
Kebanyakan orang menyibukkan diri dengan mengejar cinta. Padahal bila nanti datang masanya, panah asmara akan menancap di hati yang semestinya. Lebih baik sibukkan saja dirimu dengan merayu Sang pemilik hati, Sang penguasa cinta.
Seperti, Ghazali dan Zahra yang tak pernah mengejar cinta dalam hidup mereka. Tapi, cinta sendiri yang nanti akan merayu dan membuat perasaan mereka bersatu.
Kembali ke laptop. Eh, ke cerita ...
Mendengar celetukan asal dari pria yang dipanggil pak RT oleh Jaka. Zahra langsung saja kembali membulatkan kedua matanya. Bisa-bisanya mereka asal menduga saja. Mau kesal tapi, Zahra belum mengenal mereka begitupun sebaliknya.
'Boleh gak sih nyesel karena udah ngaku kenal. Padahal baru sekali ketemu. Tapi kalo gak ngaku namanya bohong dong. Apalagi dia lagi kesusahan gini. Mungkin, ini saatnya aku balas Budi. Eh tapi, kan aku udah bayar ongkos ojek. Jadi gak ada utang Budi dong. Ya, tapi apa salahnya menanam budi kan.' Zahra nampak berperang dalam batinnya sendiri.
"Eh, bukan Pak, saya kebetulan hanya sebatas kenal saja. Karena pernah menjadi customernya," jelas Zahra, buru-buru menjelaskan agar kesalahpahaman ini tidak semakin panjang.
"Oh syukurlah, ternyata ada yang mengenal bang Al selain kita. Yuk, Neng ikut kedalem!" Pak RT mengajak Zahra tanpa membutuhkan persetujuannya lebih dulu. Pria itu berjalan di depan dengan cepat.
'Apakah keadaannya gawat, sehingga bapak itu terlihat khawatir? Tapi, ngapain aku ikut mereka?' batin Zahra bimbang.
"Tapi--" Zahra belum bergerak sama sekali karena dirinya bingung, masa iya harus ikut masuk. Memang dia siapa?
"Lah si Eneng! Ayok!" Sekali lagi pria yang memakai kemeja batik itu mengajak Zahra, dan tanpa berpikir lagi gadis manis berpasmina lebar ini pun mengangguk. Zahra pun mengekor tanpa penolakan pada akhirnya.
Mereka bertiga masuk ke ruangan serba putih, bau obat mencuat kuat sekali di indera penciuman. Beberapa kesibukan dari para tim medis berseliweran dengan kesibukan mereka dalam menangani pasien.
Pak RT masuk ke dalam bangsal yang tertutup tirai hijau.Tak lama kemudian dia pun keluar, dengan seulas senyum ke arah Zahra. Lalu Ia membuka tirai itu perlahan.
Seketika kedua mata Ghazali yang sayu pun membola, dengan mulut yang menganga lebar.
"Ini dia kejutan yang Bapak maksud, kamu seneng kan? Pasti langsung sembuh deh, udah di samperin pacar mah." Kemudian pak RT Jaka pun terkekeh girang.
__ADS_1
Menyisakan Zahra dan Ghazali yang hanya beradu pandang dengan tatapan penuh arti. Mereka berdua nampaknya sama-sama tak percaya dengan takdir yang terjadi saat ini. Niat menjenguk sahabatnya Mona, kenapa jadi ketemu driver ojol yang sejak kemarin terus berada dalam pikirannya. Pria menyebalkan yang justru membuatnya penasaran.
'Apa ini kebetulan? Kebetulan yang Ghazali bilang tempo hari?' Zahra masih terpaku menatap pria itu hanya berbaring lemah tanpa satu patah kata menyapanya.
Keduanya hanya saling menatap, dengan pandangan yang saling mengunci. Entah terkesima, atau tak percaya dengan cara jalan pertemuan kedua mereka ini.
'Ya Allah, apa aku mau mati? Sampai KAU harus menunjukkan hal yang indah ini padaku. Jika iya. Aku siap deh. Seenggaknya aku bisa ketemu dia lagi. Jika tidak di dunia ini, maka persatukanlah kami di akhirat. Dimana semua kekal abadi.' batin Ghazali melantunkan doa dan harapannya.
Wajah pria itu begitu pucat, matanya yang teduh semakin sayu.
Tangannya di pasangi selang infus. Dia yang ramah dan murah senyum kini terbaring lemah di atas ranjang kecil rumah sakit. Hanya segaris senyum asal yang mampu ia berikan pada Zahra. Ketika dirinya sadar bahwa kehadiran wanita cantik dengan pakaian tertutup ini adalah nyata.
"Deh, pada liat-liatan kayak drama Korea aja!" celetuk Jaka membuat kesadaran seketika kembali menghampiri Zahra. Ia pun mengerjapkan matanya, untuk mengembalikan pada situasi semula.
'Sial si Jaka mulutnya. Ngerusak suasana aja!' decak Ghazali masih dalam hati. Ia belum memiliki tenaga untuk menggerakkan mulutnya. Padahal setengah mati dirinya ingin menyapa Zahra saat ini.
"Nyok ah, asal di bayarin mah."
"Kentut! Jak!"
"Deh, kopi, Pak RT. Bukan traktir kentut!"
"Ada juga kamu yang bayarin saya! Cucu juragan kontrakan yang kerjaannya ongkang-ongkang kaki nanggepin duit!" Sontak Jaka diam kalau pria berkumis tipis ini sudah menyerangnya telak.
Ghazali hanya bisa menghela napas melihat perbuatan keduanya. Meskipun sedang berada di rumah sakit tetap saja mereka asal bicara. Kadang Ghazali malu punya kawan seperti mereka, tapi seru juga. Bisa membuatnya lupa akan pahitnya hidup. Bayangkan jika tanpa mereka berdua yang gerak cepat. Mungkin Ghazali tidak akan tertolong lagi. Karena, penyakit di lambungnya sudah akut.
Sepeninggal, kedua orang konyol tadi. Seketika aura kecanggungan itu merebak diantara Ghazali dan Zahra, memenuhi ruang di antara mereka berdua dengan perasaan kikuk.
__ADS_1
Entah kenapa bibir dan lidah Zahra seketika tak mampu mengeluarkan satu patah kata pun. Ia juga sempat melirik sekilas, bagaimana Ghazali yang terlihat hendak membuka suara tapi lekas menutupnya kembali. Nampaknya pria itu pun tak tau ingin berkata apa.
'Aih, kenapa jadi begini. Tinggal nanya aja apa kabar kan? Hei, ngapain nanya, kan itu udah liat kalo dia lagi terbaring lemah di ranjang rumah sakit dengan selang infus ditangan!' Zahra mengomel pada dirinya sendiri yang hanya mempu memikirkan pertanyaan konyol dan payah.
'Duh, kenapa jadi berat banget sih. Tinggal nyapa aja kan?' batin Ghazali pun sama. Dirinya tengah terpekur bingung.
Capek mendengar hati dan otak yang terus saja berdebat, keduanya pun memutuskan untuk mulai menyapa lebih dulu.
"Kamu."
Serentak keduanya bicara bersamaan.
Dan suasana canggung itu pun semakin menjadi-jadi. Terlihat Zahra memberi remasan pada tali tas selempangnya, demi mengusir malu.
Ghazali pun sama salah tingkah juga seperti Zahra.
'Haish! Kenapa kita jadi kayak bocah baru mangkat gede si!' batin Ghazali geli sendiri.
Ghazali menghela nafas pelan, mengusir grogi yang bertengger di atas hidungnya. Karena sejak tadi ia melihat Zahra seakan tidak berani mengangkat wajahnya.
"Kok, kamu bisa ada disini? "tanya Ghazali pelan dengan nada yang agak lemah. Sekuat tenaga ia berusaha mengeluarkan suara.
Akhirnya Ghazali memberanikan diri membuka suara lebih dulu. Yah, kirain mau malu-malu meong sampe sore.
"Oh ya. I–itu ... aku mau besuk sahabat aku di lantai atas gedung sebelah. Kebetulan lewat dan pemuda tadi menyebut nama kamu. Jadi aku inisiatif nanya. Karena mukanya tadi bingung banget," jawab Zahra sedikit terbata dan canggung.
Ia memutuskan untuk berbicara jujur tapi, wajah pria di atas brangkar kenapa terlihat tersenyum penuh arti.
__ADS_1
...Bersambung ...