Ya udah nanti Abang ceritain. Sekarang anterin Abang ketemu mama." Ghazali menggenggam erat tangan Shireen, kemudian gadis belia itu menuntunnya dan mereka berjalan cepat.
Bahkan Ghazali setengah berlari ketika sayi kejauhan ia melihat sosok wanita paruh baya yang masih tampak cantik itu sedang duduk di kursi tunggu depan ruang UGD.
"Ma .." tenggorokannya Ghazali terasa tercekat kala ia hendak memanggil sosok wanita yang telah melahirkannya kedunia.
Suara yang ia keluarkan terlalu lemah. Sehingga Kazenia belum menyadari kehadirannya.
Ghazali sekuat tenaga menahan rasa sesak yang seakan menekan dadanya kuat. Hingga tak mampu lagi ada suara atau sepatah kata pun mampu ia keluarkan.
Jaka sana pak RT si pria berkumis tipis hanya dapat saling melempar pandang penuh tanda tanya. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa mereka keluarga dari tetangga mereka ini? Mungkin inilah sekelebat pertanyaan yang mampir di kepala keduanya.
Shireen memutuskan untuk maju mendekat kearah Kazenia. Ia yang juga tak dapat berkata apapun selain menangis hanya bisa mengarahkan wajah sang mama menggunakan kedua tangannya. Shireen menolehkan kepala Kazenia hingga menghadap ke arah dimana putra kebanggaannya yang sangat ia rindukan itu berdiri.
"A–abang. Putraku ... Ghazali!" Kazenia sontak berdiri dari duduknya. Ghazali berjalan perlahan menghampiri wanita yang menatapnya sendu penuh kerinduan ini. Kedua sudut mata Ghazali jga sudah penuh dengan genangan air mata yang siap tumpah. Tak menyangka hikmahnya masuk rumah sakit adalah dapat bertemu dengan ibu tercinta.
"Shireen, dia–dia abangmu? Apa benar dia abangmu?" Kazenia yang tak percaya menggoyang bahu Shireen putrinya. Kedua tungkai kakinya terasa kaku sehingga tak dapat ia gerakkan. Shireen mengangguk dengan telapak yang masih membungkam mulutnya sendiri.
Kazenia menatap lamat kala jaraknya dengan Ghazali semakin dekat. Benar saja, sosok ini tak mungkin ia lupa. Meski raut dan rupa tak lagi secerah dulu kala di rumah bak istana milik suaminya. Kini, putranya itu sedikit kurus dan lusuh. Dengan raut wajah pucat seperti orang kelelahan.
"Ma ..."
...Bersambung ...
__ADS_1