
"Mama, tidak akan kembali, Pa. Mama tidak bisa lagi hidup berjauhan dengan anak." Kazenia menolak keras ketika, suaminya mengajak bertemu di salah satu hotel.
Arkhan, merindukannya. Karena itulah mereka menghabiskan malam di salah satu hotel ternama ibu kota. Kazenia bersikeras tau mau ke mansion mereka.
Aku pikir kau akan berubah, Pa. Setelah aku menuruti semua kebutuhan biologis mu. Sekali lagi. Kau hanya tetap menjadi pria egois.
Kazenia merapikan gamisnya. Arkhan sempat terheran melihat perubahan yang terjadi pada istrinya itu.
Ternyata kau bisa berubah secepat ini. Apa karena wanita yang dinikahi oleh anak nakal itu? Hah, bagaimanapun dia adalah darah dagingku. sial memang! Kenapa aku bisa mempunyai anak yang pembangkang. Namun aku tidak juga tidak ingin kehilangan Kazenia. Enak saja! Susah susah payah aku mendapatkannya. Aku tidak akan membedakannya pergi begitu saja apalagi demi anak nakal itu! Tidak ada siapapun yang berhak mendikteku!
Arkhan menyimpan emosi didalam hatinya. Karena, tenaganya lumayan terkuras barusan. Akan tetapi telinganya panas juga karena Kazenia terus berbicara.
"Aku ini suamimu. Bagiamana pun mau memiliki kewajiban untuk terus berada di sisiku. Kau tidak bisa terus membela anakmu, Nia!" Akhirnya, Arkhan menyebut nama karena saking kesalnya. Sejak kapan istrinya ini pandai menjawab. Sementara, Kazenia yang dulu adalah yang selalu menurut apa katanya. Selalu diam tak pernah ikut campur terhadap apapun yang ia kerjakan.
__ADS_1
Kazenia, hanya tau mengurus dirinya, serta anak-anak dan bersenang-senang dengan dunianya sendiri. Tapi, lihatlah kini. Istrinya yang tidak banyak bicara susah berani menentangnya. Arkhan tak habis pikir, apa yang telah merasuki anak serta istrinya ini.
"Suami yang seperti apa dulu, Pa. Kau suami yang tidak menerima kritik dan nasihat dari siapapun. Selalu mementingkan egonya sendiri. Kami begini karena sayang padamu. Tapi apa, kau tetap keras kepala dan keras hati. Seorang suami dan Papa seharusnya menjadi panutan." Kazenia lelah, ia merapikan kerudungnya dan segera mengambil tas.
"Mungkin, ini terakhir kali aku menunaikan kewajiban sebagai istri. Jika kau masih tidak mau mengerti dan meninggalkan pekerjaanmu. Jangan salahkan aku, Pa."
"Kau ingin pergi? Meninggalkanku dan semua kemewahan itu?" cecar Arkhan menegaskan.
"Andai kau tau, Pa. Sudah sejak tiga tahun yang lalu. Aku dan Shireen tidak lagi hidup dalam kemewahanmu." Kazenia kembali memutar tubuhnya menghadap Arkhan. Pria yang sebentar lagi ia tinggal pergi. Berharap dengan kepergiannya, Arkhan dapat merenung.
"Akan ku kirim buktinya. Berikut dengan Shireen juga!" potong Kazenia.
Arkhan menatap sang istri tajam. Ia semakin merasa jika Kazenia bertambah berani dalam melawannya.
__ADS_1
"Lalu, dengan apa kalian hidup selama ini. Jangan bercanda, Nia!" Arkhan semakin geram. Jika saja bukan istrinya mungkin wajah wanita di hadapannya ini sudah tidak berbentuk lagi.
Kazenia pun dapat merasakan aura kemarahan itu. Namun, ia tidak gentar. Selama apa yang ia lakukan benar. Kazenia telah bertanya pada orang bijak yang sholeh. Bahwa ia harus meninggalkan suami yang tidak mau di luruskan. Daripada, hubungan mereka membawa kemaksiatan dan dosa berkepanjangan. Apalagi, Kazenia telah tau perbuatan Arkhan. Tak mungkin ia menutup mata bukan?
"Aku menjual tanah peninggalan ibu. Warisan yang tak pernah kau tau. Dengan uang itu aku membuat usaha sesuai dengan bidang yang aku sukai sejak remaja. Kau terlalu sibuk dengan duniamu Arkhan. Sehingga, kau tidak bisa membaca perubahan dari kami. Menyedihkan bukan? Unjuk apa kau membangun sebuah rumah tangga demi menciptakan keluarga jika tak pernah ada perhatian disana?" Kazenia melempar pion yang membuat jalur skak mat. Sehingga, Arkan terpaku dalam kebisuannya.
"Entah kapan, Shireen putri kesayangan mu itu menyadari kesalahan papa-nya. Sehingga, tanpa sepengetahuan dariku, dia bekerja di sela-sela kesibukan kuliahnya. Demi apa? Demi membayar kuliahnya sendiri dan mencukupi segala kebutuhannya. Bahkan, sejak setahun yang lalu, Shireen tidak lagi makan di rumah. Padahal, tanpa sepengetahuan mu dan dia. Aku menggunakan uang ku sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan kami dan biaya kuliahnya juga," ungkap Kazenia penuh emosi. Bahkan air matanya telah berlinang membanjiri pipinya yang putih.
"Tak kusangka selama ini aku menghidupi orang-orang bodoh!"
"Ya, aku memang bodoh. Seharusnya aku ikut keluar dari mansion bersama putraku lima tahun yang lalu!"
"Nia! Kau!"
__ADS_1
...Bersambung ...