
Zahra memicingkan matanya merasa tekanan pada leher yang terasa nyeri dan mulai mengganggu pernapasannya.
Kedua mata dari sosok pria bertubuh gemuk pendek di hadapannya ini begitu menyorot tajam. Tenaganya juga kuat. Namun, Zahra tak boleh takut dan menyerah. Ia mengumpulkan segenap keberaniannya. Berbekal dari apa yang pernah ia pelajari ketika masih sekolah dulu, maka Zahra memutuskan untuk melawan sekuat tenaga. Dirinya tidak akan segan lagi. Cukup sudah ia diam ketika mengalami penindasan.
'Bantu Zahra, ya Allah.'. batin Zahra memanjatkan doa untuk menguatkan hatinya.
"Gadis kurang ajar. Di ajak bicara baik-baik malah belagu!" Agung semakin menekan cekalannya, tapi Zahra mengangkat tinggi tangannya ke atas.
Kemudian, ia jatuhkan dengan kuat pas ke sambungan siku untuk menepis lengan Agung yang berada di depan lehernya.
Prak
Cekalan terlepas, Zahra langsung mendorong agung dengan sekuat tenaga. Sehingga, punggung pria itu membentur dinding dengan keras. Sekali lagi Zahra menyerang dengan tendangan yang kencang pada tulang kering menggunakan punggung kakinya.
Setelahnya Zahra melarikan diri dan mencari tempat ramai serta terbuka. Ia membatalkan niatnya untuk kembali ke kosan. Untung saja, ia masih hapal pelajaran dalam membela diri ketika kita mengalami tindak kekerasan dan kekhawatiran berakibat pelecehan.
Cara yang Zahra lakukan mungkin bisa kita pelajari. Intinya jangan takut.
Zahra berlari cepat dan sejauh mungkin. Hingga kini ia berada di pusat jalan kota. Zahra mendudukkan dirinya di salah satu taman. Dimana taman ini digunakan oleh para pedagang menjajakan produk jualannya mereka. Zahra membutuhkan air untuk mengurai debar jantungnya.
"Alhamdulillah." Zahra menghela napas lega setelah meneguk air mineral.
Tak lama ia menghentikan angkot setelah keluar dari jembatan penyebrangan. Zahra memutuskan untuk pulang demi menenangkan dirinya. Sepanjang perjalanan ia tak henti melakukan chatting dengan Reva. Mengatakan agar sahabatnya itu hati-hati terhadap si Agung gila.
Reva yang tak terlalu sibuk terus membalas dengan emosi marah membara. Hingga ia memiliki rencana untuk membalas perbuatan Agung pada sahabatnya.
__ADS_1
"Gue gak bakal diam lagi, Ra. Si. kodok bancet udah keterlaluan! Liat aja, balasan gua nanti. Kodok bancet sialan. Udah bikin sobat gue resign masih juga diperlakukan jahat diluar pabrik. Cari mati emang lu bancet!" Vera sangat geram dan emosi hingga ia mencengkeram pinggiran meja kerjanya.
"Lu kenapa, Ver. Kayaknya kesel banget! Abis putus lu yak?"
"Diem lu, gue butuh bantuan lu bisa ya?"
"Apaan? Minjem duit? Kagak ada?"
"Sialan! Gaji gue masih sisa kok!"
"Trus apaan?"
"Lu kan punya dendam ma si kodok bancet. Sini gue bisikan." Vera menarik wajah kawannya yang bernama Rumi dan membisikkan rencananya. Kebetulan, Rumi juga pernah di lecehkan secara verbal dan fisik oleh Agung.
___________
"Ada apa sih, Bang. Kok tiba-tiba pak Sapto suruh berhenti?" tanya Kazenia heran.
"Al turun sini aja ya. Soalnya ada urusan. Nanti kalo berhasil, pas Abang kasih tau Mama. Oke!" Ghazali pun pamit dengan mencium punggung tangan dan juga pipi kiri Kazenia. Tersenyum dan melambai, hingga mobil yang membawa mamanya berlalu kembali melaju.
Ghazali langsung berbalik dan berlari cepat. Ah tidak ia hampir kehilangan sosok gadis yang tengah ia rindukan. "Zahra!" panggilnya kencang. Namun, itu tak berarti apapun. Gadis yang ia lihat berdiri tadi telah hilang masuk kedalam angkot berwarna merah.
Terpaksa Ghazali mengehentikan angkot tersebut menggunakan dirinya. Ia bertindak bodoh dengan tiba-tiba berdiri di tengah jalan dan merentangkan tangan. "Orang gila lu! Mau mati jangan dimari! Noh naek ke play over, terus elu terjun bebas!" maki sang sopir yang kesal karena dirinya harus menginjak rem dadakan. Untung saja posisi kendaraannya masih agak jauh dari tempat Ghazali berdiri.
"Maaf, Bang! Nih, sebagai ganti rugi karena udah bikin kaget." Ghazali memberikan beberapa lembar uang berwarna hijau dan pak sopir langsung diam.
__ADS_1
"Maaf ya, penumpang semua. Saya, cuma mau naik angkot ini aja," ucap Ghazali memberi alasan sambil mencari tempat duduk di dekat wanita yang telah membuatnya hampir kehilangan akal sehat. Ia sadari dengan sesadar-sadarnya, bahwa kedua mata gadis itu tengah menatap ke arahnya dengan melotot tak mungkin percaya.
"Ye, Tong. Kalo mao naek angkot kagak gitu juga caranya!" marah seorang ibu-ibu, seraya memukul Ghazali menggunakan dompetnya. Karena ia hampir tersungkur ke depan pintu.
"Maaf, Bu. Saya cuma takut kehilangan aja," jawab Ghazali seraya melirik Zahra. Sementara yang di lirik langsung memalingkan wajahnya.
'Apes banget Rara hari ini, Nda. Dua kali ketemu cowok gila.' keluh Zahra membatin. Ia terlihat menghela napasnya panjang.
"Darimana?" Ghazali mencoba bicara pada Zahra yang berada di sebelahnya dengan pelan. Tak ada niat menjawab, Zahra tetap mengunci rapat mulutnya dan memalingkan wajah.
"Heh! Situ mau genit dan macem-macem ya!" tuduh ibu-ibu yang tadi memukuli Ghazali. Tentu saja hal itu membuat Ghazali menggeleng dan tersenyum kikuk. Ia pun menundukkan kepalanya menatap ujung pada sepatunya saja. Daripada nanti di keroyok, karena satu angkot ini isinya ibu-ibu berbadan cukup berisi semua.
Sementara itu di dalam sebuah ruangan kantor dengan jendela kaca yang besar.
Seorang wanita cantik berdiri tegak dengan sepatu dua belas senti. Ia tampak menyeringai menghadap pada gedung yang berbaris di hadapannya.
Pikirannya tengah melalang buana ke tempat lain.
"Tugas begini saja kau tak bisa Saka! Sebaiknya aku menghentikan mu saja. Dan mencari penggantimu yang sudah tidak berguna!" Rasti marah, ia berbicara tanpa memandang ajudannya sama sekali.
Telah lebih dari beberapa pekan, tapi bawahannya ini belum juga menemukan identitas dari sang driver yang mencuri hatinya.
"Tunggu sebentar, Nona. Bersabarlah sebentar lagi. Para sesama driver itu seperti sengaja menyembunyikan identitas sesama rekan mereka," jelas Saka.
"Ku beri waktu tiga hari, atau kau ku ganti!"
__ADS_1
...Bersambung...