
'Hei, jantung! Bisa tidak berdebarnya seperti biasa saja. Atau nanti akan aku periksakan ke spesialis!' Zahra merasa kewalahan dalam mengontrol degup jantungnya yang selalu berdebar kencang setiap kali mereka bertemu pandang. Belum pernah ia rasakan sebelumnya pada pria manapun. Karena biasanya dirinya selalu dingin untuk menjaga hati. Tapi kali ini, kenapa ia menjadi begitu lemah dan mudah luluh.
'Gadis ini, mau sampai kapan dia berdiri? Ku mohon mendekatlah sedikit lagi. Biarkan aku merasakan hangatnya pedulimu sebentar lagi.' batin Ghazali penuh harap.
Ghazali terlihat dengan senyum tipisnya , rupanya ia geli sendiri mengingat harapannya yang terlalu tinggi.Karena untuk saat ini, dia belum punya kuasa untuk membahagiakan orang lain.
"Duduklah, agar tak lelah," tawar Ghazali sambil mengarahkan pandangannya ke kursi di ujung brangkar.
"Enggak papa disini saja!"
tolak Zahra, karena ia merasa tidak bisa menggerakkan kakinya untuk menghampiri kursi itu.
Pandangan menyelidik dari Jaka membuatnya ingin segera kabur dan menghilang saja dari tempat itu.
'Berhenti memandangi dia seperti itu Jaka sembung! Lu nakutin anak orang! Awas kalo sampe dia pergi!' batin Ghazali serta memberi sorotan tajam beberapa saat pada pemuda tengil yang kebetulan salah satu tetangga yang memang cukup peduli padanya.
"Saya pamit ya.
"Lah, kok cepet bener Neng?" tegur Jaka. Kemudian ia beralih menatap Ghazali dan Jaka pun paham
"Ya udah deh. Saye keluar dulu, mau nyari kopi. Eneng mau nitip kagak?" tanya Jaka yang faham arti kode dari pria di atas hospital bed. Dimana sejak tadi mengarahkan tatapan mata mendelik padanya.
Zahra makin gelisah saja kalau dia di tinggal berdua dengan pemuda yang mampu mengganggu kesehatan pada jantung sekaligus paru-parunya ini.
"Eh, jangan! Mana boleh saya hanya berdua sama dia?" tahan, Zahra agar Jaka tidak meninggalkannya berdua dengan pasien yang sejak tadi mencuri pandang padanya ini.
Maksudnya lebih baik dia saja yang segera angkat kaki. Karena semakin lama di ruangan ini, Zahra merasa jantungnya semakin bermasalah.
Bahkan sekarang saja Zahra seolah susah bernapas.
'Kau jangan pergi Zahra. Aku mampu melupakan semua rasa sakit saat bersamamu. Menetaplah sebentar lagi.' Ghazali menatap sendu ke arah Zahra seakan memohon.
'Aku harus cepat-cepat pergi. Bisa bengek aku lama-lama di sini.' Zahra pun memberi tatapan penyesalan karena ia tak mampu untuk berlama-lama di sana.
__ADS_1
"Berdua gimana si? Lah Ono pan ada pasien di ujung ma yang di tengah tuh!" tunjuk Jaka ke arah beberapa pasien lain yang memang hanya berbatas tirai. Karena beberapa pasien juga telah keluar. Sehingga kini tak terlalu ramai seperti tadi.
"Ya, tapi--" Zahra tak mungkin mengatakan bahwa ia tak sanggup lagi di sini. Baru kali ini tak kuat menghadapi seorang pria. Aneh sekali. Zahra merasa lemah dan bingung.
'Muka kamu tu lucu banget, Ra. Bikin abang gemes. Astagfirullah! Ampuni, aku ya Allah! Karena gak mampu nahan perasaan. Bisa-bisanya gemes sama yang belom halal.' Ghazali merutuki dirinya sendiri dalam hati. Hingga ia pun mengusap wajahnya agar kembali berpikiran jernih. Bertiga saja dia bisa begini gimana kalau di tinggal berdua nanti.
"Saya sudah memenuhi janji pada Abang. Jadi, sudah lunas hutang saya. Semoga ada kebetulan berikutnya, jika memang kita berjodoh untuk bertemu lagi." Zahra benar-benar akan pergi, ia mengakhiri kalimatnya dengan seulas senyum. Dimana senyum itu mendatangkan semangat baru di dalam hati Ghazali.
"Baiklah. Saya gak bisa menahan kamu. Saya gak ada hak untuk melakukan itu. Terimakasih, karena sudah mau memberi semangat dan mengingatkan saya bahwa ternyata masih ada keindahan di dalam dunia yang suram ini. Masih ada secercah cahaya harapan itu. Sekali lagi. Terima kasih, Zahra."
"Semoga Abang cepet sembuh. Laa ba'-sa thahuuron. Insya allah. Semoga sakitmu ini membersihkan diri dari dosa-dosa, atas izin-NYA." Zahra menguntai doa tulus pada pasien yang melepas kepergiannya dengan berat. Ya , Zahra dapat melihat perasaan itu dari kedua mata Ghazali.
'Aku gak punya hak untuk nahan kamu, Ra. Meskipun aku masih kangen. Aku merasa nyaman di dekatmu. Mungkin aku sedikit tak tau diri memang.' Ghazali hanya berkata-kata dalam hati.
Ia baru beberapa kali bertemu Zahra, mana mungkin ia mengungkapkan perasaannya.
" Argh!" Ghazali kaget. Kali ini ia merasakan sakit sungguhan pada ulu hatinya. Hingga ia nampak kesulitan bernapas. Ghazali meraung sambil memegangi perutnya. Ia menekuk kakinya, kemudian meringkuk. Keringat telah membasahi area kening dan pelipisnya.
Reflek, Zahra segera menghampirinya.
"Ya Allah, kenapa Bang? Apanya yang sakit?" Zahra nampak sekali panik, terlihat dari wajahnya yang gusar.
"Bang Al. Ente kenape lagi!" Jaka pun kaget dan bingung melihat Ghazali meringis sambil memeluk perutnya.
"Panggilin suster dong, jangan diem aja!" pekiknya pada Jaka yang hanya terpaku diam tanpa aksi. Jaka pun terlonjak kaget, kemudian segera berlari keluar.
'Galak juga kamu dek, kalo lagi panik' batin Ghazali yang masih sempat memperhatikan Zahra ditengah kesakitannya.
Ia pun memaksakan untuk tersenyum di saat meringis.
Jaka pun berlari keluar, tapi sudah lebih dari lima menit belum kembali juga. Dia mencari suster Dimana sih? Pikir Zahra.
Tinggallah dirinya kini yang kebingungan menghadapi orang yang tengah menggulung dirinya ini. Pakaian Ghazali telah basah oleh keringat.
__ADS_1
Mau tak mau, Zahra mengambil lap dan mencoba mengeringkan keringat di area wajah Ghazali.
'Maaf Ra. Kamu melihat aku yang seperti ini.'
"Mau minum dulu gak, Bang?" tanya Zahra. Kasihan juga melihat ketika Ghazali kesakitan begini. Sebenarnya apa penyakit yang di derita olehnya?
Ghazali hanya bisa mengangguk lemah.
"Bisa duduk?"
Ghazali menggeleng.
"Aku bantu ya?"
Kali ini Ghazali mengangguk lagi.
Zahra pun memegangi kedua bahu lalu membantu agar Ghazali dapat bersandar. Ia tak memikirkan batasan sebab, Ghazali nampak kesulitan bernapas. Sementara suster yang di panggil oleh Jaka tak kunjung datang.
Raga mereka sempat berdekatan selama beberapa saat. Ghazali pun tidak dapat memikirkan hal yang lain. Ia merasa cukup terbantu karena ada Zahra yang peduli.
"Sebenernya Abang sakit apa? "
Tak ada sahutan dan pergerakan sama sekali, membuat gadis ini semakin gusar saja. Karena Ghazali melah memejamkan mata setelah minum air.
Perlahan, ia memberanikan diri untuk menyibak poni yang menutupi kening Ghazali.
"Bang? Kamu tidur apa pingsan?" Ingin sekali Zahra menepuk rahang. Tapi ia sungkan.
'Duh, lama amat lagi dah-ah yang manggil susternya, masa iya itu suster jalan kesini nya pake ngesot?' Lama kelamaan Zahra geram juga. Bagaimanapun ia khawatir dengan keadaan Ghazali.
Zahra mencoba memanggil sekali lagi, sambil menggoyangkan bahu Ghazali.
"Bang!" Akhirnya kelopak mata Ghazali terbuka juga. Hingga ia dapat melihat hanya sepasang mata teduh yang sayu.
__ADS_1
Ia pun lantas mundur, karena takut jika Ghazali mendengar dentuman keras pada jantungnya. Semua di akibatkan posisi yang terlalu dekat ini.
...Bersambung...