
Zahra semakin menunduk. Entah kenapa dirinya seketika tak percaya diri. Padahal tanpa ia ketahui, pada saat ini Kazenia dan Shireen pun merasakan hal yang sama. Mereka yang berpenampilan modis dengan dress di bawah lutut merasa malu.
Sementara, Zahra nampak terlihat anggun dan feminim dengan pakaian syar'i yang nampak indah di tubuhnya tinggi rampingnya itu. Padahal, apa yang Zahra kenakan adalah padanan gamis yang sederhana.
"Assalamualaikum!" seru Ghazali dan Zahra berbarengan. Ghazali menoleh ke arah Zahra sekilas, kemudian ia menatap kedua wanita yang telah menunggunya ini seraya menampilkan senyum sumringah di wajahnya yang semakin menawan.
Karena, Ghazali dapat lebih terawat dan istirahat teratur dengan keadaan ekonomi yang ia miliki saat ini. Ia tak lagi mengejar setoran hingga berpanas-panasan di siang bolong lagi. Karena usaha tambaknya telah menemukan titik terang. Sehingga, pekerjaan ojek online ini hanya Ghazali jadikan sampingan saja. Mungkin, suatu saat akan ia tinggalkan sepenuhnya, ketika usaha tambaknya benar-benar jaya.
"Wa'alaikum salam!" jawab Kazenia dan Shireen serentak. Shireen langsung menutupi pahanya yang terbuka menggunakan syal yang ia kenakan di lehernya. Hal itu membuat Ghazali menghela napasnya pelan. Bukan sekali dua kali ia tegaskan pada kedua wanita yang juga menjadi tanggung jawabnya ini. Namun, mereka masih menggunakan idealis yang mereka yakini.
Karena itu, Ghazali berharap. Kehadiran Zahra dapat membuka kedua mata sang mama dan juga adik perempuannya. Berharap kedua wanita yang ia sayangi ini dapat lebih baik lagi pemahamannya tentang menjaga rasa malu itu. Terutama menjaga diri mereka sendiri dari pandangan yang tidak diridhoi oleh Allah.
Kazenia tersenyum ketika pandangannya dan Zahra bertemu. Hatinya seketika berdesir hangat, ketika gadis muslimah cantik yang sang putra bawa ke hadapannya ini, menyambar punggung tangannya dan Zahra pun menciumnya dengan takzim.
__ADS_1
Anak yang sangat sopan. Dimana Abang ketemu barang langka begini. Aku dapat merasakan jika perlakuannya barusan berasal dari hati. Ia cantik dengan kesederhanaannya. Tapi, dia tidak membusungkan dada apalagi menaikkan dagunya. Ah, aku seperti jatuh cinta pada pandangan pertama pada calon menantuku ini.
Kazenia berdecak kagum dalam hatinya. Kesan pertama saja membuatnya ingin bersorak gembira. Zahra benar-benar berkualitas menurutnya. Memang, Ghazali tak mungkin sembarangan menyukai seorang gadis.
"Ha–halo, Kak," sapa Shireen. Malu-malu. Karena style mereka bagaikan langit dan bumi.
Ah, kenapa aku tidak memikirkan ini ya? Gimana kalo gara-gara dandanan aku kak Zahra gak jadi Nerima Abang? Gagal dong aku punya sekutu? Ah tidak!
Shireen memekik risau, tapi hanya berani didalam hati saja. Gadis manis dengan lesung pipi ini kembali duduk. Setelah mempersilahkan Zahra duduk di sebelahnya. Dan Ghazali duduk di sebelah sang mama. Pria berambut ikal pendek dengan warna dark brown itu memeluk Kazenia erat. Meskipun beberapa kali bertemu, tetap saja rasa rindu itu belum pupus.
Jika kau ingin bersama ku. Jujurlah bang. Siapa kau sebenarnya?
Batin Zahra seraya melirik Ghazali sekilas. Membuat pria itu menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Nampaknya, Zahra mulai curiga. Apa yang dia pikirkan ya. Aku harus menjelaskan semua pada Zahra. Aku tidak akan menyembunyikan satu hal pun. Tak peduli, jika nanti dia akan menerima atau justru menolakku.
Kini giliran Ghazali yang berbicara dalam hati.
Kazenia menepuk bahu Ghazali, hingga putranya itu terkesiap. Ia sepertinya mulai terbiasa melihat sang putra mengenakan jaket hijau itu kemana saja. Bagaimanapun pekerjaan itulah yang mampu membuat sang putra bertahan selama ini.
"Ra, ini Mamaku dan di sebelahmu Shireen adikku," jelas Ghazali. Membuat Zahra tersenyum.
"Ma, ini gadis yang Abang ceritakan itu. Zahra Syahrani. Cantik kan, Sholihah lagi," puji Ghazali di depan Kazenia. Membuat kedua pipi Zahra memerah.
"Terimakasih, Nak Zahra. Karena sudah bersedia menerima undangan dari saya. Akhirnya, rasa penasaran ini terobati. Karena setiap kali Mama bertemu dengan Abang, selalu saja ia menceritakan kamu," ucap Kazenia lembut dan terlihat sekali sifat keibuannya.
"Saya, juga mengucapkan terimakasih banyak. Karena Ibu mau mengundang saya," sahut Zahra sopan.
__ADS_1
"Jangan panggil ibu. Panggil Mama aja, sama seperti Abang dan juga Ilen," titah Kazenia. Membuat Zahra tersenyum simpul.
...Bersambung ...